Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Joni yang Mulai Berubah
Tiga hari berlalu sejak percakapan malam itu dengan Herman. Tiga hari terasa seperti tiga tahun bagi Bambang. Setiap malam dia menjalani shift jaga dengan perasaan waspada yang tidak pernah kendor. Setiap malam dia mematikan monitor nomor delapan sebelum duduk di kursi plastik itu. Setiap malam dia mendengar suara-suara dari kejauhan. Suara seperti karet diregangkan. Suara langkah kaki tanpa tubuh. Suara bisikan yang tidak bisa dia mengerti tapi membuat bulu kuduknya berdiri.
Tiga hari juga berarti tiga kali dia melihat Joni semakin memburuk.
Pagi setelah pertemuan dengan Herman, Joni tidak bangun dari sofa. Bambang menemukannya masih terbaring di ruang tamu dengan selimut yang sama, di posisi yang sama, seperti tidak bergerak semalaman. Matanya terbuka. Menatap langit-langit. Tidak berkedip.
"Joni," panggil Bambang pelan.
Tidak ada jawaban.
"Joni!" panggilnya lagi, lebih keras.
Joni berkedip. Perlahan. Seperti orang yang baru sadar dari pingsan panjang. Matanya bergerak ke arah Bambang, tapi sorotnya kosong. Tidak ada pengenalan di sana. Tidak ada tanda bahwa dia tahu siapa yang berdiri di depannya.
"Jon, kamu kenal aku?" tanya Bambang sambil duduk di samping sofa.
Joni mengerjapkan mata beberapa kali. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar. Kemudian, seperti ada saklar yang menyala di dalam kepalanya, wajah Joni berubah. Senyum lebarnya muncul. Matanya bersinar. Dia duduk tiba-tiba dan menepuk bahu Bambang.
"Bang Bambang! Pagi-pagi udah kelihatan pusing aja. Lu nggak tidur, ya?"
Bambang terkejut dengan perubahan cepat itu. "Jon, kamu tadi..."
"Gue tadi kenapa?"
"Nggak gerak. Mata melotot ke langit-langit. Gue panggil nggak nyahut."
Joni tertawa. "Ah, lu lebay, Bang. Gue cuma lagi mikir. Lagi serius. Nggak boleh serius kali?"
Tawa Joni terdengar normal. Tawa yang sama seperti saat pertama kali Bambang datang. Ceria. Riang. Tidak ada beban. Tapi Bambang tidak percaya. Dia melihat dengan lebih teliti. Ada sesuatu di balik tawa itu. Sesuatu yang gelisah. Sesuatu yang ketakutan.
"Jon, kamu nggak apa-apa? Jujur."
Joni berhenti tertawa. Wajahnya berubah serius dalam sekejap. Matanya menatap Bambang dengan sorot yang berbeda. Sorot orang dewasa yang lelah.
"Gue... gue nggak tahu, Bang. Kadang gue merasa aneh. Kayak ada yang salah di kepala gue. Kayak ada yang hilang."
"Hilang apa?"
"Gue lupa. Gue nggak bisa ingat. Tadi malam gue mimpi. Ada suara panggil nama gue dari hutan. Suara emak gue. Gue tahu itu bukan emak gue. Emak gue udah meninggal tiga tahun lalu. Tapi suaranya persis. Sama persis. Gue hampir jawab, Bang. Gue hampir bilang, Emak, aku di sini."
"Tapi kamu tidak jawab?"
Joni menggeleng. "Nggak. Tapi mimpinya nggak berhenti. Setelah suara emak, ada suara bapak. Terus adik gue. Terus mantan gue. Semua orang yang pernah gue kenal. Semua manggil nama gue. Minta gue keluar. Minta gue ikut mereka ke hutan."
"Dan kamu tidak ikut?"
"Di mimpi, gue ikut. Gue jalan ke hutan. Tapi gue sadar itu mimpi. Jadi gue paksa diri gue bangun. Tapi pas bangun, gue nggak ingat apa-apa. Cuma ingat suara-suara itu. Wajah-wajah mereka udah kabur. Kayak foto lama yang pudar."
Bambang merasakan dingin di punggungnya. Itu yang ditulis Dul di buku hariannya. Makhluk-makhluk itu mulai masuk ke mimpi. Mereka memakan ingatan sedikit demi sedikit. Pertama wajah. Lalu nama. Lalu semuanya.
"Jon, kamu masih ingat nama mantan kamu?" tanya Bambang.
Joni terdiam. Wajahnya berkerut. Matanya berusaha mengingat. "Gue... gue lupa, Bang."
"Kamu lupa namanya?"
"Gue lupa... gue punya mantan."
Bambang menelan ludah. "Kamu bilang tadi. Mantan kamu. Suaranya manggil kamu di mimpi."
Joni menatap Bambang dengan mata kosong. "Gue bilang begitu? Gue nggak ingat."
Joni berdiri dari sofa. Dia berjalan ke kamar mandi dengan langkah terseok-seok. Pintu kamar mandi ditutup. Beberapa saat kemudian terdengar suara air mengalir. Dan di sela-sela suara air, Bambang mendengar sesuatu yang lain. Isak tangis. Joni menangis.
Hari kedua, Joni tidak keluar dari kamar mandi. Herman harus membobol pintu setelah Joni tidak merespon panggilan selama dua jam. Mereka menemukan Joni duduk di lantai kamar mandi dengan pakaian basah kuyup. Keran air masih menyala. Joni menggigil hebat. Bibirnya membiru. Matanya terbuka lebar tapi tidak melihat apa-apa.
"Jon, bangun," kata Herman sambil membungkuk di samping Joni.
Joni tidak merespon.
Herman menepuk pipi Joni pelan. "Jon, ini Herman. Kamu dengar aku?"
Perlahan, mata Joni bergerak ke arah Herman. Bibirnya bergetar. "Pak... Pak Herman?"
"Iya. Ayo bangun. Kamu basah."
"Pak Herman, aku takut."
"Takut apa?"
Joni menunjuk ke cermin di dinding kamar mandi. "Dia. Dia di dalam cermin. Dia manggil aku. Dia mau aku keluar."
Bambang menoleh ke cermin itu. Yang dia lihat hanyalah bayangan mereka bertiga. Herman membungkuk di samping Joni. Bambang berdiri di belakang. Tidak ada orang lain. Tidak ada makhluk. Hanya mereka.
"Tidak ada siapa-siapa, Jon," kata Bambang pelan.
"Ada. Dia ada. Dia pakai wajah gue. Tapi matanya beda. Matanya hitam. Kayak karet."
Herman dan Bambang saling bertatapan. Mereka tahu apa artinya ini. Makhluk-makhluk itu sudah semakin kuat. Mereka tidak hanya masuk ke mimpi Joni. Mereka mulai masuk ke dunia nyata.
Herman menarik Joni berdiri. Joni lemas. Badannya menggigil. Herman memapahnya keluar dari kamar mandi dan membawanya ke kamar. Kamar nomor dua. Kamar Joni.
"Bambang, tolong ambilkan selimut kering," perintah Herman.
Bambang berlari ke kamarnya mengambil selimut cadangan. Ketika kembali, dia melihat Herman sedang duduk di samping ranjang Joni. Wajah Herman tidak lagi dingin seperti biasanya. Ada sesuatu yang mirip dengan kesedihan di sana.
"Pak Herman," bisik Joni dari ranjang.
"Iya."
"Joni minta maaf."
"Maaf buat apa?"
"Joni nggak kuat. Joni nggak bisa lawan mereka. Mereka terlalu kuat."
"Kamu kuat, Jon. Kamu masih di sini. Kamu masih bicara sama aku."
Joni menggeleng pelan. "Nggak, Pak. Joni sudah hampir habis. Joni lupa nama emak. Joni lupa nama bapak. Joni lupa kampung halaman. Yang Joni ingat cuma... pabrik ini. Dan rasa takut."
Herman menggenggam tangan Joni. "Jangan menyerah, Jon."
"Joni tidak menyerah, Pak. Joni sudah kalah. Sejak pertama kali Joni jawab suara di hutan."
Bambang terkejut. "Kamu jawab suara di hutan? Kapan?"
Joni tersenyum pahit. "Malam pertama Joni di sini. Joni pikir itu suara anak kecil yang tersesat. Joni keluar. Joni cari. Tidak ada siapa-siapa. Tapi sejak malam itu, mereka tahu Joni lemah. Mereka masuk. Pelan-pelan. Dan sekarang..."
Joni tidak melanjutkan kalimat. Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan. Dia tertidur.
Herman berdiri. Dia menarik Bambang keluar kamar dan menutup pintu.
"Berapa lama Joni bisa bertahan?" tanya Bambang.
"Seminggu. Mungkin kurang."
"Tidak ada obatnya?"
"Tidak ada."
"Kita tidak bisa bawa dia ke rumah sakit? Ke dokter?"
Herman menggeleng. "Pernah ada satpam yang coba bawa rekannya ke rumah sakit. Dua hari kemudian, satpam itu ditemukan tewas di kamarnya. Tidak ada luka. Tidak ada tanda kekerasan. Tapi jantungnya berhenti. Perusahaan bilang itu serangan jantung. Tapi aku tahu... mereka tidak suka rahasia mereka bocor ke luar."
Bambang mengepalkan tangannya. "Jadi kita hanya bisa diam dan lihat Joni mati perlahan?"
"Bukan mati. Berubah. Joni akan jadi makhluk. Sama seperti Dul. Sama seperti yang lain."
"Tidak. Aku tidak akan biarkan itu terjadi."
Herman menatap Bambang dengan mata lelah. "Apa yang mau kamu lakukan? Lawan mereka? Bakar gudang? Aku sudah coba. Ucok sudah coba. Dul sudah coba. Semua gagal."
"Mungkin kita belum coba semua cara."
"Ada cara lain? Katakan."
Bambang terdiam. Dia ingat kalimat itu lagi. Darah manusia biasa adalah racun bagi mereka. Kalimat yang tidak pernah dia baca di mana pun. Kalimat yang muncul begitu saja di kepalanya.
"Aku akan cari tahu," kata Bambang akhirnya.
"Cari tahu dari mana?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku tidak akan diam."
Herman menghela napas. Dia menepuk bahu Bambang pelan. "Kamu mirip aku dulu. Penuh semangat. Mau melawan. Tapi hati-hati, Bambang. Semangatmu bisa dimakan oleh mereka. Rasa takutmu bisa dimakan. Rasa marahmu juga bisa dimakan. Semua emosi manusia adalah makanan bagi mereka."
Herman berjalan pergi. Bambang berdiri di lorong, menatap pintu kamar Joni yang tertutup. Dari balik pintu, terdengar suara Joni bergumam dalam tidurnya. Kata-kata yang tidak jelas. Tapi di sela-sela gumaman itu, Bambang mendengar sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir.
Suara Joni berubah. Menjadi suara lain. Suara tua. Suara kering. Suara seperti karet digosokkan ke karet.
"Bambang... Bambang... ikut kami... ikut kami ke hutan..."
Bambang mundur selangkah. Dua langkah. Tiga langkah. Lalu dia berbalik dan berjalan cepat ke ruang tamu. Tangannya gemetar. Dadanya sesak.
Dia duduk di sofa yang biasa ditempati Joni. Masih hangat. Masih ada bau Joni. Bau sabun murah dan keringat.
Bambang memejamkan mata. Dia mencoba mengingat wajah Joni saat pertama kali mereka bertemu. Senyum lebar. Mata bersinar. Tangan yang melambai ramah.
Apakah semua itu akan hilang? Apakah Joni akan berubah menjadi makhluk yang berdiri di tepi hutan dengan mata kosong dan kulit hitam?
Tidak. Bambang tidak akan biarkan itu terjadi.
Dia membuka matanya. Pikirannya berputar cepat. Dia butuh informasi. Butuh petunjuk. Butuh sesuatu yang bisa menyelamatkan Joni sebelum terlambat.
Dia ingat buku harian Dul. Masih terselip di sakunya. Dia sudah membaca berulang kali. Tapi mungkin ada yang terlewat. Mungkin ada satu kalimat, satu kata, satu petunjuk yang bisa membawanya ke jawaban.
Bambang mengeluarkan buku itu. Dia membuka halaman demi halaman dengan lebih teliti. Tidak hanya membaca kata-katanya, tapi juga melihat tepi-tepi halaman, melihat apakah ada tulisan tersembunyi, melihat apakah ada halaman yang terlewat.
Di halaman terakhir, tepat di bagian bawah, dia menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak dia perhatikan.
Sebuah gambar kecil. Digambar dengan pulpen. Jelek dan tidak rapi. Tapi cukup jelas untuk dimengerti.
Gambar itu menunjukkan sebuah kolam. Di tengah kolam, ada lingkaran. Dan di dalam lingkaran, ada tulisan kecil yang hampir tidak terbaca.
"Dar... dar... darah."
Darah.
Bambang memejamkan mata. Dul juga tahu. Dul juga mendapatkan bisikan yang sama. Darah manusia bisa menjadi racun.
Tapi apakah itu benar? Atau hanya jebakan lain dari makhluk-makhluk itu?
Bambang tidak tahu. Tapi dia tidak punya banyak pilihan.
Joni tinggal seminggu lagi. Mungkin kurang.
Dia harus bertindak cepat.
Bambang berdiri dan berjalan ke kamar Ucok. Pintu kamar Ucok tertutup rapat seperti biasa. Bambang mengetuk.
"Ucok! Buka pintu! Aku mau bicara."
Tidak ada jawaban.
"Ucok! Ini penting! Tentang Joni!"
Diam beberapa saat. Lalu terdengar suara langkah kaki dari balik pintu. Pintu terbuka.
Ucok berdiri di ambang pintu. Wajahnya lebih buruk dari kemarin. Pucat. Lingkar hitam di bawah matanya semakin tebal. Matanya sayu. Tapi masih ada kesadaran di sana. Masih ada Ucok yang Bambang kenal.
"Apa?" tanya Ucok singkat.
"Joni semakin parah. Kita harus lakukan sesuatu."
"Seperti apa?"
"Aku mau coba sesuatu. Tapi aku butuh bantuanmu."
Ucok menatap Bambang lama. Matanya menyelidik. Seperti sedang membaca apakah Bambang serius atau hanya panik.
"Kamu mau coba apa?"
Bambang mendekatkan bibirnya ke telinga Ucok. Dia berbisik pelan, takut ada yang mendengar. Takut makhluk-makhluk itu mendengar.
"Aku mau coba darah."
Ucok terkejut. Matanya membelalak. "Darah? Darah siapa?"
"Darah manusia. Aku. Atau kamu. Atau Herman. Siapa saja. Aku mau coba lihat apakah darah kita bisa melukai mereka."
"Itu gila."
"Mungkin. Tapi tidak ada pilihan lain. Joni tinggal seminggu. Mungkin kurang. Kalau kita tidak coba sesuatu, Joni akan berubah jadi makhluk. Sama seperti Dul."
Ucok terdiam. Dadanya naik turun cepat. Dia menatap Bambang dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu tahu, dulu ada satu satpam yang coba hal yang sama. Namanya Agus."
Bambang terkejut. Agus. Nama itu ada di dinding kantin. Agus, 20 September 2022.
"Apa yang terjadi dengan Agus?"
Ucok menghela napas panjang. "Dia sayat tangannya. Darahnya dia percikkan ke salah satu makhluk. Makhluk itu menjerit. Kulitnya meleleh. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi makhluk-makhluk lain langsung menyerang Agus. Mereka tidak suka darah. Darah menyakiti mereka. Tapi mereka juga tidak takut. Mereka akan balas menyerang lebih keras. Agus tewas malam itu. Bukan berubah. Tewas. Mati. Mayatnya tidak pernah ditemukan."
Bambang terdiam. Dia membayangkan Agus. Berdiri di halaman belakang dengan tangan berdarah. Makhluk-makhluk menjerit. Lalu makhluk-makhluk lain menyerang. Agus tewas. Mayatnya hilang.
"Jadi darah bisa menyakiti mereka," kata Bambang perlahan. "Tapi tidak cukup untuk membunuh. Hanya membuat mereka marah."
"Iya. Itu yang kami lihat."
"Tapi bagaimana kalau darahnya banyak? Banyak sekali? Cukup untuk meracuni kolam?"
Ucok menatap Bambang dengan mata terbelalak. "Kamu gila. Kamu mau korbankan diri kamu? Korbankan darah kamu sampai habis?"
Bambang tidak menjawab. Dia tidak tahu jawabannya. Mungkin dia gila. Mungkin tidak. Yang dia tahu, dia tidak bisa diam dan melihat Joni berubah perlahan. Tidak bisa diam dan menunggu gilirannya tiba.
"Ada cara lain," kata Ucok pelan.
"Cara apa?"
Ucok melihat ke kiri dan ke kanan. Memastikan tidak ada yang mendengar. Lalu dia berbisik, "Kita kabur."
"Kabur? Kontrak? Denda lima ratus juta? Keluarga kita jadi jaminan?"
"Kita kabur bukan dari kontrak. Kita kabur dari pabrik ini. Kita lari ke hutan. Cari jalan keluar. Cari desa. Cari polisi. Cari siapa saja yang bisa bantu."
"Tahu hutan itu rumah mereka? Kita masuk ke sarang mereka kalau lari ke hutan."
"Mungkin. Tapi lebih baik coba kabur daripada diam dan berubah jadi makhluk. Setidaknya kalau kita mati, kita mati sebagai manusia. Bukan sebagai... itu."
Bambang berpikir. Kabur ke hutan. Resikonya besar. Tapi setidaknya itu tindakan. Itu perlawanan. Bukan hanya duduk diam menunggu ajal.
"Kapan?" tanya Bambang.
Ucok menatap jam di dinding lorong. "Besok malam. Herman jaga shift. Kita bilang kita mau istirahat. Tapi kita lari ke hutan lewat belakang."
"Joni bagaimana?"
"Joni tidak bisa ikut. Joni sudah terlalu lemah. Dia hanya akan memperlambat kita. Maaf."
Bambang menggigit bibirnya. Meninggalkan Joni rasanya seperti mengkhianati teman sendiri. Tapi Ucok benar. Joni tidak akan kuat. Dan kalau mereka mati karena Joni lambat, tidak ada yang selamat.
"Baik. Besok malam. Aku siap."
Ucok mengangguk. "Sekarang istirahat. Jangan bilang siapa-siapa. Jangan bilang Herman. Jangan bilang Joni. Hanya kita berdua."
Ucok menutup pintu kamarnya. Bambang berdiri di lorong dengan perasaan campur aduk. Takut. Harap. Gelisah. Tapi setidaknya ada rencana. Ada harapan.
Dia kembali ke kamarnya dan berbaring di ranjang besi itu. Matanya menatap langit-langit yang retak-retak. Pikirannya melayang ke Ibu. Ke Bapak. Ke rumah kontrakan sempit di gang yang sekarang terasa seperti surga.
Bambang berbisik pelan dalam gelap. "Doain aku, Bu. Doain aku."
Tidak ada jawaban. Hanya suara tikus di atas plafon. Dan dari kejauhan, suara yang sudah terlalu familiar. Suara seperti karet diregangkan. Suara makhluk-makhluk yang menunggu di hutan.