NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Kulihat topografi pantai dan pekatnya malam dari sini menggunakan binokular night vision . Ada beberapa mobil polisi di sana yang artinya Agung sudah bergerak. Aku bisa sedikit bernafas lega, tapi tak menurunkan kewaspadaanku. Bisa saja anak buah Marko ada yang melarikan diri. Aku di sini, menjaganya untuk tetap aman, setidaknya sampai esok hari, tapi, aku sejujurnya ingin menjaganya sampai diri ini tak bernafas lagi.

Dan benar saja, sayup-sayup aku mendengar suara boat dari arah barat. Kuambil binokularku, dan kulihat anak buah Marko sepertinya bergerak ke arah kami. Aku masuk tenda dan memberi tahunya.

"Ghea, sepertinya mereka mendekati pulau ini. Kamu tolong bersiaplah, terutama obat-obatmu."

Ghea tak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya mengangguk dan memasukkan kebutuhannya ke dalam tas. Aku keluar dari tenda untuk melihat dimana mereka berlabuh, dan aku juga mencari tempat persembunyian yang tepat untuk Ghea.

Dua pri tampak mulai berlabuh di sebelah barat pulau ini. Aku mengajak Ghea untuk berpindah ke tempat yang tepat untuk menghadapi mereka berdua sebelum mereka masuk ke pulau ini terlalu jauh.

Bau garam dan lumut karang yang basah memenuhi rongga hidungku. Aku bisa merasakan jantung Ghea berdegup kencang melalui lengannya yang kupegang erat. Di depan kami, vegetasi pulau ini mulai menipis, menyisakan deretan semak belukar yang rendah namun cukup rimbun untuk menyembunyikan tubuh kecilnya.

"Ghea, masuk ke sana. Jangan bergerak, jangan bersuara, apa pun yang terjadi," bisikku tajam tepat di telinganya.

Dia menatapku dengan mata yang membelalak ketakutan, bibirnya bergetar tanpa kata. Tanpa menunggu jawabannya, aku mendorongnya pelan ke dalam rimbunan semak yang gelap. Aku memastikan siluetnya benar-benar hilang ditelan dedaunan sebelum aku sendiri merangkak ke balik pilar batu, beberapa meter dari posisinya. Aku harus menjadi umpan.

Aku menurunkan kacamata night vision ke depan mataku. Seketika, pantai yang gelap gulita berubah menjadi lanskap hijau neon yang tajam. Di kejauhan, dua siluet pria bergerak menanjak dari pantai. Mereka membawa laras panjang, bergerak dengan formasi taktis.

"Terlalu lambat," gumamku.

Aku mengganti lensaku ke kacamata termal. Melalui sensor panas, dunia hijau tadi berubah menjadi biru dingin dengan dua objek merah membara yang bergerak di tengahnya. Itu mereka. Aku bisa melihat detak panas tubuh mereka bahkan di balik kabut tipis air laut.

Aku meletakkan tas berisi laptop di sela karang agar tidak menghambat gerakanku. Tanganku bergerak ke pinggang, menarik Glock 17. Bunyi klik saat aku melepas pengaman terasa sangat nyaring di telingaku. Aku mengintip dari balik celah batu, mengunci sasaran pada pria yang berada di sisi kiri.

Dor! Dor!

Dua tembakan teredam melesat. Pria itu jatuh tersungkur sebelum menyadari dari mana peluru berasal. Namun, temannya bereaksi cepat. Dia melepaskan rentetan tembakan ke arah pilar batuku. Serpihan karang beterbangan, salah satunya menggores pipiku.

"Sial," umpatku pelan. Aku melirik ke arah semak tempat Ghea bersembunyi. Dia tidak boleh ketahuan.

Penjahat kedua merangsek maju, menembak secara membabi buta sambil mendekat. Dia cukup pintar untuk tidak membiarkanku membidik kembali. Saat dia hanya berjarak tiga meter, dia menerjang ke balik batuku dengan pisau sangkur yang terhunus.

Aku tidak sempat mengangkat Glock. Dengan gerakan refleks, aku menjatuhkan senjata apiku dan menarik karimbit dari saku taktis di paha. Jari telunjukku masuk ke lubang cincin pisaunya, mengunci bilah lengkung itu di telapak tanganku.

Dia mengayunkan sangkur ke arah leherku. Aku merunduk, memutar tubuh di atas permukaan karang yang licin, dan menyabetkan karimbitku ke arah pergelangan kakinya. Dia meraung saat tendonnya terputus. Sebelum dia bisa memutar badan, aku sudah berada di punggungnya. Dengan satu gerakan flow yang cepat, aku menghujamkan ujung melengkung karimbit itu ke titik saraf di bahunya, melumpuhkannya seketika.

Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara ombak yang menghantam karang. Aku menyarungkan kembali pisauku dan mengambil Glock yang terjatuh. Setelah memastikan dua orang itu tewas, aku menuju tempat Ghea bersembunyi.

"Ghea, keluar," panggilku dengan suara rendah. "Sudah aman."

Dia muncul dari balik semak dengan wajah pucat dan tubuh yang masih gemetar hebat. Aku mendengar nafasnya mulai berbunyi. Seketika hatiku hancur. Aku tahu ini bukan dunianya. Ini duniaku dan dia harus ikut menanggung akibatnya. Aku merogoh saku jaket taktisku, mengambil inhaler dan membantunya untuk menghirupnya.

Ku dudukkan dia dengan punggung tegak di atas sebuah batu, dengan tangan kananku aku menyangga tubuhnya dan tangan kiriku membantunya dengan inhaler. Aku panik. Disini jauh dari Tora-Tora, jauh dari rumah sakit seandainya asmanya memburuk. Perjalanan tercepat 1,5 jam dari sini. Helikopter cepat tapi sayangnya di Tora-Tora tak ada yang punya. Aku hanya berdo'a pada Tuhan, do'a Tulus agar Ghea tidak seperti saat itu.

Nafas Ghea akhirnya terdengar ringan. Wajahnya perlahan juga terlihat memerah, bukan wajah yang pucat lagi. beban di hatiku seolah terangkat. Melihatnya hidup adalah anugerah terbesarku. Aku memeluknya sebentar sebagai wujud rasa lega yang menyelimuti hatiku.

"Ghea, sebentar lagi fajar menyingsing, maukah kau melihat matahari terbit disini?" Ajakku untuk membuatnya lebih tenang.

Dia mengangguk. Aku memakai tas taktisku di depan dadaku kemudian berjongkok.

"Naiklah ke punggungku. Jalannya agak jauh dan kamu masih lemas."

"Tidak perlu, aku kuat berjalan." Katanya rendah sambil tersenyum. Senyum yang entah apa artinya, aku sulit menafsirkannya.

"Jalannya agak jauh. Naiklah. Aku kuat."

Ghea dengan ragu menghampiriku dan naik di punggungku. Aku berdiri. Berat, tapi tidak seberat beban di hati dan pikiranku.

"Tidak berat?" tanyanya.

"Tidak. Masih berat ransel di depanku ini." jawabku sambil tersenyum.

Inilah ketakutanku, kelemahanku. Melihatnya kembali tak berdaya karena sulit bernafas membuat hatiku sakit. Aku ingin sekali tahu penyebab asmanya kambuh saat di pantai Kreya, sesaat sebelum aku menjalani misi memuakkan ini. Aku ingin tahu kenapa Ghea tampak sangat marah padaku saat itu, tapi aku memilih untuk tidak menanyakannya karena aku tak ingin melihatnya masuk HCU kembali, sampai dia sendiri yang memberi tahuku.

Kami menapaki pulau itu langkah demi langkah. Kacamata nightvision yang bertengger diatas hidungku sangat membantuku menembus rimbunnya pohon dan pekatnya malam. Beberapa kali aku menyingkirkan dahan atau ranting yang menghalangi jalan kami. Sekitar 30 menit kemudian kami sampai di pantai. Langit masih gelap, tapi, cahaya putih samar mulai tampak mengisi hitamnya langit malam. Angin laut membuat pohon kelapa menari-nari dalam bayang-bayang malam yang dingin.

Aku mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Setidaknya Ghea memiki tempat yang nyaman untuk memulihkan nafasnya yang hampir terhenti karena ketakutannya. Kuputuskan untuk duduk diatas pasir pantai putih yang menghampar di hadapanku yang membuatku tampak jelas dibalik kontras warna. Aku berjongkok agar Ghea bisa turun dari punggungku dan duduk dengan nyaman.

"Kita duduk di sini ya matahari terbit dari sana. sepertinya disini tempat yang tepat menikmati momen sunrise." aku mengatakan padanya dengan cara yang paling lembut yang pernah terucap.

Ghea melepas tas punggungnya yang berisi dengan inhaler itu dan kemudian dia duduk di atas pasir yang terhampar bersih. Akupun melepas kacamata yang sudah membantuku memberikan gambaran jelas itu dan juga ranselku itu, kemudian aku duduk di samping Ghea. Angin laut menerjang tubuh kami. Rambut Ghea berkibar dan berlari searah dengan arah angin yang kuat. Aku merangkul bahu Ghea dan mengarahkan kepalanya untuk bersandar di dadaku.

"Sekali ini saja Ghe, kumohon. Kita nikmati angin pagi ini untuk pertama dan terakhir kalinya, sebentar saja." Kataku dengan mata sambil menatap jauh ke depan seolah aku akan tahu tentang apa yang akan terjadi esok hari.

1
Suris
Novel spionase dan petualangan yg palung bagus yg pernah sy baca di NT.
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/
Iris Aiza: Semoga Kakak suka dengan perjalanan Ghani dan Ghea sampai akhir 🙏🙏🙏😊😇
total 2 replies
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!