Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Down Grade 23
"Hiks, kenapa harus Afira yang mengalami? Kenapa nggak aku aja?"
Sedari tadi tangis Farrah tak kunjung usai. Selama putrinya diperiksa oleh dokter dan mendapat perawatan, ia terus saja seperti itu.
Rupanya Afira mengalami pneumonia. Pneumonia (radang paru-paru) adalah infeksi akut yang menyebabkan peradangan pada kantung udara (alveoli) paru-paru, yang terisi cairan atau nanah akibat bakteri, virus, atau jamur.
Tak pernah Farrah duga kalau putrinya akan mengalami hal tersebut. Selama ini dia sudah merawatnya dengan sangat baik dan Afira nampak sehat-sehat saja. Namun memang beberapa hari terakhir ini Afira batuk dan kesulitan bernafas. Farrah pikir itu hanya batuk biasa. Tapi ternyata tidak demikin.
"Jangan menangis terus, Far. Dokter sudah menangani Afira dengan baik. Yang kita lakukan sekarang adalah berdoa semoga Afira lekas sembuh," ucap Amar menenangkan sang istri.
"Iya Mas, aku tahu. Cuman rasanya hancur banget harus lihat dia kayak gini. Ditusuk-tusuk jarum suntik, terus tadi nangis nggak karuan. Ya Allah, sedih rasanya," jawab Farrah dengan mata sembabnya.
Tak dipungkiri melihat buah hati yang menangis kesakitan sangat mengiris hati. Dan Amar bisa merasakan hal tersebut. Ketika Afira ditangani dokter, dia merasa sangat kasihan kepada putrinya. Akan tetapi memang harus seperti itu penanganannya agar Afira bisa sehat kembali.
Tak ingin meninggalkan sisi Afira, Farrah menolak ketika diajak makan ke kantin oleh Amar. Dia takut kalau Afira bangun dan mencarinya. Sehingga Amar melenggang pergi sendiri dan memutuskan untuk membeli makanan saja bagi dirinya dan Farrah.
Ketika keluar dari pintu ruangan sang anak, tiba-tiba perasaan Amar menjadi tidak nyaman. Ia merasa seolah semua mata menatap ke arahnya. Dan memang benar demikian. Mata-mata itu menatap dirinya dengan tajam.
Tak hanya itu, suara-suara mulai terdengar. Entah mereka bisik-bisik atau memang sengaja membicarakannya.
"Eh itu kan pria yang lagi viral kan? Itu lho yang selingkuhin istrinya sampe nikah terus punya anak?"
"Bentar-bentar, kroscek dulu biar nggak salah. Iya ih, bener cowok itu. Gilaaa mukanya kelihatan alim besti tapi kelakuannya bejat."
"Gilee mana mereka cek in duluan lho itu, sebelum kawin."
"Eiii kawin mah tiap hari, cuman nikahnya aja yang belum. Lagian cowok model begitu, pasti karena napsu lah lalu selingkuh. Buat apa lagi. Berdalih menghindari fitnah, jadi nikah. Geblek emang, nggak kasihan sumpah sama istrinya. Padahal ya istrinya cantik banget lho itu kalau ku lihat di medsos."
Amar mendengar semua, jelas dia mendengar ucapan-ucapan itu karena seolah mereka mengucapkannya agar terdengar di telinganya. Namun Amar diam, dan bersikap tak acuh. Ia tetap berjalan tegap menuju ke kantin.
Akan tetapi agaknya kepercayaan diri Amar saat ini tidak sesuai dengan tempatnya. Dia yang dengan berani datang ke kantin membuat hal yang tidak terduga.
Siapa sangka kantin yang berada di depan gedung rumah sakit itu, terdapat beberapa wartawan di sana. Amar jelas terkejut, ingin mundur sudah tidak bisa karena salah satu mata wartawan sudah menangkap sosoknya.
"Pak Amar, kasih keterangan dong. Kenapa lari terus? Kami cuma mau nanya, alasan Anda selingkuh, eh maaf maksud kami alasan Anda menikah lagi."
"Setahu kami istri sah Anda itu sangat luar biasa. Tapi kenapa Anda memilih bersama wanita lain. Bahkan itu sudah tiga tahun yang lalu Anda menjalin hubungan. Lalu kenapa Anda di rumah sakit? Kata Ibu Anda anak Anda dan selingkuhan Anda sakit ya?"
Amar membulatkan matanya. Dari ucapan wartawan tersebut bisa diketahui bahwa mereka mengetahui keberadaan dirinya kepasa Yani. Amar mengepalkan tangannya erat. Dalam hati dia bertanya-tanya, "Mengapa Mama tega membocorkan informasi dimana aku dan Farrah berada?"
Amar nampak kesal. Terlebih tatapan mata para wartawan terlihat seperti pemburu yang tengah mengincar mangsa.
"Hanya itu yang kalian ingin tahu?" tanya Amar dengan tenang. Dia sudah berusaha menghindar namun semua pasti akan ketemu juga. Alhasil dengan sikap tenangnya, dia berusaha menghadapi para wartawan tersebut.
"Ya benar, alasan anda memiliki istri tersembunyi dibelakang istri Anda. Kalau memang niat mau poligami, seharunya Anda bisa minta izin kepada istri sah Anda. Bukankah itu syarat seorang suami memiliki istri kedua. Yakni mendapat izin dari istri pertama?"
"Arimbi terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Dia lebih fokus kepada pekerjaan dan mengabaikan aku sebagai suaminya."
Jawaban yang terdengar sangat asal. Namun para wartawan tidak peduli. Mereka harus mendapatkan berita. Hanya saja ada salah seorang wartawati yang maju ke depan hingga tepat di depan wajah Amar. Wajahnya nampak kesal.
"Oh begitu? Lantas, apa terus perselingkuhan itu dibenarkan? Jika memang begitu, suruh istri Anda berhenti kerja dong. Minta dia layani Anda dengan benar, bukannya malah nyari gundik. Dan setahu kami, pekerjaan yang Anda maksud itu adalah perusahaan Anda berdua kan? Lucu sekali pria satu ini, istrinya capek banting tulang buat majuin perusahaan, dia enak-enakan sama gundik dan biayain gundik pake duit bersama."
Amar tak bisa menjawab omongan wanita itu. Dia hanya diam lalu kemudian melenggang pergi. Bukan pergi untuk kembali masuk ke rumah sakit. Melainkan pergi ke parkiran dan meninggalkan rumah sakit.
Agaknya Amar lupa kalau anaknya saat ini sedang sakit, atau mungkin memang dia sengaja pergi? Yang pasti Amar benar-benar meninggalkan gedung rumah sakit sendirian.
"Sial sial sial!!!"
Pekik Amar sambil memukuli setir kemudi. Wajahnya merah padam, dadanya nampak naim dan turun dengan cepat karena terlalu marah. Dia tidak menyangka bahwa akan menjadi sekacau ini.
"Sialan, kenapa jadi berantakan banget sih? Aku dikejar-kejar kayak orang punya utang. Afira sakit, dan Farrah juga dihujat sama banyak orang. Bahkan jilbab-jilbab Farrah yang tadinya banyak dipesen, pada dibatalin semua. Yang udah nyampe, pada diretur. Sialan, kenapa jadi kacau balau semuanya!!"
Amar mengeluh, dia sangat kesal dengan apa yang dialaminya. Tapi dia tidak sadar bahwa semua itu adalah sebab dirinya sendiri.
Seharusnya jika dia memenuhi keinginan Arimbi dari awal, kekacauan ini pasti tidak akan terjadi. Tapi seolah menggampangkan dan menganggap bahwa Arimbi akan terus diam saja, sehingga dia pun memilih mengulur waktu untuk menggugat Arimbi.
Namun ternyata Arimbi bergerak lebih dulu. Itupun karena tuduhan yang sama sekali tidak benar, sehingga membuat Arimbi mengambil jalam yang terjal. Bukan bagi dirinya melainkan bagi Amar.
Drtzzzz
Ditengah pikiran kacaunya, sebuah panggilan masuk. Amar melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata itu adalah Farhan.
"Ada apa, Han?"
"Mohon untuk ke perusahaan besok ya, Pak. Ada banyak pekerjaan yang harus Bapak selesaikan. Anda tidak bisa kalau tidak hadir terus. Besok Anda harus datang, terlebih ada beberapa rekan yang mana semua ingin bertemu dengan Anda. Saya menjadwalkan untuk besok, meski sebenarnya mereka minta bertemu hari ini."
Haaah
Amar membuang nafasnya kasar. Dia sangat enggan pergi ke perusahaan, tapi apa yang dikatakan Farhan memang benar bahwa ia harus datang dan bekerja. Tanpa ia ketahui, kejutan besar telah menantinya.
TBC
datang tp di maki diam saja buat apa, ya maki balik lah. sekalian viral nya kl mbales jng setengh setengh.
mampus si amar nyesel ternyata bukan ibu peri yg didapat mak Lampir 🤭🤭🤭
kasian JD korban dari orang tua tapi hati hati Arimbi mnt km mlh disalahkan m orang picik
ngapain kamu datang
asal kamu tau bentar lagi juga amar jadi gembel🤣🤣
kasian anak yg menanggung dosa org tuanya