Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Penasaran Max
Max mengenal Bryan. Pria itu adalah anak dar salah satu mitra bisnisnya. Bryan masih muda, mungkin dua puluh lima atau dua puluh enam, dan dikenal sebagai pria yang baik—terlalu baik untuk lingkungan pengusaha muda yang cenderung materialistis.
Max tidak pernah menganggap Bryan sebagai ancaman atau bahkan sebagai seseorang yang perlu diperhitungkan. Tapi sekarang, melihat Bryan begitu akrab dengan sekretarisnya sendiri, sesuatu di dalam diri Max terasa ganjil.
‘Kenapa aku tidak tahu?’
Selama satu tahun Cassia bekerja untuknya, Max tidak pernah melihat Cassia bergaul dengan pria mana pun.
Cassia terisolasi secara sosial atau itulah yang Max yakini. Tapi sekarang, tiba-tiba, Cassia muncul dari mobil Bryan. Pagi-pagi. Dengan rambut yang tertiup angin dan wajah yang sedikit merona.
‘Apakah mereka sudah dekat sejak lama? Atau kapan? Apakah … mereka bersama di pesta kemarin?’
Max mengingat malam pesta di mana dia tak datang dan justru berada di yacht bersama Clarissa, Julian, dan yang lainnya. Ia tidak pernah memikirkan Cassia. Tapi ternyata, Cassia tidak sendirian. Cassia pasti bersama Bryan.
Tapi bagaimana bisa? Bryan tertarik pada Cassia? Itu bukan tipe Bryan. ‘Apakah pria itu ingin mempermainkan sekretaris lugu-ku? Tak akan kubiarkan.’
Max menggelengkan kepala. Bukan urusannya. Bukan urusannya sama sekali, tapi jika sampai Bryan mempermainkan Cassia, jelas dia akan turun langsung menghadapi Bryan.
Dari depannya, mobil Bryan mulai bergerak. Tapi mobil pria itu masih menghalangi setengah jalan masuk ke area parkir eksekutif. Max tidak sabar. Dengan gerakan refleks, dia menekan klakson mobilnya keras-keras.
BUNYI NYARING membuat beberapa orang yang ada di sekitar sana kaget.
Bryan yang baru saja akan masuk ke mobilnya tersentak kaget. Ia menoleh ke belakang dan melihat sedan hitam yang menyala dengan mesin. Dia tidak bisa melihat siapa orang di balik kemudi karena kacanya cukup gelap.
Bryan tersenyum sedikit lalu melambaikan tangan seolah menyapa. Setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya, memutar setir, dan melaju pergi dari tempat parkir lobi.
Max masih duduk diam selama beberapa detik setelah mobil Bryan menghilang di tikungan. Lalu dia maju dan mematikan mesin, membuka pintu, dan turun.
Langkahnya tegas menuju lobi gedung. Di lift, dia berdiri sendirian, menekan tombol lantai eksekutif, dan membiarkan pikirannya melayang.
Bryan. Cassia. Kenapa mereka berdua?
Bukan cemburu. Bukan. Max Kingsford tidak cemburu pada sekretarisnya. Tapi dia hanya penasaran.
‘Bagaimana bisa Bryan dekat dengan Cassia?’
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya bahkan setelah lift terbuka dan dia melangkah menuju ruang kerjanya. Melewati meja Cassia yang masih kosong—wanita itu mungkin sedang di toilet atau mengambil berkas—Max masuk ke ruang eksekutif dan duduk di kursinya.
Ia menatap layar laptop yang masih gelap. Lalu dia sekat kaca transparan yang menghubungkan ruangannya dengan ruang sekretaris.
Tak lama, Cassia masuk dengan membawa kopi untuk Max dan meletakkannya di meja. “Maaf, Tuan. Sedikit terlambat.”
“Kau bersama Bryan tadi?” tanya Max tanpa basa basi. Dia tak mau mati penasaran.
Cassia sedikit terkejut, tapi kemudian mengangguk ragu.
“Kalian berpacaran? Sejak kapan?”
“T-tidak, Tuan. Tidak seperti itu. Dia … dia menemaniku di pesta malam itu. Kau tidak datang, jadi dia menemaniku agar aku tak canggung dan tersesat sendirian.”
“Lalu?” tanya Max lagi.
“Lalu? Lalu apa maksudnya?” tanya Cassia bingung.
“Lalu setelah pesta itu kalian pergi bersama dan …”
Cassia melebarkan matanya. “T-tidak. Kami tidak seperti itu. Dia hanya mengantarku dan ingin berteman denganku. Hanya itu saja.”
“Itu aneh … aku curiga padanya. Dia tidak sedang merayumu, kan?”
Cassia menggigit bibirnya. “Tuan … ini bukan urusan pekerjaan.”
“Aku hanya penasaran. Jawab aku. Dia merayumu? Kau tak takut dia mempermainkanmu?”
“Dia hanya bilang … dia suka padaku. Aku … aku juga tak percaya begitu saja. Aku cukup bisa menjaga diriku.” Cassia menunduk.
“Baguslah, jangan terlalu percaya pada pria. Semua otak pria itu sama, hanya ranjang. Kembalilah bekerja,” kata Max.
Cassia mengangguk dan berbalik pergi.
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭