Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.
Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: MENARA LANGIT DAN UJIAN SERIBU TINGKAT (bagian 2)
Chen Si berdiri tegak di tengah lautan api putih yang menyala-nyala. Panas yang mampu melelehkan ruang dan waktu itu menjilat-jilat tubuhnya, namun ia sama sekali tidak mundur selangkah pun. Justru, senyum miring perlahan terukir di bibirnya, diiringi aura dingin yang semakin meluap-luap.
"Kalian mengira dengan cara curang ini, kalian bisa menghentikanku?" suaranya tenang namun bergetar hingga ke tulang sumsum siapa pun yang mendengarnya. "Kalian lupa... Menara ini adalah peninggalan leluhur Klan Nagaku. Di tempat inilah kekuatan darahku akan mencapai puncaknya."
Guang Ming yang berdiri di tengah formasi tertawa keras, matanya menyala penuh kemenangan. "Omong kosong! Formasi ini sudah kami ubah ribuan tahun lalu! Kini justru menjadi jebakan paling mematikan bagi keturunan Naga! Teruslah bermegah diri, sebentar lagi kau akan menjadi abu yang tertiup angin!"
"Benarkah?" Chen Si mengangkat kedua tangannya perlahan. Di setiap ujung jari-jarinya, cahaya emas murni mulai memancar, perlahan namun pasti mengalahkan cahaya putih api suci itu. "Kalian mengubahnya? Kalian pikir leluhurku tidak meninggalkan kunci pengaman? Kalian hanya memindahkan kuncinya saja, tapi kalian tidak pernah memegang otentikasi tertingginya: Darah Naga Murni!"
Chen Si menancapkan kedua telapak tangannya ke lantai batu di bawah kakinya.
"WARISAN LELUHUR: AKTIFKAN KEMBALI KEKUATAN ASLI MENARA LANGIT!"
DUMMMMMMMMM!!!
Sebuah getaran dahsyat mengguncang seluruh tubuh menara dari dasar hingga puncak! Cahaya emas raksasa menyembur keluar dari setiap ukiran, setiap dinding, setiap lantai di ruangan itu! Energi yang tadinya dikendalikan oleh Gereja Cahaya tiba-tiba berbalik arah, menjadi liar dan ganas, menyerang balik mereka yang menggunakannya!
"APA YANG TERJADI?! KENAPA FORMASINYA BERUBAH?!" Guang Ming berteriak panik, tubuhnya terguncang hebat karena energi formasi itu kini membalas menghantam dirinya sendiri.
"Karena kalian hanyalah pencuri yang memakai baju orang lain," jawab Chen Si dingin. Ia perlahan melayang naik, tubuhnya kini diselimuti api emas suci yang jauh lebih agung dan murni dibanding api putih buatan mereka. Di punggungnya, sepasang sayap raksasa terbentuk dari energi murni, dan di belakangnya, bayangan Naga Primordial sebesar menara itu sendiri muncul, mengaum mengguncang langit!
"TEKNIK TERLARIS KLAN NAGA: PEMURNIAN SEGALA SESUATU!"
Chen Si mengayunkan tangannya ke arah lautan api putih itu. Cahaya emas menyapu bersih segala sesuatu di ruangan itu. Api putih yang dianggap suci oleh Gereja Cahaya itu, di hadapan kekuatan ini, hanyalah api sampah yang langsung terserap dan dimurnikan menjadi energi murni untuk Chen Si!
"Aaaaahhh! Tubuhku... kekuatanku disedot!" teriak para tetua Gereja Cahaya histeris. Energi mereka, nyawa mereka, kekuatan mereka... semuanya mengalir keluar dari tubuh mereka, ditarik paksa oleh kekuatan mutlak Chen Si!
Guang Ming sudah tidak lagi tertawa. Wajahnya pucat pasi, matanya penuh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia sadar, ia tidak sedang menghadapi anak muda, ia sedang menghadapi dewa yang bangkit kembali dari tidur panjangnya.
"Tunggu... Tunggu dulu! Kita bisa bernegosiasi! Kami bisa membawamu ke Istana Langit Kesembilan! Kami bisa..."
"Diam!" potong Chen Si dingin. "Pengkhianat, pembunuh keluargaku, penjahat yang menyamar jadi suci... Kalian tidak pantas bicara. Kalian hanya pantas menghilang dari dunia ini selamanya."
Chen Si mengepalkan tangannya.
"HANCUR!"
TRANGGGGGGG!!!
Semua cahaya berkumpul menjadi satu ledakan dahsyat. Saat cahaya itu mereda... ruangan puncak menara kembali tenang.
Tidak ada lagi Guang Ming. Tidak ada lagi para tetua. Tidak ada lagi formasi jebakan. Semuanya lenyap tanpa sisa, dimurnikan sampai ke atom terkecil. Hanya tersisa Chen Si yang berdiri di tengah ruangan itu, napasnya sedikit memburu, tapi aura tubuhnya kini telah berubah sepenuhnya.
Ia menatap tangannya sendiri, merasakan kekuatan yang jauh melampaui batas Langit Pertama. Selama pertempuran tadi, di bawah tekanan hidup dan mati, ditambah serapan energi raksasa dari Menara Langit, kekuatannya akhirnya menembus batas akhir.
Levelnya kini telah naik ke Penguasa Langit Puncak, dan fondasinya jauh lebih kokoh dibandingkan siapa pun yang pernah mencapai level ini sebelumnya. Ia bahkan sudah menyentuh ambang pintu Alam Dewa.
Chen Si menoleh ke arah gerbang besar berwarna perak yang kini bersinar terang benderang di ujung ruangan. Gerbang itu yang tadinya tertutup rapat dan dijaga, kini terbuka lebar menyambutnya. Di balik gerbang itu, terlihat pemandangan langit yang jauh lebih indah, lebih luas, dan energi yang jauh lebih padat—Langit Kedua!
Namun, sebelum melangkah masuk, Chen Si berbalik menghadap langit-langit menara yang tembus pandang, ke arah bawah tempat para penyaksian menunggu. Suaranya bergema keluar, menembus ribuan lapisan dinding, terdengar jelas ke seluruh penjuru Ibu Kota, bahkan sampai ke ujung Langit Pertama.
"Kaisar Yuan, Yue Yao, teman-temanku... Terima kasih atas dukungan dan kepercayaan kalian. Hari ini, aku berangkat ke Langit Kedua. Ingatlah... apa pun yang terjadi, apa pun rintangan yang menghadang, aku akan kembali. Dan saat aku kembali nanti... Aku akan membawa kekuatan yang cukup untuk meruntuhkan Istana Langit Kesembilan, menjatuhkan Kaisar Dewa Cahaya, dan membebaskan seluruh alam semesta dari penindasan!"
Di bawah sana, di alun-alun dasar menara, ribuan orang berlutut serentak, menangis haru dan bangga. Kaisar Yuan menatap ke atas dengan mata berkaca-kaca, senyum bangga mengembang di wajahnya.
"Pergilah, anak muda... Pergilah dan wujudkan takdirmu. Kami akan menunggu di sini, menunggu hari kejayaan itu datang kembali."
Chen Si tersenyum puas. Ia mengangkat tangan memberi salam perpisahan, lalu berbalik badan, melangkah tegak dan gagah melewati Gerbang Langit Kedua.
Sesaat sebelum menghilang sepenuhnya, ia menatap jauh ke atas, ke arah langit yang tak terlihat batasnya, ke arah musuh utamanya.
Tunggu aku, Kaisar Dewa Cahaya... Permainan kita baru saja dimulai.
Berita tentang kebangkitan Pewaris Klan Naga dan penaklukan Menara Langit menyebar ke seluruh penjuru alam semesta dalam waktu singkat. Di Langit Pertama, nama Chen Si menjadi legenda hidup, sosok yang dipuja dan diharapkan sebagai penyelamat dunia.
Di Langit Kedua, kedatangan Chen Si langsung mengguncang keseimbangan kekuasaan. Kekuatan besar mulai bergerak, ada yang ingin menjadikannya sekutu, ada yang ingin menjadikannya musuh, dan ada yang ingin membunuhnya demi perintah dari atas.
Namun, Chen Si tidak peduli. Dengan kekuatan yang terus bertambah, pengetahuan alkemis yang tak tertandingi, dan tekad baja untuk membalas dendam serta mengembalikan kejayaan klannya, ia terus mendaki lebih tinggi.
Dari Langit Kedua, ke Langit Ketiga, terus naik tanpa henti, menembus setiap batas, mengalahkan setiap musuh, mengungkap setiap rahasia masa lalu yang tersembunyi, dan mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk menantang penguasa tertinggi.
Perjalanan yang panjang, berbahaya, dan penuh intrik itu akhirnya membawa Chen Si ke ambang pintu tertinggi: Langit Kesembilan, tempat tinggal Kaisar Dewa Cahaya dan pusat kekuasaan seluruh alam semesta.
Di sana, di atas singgasana emas raksasa yang dikelilingi ribuan dewa dan makhluk suci, Kaisar Dewa Cahaya duduk diam. Wajahnya tenang namun dingin, matanya menatap ke bawah, ke arah sosok muda yang berdiri gagah di depan gerbang istananya, dikelilingi jutaan pasukan sekutu yang telah ia kumpulkan sepanjang perjalanan.
"Kau akhirnya datang, keturunan terakhir Naga," suara Kaisar Dewa Cahaya bergema, memenuhi seluruh ruangan raksasa itu.
Chen Si melangkah maju satu langkah, aura emasnya menyala terang, bersaing dengan cahaya suci istana itu.
"Aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak keluargaku. Aku datang untuk membalas ribuan tahun penderitaan. Dan aku datang... untuk menjatuhkanmu dari atas takhta yang kau curi itu."
Perang terbesar dan terhebat dalam sejarah alam semesta pun dimulai. Pertarungan antara kebencian dan dendam, antara keadilan dan penindasan, antara pewaris sejati dan perampok kekuasaan.
Dan di sanalah, di medan perang terakhir itu, nama Chen Si akan terukir selamanya sebagai Raja Alkemis Tertinggi, Sang Penakluk Langit, dan Pembebas Alam Semesta.