Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.
Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.
Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.
Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA DI TANGAN, MATI DIHATI
Suara pecahan kaca menggema di seluruh ruang kerja yang sunyi itu. Cermin besar yang tadinya menampilkan bayangan kemarahan Nayaka kini hancur berkeping-keping, sama seperti kendali dirinya. Darah segar mulai merembes dari buku-buku jarinya, menetes satu demi satu ke lantai, namun Nayaka seolah tidak merasakan perihnya. Rasa sakit di tangannya tak sebanding dengan rasa terhina yang membakar dadanya.
"Brengsek! Niat wanita licik itu... dia sengaja pertahanin pernikahan ini buat keuntungannya sendiri!" desis Nayaka dengan napas memburu.
Di mata Nayaka, semuanya kini terlihat masuk akal secara bengkok. Ia merasa Azzura sengaja menjebaknya dalam pernikahan ini agar anak hasil hubungannya dengan pria lain memiliki status dan nama besar keluarga Nayaka. Ia merasa dimanfaatkan sebagai "tameng" untuk menutupi aib perselingkuhan istrinya.
Ia menyandarkan punggungnya ke meja kerja, membiarkan tangannya yang terluka menggantung lemas. Tatapannya kosong tertuju pada pecahan kaca di bawah kakinya.
"Lo main-main sama orang yang salah, Ra," batinnya penuh dendam.
Nayaka sama sekali tidak menyadari bahwa pengkhianatan yang sesungguhnya tidak datang dari Azzura, melainkan dari orang tua yang paling ia percayai. Ia tidak tahu bahwa darah yang mengalir di tangannya saat ini adalah darah yang sama dengan janin yang sedang dikutuknya di dalam rahim Azzura.
Sambil menahan amarah yang mulai berubah menjadi kebencian murni, ia meraih ponselnya dengan tangan yang masih gemetar dan berdarah. Satu nama muncul di benaknya: Damira. Ia merasa harus segera menemui Damira, menjelaskan bahwa situasi ini adalah jebakan, meski ia sendiri tidak tahu bagaimana cara membuktikannya di tengah bukti medis yang begitu nyata.
Malam itu, di ruang kerja yang berantakan, Nayaka bersumpah tidak akan membiarkan Azzura hidup tenang, tanpa tahu bahwa ia sedang menghancurkan darah dagingnya sendiri.
Aroma kopi dan denting sendok di kafe itu biasanya memberikan ketenangan bagi Damira, namun kehadiran Nayaka yang tiba-tiba membuat suasana seketika berubah tegang. Damira sudah bersiap untuk meluapkan amarahnya—mengingat janji Nayaka untuk segera menceraikan Azzura yang tak kunjung terealisasi—namun kata-katanya tertahan di tenggorokan.
"Nay... kamu kenapa?" tanya Damira, suaranya bergetar karena khawatir.
Ia segera berdiri, mengabaikan tasnya, dan menghampiri Nayaka. Matanya tertuju pada tangan Nayaka yang robek dan masih mengucurkan darah segar, serta sorot mata pria itu yang tampak hancur, kalut, dan penuh kemarahan yang tertahan.
"Duduk dulu, Nay. Duduk," ucap Damira sambil menuntun Nayaka ke kursinya. Ia segera mengambil tisu dari atas meja dan mencoba menekan luka di tangan Nayaka dengan lembut. "Kenapa tangan kamu sampai begini? Kamu berantem? Atau ada masalah lagi di rumah?"
Nayaka hanya diam, membiarkan Damira mengobati tangannya. Namun, tatapannya begitu tajam, seolah sedang menahan beban yang sangat berat.
"Mira..." suara Nayaka serak, hampir pecah. "Wanita itu... dia benar-benar licik. Dia hamil, Mir."
Tangan Damira yang sedang memegang tisu seketika membeku. Ia mendongak, menatap mata Nayaka dengan tatapan tidak percaya. "Hamil? Maksud kamu... Azzura?"
"Iya," jawab Nayaka pendek, giginya bergeletuk. "Tapi itu bukan anak gue, Mir. Gue berani sumpah gue nggak pernah nyentuh dia. Dia hamil anak laki-laki itu, dan sekarang dia pakai anak itu buat ngiket gue! Dia mau hancurin kita!"
Damira terdiam seribu bahasa. Informasi itu bagai serangan jantung baginya. Di satu sisi, ia ingin mempercayai Nayaka, namun di sisi lain, kenyataan bahwa Azzura hamil di tengah status mereka sebagai suami istri adalah tembok besar yang baru saja runtuh menimpa hubungan mereka.
"Nay, kalau dia hamil... keluarga kamu nggak akan mungkin lepasin dia," bisik Damira lirih, air mata mulai menggenang di matanya. "Rencana kita... semuanya berantakan."
Damira melepaskan tangannya dari luka Nayaka. Ia menatap pria di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara cinta, kekecewaan, dan kepasrahan yang mendalam. Kata-kata Nayaka tentang "bukan anaknya" tidak membuat beban di hati Damira berkurang, justru menambah kerumitan yang tak berujung.
"Udah aku bilang, kita nggak harus balik lagi, Nay," ucap Damira dengan suara yang mulai serak. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya sendiri.
"Tapi kamu juga nggak bisa begini. Kamu hancur. Lihat tangan kamu, lihat diri kamu sekarang," lanjutnya sambil menunjuk luka yang masih memerah itu. "Kamu harus berobat, nggak usah mikirin aku lagi. Kamu harus urus anak itu, sekalipun kamu mau cerai karena keinginan kamu sendiri, kamu harus nunggu sampai dia melahirkan."
Nayaka hendak menyela, namun Damira menggeleng pelan, memintanya untuk diam.
"Sekalipun kita nggak akan sama-sama lagi, kamu tetap punya tanggung jawab secara hukum dan nama baik keluarga. Kamu nggak bisa buang dia gitu aja dalam kondisi hamil, Nay. Orang-orang nggak akan peduli itu anak siapa, yang mereka tahu itu adalah anak dari pernikahan kalian."
Damira mengusap air mata yang akhirnya jatuh juga. Ia merasa kalah oleh keadaan, kalah oleh sebuah rencana yang bahkan tidak ia ketahui siapa dalangnya.
"Pulanglah, Nay. Obati tangan kamu, dan obati hati kamu yang lagi berantakan itu. Jangan buat keputusan saat kamu lagi dikuasai setan kayak gini. Aku... aku butuh waktu untuk diri aku sendiri juga."
Nayaka terpaku di tempat duduknya. Kalimat Damira barusan terasa lebih menyakitkan daripada tamparan Azzura kemarin. Di saat ia berharap Damira akan mendukungnya untuk mengamuk, wanita itu justru memintanya untuk bertahan dalam neraka yang ia sebut pernikahan itu sampai waktu yang belum ditentukan.
Ia menatap tangannya yang dibalut tisu penuh darah, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan satu-satunya tempat bersandar yang ia miliki. Kini, ia benar-benar sendirian menghadapi "anak" yang ia benci dan istri yang ia anggap musuh, tanpa tahu bahwa takdir sedang menertawakannya dari balik pintu rumahnya sendiri.
Nayaka mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun pikirannya tertinggal di kafe tadi. Kata-kata Damira yang memintanya bertahan sampai Azzura melahirkan terasa seperti vonis penjara seumur hidup.
Ia akhirnya sampai di sebuah rumah sakit swasta. Dengan langkah gontai dan kemeja yang terkena bercak darah, ia berjalan menuju ruang instalasi gawat darurat. Perawat segera menghampirinya, menuntunnya ke sebuah brankar untuk membersihkan pecahan kaca yang masih tertanam di buku-buku jarinya.
Saat dokter mulai menjahit luka di tangannya tanpa bius total, Nayaka sama sekali tidak meringis. Rasa perih dari jarum yang menembus kulitnya terasa tawar dibandingkan gejolak di dadanya.
"Luka bisa diobati, Mira... tapi hati enggak bisa," bisik Nayaka sangat lirih, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan suara peralatan medis.
Ia menatap langit-langit rumah sakit yang putih bersih, namun yang terbayang di matanya adalah wajah Azzura yang menangis ketakutan tadi siang. Ada rasa benci yang mendalam, namun terselip sebuah keraguan kecil yang mulai mengusik: Kenapa Azzura tampak sama kagetnya denganku?
Namun, ego Nayaka segera menepis pikiran itu. Baginya, Azzura adalah aktris terbaik yang pernah ia temui.
Selesai dengan urusan medis, Nayaka tidak langsung pulang. Ia duduk di kursi tunggu apotek rumah sakit, menatap perban putih yang melilit tangan kanannya. Ia merasa terjebak dalam labirin yang dibuat oleh orang-orang di sekitarnya.
Ia tidak tahu bahwa saat ini, di rumah mereka, Azzura sedang meringkuk di lantai kamar mandi yang sama, mempertanyakan takdir yang terasa begitu kejam. Nayaka bangkit, matanya kembali mendingin. Jika ia harus terjebak dalam pernikahan ini karena janin itu, maka ia bersumpah akan memastikan Azzura merasakan neraka yang sama setiap harinya.
Ia melangkah keluar menuju parkiran, siap kembali ke rumah untuk menghadapi "sandiwara" yang menurutnya sedang dimainkan oleh istri dan keluarganya.