❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨
AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.
Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PERTEMUAN YANG MENGGUNCANG DUNIA
Keesokan harinya, matahari bersinar terang namun tidak bisa menghangatkan suasana hati yang sedang tegang di kediaman keluarga Singhania.
Di sebuah kamar tidur yang luas dan mewah, MAHEERA berdiri terpaku di depan cermin besar. Tangannya gemetar hebat, matanya tak berani menatap pantulan dirinya sendiri terlalu lama.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem yang dipinjamkan oleh Aaryan kemarin sore. Gaun itu terlihat sangat indah, bahannya lembut dan mahal, namun bagi Maheera, gaun itu terasa begitu berat dan asing.
"Apakah aku benar-benar pantas memakai ini?" gumamnya pelan, suaranya bergetar. "Apakah aku benar-benar berani masuk ke rumah sebesar itu dan menghadapi orang tua Aaryan?"
Bayangan wajah Ny. Savitri yang penuh kebencian tiba-tiba muncul di benaknya. Ia masih ingat betul tatapan tajam wanita itu yang seolah ingin memakannya hidup-hidup saat pertama kali mereka bertemu.
"Maheera... tenang... tarik napas dalam-dalam," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menguatkan hati. "Aaryan ada di sana. Dia janji akan melindungiku. Aku tidak boleh takut."
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka pelan. AARYAN masuk dengan wajah yang terlihat sedikit cemas namun tetap tegar.
Pria itu berhenti sejenak di ambang pintu, matanya terpaku menatap sosok gadis di depannya.
Wajah Maheera yang polos tanpa riasan sedikitpun terlihat begitu bersih dan memikat. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjang yang putih mulus. Gaun krem itu menyesuaikan sempurna dengan tubuh kecilnya, membuatnya terlihat seperti bidadari yang turun dari langit.
Aaryan menghela napas panjang, berjalan mendekat lalu berdiri tepat di belakang Maheera. Kedua tangannya ia letakkan di bahu halus gadis itu, lalu menatap pantulan mereka berdua di cermin.
"Kau terlihat sangat cantik, Maheera. Sangat cantik," ucap Aaryan lembut, suaranya terdengar tulus dan kagum.
Maheera menunduk malu, pipinya memerah padam. "Terima kasih, Tuan... Tapi... aku takut," cicitnya pelan.
Aaryan memutar tubuh gadis itu menghadap dirinya. Ia menangkup kedua pipi halus itu dengan kedua tangannya, menatap manik mata cokelat itu dalam-dalam.
"Dengar aku baik-baik," ucap Aaryan tegas namun lembut. "Kau tidak perlu takut pada siapa pun. Kau datang ke sana sebagai wanita yang aku cintai. Kau datang sebagai calon istriku. Dan selama aku ada di sampingmu, tidak ada satu orang pun yang berani menyakiti hatimu sedikitpun. Mengerti?"
Maheera mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Iya... aku mengerti, Mas."
"Panggil aku Aaryan. Hanya Aaryan," senyum pria itu tipis, lalu mengecup kening gadis itu lama. "Ayo kita berangkat. Waktunya sudah tiba."
Perjalanan menuju kediaman keluarga Singhania terasa begitu panjang bagi Maheera. Setiap kali mobil mewah itu melewati gerbang-gerbang besar dan jalanan yang semakin megah, jantungnya berdegup semakin kencang.
Akhirnya, mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan rumah yang sangat besar dan megah, seperti istana kerajaan. Taman yang luas dengan bunga-bunga indah, air mancur yang memancarkan air, dan pelayan-pelayan yang berdiri rapi menyambut kedatangan mereka.
Mereka turun dari mobil. Aaryan langsung menggenggam erat tangan Maheera, memberikan kekuatan agar gadis itu tidak goyah.
"Tenang... aku di sini," bisiknya.
Mereka berjalan beriringan memasuki rumah itu. Suasana di dalam sangat dingin dan sunyi. Lantai marmer yang mengkilap memantulkan bayangan mereka, dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan mahal dan perabotan antik yang bernilai jutaan dolar.
Sampailah mereka di ruang tamu utama yang sangat luas.
Di sana, duduklah MR. RANVEER dan NY. SAVITRI di atas sofa kulit yang sangat besar.
Suasana seketika berubah menjadi mencekam.
Ny. Savitri yang sedang minum teh, langsung meletakkan cangkirnya dengan keras di atas meja. Matanya membelalak lebar, menatap Maheera dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan tatapan yang sangat menghina dan tajam.
"Jadi... ini dia wanita yang membuatmu buta itu?" tanya Ny. Savitri pelan, namun suaranya terdengar begitu menusuk. "Benar-benar... sederhana sekali."
Maheera menunduk dalam, tangannya semakin erat menggenggam tangan Aaryan. Ia merasa sangat kecil dan tidak berdaya di hadapan tatapan wanita itu.
"Ayah, Ibu," sapa Aaryan dengan suara lantang, tidak peduli dengan sindiran ibunya. "Ini Maheera. Gadis yang aku ceritakan kemarin."
Mr. Ranveer berdiri dari duduknya, berjalan mendekat dengan senyum ramah di wajahnya. Ia menatap Maheera dengan tatapan yang teduh dan penuh rasa hormat.
"Selamat datang, Nak. Silakan duduk," sapanya ramah.
Maheera mengangguk terbata-bata. "Te-terima kasih, Paman."
Mereka pun duduk. Aaryan sengaja duduk sangat dekat dengan Maheera, seolah ingin melindunginya dari segala arah.
"Jadi... Maheera ya?" Ny. Savitri mulai membuka suara lagi, kali ini dengan nada yang sangat dingin. "Dari mana asalmu? Pekerjaan orang tuamu apa? Dan pendidikanmu sampai di mana?"
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan dengan cepat dan tajam, seperti peluru yang siap menghujam jantung Maheera.
"Saya... saya dari desa kecil di pinggiran kota, Nyonya. Orang tua saya sudah meninggal. Dan saya... saya hanya tamatan sekolah menengah," jawab Maheera pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Wajah Ny. Savitri langsung berubah menjadi masam. Ia tertawa sinis, suara tawanya terdengar sangat menyakitkan.
"Hahaha! Mendengar itu? Ranveer? Kau dengar?!" serunya pada suaminya. "Anak yatim piatu, tidak punya latar belakang, pendidikan rendah, dan pastinya tidak punya uang sepeser pun! Dan ini calon istri yang dipilih oleh putra tunggal kita?!"
"Ibu!" tegur Aaryan keras. "Jangan bicara seperti itu! Maheera punya harga diri yang jauh lebih tinggi daripada wanita-wanita kaya yang sombong!"
"Harga diri apa?! Harga diri itu bisa dimakan? Bisa dibelikan mobil? Bisa dibelikan rumah?!" bentak Ny. Savitri tak kalah keras. "Lihat dia! Lihat cara dia duduk! Cara dia bicara! Semuanya kaku! Semuanya kampungan! Bagaimana mungkin dia bisa menjadi Nyonya Singhania?! Bagaimana mungkin dia bisa mewakili keluarga kita di acara-acara penting?! Orang-orang akan menertawakan kita!"
Maheera merasa matanya semakin panas. Air mata hampir jatuh, tapi ia berusaha sekuat tenaga menahannya. Ia tidak mau terlihat lemah di depan mereka. Ia tidak mau mempermalukan Aaryan.
"Savitri! Cukup!" Mr. Ranveer akhirnya angkat bicara dengan tegas. "Kau terlalu berlebihan! Biarkan gadis itu bicara!"
"Bicara apa lagi?! Fakta sudah jelas di depan mata!" Ny. Savitri tidak mau kalah. Ia lalu menatap tajam ke arah Maheera.
"Dengar ya Nonya... atau siapa pun namamu," ucapnya perlahan, menekan setiap kata. "Aku tahu kau wanita yang pintar. Kau tahu cara memanfaatkan situasi. Kau tahu cara merayu anakku supaya dia tergila-gila padamu. Tapi kau salah besar jika berpikir kau bisa dengan mudah masuk ke dalam keluarga ini."
Maheera menatap wanita itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Saya tidak pernah merayu siapa pun, Nyonya. Saya mencintai Aaryan dengan tulus..."
"TULUS?!" potong Ny. Savitri melengking. "Jangan bercanda! Cinta apa yang kau tahu?! Kau mencintai hartanya kan?! Kau mencintai statusnya kan?! Kalau Aaryan bukan orang kaya, bukan pewaris tunggal, apakah kau masih mau melihat wajahnya?!"
Pertanyaan itu begitu tajam hingga membuat Maheera tersentak. Dadanya terasa sesak, seolah ditonjok keras.
"Saya..." Maheera tak bisa menjawab. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh juga membasahi pipinya. "Saya mencintainya karena dia Aaryan... bukan karena apa yang dia punya..."
"Omong kosong! Semua wanita sama saja! Kalian semua sama saja! Hanya memikirkan uang!" umpat Ny. Savitri terus.
Tiba-tiba, Aaryan berdiri dengan kasar. Ia menarik tangan Maheera untuk ikut berdiri. Wajahnya memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
"CUKUP IBU!!!" teriaknya sangat keras hingga seluruh ruangan bergema. "Sudah cukup menghinanya! Aku tidak akan membiarkan ini terus terjadi!"
Ia menatap ibunya dengan mata yang penuh api. "Maheera jauh lebih baik daripada Ibu! Jauh lebih mulia! Dia tidak pernah menghina orang lain! Dia tidak pernah memandang orang dari harta! Dan aku bangga mencintainya!"
"Aaryan..." panggil Maheera pelan, menarik lengan kekasihnya. "Sudahlah... jangan bertengkar..."
"Tidak! Aku tidak terima mereka menghinamu!" Aaryan menatap Maheera lembut sejenak, lalu kembali menatap orang tuanya.
"Aku membawa dia ke sini bukan untuk dimintai keterangan atau dihina! Aku membawa dia ke sini untuk mengatakan bahwa aku akan menikahinya! Segera! Dan tidak ada yang bisa menghentikanku! Termasuk Ibu!"
Setelah mengucapkan itu semua, Aaryan langsung menggandeng tangan Maheera dan berbalik badan ingin pergi.
"Tunggu!!!" teriak Ny. Savitri tiba-tiba.
Aaryan dan Maheera berhenti melangkah.
"Kalau kau benar-benar ingin menikahinya..." suara Ny. Savitri berubah menjadi sangat dingin dan serius. "Maka kau harus siap kehilangan segalanya. Kau akan kehilangan hak warismu, kau akan kehilangan jabatanmu di perusahaan, dan kau akan keluar dari keluarga ini. Pilih! Antara harta dan nama besar keluarga... atau wanita rendahan itu!"
Suasana menjadi hening total.
Maheera ternganga. Ia menatap Aaryan dengan mata terbelalak. Ia tidak menyangka ibunya akan berkata sejauh itu.
Aaryan berdiri tegak membelakangi mereka. Bahunya terlihat bergetar menahan emosi. Tanpa menoleh sedikitpun, ia mengucapkan kalimat yang mengubah segalanya selamanya.
"Pilihanku sudah bulat. Aku memilih Maheera. Dan biarlah semua yang Ibu katakan itu terjadi. Karena bagiku... dia lebih berharga dari seluruh harta di dunia ini."