Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Misterius
Mendengar suara robotik dari sistem memberikan peringatan, Jay menjadi waspada. Takutnya member yang diperkirakan sistem nya itu adalah salah satu dari putri Aida.
Bagaimana tidak untuk Jay menjadi se waspada itu, pasalnya saat ini masih lah jam sembilan malam. Belum tentu juga Shiva, Shitta atau pun Shilla akan terlelap di waktu yang masih dibilang senja ini.
Namun tanpa Jay sadari, sosok bergaun ungu transparan melayang secara tak kasat mata melalui ventilasi jendela kamar nya. Mata jernih nya menatap tubuh Jay yang ber telan jang dada dan Aida yang sudah polos berpelukan di atas ranjang.
"Sungguh aura yang sangat kuat!" Gumam sosok bergaun ungu tersebut. Merasa takjub pada aura yang di pancarkan oleh tubuh Jay. "Namun, keliatan nya mesum banget!" Imbuhnya dengan ekspresi jijik.
Sosok itu terus memperhatikan interaksi Jay bersama Aida di kamar itu. Keterampilan nya memang hanya sebatas menjadi tak kasat mata untuk waktu yang di tentukan.
Setelah beberapa menit kemudian, karena tak ada lagi hal yang akan di tonton nya, Tubuh ramping nya segera kembali melesat keluar melalui ventilasi jendela kamar.
"Ada apa?" Merasa Jay waspada, Aida bertanya dengan lembut. Jemarinya memainkan perut Jay yang berbentuk enam roti sobek itu.
Jay yang merasa ada tekanan udara beberapa saat yang lalu telah memudar kembali, menghela nafas dengan perlahan. "Nggak apa-apa, sayang. Mungkin hanya perasaan ku saja." Jawabnya sambil mengelus punggung Aida yang mulus.
Posisi Jay saat ini terlentang, tangan kiri nya tertindih oleh tubuh Aida yang memeluknya dengan posisi miring menghadap pada tubuh nya.
"Apakah kamu merasakan ada yang memperhatikan kita?" Tanya Aida kembali. Sebenarnya wanita itu juga merasakan ada yang aneh, namun layar hologram nya tak ada memberikan respon sama sekali.
"Sstt! Ada yang datang." Bisik Jay, saat mendengar ada langkah kaki yang menuju ke arah pintu kamar nya.
Gegas Aida turun dari ranjang, dengan panik dia menuju ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
Tok, tok, tok.
Mendengar suara ketukan pintu yang sangat pelan, Jay jadi penasaran. Siapa gerangan yang berkunjung ke kamar nya malam-malam begini? Biasanya, hanya Aida lah yang berani mengunjungi nya. Nggak mungkin itu Shiva, kan? ucap Jay dalam hati bertanya-tanya.
Dia tak bisa mengaktifkan mata tembus pandang nya saat ini. Karena cooldown kemampuan tersebut selama enam jam. Dia baru saja menggunakan itu jam empat sore tadi, dan sekarang masih jam sembilan.
"Siapa?" Tanya Jay sedikit mengeraskan suara nya. Namun pemuda itu terus berjalan menuju pintu.
"Ce klek!"
Setelah pintu terbuka, di depan sana berdiri Shilla yang mengenakan Gaun tipis berwarna biru, Gadis itu mengenakan pakaian dalam berwarna hitam di balik gaun nya yang transparan. Shilla mengedarkan pandangannya ke dalam kamar.
"Ada apa La?" Tanya Jay sambil melebarkan mulutnya, berpura-pura menguap di hadapan Shilla. Seolah-olah dia sangat mengantuk.
Shilla yang baru saja menyadari Jay ber telan jang dada menutup mata nya dengan satu telapak tangannya. "huh! Kok lu telan jang sih?" Ucap nya membentak Jay. Di sela jarinya masih lah bisa melihat tubuh sixpack pemuda itu.
"Lho? Apa salahnya? Ini kan di dalam kamar gue!" Sela Jay dengan cepat. Merasa tak mempermasalahkan keadaannya di dalam kamar nya sendiri.
"Idih! Ini tuh kamar gue. hus, hus, minggir! Ada sesuatu yang mau gue ambil." Ucap nya mengibaskan satu tangan nya yang lain, suaranya seperti sedang mengusir ayam tetangga yang memasuki pekarangan rumah nya.
Dengan langkah gontai, Jay masuk kedalam terlebih dahulu. Pemuda itu langsung melotot melihat adanya onggokan gaun Aida di sisi kiri ranjang.
Sedangkan Shilla masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar bernuansa biru itu. Tak memperhatikan kaki Jay menendang gaun Aida ke bawah kolong tempat tidur.
Melihat gelagat yang aneh dari Jay, Shilla menyipitkan matanya memandang ke arah pemuda itu. "Kenapa lu belum juga pake baju?" Ucap nya dengan ketus. Kemudian dia melangkah tergesa-gesa ke meja rias milik nya dulu.
Mendapati perkataan seperti itu dari sepupunya, Jay hanya mengangkat kedua bahunya, menyerah dengan perdebatan kecil itu. Lalu dia mengenakan kembali baju kaos yang di lampirkan nya di kursi belajar itu ke tubuh nya.
'Aneh! Perasaan gue merasakan ada aura ungu cukup kuat yang melesat kekamar ini. Kemana pergi nya ya?' Ucap Shilla dalam hati, bertanya-tanya tentang apa yang dirasakan nya tadi.
Kemudian gadis itu mengambil sesuatu yang mungkin akan menjadi alasannya untuk masuk ke dalam kamar ini. "Nah ketemu!" Ucap nya pura-pura telah menemukan sesuatu yang di carinya. Padahal benda itu hanyalah botol parfum yang isinya tak seberapa lagi.
"Heleh! Cuma parfum murahan. Padahal besok pagi juga bisa lu ambil, gangguin mimpi gue aja!" Dengus Jay.
"Suka-suka gue dong! Kamar ini kan kamar gue." Ucap Shilla sinis, meleletkan lidah nya ke arah Jay. Lalu gadis mendekati posisi Jay yang berdiri di dekat pintu yang menghalangi Shilla untuk keluar. "Sekarang, lu bebas! Mau buka baju kek, Mau telan jang kek. Awas!" Lanjut nya dengan nada mengejek sambil mendorong Jay kesamping agar dia bisa keluar dari kamar itu.
Mata Jay berbinar nakal, ingin menggoda gadis ini. "Benarkah? Emang boleh telan jang?" Jay membuka baju kaos nya kembali. Setelah kaos itu terlepas, dia melemparkan nya begitu saja.
Shiva yang melihat itu menjadi gugup, matanya nanar melihat tubuh bagian atas pemuda itu. Refleks tubuh nya bergerak mundur ketika Jay menundukkan badan kearah nya.
Kedua tangan Jay bersiap untuk melorot kan celana nya, namun gadis itu berteriak sambil mendorong Jay dengan kasar ke arah samping, membuat Jay benar-benar terhuyung dan memberi celah untuk gadis itu melarikan diri.
Shilla menoleh pada Jay yang sudah tersungkur dengan tidak elegan itu. "Dasar mesum!" Hardiknya, melotot kearah Jay setelah berhasil keluar dari kamar itu. Dengan cepat dia membalikkan tubuh nya melangkah dengan tergesa-gesa menuju kamar Shitta yang dia tempati sekarang.
Jay bangkit sambil terkekeh memandang Shilla yang sudah menutup pintu kamar Shitta. Pemuda itu semakin tergelak ketika Shilla membuka kembali pintu kamar shitta sambil mengacungkan tinju mungil nya yang terkepal.
Aida keluar dari kamar mandi setelah mendengar Jay mengunci kembali pintu kamar itu. "Anak itu, benar-benar keras kepala." Wanita itu geleng-geleng kepala, karena mendengar perdebatan mereka dari dalam kamar mandi.
Jay terpana melihat Aida keluar dengan mengenakan handuk yang biasanya dia gunakan. Handuk putih yang kekecilan itu melilit di tubuh nya yang aduhai.
"Ntar keluar tuh biji mata!" Celetuk Aida yang mengetahui Jay menatap tubuh nya dengan melotot.
"Hehehe." Jay terkekeh. Dengan gerakan cepat dia melorot kan celananya. "Udah siap tempur lagi, nih sayang!" Ucap nya sambil menunjuk tombaknya dengan jari telunjuk nya sendiri.
Wajah Aida memerah melihat kearah sang tombak. Dia pun mendekati Jay, berdiri di hadapan pemuda itu, mendekatkan bibir nya di telinga keponakan nya itu. "Kalau suami pengen, aku sebagai istri, nggak mungkin menolak, bukan?" Bisiknya dengan nada menggoda.
Senyum menjijikkan terlukis di bibir merah Jay. Tangan nya langsung membuka simpul handuk yang tak sepenuhnya menutupi tubuh Aida nan mulus itu. Dengan semangat Enam Sembilan pemuda itu menggendong Aida untuk di bawanya ke atas ranjang.
"Kiya!" Aida menjerit ketika tubuh nya memantul-mantul di atas ranjang, namun dia dengan cepat menutup mulutnya.
Jay terkekeh melihat ekspresi Aida yang menurutnya semakin imut itu.
Aida memeluk tubuh Jay yang telah menindih nya. "Sekali aja ya sayang. Soal nya masih perih ini." Ucap Aida memohon. Tubuh nya bergetar pelan, ketika merasakan kedua pucuk payu dara nya dimainkan mulut Jay dan tangan pemuda itu.
"Baiklah, Sekali buat pelepasan aku." Ucap Jay melepaskan kuluman pada pucuk payu dara itu, "Tapi untuk mu, aku nggak jamin bisa berapa kali pelepasannya."
"Cup!"
Jay langsung saja mengecup bibir sensual itu dengan rakus. Malam ini, dirinya benar-benar akan mengeksplorasi setiap senti tubuh Aida.
*****