NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:32.5k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 24

“Mas, boleh aku ikut ke rumah kamu?” tanya Wulan memecah keheningan yang sempat merayap kembali di dalam mobil.

Wulan menoleh, menatap Harsa dengan binar mata yang sengaja dibuat sendu dan penuh kecemasan.

“Aku benar-benar khawatir dengan keadaan mbak Rania, Mas. Apalagi tadi di rumah sakit dia kelihatan pucat banget. Sekalian, biar kamu juga nggak perlu bolak-balik lagi ke rumah aku untuk mengecek kondisi Gavin. Aku nggak mau semakin merepotkan mu.”

Harsa yang sedang memijat keningnya yang masih berdenyut nyeri langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah Wulan dengan kening berkerut.

“Maksud kamu... kamu mau menginap di rumahku?”

Wulan tidak langsung menjawab. Ia justru terdiam, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas saputangan di pangkuannya. Gerakan tubuhnya nampak sangat rapuh dan serba salah, seolah ia baru saja melakukan kesalahan besar karena mengutarakan niatnya.

Melihat diamnya Wulan, Harsa mendadak bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, ia tahu Rania sedang sangat sensitif belakangan ini. Namun di sisi lain, ucapan Wulan tentang kondisi Gavin dan efisiensi waktu ada benarnya.

Harsa yang dipenuhi rasa cemburu akibat kejadian di rumah sakit tadi membuatnya sulit berpikir jernih.

“Iya, Papa! Gavin mau ikut ke rumah Papa!” sahut bocah kecil itu tiba-tiba.

Gavin yang tadinya duduk menghadap ke jalanan depan, kini memutar tubuhnya, menatap Harsa dengan mata bulat yang berbinar.

“Di rumah, Gavin bosan sendirian kalau mama sedang masak atau beres-beres. Gavin mau main di rumah Papa Harsa.”

Wulan mengangkat wajahnya sedikit, lalu tersenyum tipis ke arah Gavin sebelum kembali menatap Harsa dengan raut elegan yang manipulatif.

“Ibu juga semalam sempat meneleponku, Mas. Beliau bilang kangen sekali sama Gavin, mau main ke rumahku tapi tahu sendiri kan, kalau Mas Harsa sedang sibuk-sibuknya kerja belakangan ini? Ibu merasa nggak enak kalau harus menyuruhmu mengantar jemput beliau. Makanya, aku pikir... kalau kami di sana, Ibu juga bisa sekalian melepas kangen dengan cucunya.”

Di kursi kemudi, Pak Darto hanya diam mendengarkan seluruh pembicaraan itu tanpa berani berkomentar sedikit pun.

Jemarinya yang mencengkeram setir mobil tampak sedikit menegang. Sang sopir tua mulai berpikir dengan cemas di dalam hatinya.

“Waduh! Kalau mbak Wulan sampai menginap di rumah, bukannya ini malah akan menambah masalah besar? Nyonya Rania kan sedang tidak sehat, kenapa tuan Harsa malah membawa mereka masuk ke dalam rumah?” batinnya.

“Boleh ya, Papa? Gavin boleh ikut, kan? Please...” rengek Gavin lagi. Kali ini dengan mata berkaca-kaca, membuat pertahanan Harsa runtuh seketika.

Harsa mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa penat yang menggelayuti pundaknya. Ia melirik Wulan yang masih setia menunggu jawabannya dengan wajah penuh kepasrahan.

Harsa berpikir, ini hanya sekadar menginap sehari atau dua hari saja demi mempermudah pemantauan kesehatan Gavin. Rania pasti tidak akan marah jika dijelaskan alasannya dengan baik.

Lagipula, selama ini Rania selalu mengalah jika menyangkut urusan mendiang adiknya.

“Ya sudah, boleh,” putus Harsa akhirnya, membuat binar di mata Gavin semakin terang. “Nanti kamu dan Gavin bisa tidur di kamar tamu lantai bawah. Kamarnya sudah siap dan selalu dibersihkan.”

Wulan langsung menunduk lagi, menyembunyikan senyuman penuh kemenangan yang merekah lebar di bibirnya.

“Akhirnya, setelah sekian lama, aku bisa juga kembali berkunjung dan menginap di rumah megah mas Harsa,” batin Wulan penuh damba.

Terakhir kali ia menginjakkan kaki di rumah mewah milik Harsa adalah dulu, saat Bima masih hidup. Itu pun kunjungan yang sangat singkat karena Bima yang tahu diri langsung buru-buru mengajaknya pulang karena tidak enak menumpang di rumah sang kakak.

Tapi sekarang, keadaannya sudah berbeda. Jalan menuju kenyamanan hidup yang ia impikan perlahan mulai terbuka lebar.

Setengah jam kemudian, mobil mewah itu akhirnya berbelok memasuki gerbang rumah Harsa. Begitu mobil berhenti sempurna di depan teras, pintu rumah utama langsung terbuka.

Ratna melangkah keluar dengan wajah yang masih ditekuk masam akibat kekesalannya pada Rania beberapa saat lalu.

“Harsa! Kamu harus tahu, itu istrimu si Rania—”

Awalnya, mulut Ratna sudah terbuka lebar, bersiap untuk langsung mengadu dan menumpahkan segala kekesalannya soal kelakuan membangkang Rania siang ini kepada sang putra. Hanya saja, kalimat Ratna mendadak terputus di udara.

Begitu pintu belakang mobil terbuka, sosok Gavin kecil melompat turun dengan riang, diikuti oleh Wulan yang melangkah anggun di belakangnya. Seketika itu juga, seluruh urat kemarahan di wajah Ratna menguap entah ke mana.

“Nenek!” teriak Gavin, berlari kecil menghampiri Ratna.

“Astaga, Gavin! Cucu kesayangan Nenek!” seru Ratna girang, langsung berlutut dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk memeluk tubuh mungil Gavin.

Ratna menciumi pipi gembil bocah itu dengan penuh kasih sayang, mengabaikan fakta bahwa beberapa menit lalu ia sedang mengamuk di dalam rumah.

Wulan berjalan mendekat, lalu membungkuk hormat dengan senyuman paling santun yang ia miliki. “Selamat siang, Ibu. Maaf ya, Wulan dan Gavin mendadak datang dan merepotkan Ibu di sini.”

“Eh, Wulan! Ya ampun, sama sekali tidak merepotkan, Sayang! Ibu justru senang sekali kamu membawa Gavin ke sini,” sahut Ratna dengan suara yang teramat ramah, sangat kontras dengan nada ketusnya saat berbicara pada Rania tadi.

Ratna berdiri, menepuk-nepuk lengan Wulan dengan sayang.

“Ibu memang sedang kangen-kangennya sama Gavin. Rania sama sekali tidak bisa diandalkan untuk menghibur Ibu, untung ada kamu yang peka.”

Harsa yang baru keluar dari mobil hanya terdiam mendengar sindiran ibunya tentang Rania.

Fokusnya saat ini adalah masuk ke dalam rumah dan segera menuntut penjelasan dari Rania soal dokter di rumah sakit tadi.

“Ibu, bawa Wulan dan Gavin masuk dulu. Wulan dan Gavin akan menginap di sini selama dua hari ini untuk memulihkan kesehatan Gavin,” ujar Harsa pendek.

“Oh, ya? Bagus sekali kalau begitu!” seru Ratna penuh antusias. “Ayo Wulan, kita masuk. Ibu akan menyuruh Rania menyiapkan makan siang yang paling enak untuk kamu dan Gavin.”

Wulan mengangguk dan melangkah masuk mengikuti Ratna.

“Rania di mana, Bu?” tanya Harsa, matanya mengedar mencari keberadaan sang istri.

“Di kamarnya!” jawab Ratna ketus sembari mendengus sinis.

“Kalau begitu, aku ke kamar dulu.” Harsa segera melangkah tegas menuju tangga lantai atas.

“Argh... Mas Harsa!” seru Wulan tiba-tiba. Detik berikutnya, tubuhnya ambruk begitu saja di atas lanta

“Wulan!” teriak Harsa dan Ratna bersamaan dengan panik. Harsa langsung berbalik arah dan berlari turun.

Dari dalam kamar, Rania yang sedang berbaring lemas samar-samar mendengar suara kegaduhan itu. Nama Wulan diteriakkan dengan begitu histeris oleh suaminya.

“Wulan? Apa, dia ada di sini?” gumam Rania, dadanya mendadak kembali berdenyut nyeri.

1
Lilik24
ORANG GILA CARI GARA2 DIA, jadi gembel baru tau
Mita Paramita
pecat aja sih harsa jadi mantu dan karyawan ga guna udh mendua sama janda licik🤨🤨🤨 kesel ngeliat sikap harsa redflag
Mita Paramita
harsa emang suami sialan ...sih Wulan bukannya diusir aja kayak benalu tinggal dirumah rania🤨🤨🤨
deeRa
Wait, aku curiga Harsa anak tiri wkwkwk

Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪

selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
tinie
kena kau go block
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu
vj'z tri
go to the blok ..../Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/yang punya perusahaan malah di maki sikat bersih papa
Senja: wkwkwk
total 1 replies
Ma Em
Sedih Thor aku sama nangis , Rania minta maaf pada pak Aditya padahal pak Aditya juga sakit melihat Rania cuma egonya terlalu besar , semoga Rania penyakitnya bisa disembuhkan dan sehat kembali tinggalkan saja Harsa utamakan kesehatan Rania .
Syarifah
langsung aja pak keruangan Harsa atau langsung panggil k,ruangan anda, langsung minta penjelasan sama Harsa pak bos
Syarifah
itu kata yang tepat buat qm Wulan,suka barang bekas 🤣🤣🤣
Anonim
tau tau Rania dah mati
Uthie
Lagi seruuuu niii.. lanjuuttttt 😍😍😍👍
Kinara Widya
siap2 jadi gembel...Wulan...Harsa..Ratna..🤣🤣🤣
Senja: Gembel ga tuh😭
total 1 replies
Nice1808
nah loh harsa bentar lagi kena pecat, kau menyakiti rania anak boss mu😃😃secepatnya surat cerai selesai ya tasya biar makin seru harsa dan ibunya jd gembel dan wulan melayang tinggi mendapatkan harsa si gembel🤣🤣
Nice1808
hahhaa kan bener kau suka barang bekas dr rania buktinya aja lingeri rania yg kau pakai, salahnya dimnz😀😀😀
Al Fatih
Wulan mempercepat azab utk si Karso 😂
Senja: Wkwk🤣😭
total 1 replies
ollyooliver
jengg..jeng...jenggggg
ollyooliver
pecat?..hahahahahhahahhahahhahahha gk kebalik? laki orng noh, mokondo doang..lo nya yg sombong..idiiii😏 nih ya kaalau harsa masih bela nih janda gatel, bener" otaknya mmng sdh digeser. bisa"nya ya diterima dioerusahaann..meskipun jalur ordal sekalipun tapi kemampuan, kepintaran itu gk bisa bohong. masa orng yg gk bisa berpikir mana baik dan tdk...bisa"nya diterima mana mau naik pangkat lagi..haduhhh salah diberi jabatan nih orng.
ollyooliver
kehancuranmu sedang berjalan harsa....jangan mencari" rania ya habis ini karena giliran pekerjaan lu cari, giliran istrinya pergi..gelisah doang habis wulan dan ibu laknatmu datang jadi anak dibawah ketek dan selangakangan mereka😌
Listiyawati Rinda
lanjut kak
ollyooliver
menang lagi deh..dah brp kosong nih rania..eh menang rania satu ya. yg gagal menggatal pake baju lingeria rania...tapi wulan kebanyakan sih menangnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!