Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Runtuhnya Langit Kesembilan
Aula Keabadian bergemuruh oleh gema suara yang seharusnya tak pernah ia dengar.
Kaisar Langit, Penguasa Sembilan Lapis Alam, bersandar pada singgasananya yang terbuat dari inti bintang yang telah padam. Jubah sutra emasnya yang ditenun dari benang-benang takdir kini bernoda merah. Darahnya sendiri. Darah seorang makhluk yang bahkan waktu pun tak kuasa menyentuhnya.
Di hadapannya berdiri dua sosok yang paling ia percayai di sepanjang tiga ribu tahun keabadiannya.
"Lian'er," suaranya serak, lebih parau dari batu yang saling bergesekan. Matanya yang biasanya memancarkan cahaya galaksi kini meredup, menatap wanita berambut perak yang berdiri anggun di tengah aula. "Mengapa?"
Wanita itu—Lian Xi, Permaisuri Langit, belahan jiwanya sejak ia masih menjadi kultivator rendahan di dunia fana—hanya tersenyum tipis. Senyuman yang dulu mampu meluluhkan hati para dewa, kini terasa lebih dingin dari es abadi di Kutub Utara Langit Ketujuh.
"Karena kau sudah terlalu lama duduk di sana, Suamiku," jawabnya lembut, nyaris seperti bisikan kekasih. "Tiga ribu tahun. Tidakkah kau lelah?"
Belati di tangan kanannya masih meneteskan cairan keemasan—darah Kaisar Abadi. Racun Naga Penelan Surga yang telah ia lumurkan pada bilahnya merayap perlahan melalui pembuluh-pembuluh spiritual Kaisar Langit, melumpuhkan setiap simpul energi di tubuhnya.
Di samping Lian Xi, seorang pemuda berjubah biru langit melangkah maju. Wajahnya yang tampan dan muda seolah diukir dari batu giok terbaik, namun matanya menyimpan ambisi yang bahkan lautan terdalam pun tak mampu menampungnya.
"Guru," panggilnya dengan nada hormat yang sama seperti saat ia pertama kali berlutut di hadapan Kaisar Langit, seribu tahun yang lalu. "Muridmu yang hina ini mohon maaf."
"Hao Chen." Nama itu keluar dari bibir Kaisar Langit seperti kutukan. Murid pertamanya. Anak yatim piatu yang ia pungut dari reruntuhan desa yang terbakar, yang ia gembleng menjadi salah satu Kaisar Bela Diri termuda dalam sejarah. "Kau juga..."
Hao Chen mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah botol giok kecil yang kini kosong. "Anggur Perjamuan Senja. Racun favorit Guru untuk musuh-musuh besarnya. Ironis, bukan? Aku menyelipkannya dalam teh pagimu selama seratus tahun terakhir. Setetes demi setetes. Sedikit demi sedikit. Hingga fondasi Dao-mu meretak tanpa kau sadari."
Tawa pelan meluncur dari bibir Kaisar Langit. Bukan tawa putus asa, melainkan tawa getir yang sarat akan ironi. Selama ini ia begitu sibuk mengawasi musuh-musuh dari luar—para Dewa Kuno yang iri, para Iblis Abadi yang dengki—hingga ia lupa bahwa bahaya terbesar selalu datang dari dalam istananya sendiri.
"Apa yang kalian inginkan?" tanyanya, meski ia sudah tahu jawabannya. "Takhtaku? Kekuasaanku? Atau harta pusaka yang kusimpan di ruang terdalam istana?"
Lian Xi melangkah mendekat, ujung jubahnya menyapu lantai kristal yang memantulkan cahaya bintang. Ia berjongkok di hadapan Kaisar Langit, mengelus pipi suaminya dengan kelembutan yang sama seperti yang ia lakukan setiap malam selama tiga milenium.
"Semuanya," bisiknya. "Dan sesuatu yang lebih besar dari itu semua. Warisan Surgawi yang kau sembunyikan, Yang Mulia. Warisan yang bahkan para Dewa di Langit Kesembilan pun takut untuk menyentuhnya."
Mata Kaisar Langit membelalak. "Kalian... kalian sudah gila. Itu bukan warisan. Itu kutukan. Bahkan aku tidak berani membukanya."
"Itulah mengapa kau harus mati," potong Hao Chen dingin. "Seorang penguasa yang takut pada kekuatannya sendiri tidak layak memimpin alam semesta."
Rasa dingin mulai merambat dari ujung jari kaki Kaisar Langit. Racun dan luka fisik hanyalah sebagian kecil dari penderitaannya. Yang paling menyakitkan adalah pengkhianatan ini sendiri. Bukan rasa sakitnya, melainkan kekosongan yang ditinggalkannya. Rasa percaya yang ia bangun selama ribuan tahun, runtuh dalam satu malam.
"Kalian pikir... ini akhir?" Suaranya kini hanya bisikan sekarat.
Lian Xi berdiri, menatapnya dengan campuran antara kasihan dan kemenangan. "Ini adalah akhir dari era-mu, Suamiku. Dan awal dari era kami. Tenanglah. Sejarah akan mencatatmu sebagai Kaisar Langit terakhir dari dinasti lama. Bukankah itu cukup terhormat?"
Hao Chen mengangkat tangannya, membentuk segel tangan yang sangat familiar di mata Kaisar Langit. Seni Pemusnahan Jiwa Langit. Teknik pamungkas yang ia sendiri ajarkan pada muridnya.
"Selamat jalan, Guru."
Cahaya putih menyilaukan memenuhi seluruh Aula Keabadian.
Namun, tepat saat serangan itu akan menghancurkan jiwanya menjadi debu, sesuatu yang tidak terlihat oleh mata Hao Chen maupun Lian Xi terjadi. Sebuah cahaya redup berwarna ungu tua—nyaris hitam—menyelimuti sisa-sisa jiwa Kaisar Langit. Sebuah formasi kuno yang telah ia tanamkan pada jiwanya sendiri ribuan tahun lalu, sebagai jaminan terakhir melawan kematian.
Teknik Reinkarnasi Paksa Jiwa Langit.
Sebuah teknik terlarang yang ia temukan di reruntuhan peradaban yang bahkan lebih tua dari para Dewa. Teknik yang bahkan ia sendiri tidak tahu apakah akan berhasil atau hanya dongeng belaka.
Saat cahaya putih itu melahap tubuhnya, jiwa Kaisar Langit terlepas dari jasadnya. Ia merasakan sensasi aneh—seolah-olah ia adalah sebutir pasir yang tersapu badai kosmik, melintasi dimensi dan waktu yang tak terbayangkan.
Ia melihat kilasan-kilasan. Wajah-wajah yang ia kenal. Pertempuran-pertempuran yang ia menangkan. Momen-momen kelembutan bersama Lian Xi yang kini terasa seperti racun yang lebih mematikan.
Lalu, semuanya menjadi gelap.
Ribuan tahun kemudian. Atau mungkin hanya beberapa detik. Waktu terasa tidak lagi linier.
Arga tersentak bangun dengan napas memburu.
Matanya terbuka, namun yang ia lihat bukanlah langit-langit kristal Aula Keabadian. Melainkan anyaman bambu yang sudah lapuk, dihiasi sarang laba-laba di sudut-sudutnya. Udara yang ia hirup terasa tipis, nyaris tanpa kandungan Qi spiritual.
Di mana...?
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Rasa sakit langsung menjalari setiap otot dan sendi. Bukan rasa sakit dari racun atau luka belati, melainkan rasa sakit yang familiar namun asing. Rasa sakit dari tubuh yang terlalu lemah, yang dipenuhi luka memar dan lebam.
Tubuh ini... bukan milikku.
Panik sesaat menyergap pikirannya, namun tiga ribu tahun pengalaman sebagai penguasa alam semesta membuatnya segera menenangkan diri. Ia menutup mata, mencoba merasakan kondisi tubuh barunya.
Lemah. Sangat lemah. Bahkan lebih lemah dari saat ia pertama kali memulai kultivasi sebagai anak yatim piatu di dunia fana.
Tingkat kultivasi? Nol. Tidak ada Inti Emas, tidak ada Jiwa Baru Lahir, tidak ada satupun fondasi Dao yang tersisa. Bahkan sirkuit-sirkuit meridian di tubuh ini tersumbat oleh kotoran-kotoran energi yang membuatnya nyaris mustahil untuk berkultivasi.
Sampah. Dalam istilah dunia kultivasi, tubuh ini adalah sampah yang tidak layak dilatih.
Namun, sebelum keputusasaan sempat menguasainya, sesuatu yang lain terjadi.
Ingatan.
Semua ingatannya sebagai Kaisar Langit—setiap teknik kultivasi yang ia pelajari, setiap formasi pertempuran yang ia kuasai, setiap resep pil langka yang ia hafal, setiap rahasia alam semesta yang ia ungkapkan—semuanya masih ada di sana. Tertata rapi di sudut terdalam benaknya, sejelas kitab yang terbuka di hadapannya.
Bagaimana mungkin?
Reinkarnasi biasanya menghapus ingatan. Itu hukum alam. Namun, Teknik Reinkarnasi Paksa Jiwa Langit rupanya memiliki efek samping yang tidak tercatat dalam kitab kuno itu. Atau mungkin, ini justru efek utama yang diinginkan oleh penciptanya.
Sebuah senyuman tipis—nyaris tidak terlihat—melengkung di sudut bibir Arga.
"Menarik," bisiknya pada dirinya sendiri. Suara itu asing di telinganya. Lebih muda, lebih ringan, namun tetap membawa nada kewibawaan yang tidak seharusnya dimiliki oleh pemuda seusia tubuh ini.
Ia membuka mata kembali, kali ini dengan pandangan yang berbeda. Pandangan seorang Kaisar yang terperangkap dalam tubuh sampah.
Tiba-tiba, pintu bambu di sudut kamar terbuka dengan kasar. Seorang pemuda gemuk berusia sekitar tujuh belas tahun masuk tanpa permisi, wajahnya penuh dengan ekspresi jijik dan superioritas.
"Heh, Bocah Sial. Kau sudah bangun rupanya," bentaknya. Suaranya melengking, mengganggu ketenangan pagi. "Kupikir kau akan mati setelah dipukuli oleh murid-murid senior kemarin. Sayang sekali."
Arga menatap pemuda itu tanpa ekspresi. Siapa dia? Ingatan tubuh ini perlahan mulai meresap ke dalam benaknya, memberikan informasi-informasi dasar. Pemuda ini adalah Ardi, sepupunya sendiri. Anak dari paman yang menguasai klan setelah ayah Arga—ayah dari tubuh ini—meninggal secara misterius.
"Jangan cuma melongo seperti orang bodoh!" Ardi melangkah mendekat, mengangkat tangannya untuk menampar. "Hanya karena kau dari garis keturunan utama, bukan berarti kau bisa berleha-leha! Tugas membersihkan lumbung hari ini jangan sampai tertinggal, atau kau akan kuhajar lagi!"
Tangan itu melayang turun.
Dan saat itulah sesuatu yang aneh terjadi.
Naluri.
Tiga ribu tahun pengalaman bertarung tidak bisa dihapuskan begitu saja, bahkan ketika jiwa berpindah tubuh. Sebelum otak Arga sempat memproses apa yang terjadi, tangannya sudah bergerak sendiri. Telapak tangannya menangkap pergelangan tangan Ardi dengan sudut yang sempurna, lalu memutarnya dengan gerakan minimal namun efektif.
Kraaak!
"AAAAARGH!"
Ardi menjerit kesakitan saat lengannya terpelintir ke belakang dalam posisi yang tidak alami. Tubuh gemuknya terpaksa membungkuk, wajahnya yang tadinya sombong kini berubah menjadi campuran antara kaget dan ketakutan.
"Lepaskan! Gila kau! Lepaskan aku atau akan kulaporkan pada Ayah!"
Arga terdiam. Ia menatap tangannya sendiri dengan ekspresi aneh. Tubuh ini lemah, bahkan hampir tidak memiliki Qi. Tapi ingatan ototnya... ingatan ototku dari kehidupan sebelumnya masih tersimpan di sini.
Ini adalah penemuan yang menarik.
Dengan tenang, ia melepaskan cengkeramannya. Ardi langsung mundur beberapa langkah, memegangi lengannya yang memar. Wajahnya merah padam, entah karena sakit atau malu.
"Kau... kau berani melawanku?!" Suaranya bergetar. "Kau pikir kau siapa?! Kau hanya sampah yang bahkan tidak bisa mencapai ranah Pemurnian Qi tahap pertama! Kau...!"
"Pergilah."
Satu kata itu keluar dari bibir Arga dengan nada datar. Tapi entah mengapa, Ardi merasakan bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu dalam tatapan sepupunya yang berubah. Mata itu... mata itu bukan mata pemuda pengecut yang biasa ia tindas setiap hari. Mata itu seperti... seperti milik seekor naga kuno yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ardi berbalik dan berlari keluar kamar, meninggalkan pintu yang terbuka lebar.
Arga menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit bambu yang reyot di atasnya, lalu ke luar jendela kecil di samping ranjangnya.
Langit di luar berwarna biru pucat. Bukan langit ungu keemasan di Langit Kesembilan. Ini adalah langit dunia fana. Langit dari dunia terendah dalam hierarki alam semesta.
Jadi, aku kembali ke titik awal.
Perlahan, ia bangkit dari ranjangnya. Setiap gerakan terasa berat, setiap otot menjerit protes. Tapi ia memaksakan diri untuk berdiri, lalu berjalan menuju jendela.
Di luar, ia bisa melihat kompleks perumahan klan kecil yang kini menjadi "rumahnya". Bangunan-bangunan kayu sederhana, jalanan tanah yang becek, dan di kejauhan, sebuah gerbang batu dengan ukiran nama klan yang sudah pudar dimakan usia: Klan Sanjaya.
Klan Sanjaya... klan kecil di sudut terlupakan dari Benua Timur.
Angin pagi menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Aroma yang sama sekali berbeda dengan wewangian bunga sakura abadi di taman istananya.
Arga menutup matanya, membiarkan angin itu mengelus kulitnya yang penuh luka.
Lian Xi. Hao Chen. Aku tidak tahu apakah kalian masih hidup di masa ini. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Tapi satu hal yang pasti...
Ia membuka matanya kembali. Kali ini, ada nyala api kecil di kedalaman pupilnya. Api yang sama yang pernah membakar seluruh alam semesta tiga ribu tahun lalu.
Aku akan kembali.
Dan kali ini, aku tidak akan membuat kesalahan yang sama.
Di langit di atas Klan Sanjaya, awan-awan mulai bergulung. Seolah-olah alam semesta itu sendiri merasakan bahwa roda takdir telah mulai berputar kembali ke arah yang seharusnya.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga