" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Arang dan Permata
Uang kertas berhamburan di aspal, tertiup angin sore yang kencang. Baskara merangkak, mencoba memunguti lembaran itu di bawah tatapan jijik orang-orang yang keluar dari restoran. Arumi berdiri di ambang pintu, matanya yang biasa teduh kini berkilat tajam, menahan badai emosi.
"Jadi, harga diri seorang ayah sekarang senilai amplop cokelat itu, Mas?" suara Arumi dingin, membelah kebisingan pasar.
Para kolega Adnan saling berbisik. "Adnan, apakah ini pemasok bumbu yang kamu banggakan? Masalah domestiknya terlalu... berisik. Hotel kami tidak bisa diasosiasikan dengan skandal murahan seperti ini," ujar salah satu investor berkacamata, bersiap pergi.
Adnan mengepalkan tangan. Ia menatap Arumi, lalu menatap Baskara yang masih sibuk memunguti uang. "Tunggu sebentar. Arumi adalah profesional. Masalah pria ini tidak ada hubungannya dengan kualitas bumbunya."
Namun, di tengah ketegangan itu, Clarissa muncul dari balik kerumunan, berjalan dengan langkah anggun namun penuh racun. "Oh, Pak Adnan... jangan terlalu naif. Wanita ini pintar bermain peran. Dia menggunakan anaknya untuk menarik simpati para pria berduit seperti Anda dan Keluarga Baron."
Dania maju, wajahnya memerah karena amarah. "Heh, Clarissa! Kamu yang bayar pecundang ini buat bikin kacau, kan?! Aku punya rekaman CCTV parkiran kalau kamu mau lihat!"
"Bukti itu bisa dimanipulasi, Dania," Clarissa tertawa meremehkan. "Faktanya, pria ini adalah ayah kandung anaknya. Darah tidak bisa bohong."
Kinan, yang sedari tadi menangis di pelukan Rendra, tiba-tiba melepaskan diri. Bocah kecil itu berlari ke tengah lingkaran, berdiri tepat di depan Baskara yang masih berjongkok.
"Om jahat!" teriak Kinan dengan suara melengking. "Om bukan ayah Kinan! Ayah Kinan itu yang sayang sama Ibu! Ayah Kinan itu yang jagain Ibu! Om cuma orang yang bikin Ibu nangis tiap malam waktu Kinan masih di perut!"
Baskara tertegun. Ia menatap Kinan—putrinya yang cantik, yang kini menatapnya dengan kebencian murni. Tangan Baskara yang memegang uang gemetar hebat.
"Kinan... aku..." gumam Baskara.
"Ibu! Usir dia!" Kinan berbalik dan memeluk kaki Arumi.
Arumi menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah Adnan dan para koleganya. "Bapak-bapak yang terhormat. Saya tidak bisa memilih masa lalu saya, tapi saya bisa menentukan kualitas masa depan saya. Bumbu yang saya buat lahir dari kerja keras, bukan dari drama. Jika Bapak-bapak ragu karena pria ini... silakan batalkan kontraknya sekarang."
Adnan tertegun. Keberanian Arumi membuatnya takjub. Ia melangkah maju, berdiri di samping Arumi. "Kontrak tidak akan batal. Justru karena ketangguhanmu menghadapi sampah seperti ini, saya tahu bumbumu punya jiwa."
Clarissa meradang. "Kalian semua buta!"
Tiba-tiba, Erick muncul dengan ponsel di tangannya yang terhubung ke pengeras suara restoran. "Rekaman suara pertemuan di trotoar antara Clarissa dan Baskara."
Suara Clarissa terdengar jelas melalui pengeras suara: "Buat keributan sampai para investor itu jijik padanya. Paham?"
Wajah Clarissa pucat pasi. Para pengawal Erick langsung mengepung Clarissa. "Mbak Clarissa, sepertinya Papa saya, Tuan Baron, ingin bicara soal 'etika bisnis' di kantornya sekarang," ujar Erick dingin.
"Lepaskan! Kalian tidak tahu siapa saya!" teriak Clarissa saat diseret menuju mobil hitam.
Baskara yang melihat Clarissa tumbang, mencoba melarikan diri dengan uangnya. Tapi Rendra menghalangi jalan dengan kakinya. "Eits... mau ke mana, Mas Benalu? Uang ini barang bukti suap dan perbuatan tidak menyenangkan. Sini, biar saya yang 'rapikan' buat laporan polisi."
Arumi menghampiri Baskara untuk terakhir kalinya. Ia berbisik, "Mas... uang itu tidak akan pernah bisa membeli kasih sayang Kinan. Pergilah sejauh mungkin. Jika sekali lagi kamu muncul, aku pastikan Mas akan membusuk di penjara dengan bantuan keluarga Baron."
Baskara lari tunggang langgang, meninggalkan sisa uang yang berhamburan. Ia pergi tanpa menoleh, kehilangan semuanya—uangnya, harga dirinya, dan anaknya.
Suasana restoran kembali tenang, namun terasa lebih hangat. Adnan mendekati Arumi, memegang bahunya dengan lembut. "Kamu hebat, Arumi."
Rendra menghela napas, sambil merapikan kemeja motif bunganya. "Gila... drama ini lebih pedas dari merica hitam. Tapi Arum, penyelesaianmu tadi... 10/10. Masterpiece."
Dania memeluk Kinan. "Kinan hebat! Tadi itu keren banget!"
Kinan menatap ibunya. "Ibu... pahlawan Kinan nggak boleh layu lagi ya?"
Arumi tersenyum, mencium kening putrinya. "Tidak, Sayang. Ibu sudah mekar, dan tidak ada satu orang pun yang bisa memetik Ibu dengan paksa lagi."
...----------------...
jangan lupa like dn komen gaesss , biar tambah semangatt buat nulis nyaaa🥰🥰