SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Kata di Koridor Loker
Pagi ini, langit di atas SMA Cakrawala Bangsa tampak muram, seolah mendukung suasana hati Aruna yang masih sedikit tegang.
Setelah "pelatihan" singkat dari Sasha dan Jelita kemarin sore, Aruna merasa seperti membawa beban baru di pundaknya. Ia terus mengulang-ulang kalimat "gue-elu" di dalam kepalanya saat berjalan melewati gerbang sekolah.
Aruna berjalan dengan langkah tenang menuju loker untuk mengambil buku Kimia. Saat ia membuka pintu loker, sebuah botol susu cokelat dingin dan sebungkus roti duduk manis di sana, lengkap dengan catatan kecil bertuliskan: 'Semangat belajarnya hari ini, Aruna. Jangan lupa sarapan ya.'
Aruna mengernyit. Ia mengambil botol susu itu dengan wajah bingung. Matanya menyapu sekitar koridor yang masih sepi. "Siapa yang ngasih ya?" gumamnya pelan. Ia tidak merasa sedang menunggu kiriman dari siapa pun.
Namun, lamunannya buyar seketika.
"Eh, anak pintar. Lagi dapet kiriman dari penggemar rahasia?"
Suara berat yang menyebalkan itu muncul tepat di samping telinganya. Aruna tersentak dan hampir menjatuhkan botol susunya.
Di sana, bersandar pada loker sebelah, berdiri Aska dengan gaya urakannya. Seragamnya tidak dikancing, dan ia menatap botol di tangan Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aska sebenarnya tidak terima dengan sikap Aruna kemarin yang mengabaikannya begitu saja. Ia penasaran dengan karakter Aruna yang tampak sangat berbeda dari gadis-gadis lain di sekolah ini.
"Eh, lu!" seru Aruna, mencoba memasang wajah berani. "Bisa nggak sih nggak usah muncul tiba-tiba kayak setan? Kaget tau nggak!"
Aska menaikkan satu alisnya, tampak terkejut sekaligus terhibur mendengar perubahan gaya bicara Aruna yang mulai menggunakan "lu-gue". Ia justru melangkah maju, memperpendek jarak.
"Wah, udah pinter ngomong 'lu-gue' sekarang?" Aska tertawa kecil, tawa yang terdengar meremehkan sekaligus geli. "Lu nggak cocok tahu nggak pake 'lu-gue'. Kedengerannya maksa banget di kuping gue."
Aruna menatap mata tajam Aska tanpa ragu. "Peduli amat gue cocok apa nggak. Yang penting gue nggak perlu bersikap manis sama orang kayak lu."
"Orang kayak gue?" Aska maju satu langkah lagi, membuat Aruna terpaksa mundur hingga punggungnya menempel pada loker. "Emangnya orang kayak gue itu gimana di mata lu?"
"Bagi gue lu tuh orang aneh yang suka gangguin orang" balas Aruna ketus. Ia mencoba mendorong bahu Aska agar menjauh. "Sekarang minggir lo. Gue ada kelas."
Saat Aruna hendak melangkah ke samping untuk pergi, Aska dengan cepat berdiri di hadapan Aluma demi mencegat langkah kakinya. Ia mengunci posisi Aruna di antara tubuhnya dan deretan loker besi itu.
"Gue nggak ngerasa jagoan, Na," gumam Aska, suaranya kini lebih rendah. "Lagian elu tuh yang aneh. Katanya anak sains, pinter, kalem... tapi kenapa lu malah milih cari gara-gara sama gue?"
"Gue nggak cari gara-gara, Aska. Lu yang mulai!" Aruna mendongak, menantang dominasi fisik cowok di depannya. "Gue cuma pengen sekolah dengan tenang tanpa ada orang urakan yang tiba-tiba muncul di depan muka gue tiap hari."
"Gue nggak ganggu, Na." sela Aska tajam. Ia memperhatikan setiap inci wajah Aruna—dari matanya yang berapi-api hingga rahangnya yang mengeras.
"Yaudah, kalo lu gak ganggu biarin gue pergi sekarang, atau gue bakal teriak biar satu sekolah tahu kalau jagoan basket SMA Cakrawala ternyata cuma berani sama cewek di koridor sepi."
Aska terdiam sejenak. Keberanian Aruna benar-benar di luar ekspektasinya. Ia melihat Aruna yang berjuang menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan siapapun kali ini. Pelan tapi pasti, Aska berpindah tempat dan memberi ruang bagi Aruna untuk lewat.
"Oke, oke. Gue lepasin," ujar Aska sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, menyerah secara simbolis. "Tapi jangan pikir urusan kita selesai di sini, Na."
Aruna tidak membalas. Ia segera berjalan cepat melewati Aska tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya mantap, meskipun telapak tangannya sedikit berkeringat. Ia merasa menang karena berhasil mempertahankan suaranya tetap stabil.
Aska hanya berdiri diam di tengah koridor, memperhatikan punggung Aruna yang semakin menjauh. Ia mengusap tengkuknya sambil tersenyum tipis. "Lu emang beda, Aruna. Menarik."
Aruna terus berjalan menuju kelasnya, menyadari bahwa dunianya yang selama ini hanya berisi sains dan angka kini mulai dipenuhi variabel bernama Askara yang tidak bisa diprediksi.
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻