NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Ambisi yang Tumbuh

Hari-hari di Sekolah Sihir Everton tidak pernah benar-benar ringan. Di balik kemegahan aula dan kilauan sihir, ada satu aturan yang tidak pernah diucapkan dengan lantang… tapi dipahami oleh semua orang:

Yang lemah akan tersingkir.

Dan di tempat itu, “tersingkir” bukan sekadar gagal.

Itu berarti hilang.

Selamanya.

Evelyn Edison memahami itu lebih cepat dari kebanyakan murid lain.

Setiap pagi, sebelum kelas dimulai, ia sudah berada di aula latihan. Tongkat sihir di tangannya tidak pernah benar-benar diam. Ia mengulang mantra yang sama berkali-kali, memperbaiki detail yang bahkan orang lain tidak akan sadari.

“Fira lumen.”

Api muncul.

Padam.

“Fira lumen.”

Api muncul lagi.

Lebih stabil.

Lebih halus.

“Belum cukup,” gumamnya pelan.

Di sudut lain, beberapa murid kelas E terlihat tidak terlalu serius. Ada yang bercanda, ada yang asal mencoba, ada yang bahkan terlihat tidak peduli.

Salah satu dari mereka tertawa kecil. “Untuk apa sih latihan segitunya? Kita juga nggak bakal langsung naik kelas.”

Yang lain menyahut, “Iya, santai aja. Toh masih lama.”

Evelyn tidak menoleh.

Namun kata-kata itu masuk ke telinganya.

Dan ia tahu—

Mereka tidak mengerti.

Di sekolah ini, waktu bukan sesuatu yang bisa diulur.

Karena kegagalan… tidak diberi kesempatan kedua.

Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, salah satu murid dipanggil ke depan. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar saat mengangkat tongkat sihir.

“Ulangi mantranya,” suara pengawas terdengar dingin.

Murid itu mencoba.

Sekali.

Gagal.

Dua kali.

Masih gagal.

Tiga kali—

Cahaya di ujung tongkatnya pecah, tidak stabil, lalu hilang begitu saja.

Sunyi.

Ruangan terasa membeku.

Evelyn tidak melihat langsung.

Namun ia mendengar.

Suara langkah mendekat.

Lalu—

Kilatan cahaya.

Singkat.

Cepat.

Dan… selesai.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada drama.

Hanya satu murid yang… tidak ada lagi.

Evelyn mengepalkan tangannya.

Bukan karena takut.

Tapi karena… sadar.

Ia tidak akan menjadi seperti itu.

Ia tidak akan pernah berada di posisi itu.

“Aku tidak akan disingkirkan,” bisiknya pelan.

Sejak saat itu, latihannya semakin keras.

Lebih lama.

Lebih dalam.

Ia tidak hanya belajar mengendalikan sihir—

Ia mulai menekan dirinya sendiri.

Sampai batas yang bahkan tidak ia ketahui.

---

Sore hari datang seperti jeda yang tidak benar-benar memberi istirahat.

Langit mulai berubah warna ketika Evelyn akhirnya meninggalkan aula latihan. Langkahnya lebih berat dari biasanya, tapi tidak melambat.

Di halaman sekolah, ia kembali melihat sosok yang sudah tidak asing.

Wiliam Elbert berdiri di bawah pohon yang sama seperti beberapa hari lalu, seolah tempat itu memang miliknya.

“Kamu lagi,” katanya santai saat melihat Evelyn mendekat.

Evelyn berhenti di depannya. “Kak Wiliam.”

Wiliam memperhatikannya sejenak. “Kamu kelihatan lebih capek dari biasanya.”

“Aku latihan.”

“Itu kelihatan,” jawabnya ringan. “Tapi ini bukan sekadar latihan biasa, kan?”

Evelyn tidak menjawab.

Wiliam menyilangkan tangan. “Kamu ngejar sesuatu.”

“Aku cuma melakukan apa yang harus aku lakukan.”

“Semua orang di sini juga melakukan itu,” balas Wiliam. “Tapi nggak semua orang sampai kelihatan kayak mau melawan dunia.”

Evelyn menatapnya sekilas. “Kalau aku tidak serius, aku akan hilang.”

Wiliam mengangguk pelan. “Benar. Tapi kamu bukan tipe yang mudah hilang.”

“Aku tidak mau ambil risiko.”

Sunyi sejenak.

Lalu Wiliam tersenyum tipis. “Atau… kamu sedang mengejar sesuatu yang lebih dari sekadar bertahan?”

Evelyn diam.

Tatapannya tidak menghindar, tapi juga tidak mengakui.

Wiliam menghela napas kecil. “Baiklah. Aku tanya langsung saja.”

Ia sedikit mendekat.

“Kenapa kamu ingin ke dunia manusia?”

Pertanyaan itu jatuh dengan tenang.

Namun cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa berbeda.

Evelyn menunduk sedikit, seolah memikirkan jawabannya.

“Hanya penasaran.”

Wiliam menatapnya beberapa detik.

Lalu—

Ia tertawa.

Pendek, tapi jelas.

“Hanya penasaran?” ulangnya.

Evelyn mengangkat wajahnya. “Ya.”

Wiliam menggeleng pelan. “Kamu tahu nggak, itu jawaban paling sering dipakai orang yang lagi menyangkal sesuatu.”

“Aku tidak menyangkal.”

“Semua orang bilang begitu.”

Evelyn mengerutkan kening sedikit. “Aku tidak punya alasan lain.”

“Benarkah?” Wiliam menyipitkan mata. “Bukan karena kamu merasa tempat ini… bukan untukmu?”

Evelyn tidak langsung menjawab.

“Bukan karena kamu merasa berbeda dari yang lain?” lanjutnya.

Evelyn menarik napas pelan.

“Itu tidak ada hubungannya.”

Wiliam tersenyum kecil. “Kalau begitu, kenapa kamu terlihat seperti sedang mencari jalan keluar?”

Evelyn menatapnya tajam. “Aku tidak melarikan diri.”

“Aku tidak bilang kamu lari,” balas Wiliam santai. “Aku cuma bilang kamu… ingin pergi.”

Sunyi.

Kali ini lebih lama.

Angin sore berhembus pelan, membawa daun yang jatuh di antara mereka.

Evelyn akhirnya bicara.

“Kalau aku ingin pergi… itu salah?”

Wiliam tidak langsung menjawab.

Ia berpikir sejenak.

“Tidak selalu,” katanya akhirnya. “Tapi tergantung alasanmu.”

“Aku bilang aku hanya penasaran.”

Wiliam tersenyum lagi. “Dan aku bilang… itu bukan jawaban yang jujur.”

Evelyn memalingkan wajah sedikit.

Untuk pertama kalinya—

Ia tidak punya jawaban cepat.

Wiliam memperhatikannya.

“Evelyn,” katanya lebih pelan, “rasa penasaran itu awal. Tapi biasanya bukan akhir.”

Evelyn menatap ke depan.

Langit sudah mulai gelap.

“Kalau aku tidak tahu alasannya sekarang… apakah itu salah?”

Wiliam menggeleng. “Tidak.”

“Lalu kenapa kamu terus memaksaku menjawab?”

“Karena suatu hari nanti,” jawabnya tenang, “kamu akan dipaksa memilih. Dan saat itu, ‘penasaran’ tidak akan cukup.”

Evelyn terdiam.

Kata-kata itu terasa… berat.

Namun masuk akal.

“Aku akan menemukan jawabannya,” katanya pelan.

Wiliam mengangguk. “Aku yakin.”

Ia tersenyum tipis.

“Dan aku juga yakin… kamu tidak akan berhenti sampai kamu mendapatkannya.”

Evelyn menatapnya sekilas.

“Kamu terdengar seperti sudah tahu akhirnya.”

Wiliam tertawa kecil. “Bukan tahu. Hanya… bisa menebak.”

“Menebak apa?”

Bahwa jalan yang kamu pilih nanti… tidak akan mudah.”

Evelyn tidak menjawab.

Namun kali ini—

Ia tidak menolak.

Karena jauh di dalam dirinya…

Ia sudah tahu.

Jalan yang ia pilih memang tidak akan mudah.

Dan mungkin—

Tidak akan aman.

Namun ia tetap melangkah.

Karena berhenti… bukan pilihan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!