Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 1
Bagi Alicia Atmadja, hidup adalah tentang kurasi visual. Segala sesuatu yang tertangkap oleh matanya harus memenuhi standar estetika, mulai dari komposisi warna gradasi pada cafe latte-nya, pencahayaan di kamar tidurnya, hingga kurva tubuh pria yang boleh berdiri di sampingnya. Namun, pagi itu di meja makan keluarga Atmadja yang dingin, standar estetikanya baru saja hancur secara brutal oleh sebuah keputusan sepihak.
"Ayah tidak sedang meminta pendapatmu, Alicia. Ini adalah pengumuman," suara bariton Surya Atmadja bergetar rendah, bergema di ruang makan yang luasnya hampir menyamai lobi hotel bintang lima.
Alicia membeku. Di tangannya, sepotong croissant mentega yang diimpor langsung dari Prancis mendadak terasa seperti gumpalan kertas hambar. "Dijodohkan? Ayah, ini tahun 2026. Bahkan sistem operasi ponselku saja sudah diperbarui berkali-kali, kenapa pikiran Ayah masih terjebak di zaman Siti Nurbaya? Dan siapa tadi namanya? Bambang? Bahkan namanya saja tidak memiliki struktur fonetik yang estetik!"
Surya meletakkan cangkir porselennya dengan denting pelan yang mengancam. "Bambang Prakoso adalah putra tunggal rekan bisnis terpenting Ayah. Dia lulusan terbaik ekonomi dari London. Dia cerdas, mapan, dan akan memimpin lini bisnis kita di sektor infrastruktur."
"Aku tidak peduli dia lulusan terbaik atau calon penguasa dunia sekalipun!" Alicia menggebrak meja, membuat sendok perak di atas piringnya berdenting nyaring. "Aku sudah melihat fotonya semalam di internet, Yah. Wajahnya... wajahnya seperti kentang rebus yang terlalu lama direndam air! Dan postur tubuhnya? Dia terlihat seperti huruf 'S' yang dipaksa berdiri tegak. Bagaimana bisa Ayah memintaku menghabiskan sisa hidupku dengan pria yang merusak pemandangan mataku setiap pagi?"
Surya menatap putrinya dengan tatapan datar yang menusuk. "Visual tidak akan membayar tagihan kartu kreditmu yang mencapai angka sembilan digit itu, Alicia. Selama ini kau hanya tahu cara menghamburkan uang. Sekarang, saatnya kau menjadi berguna bagi stabilitas perusahaan. Pernikahan akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Tidak ada negosiasi."
Alicia terdiam, dadanya naik turun menahan ledakan emosi. Ia tahu, jika ayahnya sudah mengeluarkan nada bicara seperti itu, maka perintahnya setara dengan titah dewa. Namun, Surya sepetinya melupakan sesuatu, ia membesarkan seorang Alicia Atmadja. Gadis yang jika dilarang menyentuh api, maka ia akan membakar seluruh rumah sebagai bentuk protes.
Jika ayahnya ingin bermain dengan otoritas, maka Alicia akan bermain dengan hak istimewanya sebagai "Bencana Nasional" keluarga Atmadja.
Persiapan Pelarian yang Megah
Gadis normal mungkin akan mengemas tas ransel, membawa pakaian seadanya, dan menyelinap keluar lewat jendela saat hendak kabur. Tapi Alicia adalah pengecualian dari segala hal yang normal. Baginya, kabur dari rumah bukan berarti ia harus terlihat menyedihkan.
"Oke, skincare inti... wajib masuk. Gaun malam koleksi Spring... angkut. Sepatu heels dua belas senti... tentu saja. Siapa tahu aku harus lari dari kejaran intelijen Ayah, tentunya kakiku tetap harus terlihat jenjang?" gumam Alicia sembari menjejalkan barang-barangnya ke dalam lima koper berukuran jumbo.
Malam itu, di bawah keremangan lampu kamar, ia bekerja seperti agen rahasia. Ia telah memindahkan sebagian besar dana daruratnya ke akun yang sulit dilacak, setidaknya cukup untuk hidup mewah selama beberapa bulan ke depan. Destinasinya adalah? Milan, Italia. Mengapa Milan? Sederhana. Jika ia harus menjadi buronan internasional, ia ingin menjadi buronan paling modis di pusat mode dunia.
"Selamat tinggal, Bambang sang kentang rebus. Dunia luar, bersiaplah. Alicia Atmadja datang untuk menyelamatkan mata kalian," bisiknya penuh percaya diri. Dengan suapan jam tangan mewah kepada dua penjaga gerbang belakang yang malang, Alicia menghilang ke dalam kegelapan malam, menuju bandara untuk mengejar penerbangan kelas utama pertamanya menuju kebebasan.
Penerbangan belasan jam tidak mampu melunturkan aura glamor Alicia. Saat melangkah keluar dari Bandara Malpensa, ia tetap terlihat seperti supermodel yang baru saja turun dari panggung catwalk. Kacamata hitam besar menutupi matanya, dan mantel bulu imitasi tersampir di bahunya dengan gaya acuh tak acuh.
"Ciao, Italia!" Alicia menghirup udara Milan yang dingin. Aroma udara Eropa terasa seperti kebebasan, tentunya bebas dari perjodohan, bebas dari aturan kaku ayahnya.
Namun, realitas pertama menghantamnya di trotoar bandara.
"Signorina (Panggilan untuk wanita muda *yang belum menikah*), bagasi Anda... ini tidak mungkin masuk semua," ucap seorang supir taksi dengan aksen Italia yang kental, menatap lima koper raksasa Alicia.
"Lalu aku harus bagaimana? Membuang baju-bajuku? Kau gila?" Alicia berkacak pinggang, dagunya terangkat tinggi. "Cari mobil yang lebih besar atau aku akan membeli perusahaan taksimu dan memecatmu sekarang juga!"
Setelah perdebatan sengit dan biaya tambahan yang cukup untuk membeli sebuah motor baru, Alicia akhirnya sampai di sebuah hotel butik mewah di pusat kota. Ia segera memesan kamar Presidential Suite. Baginya, kabur dari rumah adalah tentang mempertahankan standar, bukan tentang penderitaan.
Malam pertamanya di Milan tidak boleh disia-siakan dengan sekadar tidur. Alicia menatap pantulan dirinya di cermin besar hotel. Ia mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang memeluk lekuk tubuhnya seperti kulit kedua. Potongan roknya yang tinggi memperlihatkan kaki jenjang yang terawat, sementara belahan dadanya yang berani memberikan pernyataan, ia tidak datang untuk bermain-main.
"Malam ini, aku akan membuktikan pada Ayah. Aku akan menemukan pria yang visualnya bisa membuat satu bandara pingsan," gumamnya sembari memoleskan lipstik merah gelap yang tajam.
Tujuannya malam itu adalah The Abyss. Berdasarkan riset singkatnya di internet, itu adalah kelab malam paling eksklusif di Milan. Tempat di mana hukum moralitas seolah berhenti di pintu depan.
Kelab itu terletak di sebuah bangunan kuno dengan arsitektur gotik yang megah dan mengintimidasi. Pria-pria bertubuh raksasa dengan setelan jas hitam berdiri tegak di depan pintu, memindai setiap tamu dengan tatapan predator. Alicia melangkah maju tanpa ragu. Saat salah satu penjaga mencoba menghalangi, Alicia hanya menunjukkan kartu kredit hitamnya dan memberikan tatapan paling angkuh yang pernah ia pelajari dari ibunya.
"Aku tidak datang ke sini untuk mengantre. Minggir," ucapnya dingin.
Ajaibnya, penjaga itu terdiam mungkin terpesona oleh kecantikan Alicia yang eksotis dan tajam, atau mungkin merasa bahwa gadis ini terlalu gila karena memiliki kekuasaan. Pintu berat itu terbuka, dan Alicia melangkah masuk ke dalam kegelapan yang berdenyut oleh musik techno elegan dan aroma cerutu mahal.
Di dalam sana, suasana terasa berat namun bergairah. Pencahayaan sangat minim, hanya mengandalkan neon redup yang memberi kesan misterius. Alicia menuju bar, memesan Martini paling mahal, dan mulai memindai ruangan.
"Kentang... ubi... oh, yang itu lumayan tapi seleranya buruk," gumamnya, menyaring setiap pria di lantai dansa.
Alicia hampir merasa bosan sampai matanya menangkap sebuah pergerakan di lantai atas, di area VIP yang sangat tertutup. Di sana, duduk seorang pria sendirian di sofa kulit besar. Pria itu memegang gelas kristal berisi cairan amber, matanya menatap tajam ke bawah seolah ia memiliki seluruh kota ini di bawah telapak kakinya.
Rahangnya tegas, seolah dipahat dari batu pualam. Postur tubuhnya tegak namun santai seperti predator yang sedang beristirahat. Aura di sekitarnya begitu dingin, hingga orang-orang di sekelilingnya tampak menjaga jarak sejauh mungkin.
Jantung Alicia berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang meledak.
"Ditemukan," bisiknya dengan senyum kemenangan. "Itu dia. Pria yang akan menghancurkan standar Ayah selamanya."
Dalam kepalanya yang mulai sedikit pening akibat Martini dan keberanian yang berlebihan, Alicia hanya melihat sebuah trofi visual yang sempurna. Ia tidak tahu bahwa pria itu adalah Dante Vallo. Pria yang pagi tadi baru saja memerintahkan eksekusi tanpa ampun di pelabuhan. Pria yang menguasai setiap bisnis haram di negara ini.
Alicia menyesap minumannya hingga tandas, membenarkan posisi gaunnya yang provokatif, dan mulai melangkah menaiki tangga menuju area VIP. Ia mengabaikan tanda dilarang masuk. Ia mengabaikan tatapan waspada para pengawal bersenjata yang mulai menyentuh kerah baju mereka, bersiap bertindak.
Alicia sedang berjalan menuju mulut neraka, dan ia melakukannya dengan senyum paling menawan yang pernah ia miliki.
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣