Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Penghinaan Nyonya Ratna
Suara ritmis dari mesin elektrokardiogram (EKG) di ruang perawatan VVIP RS Bhayangkara terdengar seperti detak metronom yang menghitung sisa-sisa kewarasanku.
Sinar matahari pagi menyusup dari sela-sela tirai vertikal, jatuh tepat di atas wajah Ghazali yang masih terlelap. Pria itu tampak begitu rapuh. Jubah kebesaran Jaksa Penuntut Umum yang biasanya menyembunyikan sisi manusianya telah digantikan oleh pakaian pasien berwarna biru pudar. Lengan kanannya dibungkus perban medis khusus untuk luka bakar kimia stadium tiga akibat paparan Asam Hidrofluorik, diletakkan dengan hati-hati di atas bantal penyangga.
Aku duduk di kursi di sebelah ranjangnya, menatap garis rahangnya yang tegas namun kini diselimuti oleh pucatnya bayang-bayang kematian yang sempat merenggutnya semalam.
Secara perlahan, aku mengulurkan tanganku, menelusuri punggung tangan kirinya yang bebas dari perban. Kulitnya terasa dingin, namun denyut nadinya berdetak stabil di bawah ujung jariku. Di titik inilah kami sekarang. Badai konspirasi yang merenggut nyawa Kakek dan Bi Inah telah mencapai puncaknya semalam. Bukti silikon swab dari bawah kuku korban berhasil menyeret Maia dan Nyonya Ratna ke balik jeruji besi.
Kami menang. Namun harga dari kemenangan ini adalah jantung suamiku yang nyaris berhenti untuk selamanya.
Tok. Tok.
Suara ketukan pelan dari pintu kaca menyentakkanku dari lamunan. Komisaris Herman berdiri di ambang pintu. Pria paruh baya itu masih mengenakan seragam yang sama dengan semalam, namun wajahnya tampak tegang, membawa secarik dokumen di tangannya.
Aku melepaskan tangan Ghazali dengan hati-hati, lalu berjalan keluar dari ruang rawat agar percakapan kami tidak mengganggu istirahatnya.
"Ada apa, Komisaris?" tanyaku dengan suara berbisik, menyilangkan tangan di depan dada untuk menahan udara dingin dari koridor rumah sakit. "Apakah ada masalah dengan berkas penahanan mereka?"
Herman menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang kelelahan. "Status penahanan Nyonya Ratna dan Maia sudah resmi. Mereka berdua ditempatkan di sel isolasi Bareskrim. Tapi kita punya masalah dengan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) Nyonya Ratna."
"Apa maksudnya? Bukankah bukti dari mesin GC-MS sudah tak terbantahkan?" tanyaku mengerutkan dahi.
"Secara forensik, ya. Tapi Nyonya Ratna menggunakan Hak Ingkar-nya. Dia menolak menandatangani BAP, menolak berbicara dengan penyidik, dan menolak didampingi oleh pengacara mana pun yang ditunjuk oleh negara," Herman menatapku dengan raut wajah serba salah. "Dia mengajukan satu syarat absolut kepada Direktur Tindak Pidana Umum. Dia hanya akan membuka mulut dan menandatangani pengakuan penuh... jika dia diizinkan berbicara denganmu secara empat mata."
Darahku berdesir pelan. "Denganku?"
"Ya. Hanya berdua di ruang interogasi. Tanpa kuasa hukum, tanpa penyidik di dalam ruangan," Herman menyodorkan dokumen itu padaku. "Secara prosedural ini sangat tidak biasa. Tapi atasan kami tidak ingin mengambil risiko kehilangan momentum pengakuan dari tersangka utama. Jika kau menolak, kami akan mencari cara lain untuk menekannya."
Aku menoleh ke belakang, menatap sosok Ghazali dari balik kaca transparan. Ibunya adalah monster sosiopat yang merancang kudeta berdarah di keluarganya sendiri. Berada satu ruangan dengan wanita itu sama saja dengan berjalan masuk secara sukarela ke dalam kandang harimau yang sedang kelaparan.
Namun, aku adalah seorang dokter forensik. Aku terbiasa menghadapi entitas yang membusuk.
"Siapkan ruang interogasinya, Komisaris," ucapku dingin, mengambil dokumen tersebut. "Aku akan membedah otak monster itu hari ini juga."
Ruang interogasi di lantai bawah tanah Bareskrim Polri didesain murni untuk meruntuhkan psikologis manusia. Ruangan itu hanya berukuran tiga kali tiga meter, tanpa jendela, diterangi oleh satu lampu pijar yang sengaja dibuat terlalu terang di tengah ruangan. Udara di dalamnya berbau campuran antara keringat, ketakutan, dan cairan pembersih lantai yang murah.
Di tengah ruangan tersebut, sebuah meja besi panjang memisahkan dua buah kursi logam yang dipaku permanen ke lantai.
Nyonya Ratna Mahendra duduk di kursi seberang. Wanita yang dua puluh empat jam lalu masih mengenakan gaun sutra dan kalung mutiara di ruang VIP itu, kini dibalut oleh baju tahanan berwarna oranye terang dengan nomor registrasi tercetak di dadanya. Namun, pakaian kotor itu sama sekali tidak melunturkan keangkuhannya. Tulang punggungnya tegak lurus, dagunya terangkat tinggi, dan kedua tangannya yang diborgol ke meja diletakkan dengan keanggunan layaknya ia sedang menunggu hidangan teh sore.
Pintu besi di belakangku tertutup dengan bunyi dentuman berat yang mengunci secara mekanis. Hanya ada aku, dia, dan satu kamera CCTV yang merekam dari sudut atas ruangan tanpa audio (sesuai permintaannya).
Aku menarik kursi logam itu dan duduk berhadapan dengannya.
"Aku di sini, Nyonya Ratna. Sesuai permintaanmu," suaraku memecah keheningan yang mencekik. "Katakan apa yang ingin kau katakan pada penyidik, lalu tanda tangani berkasmu. Aku harus kembali ke rumah sakit."
Nyonya Ratna menatapku. Tidak ada kilat kemarahan seperti kemarin malam. Matanya kini tenang, namun memancarkan racun murni yang jauh lebih mematikan. Ia memindai penampilanku—jas lab-ku yang sudah diganti baru, namun wajahku tidak bisa menyembunyikan kelelahan ekstrem.
"Kau terlihat seperti pemenang, Keana," Nyonya Ratna menyunggingkan senyum tipis yang membuat perutku bergejolak. "Sang Pahlawan Forensik yang berhasil menyelamatkan suaminya dan membongkar kebusukan keluarga elit. Kudengar media massa di luar sana memujamu layaknya malaikat keadilan. Sungguh sebuah drama yang memuakkan."
"Sains tidak mengenal drama. Hanya kalian yang bermain drama untuk menutupi pembunuhan Kakek dan Bi Inah," jawabku tanpa emosi, melipat tanganku di atas meja besi. "Berhentilah membuang waktuku. Apa maumu?"
Nyonya Ratna mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga rantai borgolnya berderik tajam. "Aku hanya ingin memberikan hadiah pernikahan yang tertunda untukmu, Menantuku. Sebuah realitas."
Aku mendengus pelan. "Realitas bahwa kau akan menghabiskan sisa umurmu di penjara?"
"Realitas tentang pria yang sedang kau tangisi di rumah sakit sana," balas Nyonya Ratna, suaranya berubah menjadi bisikan sibilan yang tajam. "Kau benar-benar berpikir Ghazali mencintaimu, bukan? Kau berpikir pengorbanannya menyentuh asam di bunker itu adalah bukti cinta sejati yang epik?"
Bulu kudukku berdiri serentak. Instingku memperingatkanku bahwa wanita ini sedang mencoba masuk ke dalam celah-celah psikologisku, mencari bagian yang tidak terlindungi oleh jubah profesionalku.
"Dia rela mengorbankan nyawanya agar aku tidak menghirup gas beracun. Dia menyerang algojomulah yang hampir membunuhnya," balasku tegas, mempertahankan nada bicaraku agar tidak terpancing. "Itu bukan sekadar bukti. Itu adalah actus reus dari pengorbanan absolut."
Tawa pelan Nyonya Ratna pecah. Tawa yang sangat kering, kosong, namun dipenuhi oleh rasa kasihan yang sangat menghina.
"Ya Tuhan, kau ternyata jauh lebih naif dari yang aku bayangkan, Keana," Nyonya Ratna menggelengkan kepalanya pelan. "Kau sangat pintar membaca isi tubuh mayat, tapi kau sangat buta dalam membaca isi kepala manusia hidup. Terutama isi kepala seorang Mahendra."
"Apa maksudmu?"
"Ghazali dibesarkan di rumah yang mengajarkan bahwa setiap tindakan adalah transaksi. Sebuah manuver hukum," Nyonya Ratna menatapku lekat-lekat, menelanjangi sisa-sisa kewarasanku. "Kau pikir dia memegang jeriken asam hidrofluorik itu karena dia ingin melindungimu? Tidak, Keana sayang. Dia melakukannya karena dia butuh sebuah luka untuk memenangkan narasi publik."
Darahku terasa membeku. Udara di ruang interogasi ini mendadak terasa setebal lumpur.
"Kau bicara omong kosong," desisku, jantungku mulai berpacu lebih cepat.
"Apakah itu omong kosong?" Nyonya Ratna menaikkan satu alisnya. "Pikirkan baik-baik menggunakan otak analitismu itu, Dokter. Saat kalian terjebak di bunker, Maia telah menguasai seluruh narasi. Maia memiliki bukti transfer, Maia memiliki pengakuan dariku. Jika Ghazali keluar dari ruangan bawah tanah itu tanpa luka sedikit pun, media dan polisi akan melihatnya sebagai pria kuat yang berkomplot. Tapi, jika dia keluar dalam kondisi cacat, dalam kondisi sekarat sebagai 'korban' dari asam beracun..."
Nyonya Ratna tersenyum lebar, senyuman iblis yang mengerikan. "...maka seketika statusnya berubah dari Tersangka menjadi Korban Tragis. Opini publik akan langsung berpihak padanya. Hakim akan menaruh simpati padanya. Dia tidak menghancurkan tangan kanannya untukmu, Keana! Dia menghancurkan tangan kanannya untuk memenangkan simpati nasional! Itulah yang dilakukan oleh seorang Mahendra sejati. Kami memotong satu jari kami sendiri untuk menyelamatkan kepala kami."
Napas tertahan di rongga dadaku. Jantungku serasa dihantam palu godam.
Logikaku berusaha keras menolak argumen menjijikkan itu, namun iblis di dalam diriku mulai merangkai fakta-fakta yang ada. Ghazali adalah Jaksa Penuntut Umum yang luar biasa cerdas. Ia menguasai opini publik. Ia yang menyuruhku menggunakan billboard raksasa. Ia tahu persis bagaimana cara kerja simpati media.
Tidak. Dia tidak mungkin selicik itu. Dia mencintaiku.
"Kau berbohong. Dia bilang dia membenciku selama ini hanya untuk menjauhkanku darimu dan Maia," suaraku bergetar, pertahananku mulai menunjukkan retakan rambut.
"Oh, tentu saja dia akan mengatakan itu," Nyonya Ratna menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai. "Itu adalah alasan yang paling masuk akal untuk menutupi fakta bahwa dia memang jijik padamu. Apakah kau benar-benar lupa siapa yang ada di hatinya? Maia. Dia dan Maia adalah pantulan cermin yang sama. Mereka berbagi ambisi yang sama, kegelapan yang sama."
Nyonya Ratna menatap ke arah cincin pernikahan di jari manisku, lalu menatapku dengan tatapan kasihan yang seratus persen palsu. "Ghazali hanya memanfaatkanmu, Keana. Wasiat kakeknya mengikat triliunan rupiah pada status pernikahanmu. Dia membutuhkanmu untuk membuka brankas warisan itu, dan dia membutuhkan keahlian forensikmu untuk menjebloskanku ke penjara agar tidak ada lagi yang menghalangi kekuasaannya di yayasan. Setelah semua ini selesai? Setelah status hukumnya aman?"
Wanita tua itu mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suaranya menjadi bisikan sibilan yang merobek gendang telingaku.
"Dia akan membuangmu kembali ke ruang mayatmu yang kotor. Karena seorang Mahendra tidak akan pernah menempatkan wanita yang berbau formalin dan darah busuk di ranjang utamanya. Kau hanyalah perban darurat. Dan begitu lukanya sembuh, perban itu akan dibuang ke tempat sampah."
Rongga dadaku menyempit secara drastis. Kata-kata Nyonya Ratna adalah racun mematikan yang disuntikkan langsung ke dalam titik terlemahku. Ia tidak menyerang fisikku; ia menyerang kompleks inferioritasku. Ia menggunakan identitas yang paling kubanggakan—profesiku sebagai dokter forensik, bau formalinku—sebagai senjata untuk merendahkan martabatku sebagai seorang wanita.
"Cukup," aku berdiri dengan kasar, mendorong kursiku hingga berdecit keras di lantai. Aku mencengkeram tepi meja besi itu, menunduk menatapnya dengan kemarahan murni. "Kau hanya seekor tikus yang terpojok, Nyonya Ratna. Kau mencoba memecah belah kami karena hanya itu satu-satunya kekuatan yang tersisa padamu."
"Apakah aku yang terpojok? Atau justru kau yang sedang menolak realita, Keana?" Nyonya Ratna tetap tenang. Ia memberikan senyuman merendahkan terakhirnya. "Kau bilang sains tidak pernah berbohong? Maka amatilah suamimu itu dengan mikroskopmu. Lihatlah seberapa banyak kebohongan yang ia sembunyikan di balik topeng pahlawannya. Dan saat kau menyadari bahwa aku benar... jangan katakan ibu mertuamu ini tidak pernah memperingatkanmu."
Aku tidak mampu lagi mendengarkan racun dari mulut wanita itu. Aku berbalik, melangkah cepat menuju pintu besi.
"Panggil penyidik masuk! Dia sudah selesai bicara!" teriakku sambil memukul pintu dengan kepalan tanganku.
Pintu terbuka. Komisaris Herman dan penyidik utama masuk. Aku segera menerobos keluar tanpa menoleh sedikit pun, setengah berlari menyusuri lorong Bareskrim seolah ruangan interogasi itu baru saja terbakar.
Langkahku terasa sangat berat saat aku kembali memasuki lobi RS Bhayangkara. Sinar matahari pagi yang cerah di luar sana sama sekali gagal menembus kabut gelap yang kini mengerak di dalam pikiranku.
Aku berhenti di depan wastafel toilet umum di lantai tiga, membasuh wajahku dengan air dingin berkali-kali. Aku menatap refleksiku di cermin. Mata yang sendu, rambut yang sedikit berantakan, dan jas lab yang mendefinisikan seluruh hidupku.
Aku mengangkat pergelangan tanganku dan mengendusnya. Aroma sabun antiseptik klorheksidin. Aroma formalin yang samar namun persisten.
“Karena seorang Mahendra tidak akan pernah menempatkan wanita yang berbau formalin dan darah busuk di ranjang utamanya. Kau hanyalah perban darurat.”
Kalimat Nyonya Ratna bergema kembali, memantul di dinding tengkorakku.
Secara logis, aku tahu Nyonya Ratna adalah seorang sosiopat manipulator. Aku tahu tujuannya adalah menanamkan benih kesalahpahaman untuk menghancurkan kami dari dalam. Namun, kebohongan terbaik selalu dibangun di atas kepingan kebenaran.
Ghazali memang manipulatif. Ghazali memang sangat memedulikan citra publik. Dan yang paling menyesakkan... Ghazali dan Maia memang memiliki masa lalu yang sangat dalam, sebuah dunia di mana mereka adalah 'raja dan ratu kegelapan' seperti yang Koh Bong katakan.
Bagaimana jika Nyonya Ratna benar? Bagaimana jika keputusan Ghazali untuk menghancurkan tangannya di bunker itu bukan digerakkan oleh cinta, melainkan oleh insting bertahan hidup seorang jaksa yang membutuhkan status 'korban' untuk selamat dari hukuman?
Apakah ciuman di ruang otopsi itu nyata, atau hanya taktik untuk memastikan aku tetap menjadi pion yang setia di papan caturnya?
Aku menekan pinggiran wastafel kuat-kuat, merutuki diriku sendiri.
Sadar, Keana. Kau tidak boleh termakan oleh racun psikologis murahan seperti ini. Analisis berdasarkan fakta empiris.
Namun, emosi manusia bukanlah jaringan sel yang bisa dianalisis dengan mikroskop. Rasa tidak aman (insecurity) yang bersarang di dadaku adalah luka batin yang tak kasatmata. Aku telah terbiasa diabaikan, dihina, dan diposisikan sebagai barang cacat sejak malam pertama pernikahan kami. Luka itu terlalu dalam, dan kini Nyonya Ratna baru saja merobek jahitannya hingga berdarah kembali.
Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju ruang ICU.
Penjagaan dari Bareskrim telah ditarik sepenuhnya. Tidak ada lagi polisi bersenjata di depan pintu. Komisaris Herman telah menepati janjinya.
Aku membuka pintu kaca geser secara perlahan dan melangkah masuk.
Ghazali sudah terbangun. Ia sedang duduk bersandar di bantal yang ditinggikan, dibantu oleh seorang perawat yang sedang memeriksa infus di lengan kirinya. Saat mendengar suara pintu bergeser, wajah pualamnya yang sedang menahan nyeri seketika berubah. Matanya yang gelap memancarkan kelegaan yang luar biasa.
"Keana..." panggilnya dengan suara serak, seolah menyebut namaku adalah satu-satunya obat penawar rasa sakitnya. Ia mengabaikan perawat itu dan mencoba mengulurkan tangan kirinya ke arahku.
Aku menghentikan langkahku di kaki ranjang, tidak segera menyambut uluran tangannya. Jarak tiga meter di antara kami kembali terasa seperti jurang kosmik yang memisahkan dua galaksi.
Melihat keraguanku, senyum di bibir Ghazali memudar. Alisnya bertaut bingung. "Keana? Ada apa? Apakah ada masalah dengan pembebasanmu? Atau ibuku menolak mengaku?"
"Ibumu sudah menandatangani BAP-nya," jawabku pelan. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Datar. Terlalu klinis.
Aku memaksakan diriku melangkah maju, namun alih-alih menggenggam tangannya, aku mengambil chart rekam medis dari ujung ranjangnya dan mulai memeriksanya.
"Ritme jantungmu sudah kembali ke sinus normal. Leukositmu sedikit naik, mungkin karena peradangan di tangan kananmu. Perawat, tolong berikan injeksi analgetik tambahan di jam dua belas siang nanti," instruksiku kepada perawat tanpa menatap wajah Ghazali.
Perawat itu mengangguk dengan canggung, merasakan suhu udara di ruangan yang mendadak anjlok secara drastis, lalu segera permisi keluar meninggalkan kami berdua.
Ghazali menatapku lekat-lekat. Insting interogatornya menangkap perisai es yang mendadak kubangun. Lengan kirinya perlahan turun.
"Apa yang dikatakan ibuku padamu di ruang interogasi itu?" tanya Ghazali rendah, suaranya mengandung bahaya yang mengancam. "Apa racun yang dia tanamkan di kepalamu?"
Aku meletakkan chart medis itu kembali ke tempatnya. Aku menatap perban tebal di tangan kanannya, teringat pada argumen mematikan Nyonya Ratna. Dia menghancurkan tangannya untuk memenangkan simpati publik.
"Dia tidak menanamkan apa pun. Dia hanya memberikan sudut pandang alternatif mengenai mens rea dari sebuah tindakan hukum," jawabku, menghindari kontak matanya. "Aku harus memproses sisa sampel forensik Bi Inah. Kau istirahatlah. Jadwal besuk dibatasi hanya lima belas menit untuk pasien paska henti jantung."
Aku membalikkan badan, berniat untuk melarikan diri dari ruangan ini sebelum pertahananku runtuh sepenuhnya.
"Keana, berhenti," perintah Ghazali. Suaranya tidak keras, namun ketegasannya memaksa kakiku terpaku di lantai.
Aku mendengar suara gesekan selimut. Saat aku menoleh, mataku terbelalak ngeri.
Ghazali telah menyibakkan selimutnya. Ia memaksa tubuhnya yang masih lemah untuk beranjak turun dari ranjang. Dengan gerakan kasar, ia mencabut jarum infus dari punggung tangan kirinya sendiri. Darah segar seketika menetes ke lantai putih ruang ICU.
"Ghazali! Apa yang kau lakukan, bodoh?!" aku menjerit tertahan, berlari menghampirinya dan menekan punggung tangannya dengan telapak tanganku untuk menghentikan pendarahan. "Jantungmu masih lemah! Kau bisa pingsan!"
Ghazali tidak mempedulikan darah yang mengalir atau rasa sakitnya. Ia justru menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mencengkeram pinggangku, menarikku menempel ke tubuhnya yang besar dan gemetar.
"Aku tidak peduli pada jantungku," napasnya memburu tepat di depan wajahku. Matanya yang gelap memancarkan kemarahan, keputusasaan, dan dominasi yang mutlak. "Apa yang ibuku katakan padamu? Katakan padaku, Keana! Karena aku bersumpah, jika kau berani membangun tembok di antara kita lagi setelah semua yang kita lewati di bunker itu... aku akan menghancurkan rumah sakit ini bersamamu."
Cengkeramannya di pinggangku begitu kuat, protektif, dan penuh kepemilikan. Ia menatapku seolah aku adalah oksigen terakhir di bumi ini, sementara benih keraguan yang ditanamkan Nyonya Ratna terus mengakar dan berbisik di telingaku bahwa ini semua hanyalah akting tingkat tinggi dari seorang Mahendra.
Di bawah lampu neon ruang ICU yang menyilaukan ini, aku terkurung di antara rasionalitas forensik yang dingin dan pelukan seorang pria yang penuh teka-teki. Luka di ranjang kami memang telah dibedah, namun kini, infeksi dari masa lalu mulai menjalar kembali, siap untuk membunuh sisa-sisa kepercayaan yang baru saja lahir.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍