NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Kedatangan Kael

Luvya melangkah keluar dari keheningan perpustakaan, membiarkan kakinya membawa dirinya menyusuri koridor mansion yang megah. Cahaya matahari sore menembus jendela-jendela tinggi, menyinari ukiran emas dan pilar-pilar marmer yang berdiri angkuh.

​Mansion ini memang luar biasa megah, batin Luvya sambil menatap langit-langit yang dihias lukisan dewa-dewi. Namun, kemegahan ini terasa hambar saat ia berpapasan dengan para pelayan.

​Mereka membungkuk, tapi hanya sekadar formalitas. Luvya bisa merasakan tatapan meremehkan dari balik punggung mereka.

Bisik-bisik sinis tentang "anak haram yang tak diinginkan" seolah menjadi musik latar di kediaman ini. Bahkan Tuan Gogrid, sang kepala pelayan, hanya melewatinya dengan anggukan kaku tanpa sepatah kata pun, seolah Luvya hanyalah bagian dari dekorasi mansion yang sudah usang.

​Hanya Willy yang tetap berjalan setia di belakangnya, menjaga jarak yang sopan namun terasa hangat.

​Luvya sampai di sebuah gazebo tua di sudut taman yang sepi, tempat di mana mawar-mawar hitam yang layu itu berada. Ia duduk di bangku batu yang dingin, lalu menatap Willy yang berdiri dengan tangan tertangkup di depan tubuhnya.

"Willy," panggil Luvya pelan.

​"Ya, Nona?"

​"Kenapa kau masih di sini? Maksudku... kenapa kau tetap mau menjagaku di tempat di mana semua orang bahkan jijik untuk menyebut namaku?" Luvya menatap lurus ke mata wanita tua itu. "Kenapa kau mau mengasuhku selama dua belas tahun ini?"

​Willy tersentak. Kerutan di wajah tuanya tampak bergetar. Ia menatap Luvya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara terkejut dan haru. Ini adalah pertama kalinya selama dua belas tahun Luvya menanyakan hal itu.

​Willy menghela napas panjang, lalu mulai bercerita dengan suara yang sedikit parau namun lembut. "Dulu... ibu Anda adalah seorang pelayan yang sangat cantik. Dia orang rendahan yang dibawa ke mansion ini. Dan orang yang membawanya masuk... adalah saya sendiri."

​Luvya mendengarkan dengan saksama.

​"Ibu Anda jauh lebih muda dari saya, tapi kami sangat akrab. Saya sudah menganggapnya seperti anak saya sendiri karena kami tidur di asrama pelayan yang sama. Namun, takdir berkata lain saat Tuan Duke memperhatikannya," Willy menunduk sedih, jemarinya yang kasar saling bertautan. "Dua belas tahun yang lalu, seharusnya saya sudah pensiun dan hidup tenang di desa. Tapi saat Anda lahir, bayi Luvya sama sekali tidak mau digendong oleh siapa pun kecuali saya. Anda akan menangis sampai sesak napas jika saya tidak ada di dekat Anda."

​Willy tersenyum tipis, matanya yang mulai kabur tampak berkaca-kaca. "Karena itulah saya memutuskan untuk tetap tinggal. Saya tidak bisa meninggalkan anak dari 'putri' saya sendirian di tempat yang dingin ini."

​Luvya terdiam. Dadanya terasa sesak. Ternyata, di dalam novel yang ia anggap fiksi ini, ada cinta yang begitu tulus yang tidak pernah tertulis di atas kertas. Lily yang dulu yatim piatu kini merasa memiliki sosok nenek yang benar-benar peduli.

​Namun, sebuah pikiran tiba-tiba menghantam otaknya.

​Kalau rencanaku adalah dibuang ke Kuil Penebusan Dosa lalu kabur ke panti asuhan, itu artinya Willy benar-benar akan pensiun dan aku akan meninggalkannya sendirian, batin Luvya

​Luvya menatap tangan Willy yang sudah keriput dan dipenuhi urat menonjol. Wanita tua ini seharusnya sudah beristirahat sejak sepuluh tahun yang lalu. Dia sudah memberikan seluruh sisa hidupnya hanya untuk menjaga Luvya dari kebencian Duke.

​Mungkin ini memang hal yang benar, batin Luvya pahit. Jika aku diasingkan dan menghilang, Willy tidak akan punya alasan lagi untuk terikat di sini. Dia bisa pulang ke desanya. Dia bisa beristirahat dari semua penghinaan para pelayan lain yang meremehkannya karena mengasuh anak haram.

​Luvya menarik napas dalam, mencoba menghalau rasa sedih di dadanya. Ia tidak boleh egois. Membawa Willy dalam pelariannya yang berbahaya hanya akan menyiksa wanita tua itu.

​"Terima kasih sudah menjagaku selama ini, Willy," ucap Luvya dengan tulus. "Beristirahatlah yang cukup dalam beberapa hari ini. Karena setelah badai itu datang, semuanya tidak akan pernah sama lagi."

​Luvya benar-benar memanfaatkan sisa waktu yang ia miliki. Selama beberapa hari setelah itu, ia mengurung diri di perpustakaan, memetakan pelariannya ke panti asuhan dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Baginya, pengetahuan adalah modal utama untuk bertahan hidup sebagai rakyat jelata nanti.

......................

​Siang itu, matahari bersinar sangat terik, namun suasana di dalam Mansion Vounwad jauh lebih panas. Mansion yang biasanya sedingin es itu mendadak berubah menjadi sarang lebah yang terusik.

​Para pelayan berlarian di koridor dengan wajah pucat dan keringat bercucuran. Ada yang sibuk memoles patung marmer, ada yang mengganti tirai-tirai usang dengan kain beludru mewah. Di area dapur, suara denting alat masak perak dan aroma rempah-rempah panggangan daging yang tajam menyeruak hingga ke lantai atas.

​Duke Vounwad selalu menuntut kesempurnaan. Setiap kali ia pulang membawa kemenangan perang, sebuah pesta besar (party) harus segera digelar untuk merayakan kesuksesannya bersama para komandan.

​Di tengah keriuhan itu, Luvya berjalan perlahan di balkon lantai dua, memperhatikan bagaimana semua orang begitu histeris. Namun, Willy dan Tuan Gogrid berkali-kali mengingatkannya dengan tegas.

​"Nona, Anda harus segera masuk ke kamar!" perintah Tuan Gogrid dengan wajah kaku saat berpapasan di tangga. "Tuan Duke tidak ingin melihat wajah Anda saat dia menginjakkan kaki di sini. Masuk sekarang!"

​Willy juga menarik lembut lengan Luvya, wajahnya penuh kecemasan. "Nona, ayo ikuti kata Tuan Gogrid. Masuklah ke kamar. Ini demi kebaikan Anda sendiri."

​Luvya mengangguk pelan, berpura-pura patuh dan berjalan menuju kamarnya. Namun, begitu Willy sibuk membantu persiapan terakhir, Luvya diam-diam keluar lagi dan bersembunyi di balik pilar balkon lantai dua yang gelap, tempat di mana dia bisa melihat aula utama tanpa terlihat dari bawah.

​Tiba-tiba, seorang pengawal berlari masuk ke aula utama dengan napas terengah-engah.

​"Tuan Gogrid! Rombongan Tuan Duke! Mereka sudah melewati perbatasan! Sepuluh menit lagi mereka sampai!"

​"Apa?! Sekarang?!" Tuan Gogrid berteriak panik. "Cepat semuanya keluar! Berbaris di halaman depan sekarang juga!"

​Seketika, aula utama kosong melompong. Tuan Gogrid dan seluruh barisan pelayan bergegas keluar untuk berdiri menyambut di depan pintu besar mansion. Suasana di dalam aula menjadi sangat sunyi, berbanding terbalik dengan gemuruh derap kaki kuda yang mulai terdengar dari luar.

​Duar!

​Pintu jati raksasa itu terbuka lebar. Angin siang yang panas masuk menerjang aula. Dari tempat persembunyiannya, Luvya menahan napas. Angin siang yang panas bertiup masuk saat pintu jati raksasa itu terbuka lebar, menyambut kedatangan sang pahlawan perang.

​Seorang pria dengan perawakan kekar dan tinggi melangkah masuk dengan penuh wibawa. Rambut pirangnya yang terang tampak kontras dengan zirah perangnya yang masih kotor. Di bawah sinar matahari siang, mata emasnya berkilat tajam, memancarkan aura pemimpin yang begitu menindas.

​Tepat di belakangnya, mengikuti seorang remaja laki-laki berusia sekitar enam belas tahun. Meskipun tubuhnya terlihat kurus dan pakaiannya compang-camping, ia memiliki tubuh yang jangkung. Rambut hitamnya yang legam tampak bersinar aneh di bawah cahaya, dan mata biru tuanya menatap sekeliling dengan ketajaman seekor serigala yang siap menerkam.

​"Hidup Duke Vounwad! Hidup Pahlawan Kekaisaran!"

​Sorakan meriah dari para pelayan dan pengawal pecah di halaman hingga aula utama. Semua orang menundukkan kepala dengan khidmat saat pria itu melangkah. Tak ada satu pun yang berani mendongak, kecuali Luvya yang mengintip dari balik bayangan pilar di lantai atas.

​Duke Vounwad berhenti di tengah aula, suaranya yang berat dan menggelegar membuat suasana seketika hening.

​"Berdirilah," perintahnya dingin. Ia kemudian menepuk bahu remaja di sampingnya, membuat semua mata tertuju pada sosok asing tersebut. "Aku membawa jagoan baru dari medan perang. Mulai hari ini, anak ini akan tinggal di sini. Namanya... Kael."

​Luvya mencengkeram pagar balkon. Ia melihat Kael mendongak, dan untuk sesaat, ia merasa mata biru tua remaja itu seperti menembus persembunyiannya.

Dia sudah di sini, batin Luvya getir.

​Ia teringat alur novelnya. Kedatangan Kael adalah awal dari akhir masa tinggalnya di mansion ini. Begitu Kael menapakkan kaki di sini, hitungan mundur bagi Luvya untuk dibuang ke Kuil Penebusan Dosa telah dimulai. Kael adalah alasan Duke akhirnya memiliki keberanian untuk menyingkirkan "anak haram" yang dianggap noda ini selamanya.

​Ternyata memang benar. Begitu dia datang, aku sudah tidak punya tempat lagi di mata Duke, pikir Luvya sambil menatap punggung ayahnya yang bahkan tidak sudi mencari keberadaannya.

​Luvya mundur perlahan ke dalam bayangan koridor sebelum ada yang menyadari keberadaannya. Ia harus segera mengumpulkan harta dan bersiap. Karena sebentar lagi, perintah pengasingan itu pasti akan keluar dari mulut sang Duke.

Beberapa jam kemudian, keriuhan di aula utama berangsur-angsur mereda. Acara pesta penyambutan yang meriah itu akhirnya selesai dan berlangsung dengan sangat sempurna, setidaknya bagi sang Duke. Sepanjang pesta, Luvya benar-benar menepati janjinya untuk tidak menampakkan batang hidungnya sedikit pun. Dari celah persembunyian yang aman, ia hanya bisa diam menyaksikan bagaimana Kael kini sudah mengenakan pakaian mewah yang layak dan menerima berbagai pujian selangit dari sang Duke di depan para tamu penting.

​Begitu aula mulai sepi, Luvya memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya di sayap barat. Ia berjalan mengendap-endap melalui lorong remang-remang, berharap tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya di jam istirahat seperti ini.

​Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.

​Saat ia berbelok di koridor utama menuju kamarnya, langkah Luvya mendadak membeku. Di depannya, Duke Vounwad sedang berjalan dengan langkah lebar, rupanya pria itu baru saja selesai mengantar tamu terakhir dan hendak kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.

​Mata emas sang Duke yang tajam langsung menangkap sosok mungil Luvya yang mematung.

​Panik luar biasa menghantam Luvya. Alih-alih membungkuk hormat seperti yang seharusnya dilakukan seorang putri bangsawan, insting pelarian Lily di dalam dirinya justru berteriak kencang. Luvya langsung memutar tubuhnya, berniat lari ke arah berlawanan secepat mungkin sebelum ayahnya sempat membuka suara.

​"Berhenti di sana."

​Suara berat dan dingin itu menghentikan langkah Luvya seketika.

​Belum sempat Luvya melangkah lagi, Duke Vounwad sudah berada di depannya dengan langkah yang jauh lebih lebar. Pria kekar itu mencegat jalan Luvya, menatapnya dengan pandangan penuh kekesalan yang tertahan. Ia sepertinya menyadari bahwa sedari tadi "anak haram"-nya ini hanya mengintip dari kejauhan.

​Duke Vounwad menghela napas kasar, urat di pelipisnya tampak sedikit menonjol. Bukannya memarahi Luvya di lorong itu, ia justru memberikan perintah pendek yang tak terbantah.

​"Ikut aku," ucapnya dingin.

​Luvya meremas jemarinya yang mendadak mendingin. Tanpa menoleh lagi, sang Duke berjalan mendahuluinya menuju ruang kerja pribadi. Luvya tidak punya pilihan lain selain mengekor di belakang punggung lebar pria yang paling membencinya itu, sambil bertanya-tanya dalam hati: Apakah surat pengasingan itu akan diberikan sekarang?

Luvya berjalan dengan kepala tertunduk, menjaga jarak beberapa langkah di belakang sepatu bot kulit sang Duke yang berdentum keras di atas lantai marmer. Keheningan koridor itu hanya dipecah oleh suara napas Luvya yang tertahan. Ia merasa seperti domba yang sedang digiring menuju ruang eksekusi.

​Luvya tidak berani mendongak, apalagi menoleh ke belakang. Jika ia melakukannya, mungkin ia akan menyadari sesuatu yang janggal.

​Di kejauhan, di balik bayangan pilar besar yang gelap, sesosok tubuh jangkung berdiri mematung. Kael, dengan rambut hitamnya yang berantakan, menatap punggung Duke dan Luvya yang perlahan menghilang di balik pintu ruang kerja pribadi sang Duke.

1
kiu kiu
wowww...lucius mulai tergetar hatinya melihat luvya.hingga ingin berdansa dgnya.apa ini tanda tanda thor...jodoh utk luvya di depan mata.🤭🤭🤭🤭😍😍
aku
siapa??? 🤔
kiu kiu
wow...semakin menarik thor..
kiu kiu
bagus thor..ceritanya semakin menarik.semoga luvya menjadi seorang penyihir jenius...
aku
kenapa gk jujur aja liv, klo duke yg buang kamu. pasti paman dn ponakan itu bakal ngerti, nah jd sekutu dh kalian. bs jd kamu malah dilindungi 😁😁
Rembulan Pagi: sifatnya Luvya memang susah percaya kak, akibat masa lalunya🤭
total 1 replies
kiu kiu
mantap thor...buat semua terkagum dg kepintaran luvya thor.agar nasib luvya tidak hancur.gara gara duke sialan itu.
Rembulan Pagi
Silakan mampir bagi yang suka cerita fantasi bertema kerajaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!