Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17.
Di dalam kamar mandi yang mewah itu, Kiara menyandarkan punggungnya pada pintu yang terkunci rapat. Napasnya memburu, wajahnya terasa panas bukan karena sisa gairah semalam melainkan karena permintaan gila yang baru saja dilontarkan Kenan di luar sana.
"Gila! Dia benar-benar gila!" bisik Kiara pada dirinya sendiri. Ia menjambak rambutnya frustrasi.
"Menikah? semudah itu dia bilang menikah? Dia pikir ini seperti menandatangani kontrak kerja sama!"
Kiara mondar-mandir di atas lantai marmer yang dingin.
"Kalau Ibu dan Nenek tahu kami tidur bersama sebelum menikah, aku tidak hanya akan dipecat karena mengecewakan mereka. aku akan dideportasi dari silsilah keluarga!" Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba mencari sisa-sisa akal sehat.
"Aku menginginkan semua ini tapi... sekarang aku tidak menginginkannya, bagaimana ini?" Kiara mencoba menebak apa yang dia inginkan sebenarnya.
"Kami bahkan tidak saling mencintai! Dia hanya merasa harus bertanggung jawab karena... argh! kejadian semalam itu!"
"Aku ingin mendapatkan hatinya bukan tubuhnya saja."
Sudah hampir tiga puluh menit Kiara mengunci diri. di luar, Kenan mulai merasa tidak tenang. Ia berdiri tepat di depan pintu kamar mandi, sesekali mengetuknya pelan dengan khawatir.
"Kiara? kamu tidak pingsan di dalam kan?" suara Kenan terdengar berat dan penuh kecurigaan.
"Jangan mencoba kabur lewat ventilasi. kita harus bicara soal tanggal pernikahan." Teriak Kenan.
Kiara tersentak. tanggal pernikahan!? Dia sudah sejauh itu?
"Tunggu sebentar Pak! saya sedang... sedang refleksi diri!" teriak Kiara dari dalam.
Kiara memutar otak. Ia harus mencari cara agar Kenan melupakan obsesi tanggung jawabnya yang mendadak muncul itu.
Setelah menarik napas panjang, ia membuka pintu perlahan dengan senyum yang dipaksakan senatural mungkin.
"Pak Kenan... mari kita bicarakan baik-baik." ujar Kiara sambil melangkah keluar dengan canggung lalu menarik Kenan untuk duduk berhadapan dengannya di sofa kamar.
"Hemm?"
"Bagaimana kalau kita pacaran dulu? kita mulai dari awal seperti orang normal." Kata Kiara.
Kenan mengerutkan kening, menatap Kiara dengan pandangan apa-apaan ini?.
"Untuk apa pacaran? kita sudah tidur, Kiara. langsung menikah saja!"
Kiara nyaris berteriak mendengar jawaban itu. bukannya pria itu paling menolak dulu.
"Bukan begitu alurnya Pak! menikah itu sekali seumur hidup. Aku mau menikah dengan pria yang mencintaiku! Pak Kenan juga mau begitu kan?"
Kenan justru menatapnya dengan wajah tanpa dosa.
"Lalu apa bedanya? kita bercinta semalam, bukankah itu artinya kita sudah terikat?"
Astaga, demi apa pun! Apa otaknya hanya berisi logika bisnis. batin Kiara benar-benar kesal.
"Heii... Pak Kenan yang terhormat," Kiara menunjuk dada Kenan dengan emosi.
"Apa kamu tidak tahu cara mencintai? bukan sekadar bercinta! Cinta dan Bercinta itu beda jauh!"
"Bagiku sama saja." jawab Kenan santai sembari melipat tangan di dada.
"Sama-sama melibatkan perasaan dan kontak fisik." Tambahnya ringan.
"Terserah Bapak! tapi saya tetap tidak mau menikah dulu!" tegas Kiara.
Kenan melotot, auranya kembali mendominasi.
"Kenapa? Apa alasanmu menolakku? Apa karena Nathan atau Arkan?" Curiga Kenan.
"Bukan! alasanku sederhana, Aku ingin dicintai oleh pria yang ingin kunikahi! bukan hanya karena dia merasa bersalah."
Kenan terdiam sejenak, menatap Kiara dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Baiklah. Aku akan belajar mencintaimu dan kamu juga harus mencintaiku. Kita sudah tidur bersama jadi proses belajarnya bisa lebih cepat." Balas Kenan.
Dia menyebutnya lagi! batin Kiara meronta.
"Bisakah Pak Kenan stop mengatakan kita sudah tidur bersama? itu tidak sopan dan memalukan!" protes Kiara dengan wajah merah padam.
"Itu kenyataannya." balas Kenan tanpa perasaan geli sedikit pun.
"Betul! itu memang terjadi! jadi lebih baik diam karena kita melakukannya tanpa ikatan pernikahan!"
"Makanya aku mau menikahimu!" seru Kenan tak mau kalah.
"Supaya kita bisa melakukannya lagi berkali-kali setelah resmi menjadi suami istri. Jadi lebih sah dan bebas kan?"
Kiara melongo, tangannya terjulur di depan wajahnya seolah ingin menahan kata-kata Kenan.
"Lagi? Bapak baru saja bilang lagi?" Suara Kiara meninggi.
"Iya kenapa? ada yang salah dengan itu?" Tanya Kenan dengan wajah yang kembali datar.
DAMN! Aku tidak pernah berpikir Pak Kenan bisa semesum ini! ke mana perginya Ice Man yang kaku dan menyebalkan itu!?
Kiara hanya bisa memijat pelipisnya, menyadari bahwa melarikan diri dari Kenan sekarang jauh lebih sulit daripada menghadapi hantu sekalipun.
Kiara membuang muka, mencoba mengatur napasnya yang masih naik turun karena emosi meluap yang Ia paksa tahan.
"Bapak pikir sendiri, aku benar-benar tidak mengerti bagaimana Pak Kenan merangkai pemikiran seperti itu." gumamnya ketus.
Kenan tidak membalas sindiran itu. Ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling kamar yang berantakan.
"Jam berapa sekarang?" tanya Kenan dengan suara baritonnya yang khas.
"Tidak tahu." sahut Kiara singkat, masih enggan menatap pria itu.
Kenan melangkah mendekati nakas, mengambil ponselnya yang tergeletak di sana untuk memeriksa waktu.
"Tunggu sebentar, seseorang akan mengantar pakaian ganti ke sini. setelah itu kita langsung ke rumahmu."
Kiara dengan secepat kilat kepalanya langsung menoleh ke arah Kenan.
"Untuk apa?"
Kenan menatapnya dengan pandangan lurus, seolah pertanyaan itu adalah hal paling jelas di dunia.
"Kamu tidak dengar? Aku mau bertanggung jawab. Aku harus bertemu orang tuamu."
Mendengar kata tanggung jawab dan rumah. Kiara mendadak hening. pikirannya membayangkan wajah ayahnya dan amukan keluarganya jika Kenan datang dengan pengakuan gila itu. dalam sepersekon detik, pertahanan Kiara runtuh. Ia mulai menangis kencang, sebuah tangisan histeris yang seketika membuat Kenan panik.
"Hiksss... hiksss... huwaaaaa!"
"Kiara? ada apa? Kenapa menangis?" Kenan mendekat, tangannya terangkat canggung ingin menyentuh bahu Kiara namun ia tampak ragu.
"Pak Kenan jahat!!! hiks... hiks... bapak benar-benar tidak punya perasaan!" teriak Kiara di sela tangisnya.
"Apa yang kulakukan? Maaf... maafkan aku," ucap Kenan dengan nada yang melembut, sesuatu yang sangat langka keluar dari mulutnya.
Kiara menyembunyikan wajahnya di balik bantal, bahunya berguncang hebat.
"Aku mau pacaran Pak... bukan nikah! bisakah kita pacaran dulu saja? hiks... hiks..." Teriak Kiara sambil sesegukan.
"Apa bapak tidak bisa berfikir? jika pak Kenan ke rumahku dan mengatakan apa yang sudah kita lakukan. bagaimana dengan perasaan orang tuaku? mereka akan berfikir demi hidup enak aku memilih jalan pintas dengan menjual diri! itu bukan pilihanku pak! aku ingin membuktikan aku bisa memberikan mereka semua hal yang layak dengan usahaku bukan karena seseorang. aku tahu aku bisa memiliki semuanya jika menikah dengan bapak tapi tidak dengan orang tuaku, mereka tidak akan menikmati hasil itu sepenuhnya, hiks..... hiks.... " Ujar Kiara panjang lebar sembari tangannya ikut berbicara.
Kenan terdiam sejenak. Ia mengembuskan napas pasrah, menyadari bahwa memaksa Kiara menikah dalam keadaan seperti ini hanya akan memperburuk suasana.
"Baiklah... kita pacaran beberapa hari."
Tangis Kiara sedikit mereda, Ia menatap Kenan dengan mata sembab.
"Berapa hari? Hiks... hiks..."
Aku ini menangis sungguhan karena panik, tapi semoga akting ini berhasil mengelabuinya agar dia tidak nekat ke rumah sekarang. batin Kiara penuh harap.
"Tiga hari..." jawab Kenan datar.
"Itu bukan pacaran Pak! Itu uji coba hiks... hiks... tega sekali!" tangis Kiara pecah lagi, kali ini lebih keras.
Kenan memijat pangkal hidungnya. dia merasa benar-benar kalah menghadapi air mata Kiara.
"Baiklah, sampai kamu siap. tapi jangan lewat satu bulan. bagaimana kalau kamu hamil? kita harus punya status hukum sebelum itu terjadi."
Kiara terdiam sejenak, merenungkan kemungkinan itu.
"Benar juga. Aku akan merawat tubuhku. jika ada sesuatu yang aneh atau aku merasa ada yang tidak beres, aku akan mengatakannya padamu."
"Jangan sampai hamil Kiara! aku mau menikahimu sebelum itu." sahut Kenan.
"Iya pak... iya," Balas Kiara sudah berhenti menangis.
Sebenarnya Kenan ada benarnya, anaknya harus sah meski yang mereka lakukan..... ya begitu.
Matanya menatap Kiara dengan pandangan yang berbeda. bukan lagi sebagai atasan, tapi sebagai pria yang merasa memiliki.
Tak lama kemudian......
Bel pintu berbunyi. Kenan beranjak untuk membukanya. seorang staf hotel yang sangat menjaga privasi berdiri di sana membawakan beberapa kantong belanjaan bermerek dan sebuah nampan besar berisi sarapan mewah.
Kenan membawa masuk barang-barang tersebut.
"Ini pakaian gantimu. Aku sudah meminta mereka membelikan ukuran yang biasa kamu pakai."
Ia meletakkan nampan sarapan di atas meja kecil dekat jendela yang menampilkan pemandangan kota.
"Makan dulu, Aku tidak suka melihatmu berdebat dalam keadaan lapar." Bujuk Kenan.
Kiara bangkit perlahan, melirik pakaian ganti yang disediakan. Ia merasa sedikit lega karena setidaknya untuk saat ini dia berhasil menunda pernikahan yang menakutkan itu. meskipun ia tahu masa pacaran dengan Kenan Xequel pun tidak akan pernah menjadi hubungan yang normal.
Bersambung....
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭