Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.
Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.
Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.
Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.
Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipanggil Pulang
Lantai rumah itu bergerak. Bukan bergetar seperti diinjak, melainkan naik turun perlahan, seolah ada sesuatu besar di bawahnya yang sedang bernapas.
Suara gesekan terdengar dari segala arah. Suara itu menyebar ke seluruh bagian rumah, tidak lagi terpusat pada satu titik. Endric mundur hingga punggungnya menempel ke dinding.
“Ini bukan satu, ya,” bisiknya.
“Ndak,” jawab Gandhul pelan. “Ini banyak.”
Suara itu semakin jelas. Terdengar gesekan kuku, tarikan benda, dan napas berat yang bercampur dengan ribuan bisikan tumpang tindih. Endric menelan ludah, berusaha tetap tenang di tengah tekanan yang mencekam.
“Mereka manggil balik?” tanyanya.
Gandhul mengangguk.
“Yang di dalam lo mulai ketarik.”
Endric langsung menatap tangannya. Bekas hitam itu bergerak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Garisnya mencoba naik ke atas, menjalar hingga ke pergelangan tangan, lalu berhenti sejenak sebelum bergerak lagi.
“WOI,” kata Endric cepat. “Jangan ikut!”
Garis itu berdenyut, seolah merespons.
“Kami ditarik,” bisiknya.
Endric langsung panik.
“Ndak. Lo tetap di situ!”
Gandhul meliriknya.
“Lo lagi negosiasi sama isi tangan lo sendiri, ya?”
“Gue ndak punya pilihan!”
Suara dari bawah lantai semakin keras. Kayu mulai retak dengan bunyi yang memekakkan telinga. Beberapa bagian lantai sedikit terangkat, memperlihatkan celah gelap pekat di bawahnya.
“Ndhul, gue ndak kuat kalau ini jebol,” kata Endric.
“Lo harus tahan,” jawab Gandhul cepat.
“Gimana caranya?!”
“Jangan kasih yang di dalam lo keluar!”
Endric langsung memegang tangannya dengan tangan lain. Ia menekan kuat, seolah berusaha menahan sesuatu agar tetap terkurung di tempatnya. Napasnya memburu sementara garis hitam itu bergerak liar di bawah kulit.
“Lo denger gue?” bisiknya.
“Kami harus kembali.”
Endric menggeleng keras.
“Ndak ada kembali. Lo di sini aja!”
Tiba-tiba suara dari bawah berubah. Suara itu menjadi lebih jelas dan terarah, seperti satu komando yang diteriakkan serempak oleh ribuan mulut. Suaranya menggema hingga menusuk kepala.
“Kembali!”
“Kembali!”
“Kembali!”
Endric langsung menutup telinganya.
“ANJIR!”
“Jangan dengerin!” teriak Gandhul.
“Gue ndak mau juga!”
Namun suara itu tidak hanya datang dari luar. Sebagian suara terasa muncul dari dalam dirinya sendiri, dari tangannya, dari garis hitam yang terus bergerak tanpa henti.
“Kami pulang.”
Endric menggertakkan gigi.
“Ndak ada pulang. Ini bukan rumah lo!”
Tiba-tiba lantai di tengah ruangan retak lebih lebar. Kayu-kayu itu terbuka, memperlihatkan kegelapan yang pekat. Dari sana muncul tangan, banyak tangan yang kurus, panjang, dan kotor.
“ANJIR BANGET!”
Tangan-tangan itu bergerak naik, meraba permukaan lantai, lalu mengarah tepat ke Endric. Bukan ke tubuhnya, melainkan ke tangannya, ke arah bekas hitam itu. Endric langsung mundur sambil mengangkat tangannya menjauh.
“Ndhul, mereka tahu,” bisiknya.
“Iya. Mereka nyari yang di dalam lo.”
“Ndak boleh!”
Tangan-tangan itu bergerak lebih cepat, merayap dengan suara gesekan yang membuat bulu kuduk berdiri. Gandhul melompat ke depan mencoba menghalangi, meski tubuhnya tidak bisa menyentuh apa pun.
“WOI. SANTAI SEDIKIT!”
Salah satu tangan mencoba meraih Gandhul, tetapi menembus begitu saja.
“Ya ampun, gue ndak kepake di sini,” gumam Gandhul.
Endric hampir tertawa di tengah kepanikan.
“HILANG AJA SEKALIAN LO!”
“GUE JUGA MAU!”
Situasi makin kacau. Tangan-tangan itu hampir mencapai kaki Endric. Ia langsung naik ke atas kursi, berusaha menjauh dari jangkauan mereka.
“Ini kenapa jadi rame begini sih!”
“Karena lo bawa isi ke atas!” jawab Gandhul.
Endric menatap tangannya lagi. Garis hitam kini bergerak sangat cepat, naik hampir mencapai siku. Ia langsung menekan tangannya ke meja dengan sekuat tenaga.
“Diam!”
“Kami keluar,” bisik suara itu.
“Ndak ada keluar!”
Tiba-tiba salah satu tangan dari bawah berhasil menjebol lantai tepat di bawah meja. Tangan itu muncul lebih tinggi, hampir menyentuh kaki Endric.
“ANJIR!”
Endric langsung meloncat ke samping. Kursi jatuh, meja bergeser, dan ruangan terasa semakin sempit oleh gerakan tangan-tangan menjijikkan itu.
“JANGAN PANIK!” teriak Gandhul.
“GUE SUDAH PANIK DARI TADI!”
Tangan-tangan itu kini memenuhi setengah ruangan. Mereka terus merayap dan mengarah ke Endric. Ia mundur hingga punggungnya kembali menempel dinding, napasnya semakin tidak teratur.
“Gue harus ngapain?!”
Gandhul berpikir cepat.
“Lo harus bikin mereka berhenti narik.”
“Gimana?!”
“Lewat yang di dalam lo!”
Endric langsung menatap tangannya.
“Lo bisa berhentiin mereka?” tanyanya cepat.
Garis itu bergerak.
“Kami bisa.”
“Gimana caranya?!”
“Lepaskan.”
Endric langsung mengumpat.
“Ndak ada lepas!”
Garis itu berdenyut lebih kuat.
“Kami panggil mereka kembali.”
Endric terdiam. Gandhul menoleh cepat.
“Rek.”
Endric menelan ludah.
“Kalau mereka yang di dalam gue manggil balik...”
Gandhul mengangguk pelan.
“Yang di luar bisa berhenti.”
Endric menghela napas panjang, menerima pilihan yang tidak ia inginkan.
“Risikonya?”
Gandhul terdiam sejenak.
“Lo makin dalam.”
Endric tertawa pendek.
“Ya sudah. Gue udah setengah tenggelam juga.”
Tangan-tangan itu makin dekat, hampir menyentuh kakinya.
“OKE!” teriak Endric. “LO PANGGIL!”
Garis itu langsung bergerak cepat, naik lebih liar dari sebelumnya. Endric menahan napas, menatap tangannya tanpa berkedip.
“Kami panggil.”
Tiba-tiba semua tangan berhenti bergerak. Mendadak diam total, seolah membeku di tempatnya. Endric ikut membeku, tidak berani bergerak sedikit pun.
“Eh?”
Beberapa detik kemudian, tangan-tangan itu bergerak lagi. Namun bukan naik ke atas, melainkan mundur turun ke bawah dengan cepat, seolah ditarik oleh kekuatan yang jauh lebih besar.
“Berhasil?”
Gandhul mengangguk.
“Berhasil.”
Dalam hitungan detik, semua tangan menghilang. Lubang di lantai perlahan menutup rapat. Rumah itu kembali sunyi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Endric berdiri diam. Napasnya berat, keringat dingin mengalir di pelipis. Ia memastikan dirinya masih utuh.
“Gue hidup lagi,” katanya pelan.
“Iya,” jawab Gandhul.
Endric tertawa kecil.
“Gue udah berapa kali hampir mati, sih.”
Namun tawanya lenyap seketika. Ia menatap tangannya. Garis hitam itu kini tidak lagi berhenti di siku, melainkan sudah mencapai bahu, terlihat lebih tebal dan lebih jelas.
“Ndhul,” katanya pelan.
“Iya.”
Endric menelan ludah.
“Kayaknya gue salah pilih tadi.”
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia menatap garis itu dengan ekspresi serius.
“Bukan salah.”
Endric menatapnya.
“Terus?”
Gandhul menghela napas.
“Cuma lebih cepat.”
Endric terdiam beberapa detik.
“Lebih cepat jadi apa?”
Garis itu bergerak halus, tenang, seolah telah menemukan ritmenya sendiri. Dari dalam tubuh, suara itu muncul lagi, kali ini jauh lebih jelas dan tegas.
“Wadah.”