Namanya Anna.. Dia anak yang polos namun tangguh, berjiwa bebas dan baik hati.. ia terlahir di sebuah gubuk sederhana di dalam hutan yang jauh dari pemukiman warga, meski hidup sederhana, ia merasa hari harinya selalu dipenuhi kebahagiaan.
Hingga sampai suatu waktu, tragedi menimpa keluarga kecilnya dengan tragis.. Ternyata ayahnya adalah seorang putra mahkota, dan Anna pun tiba tiba menjadi seorang Putri.
bisakah Anna beradaptasi di kehidupan barunya??
Lika liku percintaannya dimulai..inilah kisah Princess Anna..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putra Mahkota Nic
Helena tersenyum menyambut kedatangan suaminya dengan mata yang setengah terbuka, untuk pertama dan terakhir kalinya Helena merasa cukup puas karena bisa melihat suaminya dengan penampilan seorang putra mahkota sekaligus raja masa depan yang gagah.
"Helena..." Luk terisak di hadapan Helena yang setengah sadar. "Maafkan aku Helena.. Aku datang terlambat.." suaranya bergetar bahkan dadanya pun terasa amat sesak.
Tangan Helena yang berlumuran darah membelai pipi Luk.
"Ini bukan salahmu.."ucapnya lirih dengan nafas yang terputus putus. "Jangan terluka karena kepergian ku, aku akan menanti masa depan kekaisaran yang lebih cemerlang dari atas sana.. hiduplah bahagia bersama Putri kita.. Lindungi dia, jadilah kekuatan dan tempat bersandar untuknya.. Maaf aku harus meninggalkan kalian.. Sayang.."
"Tidak tidak.. Berhenti bicara! Aku akan membawamu ke dokter istana, kamu harus bertahan.." ucapnya pilu.
"Aku tidak bisa lagi Luk.. Uhuukkk!" Helena memuntahkan banyak darah. "Sayang.. Pergilah ke dapur.. Tuan putri kita menunggumu..." seketika tangan Helena melemah, dan kehilangan tenaga, tubuhnya lemah dan semakin mendingin.
Helena memejamkan mata untuk selamanya..
Luk yang masih tak terima dengan kepergian istrinya itu terus menggoyangkan tubuh dan berusaha membangunkannya, matanya berderai air mata, ia benar benar terpukul, rasanya jiwanya ikut pergi bersama dengan Helena.
Setelah beberapa saat seorang ksatria yang membawa dokter muncul dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Helena.
Namun sia sia.. Helena sudah pergi dan tak akan kembali.
Luk terdiam membisu di samping tubuh Helena yang sudah semakin mendingin cukup lama, sedangkan para ksatria pengawal yang dibawanya hanya bisa melihat dibelakang sang pangeran dengan iba.
Ketika matahari mulai terbit ia bangun dan berjalan ke arah dapur karena teringat tentang Putrinya.
"Sylvanna.. Ayah disini.." ucap Luk dengan lembut.
Anna keluar dari kotak kayu di pojok ruangan kemudian berlari memeluk ayahnya.
"Ayahh...kenapa lama sekali.. Aku takut ayah.." tangis Anna pecah begitu melihat ayahnya.
"Maafkan ayah.. Maafkan ayah.."
"Iya Ayah.. Aku baik baik saja, ayah jangan nangis lagi" Anna yang polos membasuh air mata ayahnya dengan tangannya.
"Aku mau cari Ibu dulu Ayah.. Katanya ibu pergi sebentar tapi sampai sekarang ibu belum kembali juga, mungkin Ibu pergi ke hutan karena aku bilang ingin makan beri hitam, ayo kita susul Ibu.. Ayah.. Ayo cepat" Tiba tiba Anna berlari keluar.
Anna yang keluar akhirnya melihat Ibunya terbujur kaku dan berdarah darah.. Seketika dada Anna sesak, tubuhnya bergetar hebat, ia tak mampu mengatakan sepatah katapun dan akhirnya jatuh pingsan.
Luk yang tak berdaya hanya bisa menangkap tubuh kecil yang kehilangan kesadarannya.
...****************...
Siang itu.. Ketika matahari sudah mulai tinggi Putra mahkota dan rombongannya sampai di istana raja, kemudian sorenya diadakan upacara pemakaman setelah mendapat ijin dari Kaisar.
Para bangsawan yang menghadiri upacara pemakaman dadakan itu terus saja berbisik bisik.
"Lihatlah, putra mahkota.. Dia kelihatan sangat sedih karena melepaskan seorang wanita rakyat jelata itu" bisik seorang nyonya bangsawan yang menghadiri upacara pemakaman.
"Hei..aku dengar rumornya dia bukan rakyat jelata sungguhan, kau tahu Marquess Celestine? Wanita itu adalah anak haramnya.."
"Benarkah? Oh yang ibunya pelayan itu?"
"Benar.."
"Padahal bukan siapa-siapa tapi beruntungnya dia di berikan peristirahatan terakhir di tempat keluarga raja" bisik nyonya yang lain.
"Kok bisa anak rakyat jelata mendapat nisan di keluarga raja?"
"Aku dengar Raja memberikan tempat ini dan menerima putrinya di istana dengan sebuah syarat untuk putra mahkota"
"aehh.. Ada hal seperti itu?"
"Tentu saja.. Mana mungkin raja yang perhitungan itu memberikannya dengan cuma cuma.."
Putra mahkota berdiam lama di samping nisan Helena bahkan setelah semua orang meninggalkan tempat itu dan malampun semakin larut. Sampai akhirnya ada seorang ksatria menghampirinya.
"Yang mulia.." panggilnya..
Putra mahkota menoleh kearah ksatria itu.
"Enyahlah!" jawabnya dengan nada suara dingin.
"Maaf yang mulia.. Saya tidak ingin mengganggu anda yang sedang berduka, tapi kondisi Tuan putri Sylvanna tidak baik.. beliau terus memanggil manggil Ibu nya dalam tidur, lalu suhu tubuhnya sangat tinggi!"
Mendengar itu Putra mahkota bergegas pergi
"Segera panggil dokter!!" ucapnya seraya berjalan dengan cepat.
.
"Hormat Yang Mulia" ucap seorang pelayan yang sedang merawat Anna di kamar Putri.
Putra mahkota duduk di samping Anna yang tak sadarkan diri, tangannya menyentuh dahi Anna, Nicholas kaget karena suhu tubuhnya sangat tinggi, dahinya mengernyit, wajahnya berubah menjadi sangat geram.
Tiba tiba Nicholas bangun dari duduknya, ia menatap tajam pelayan yang menjaga Anna.
"Suhu tubuhnya sangat tinggi begini kenapa tidak segera memanggil dokter!!" Teriak Nic dengan murka.
"Maaf Yang Mulia.. Saya sudah memanggil dokter istana tapi dokter mengabaikan saya, makanya saya meminta tolong kepada ajudan Anda" ucap pelayan bernama Daisy dengan panik.
"Siapa dokternya?"
"Dokter Beny Claus"
"Deryl!!" ucap Nic memanggil ajudannya yang berdiri di belakang.
"Iya Yang Mulia.."
"Pecat Beny Claus! Pergilah ke ruangan dokter kalau tak ada dokter yang bisa sampai dalam dua menit langsung tebas lehernya!!"
"Baik Yang Mulia!" Deryl pergi dengan terburu buru.
"Ibuu.. Ibuu... Hiks hiks" Anna terus merintih dengan mata tertutup, keringat dinginnya terus bercucuran hingga membuat pakaiannya basah.
Nicholas merasa hancur melihat keadaan putrinya yang seperti ini, dengan telaten ia menggantikan baju dan menyeka tubuh kecil Anna dengan handuk basah.
Seorang Dokter muda datang dengan tergesa gesa bersama Deryl. Nicholas menatap tajam dokter pria itu. "Cepat periksa putriku!! Kau akan kehilangan kepalamu jika tak bisa menyembuhkannya!"
"Baik Yang Mulia" jawab Dokter dengan gemetar.
Sementara Nic terus mengawasi di belakang dokter sehingga membuat dokter gelisah.
"Yang Mulia.. Tuan putri demam tinggi karena terlalu syok, dari reaksi tubuhnya sepertinya apa yang dialaminya hari ini akan menjadi trauma berat bagi Putri, namun jika demamnya turun malam ini maka putri akan lekas sembuh, saya akan meresepkan obat penurun panas yang ampuh, sementara seseorang harus terus berjaga di sampingnya sepanjang malam ini" ucap dokter.
"Cepat segera berikan obatnya!"
Setelah Dokter memberikan obat dan Anna menjadi lebih tenang, Nicholas memerintahkan semua orang meninggalkan ruangan, ia sendiri yang akan menjaga putrinya.
Sepanjang malam Nicholas terus mengompres dan menyeka tubuh Anna, jika sedikit saja Anna menampakkan ekspresi tidak nyaman Nic segera menggenggam tangan kecilnya dan Anna pun kembali tenang.
Seraya menatap wajah pucat putrinya Nicholas terus menyebut nama mendiang cintanya sambil berderai air mata.
"Helena... Helenaaa.. Aku merindukanmu.."
Apa yang terjadi seandainya hari itu aku tak meninggalkan kalian disana.. Aku yang paling tahu bagaimana kehidupan di istana ini tapi aku malah melibatkan kalian ke dalam neraka ku ini..Aku yang bodoh ini pantas mati Helena.. Helenaa.. Kenapa tak kau bawa saja aku bersamamu...
Bersambung