NovelToon NovelToon
Gadis Tulalit Jadi Pengantin Pengganti MR. AROGAN

Gadis Tulalit Jadi Pengantin Pengganti MR. AROGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pengganti / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Pengasuh
Popularitas:29.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.

Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.

Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.

"​Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."

Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tersiksa

Malam terasa begitu panjang. Di balik selimut tebal, tubuh Deva masih menggigil hebat. Keringat dingin membasahi pelipisnya, sementara napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Demam tinggi membuat kesadarannya naik turun, terombang-ambing antara mimpi dan kenyataan.

“Rayna… jangan pergi…” Ia meracau lirih.

Tangannya meremas seprai, seolah berusaha menahan sesuatu yang terus menjauh darinya.

“Maaf… aku salah… jangan tinggalin aku…”

Di kursi samping tempat tidur, Alexa duduk dengan wajah cemas. Tangannya tak henti mengompres dahi putranya dengan kain hangat. Hatinya terasa diremas melihat kondisi Deva yang biasanya keras kepala kini tak berdaya.

Ia menghela napas panjang.

Semua ini… karena ego.

Karena Deva terlalu sibuk mempertahankan harga dirinya, hingga tak mau mendengar penjelasan Rayna. Alexa menatap wajah pucat itu dengan mata berkaca-kaca.

Sudah berkali-kali ia membujuk untuk membawa Deva ke rumah sakit, tapi putranya selalu menolak. Dalam keadaan setengah sadar pun, Deva tetap keras kepala.

“Rayna… nanti dia pulang, Mom…” ucapnya lemah setiap kali Alexa mencoba membawanya pergi.

Seolah satu-satunya obat yang ia butuhkan hanyalah gadis itu.

Hari pertama berlalu.

Hari kedua… Deva masih memanggil nama yang sama.

Hari ketiga…

Nama itu tetap tak tergantikan.

Namun Rayna… tidak pernah datang.

Pagi itu, dengan tubuh yang masih lemah, Deva memaksakan diri bangun. Langkahnya goyah saat menuruni tangga. Alexa yang melihat itu langsung menghampiri.

“Kamu mau ke mana?” tanyanya khawatir.

“Sekolah,” jawab Deva singkat.

“Kondisimu belum pulih, Dev.”

“Aku harus ke sana, Mom.”

Nada suaranya lemah… tapi tegas.

Alexa terdiam. Ia tahu, ini bukan soal sekolah.

Kini di ruang kelas terasa asing. Deva masuk. Matanya langsung mencari satu sosok yang dulu ia hindari tapi kini justru paling ingin ia lihat.

Tapi bangku itu kosong.

Tak ada tas. Tak ada sosok gadisnya yang duduk di sana. Hanya kursi kosong yang terasa menampar hatinya.

Deva berdiri. Dadanya terasa sesak.

“Rayna…” gumamnya hampir tak terdengar.

Ia kemudian menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Sepuluh menit.

Tapi tidak ada yang datang.

Akhirnya, dengan langkah berat, ia berbalik hendak keluar.

Krek…

Suara kursi tiba-tiba bergeser.

Deva langsung menoleh cepat.

Berharap istrinya kembali.

“Ray—”

Namun langkahnya terhenti saat ia melihat wajah yang bukan miliknya. Bukan Rayna. Hanya seorang siswi lain yang baru pindah ke kelas Asha.

Tatapan Deva langsung meredup.

Harapan yang tadi sempat menyala… padam seketika.

“Oh… maaf, Kak,” ucap siswi itu canggung.

Deva tidak menjawab.

Ia hanya menatap kosong selama beberapa detik, lalu berbalik tanpa mengatakan apa pun.

Tepat saat itu, Asha masuk ke dalam kelas.

“Deva—”

Belum sempat ia menyelesaikan panggilannya, Deva sudah melewatinya begitu saja.

Tanpa menoleh.

Tanpa berhenti.

Seolah dunia di sekitarnya sudah tak lagi berarti.

Yang ia cari… hanya satu. Dan orang itu sudah tidak ada.

Di luar kelas, langkah Deva semakin melemah, lalu berhenti di lorong sepi, bersandar pada dinding.

Tangannya mengepal.

Napasnya terengah-engah.

Bayangan Rayna terus menghantui pikirannya—wajahnya, suaranya, bahkan tatapan kecewa yang ia abaikan.

Sekarang… Semua itu terasa seperti hukuman.

“Seharusnya aku mendengarkanmu…” bisiknya parau.

Matanya memanas. Rayna sudah pergi.

Dan sekali lagi, ia merasakan kembali perasaan yang sangat ia benci sepuluh tahun yang lalu. Kehilangan.

Langkah Deva pun terhenti di ujung lorong.

Tubuhnya masih terasa berat, pandangannya sedikit berkunang. Namun ia tetap berdiri, menahan dirinya agar tidak jatuh.

“Deva?”

Suara itu membuatnya menoleh.

Cloe.

Kakaknya berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya langsung berubah panik melihat kondisi Deva yang jelas belum pulih.

“Kamu ngapain di sini?” Cloe buru-buru menghampiri, memegang lengan kanan Deva. “Kamu masih demam! Harusnya kamu istirahat di rumah, bukan malah ke sekolah!”

Deva tidak langsung menjawab.

Tatapannya kosong tapi dalam.

“Aku nyari dia…” gumamnya pelan.

Cloe mengerutkan kening. “Rayna?”

Deva mengangguk lemah.

“Dia nggak ada di sini,” lanjut Cloe pelan, mencoba menenangkan. “Kamu pulang dulu, ya? Kita cari cara baik-baik—”

“Meksiko.”

Satu kata itu keluar begitu saja dari bibir Deva.

Cloe terdiam.

“Aku mau ke Meksiko,” lanjut Deva, kali ini lebih jelas. “Sekarang.”

“APA?” suara Cloe meninggi tanpa sadar. “Kamu lagi sakit, Dev! Jangan ngaco!”

Namun Deva tetap menatap lurus ke depan.

“Aku harus ketemu dia.”

Napasnya terdengar berat.

“Aku harus minta maaf… aku harus jelasin semuanya… aku nggak bisa biarin dia pergi lagi.”

Cloe menggenggam lengannya lebih erat.

“Kamu bisa mati di jalan kalau maksa begini!” tegasnya. “Tubuhmu aja masih gemetar, Dev!”

Namun Deva perlahan melepaskan pegangan itu.

“Aku nggak peduli.”

Jawabannya singkat. Tapi cukup untuk membuat hati Cloe terasa teriris.

“Aku cuma mau dia tetap di sisiku…”

Suara Deva melemah di akhir kalimat. Bukan lagi nada keras kepala. Melainkan… putus asa. Dari belakang, langkah pelan terdengar mendekat.

Cecilia.

Sejak tadi ia berdiri diam, menyaksikan semuanya. Wajahnya menunjukkan rasa iba yang tak bisa ia sembunyikan.

Melihat Deva seperti ini… bahkan hatinya ikut sakit.

Cloe menghela napas panjang, menutup matanya sejenak.

“Aku temani kamu,” ucap Cloe akhirnya, suaranya melembut. “Kalau kamu tetap mau ke sana, aku ikut.”

Deva langsung menggeleng.

“Nggak usah.”

“Deva—”

“Aku mau sendiri.”

Tatapannya tegas, meski tubuhnya nyaris tak kuat berdiri.

“Aku yang nyakitin dia… jadi aku juga yang harus minta maaf.”

Cecilia menunduk pelan. Kalimat itu sederhana… Tapi terasa berat.

Cloe menatap adiknya lama. Ada kekhawatiran, ada rasa marah… tapi lebih banyak rasa tidak tega.

“Kamu ini keras kepala banget…” bisiknya lirih.

Deva hanya diam. Lalu melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sedikit goyah… tapi tetap maju.

Cloe hampir menahan lagi, namun tangannya berhenti di udara. 

“Kalau kamu pingsan di jalan, jangan salahkan aku!” teriak Cloe, setengah kesal, setengah khawatir.

Deva tidak menoleh.

Di luar gerbang sekolah, angin berembus pelan.

Deva berhenti sejenak.

Tangannya mengepal.

Dalam pikirannya hanya ada satu tujuan.

Rayna.

“Aku datang, Ray…” bisiknya lirih.

“Apapun yang terjadi… aku bakal bawa kamu pulang.”

Baru saja Deva melangkah keluar dari gerbang sekolah, tubuhnya mendadak limbung. Pandangan matanya berputar, kakinya kehilangan keseimbangan. Hampir saja ia jatuh… Namun sebuah tangan dengan cepat menahannya.

“Deva!”

Itu Asha. Ia muncul entah dari mana, sigap menopang tubuh Deva yang hampir tumbang. Wajahnya panik melihat kondisi adiknya yang semakin buruk.

“Kamu kenapa sih?!” suara Asha meninggi. “Kamu masih sakit! Jangan paksakan diri seperti ini!”

Napas Deva tersengal. Ia berusaha berdiri tegak, meski tubuhnya jelas menolak.

“Lepasin…” gumamnya pelan.

“Enggak!” Asha menggeleng keras. “Kamu pulang sekarang. Aku antar.”

Deva menggeleng lemah. Tangannya mendorong pelan bahu lebar Asha. Namun belum sempat ia benar-benar berdiri sendiri.

Tubuhnya kembali goyah.

Dunia seakan berputar lebih cepat.

Asha refleks menangkapnya lagi, kali ini lebih erat.

“Deva, cukup!” bentaknya, nyaris putus asa. “Kamu mau nyiksa diri sampai kapan?!”

Deva terdiam.

Napasnya berat.

Kepalanya menunduk, rambutnya jatuh menutupi wajah pucatnya.

Beberapa detik… hanya ada suara napasnya yang tak teratur.

Lalu, dengan suara serak yang nyaris tak terdengar—

“Aku… cuma mau dia kembali…”

Kalimat itu keluar pelan. Rapuh. Berbeda dari Deva yang biasanya keras dan dingin.

Asha terpaku.

“Aku salah…” lanjut Deva lirih. “Aku terlalu nyakitin dia…”

Matanya memerah, tapi ia menahan semuanya.

“Aku harus ketemu dia… sebelum semuanya terlambat…”

Asha menatapnya dalam.

Ada sesuatu yang menusuk di dadanya.

Namun kali ini… bukan karena cemburu.

Melainkan karena sadar, Deva yang sangat mencintai Rayna.

Asha menghela napas pelan. Lalu, tanpa banyak bicara, ia kembali menguatkan pegangan pada tubuh Deva.

“Kalau kamu jatuh lagi, aku nggak bakal biarin kamu pergi sendirian,” ucapnya pelan, tapi tegas. “Minimal… berdiri yang bener dulu.”

Deva tidak menjawab. Namun kali ini… ia tidak mendorong Asha lagi. Tubuhnya masih bersandar.

Masih lemah. Tapi tekad di matanya tetap sama.

Asha mengepalkan tangan. Sungguh ia tidak tahan lagi melihat kembarannya tersiksa seperti itu. 

“Ayo, aku bawa kamu ke dia,” ucap Asha meskipun ia juga tidak rela.

____

Dibawa kemana nih? Meksiko atau Bandung? Jangan sampai nyasar lho...

Bersambung..........

Mohon dukungannya ya, like, komen, vote, supaya Author terus semangat nulisnya. Terima kasih...

1
tia
semangat thor ,, dn sukses karya nya.
Annabelle
mmm...deva romantis banget ..
tia
lanjut thor ,,belom lengkap kalo gk ada cedal
Mom Ilaa: di bab barunya nanti kak😆
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
lucu🤣
Lisa Halik
mmmmm
AltaeAT
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
Riana
🤭
Lisa Halik
sudah bagi gift thir...lagi2 updatenya...makin seru/penasaran sebab kalendra bakal turun ke jarkarta indonesia
Mom Ilaa: siap-siap Dev disidang ayah mertua 🤭, trima kasih dukungannya ♥️
total 1 replies
ovi eliani
bagus rayna kasih pelqjarqn tuh Deva
Virenneluplup
nih bocah, kirain napa tadi
Heni Mulyani
lanjut
Jj^
terimakasih Thor 🤗
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗
Nurjannah Rajja
Kurkas rusak mana dingin, panas malah....😁
Nurjannah Rajja
Salah duga😁
Adinda
lanjut thor sampai 5bab lagi😄
Lisa Halik
sudah beri gift thor...lagi thor di lanjut updatenya......biar deva galau&betul2 nyesal atas perbuatannya
Lisa Halik
makasih updatenya thor...
tia
lanjut thor 💪
Lisa Halik
sudah bagi gift thor..semangat updatenya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!