NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pertaruhan

Matahari Uluwatu sudah merangkak tinggi, membiaskan cahaya perak yang menyilaukan di atas permukaan Samudera Hindia. Namun, di dalam mobil mewah yang membawa kami menjauh dari hotel Elena, udara terasa begitu beku. Aku duduk bersandar pada jok kulit yang dingin, menatap ke luar jendela di mana jajaran pohon kamboja dan pura-pura kecil berlari cepat di sisi jalan. Di genggamanku, flash drive perak pemberian Elena terasa sangat berat, seolah benda kecil itu mengandung seluruh beban masa laluku dan ancaman bagi masa depanku.

​Bastian terdiam di sampingku. Rahangnya yang tegas tampak mengeras, dan tatapannya lurus ke depan, menembus kaca depan mobil dengan intensitas yang membuatku enggan untuk bicara. Ini adalah sisi Bastian yang paling gelap yang pernah kulihat—seorang pria yang tidak hanya sedang bertarung dengan masalah bisnis, tapi sedang bergulat dengan hantu yang ia kira sudah lama ia kubur.

​"Dia selalu tahu di mana letak kelemahan seseorang," suara Bastian memecah keheningan. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan, namun mengandung kepahitan yang nyata. "Elena tidak hanya menyerang datamu, Arelia. Dia menyerang rasa percaya dirimu. Dia ingin kamu merasa bahwa kamu hanyalah pengganti yang tidak berharga."

​Aku menoleh ke arahnya. "Dan menurutmu, apakah dia benar?"

​Bastian menghentikan mobilnya di tepi jalan yang sepi, di bawah naungan pohon beringin besar yang memberikan bayangan gelap yang kontras dengan teriknya siang. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadapku. Matanya yang hitam pekat menatapku dengan kejujuran yang menyakitkan.

​"Jika dia benar, aku tidak akan pernah membawamu ke sini. Aku tidak akan pernah mempercayakan Paris padamu," Bastian meraih tanganku, jemarinya yang hangat menggenggam tanganku yang masih terasa dingin. "Elena adalah bagian dari dunia yang penuh dengan transaksi. Baginya, orang adalah aset yang bisa ditukar. Tapi bagiku, kamu adalah alasan kenapa aku ingin kembali percaya bahwa kejujuran masih punya tempat di industri ini."

​Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang tidak keruan. Ucapan Bastian memberikan kehangatan, namun bayangan Elena yang begitu sempurna, begitu berkuasa, dan begitu mengenal Bastian, masih saja menghantuiku. Ia adalah mantan istri Bastian. Mereka pernah berbagi hidup, berbagi rahasia, dan mungkin, berbagi cinta yang tidak pernah kudapatkan dari Kaivan selama tujuh tahun.

​"Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian, Bastian?" tanyaku, suaraku nyaris bergetar. "Aku perlu tahu siapa musuh yang sedang kuhadapi. Aku tidak bisa bertarung di kegelapan."

​Bastian bersandar pada kemudinya, menatap ke kejauhan. "Kami menikah karena ambisi keluarga. Aristhoteles Group dan Adhitama Group dianggap sebagai merger paling sempurna di Asia. Aku pikir aku bisa mencintainya, dan aku pikir dia bisa menjadi rekan hidup yang sejati. Tapi Elena... dia tidak pernah menginginkan seorang suami. Dia menginginkan seorang sekutu untuk menaklukkan ayahnya sendiri. Saat aku menolak untuk melakukan cara-cara kotor yang dia inginkan, dia menghancurkan perusahaan kecil yang kubangun dulu hanya untuk membuktikan bahwa dia lebih kuat dariku."

​Ia terdiam sejenak, sebuah kenangan pahit seolah melintas di wajahnya.

​"Perpisahan kami bukan hanya soal perceraian, tapi soal perang terbuka. Dia pergi ke Singapura dengan setengah dari data strategis awal Adhitama. Dan sekarang, dia melihatmu sebagai ancaman karena kamu memiliki apa yang tidak pernah dia miliki: kemampuan untuk membangun sesuatu tanpa harus merusak orang lain."

​Aku menatap flash drive di tanganku. "Jadi, data ini... dia bilang Kaivan mencoba menjualnya padanya. Jika data ini benar-benar berisi celah dalam proyek Bali, maka rapat pleno besok akan menjadi bencana bagi kita."

​"Itulah pertaruhannya, Arelia," Bastian menyalakan kembali mesin mobilnya. "Kita punya waktu dua puluh empat jam sebelum rapat dimulai. Aku butuh kamu untuk membedah isi benda ini. Jika ada celah, kita harus memperbaikinya. Jika ini hanya gertakan, kita akan menghancurkannya di depan para investor."

​Kembali ke villa, aku mengunci diri di ruang kerja kecil yang menghadap ke laut. Suara ombak yang biasanya menenangkan kini terdengar seperti detak jam yang terus mengejar waktu. Aku menyalakan laptop, memasukkan flash drive perak itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

​Layar monitor menampilkan jajaran folder dengan enkripsi tingkat tinggi. Aku mengenali gaya penulisan filenya—itu adalah gaya Kaivan. Rapi di luar, namun berantakan di dalam. Aku mulai membedah ribuan baris data, mencari pola yang mungkin digunakan Kaivan untuk menjebakku.

​Jam demi jam berlalu. Kamar villa perlahan diselimuti bayangan sore. Aku tidak makan, bahkan nyaris tidak minum. Fokusku hanya pada angka-angka itu. Tiba-tiba, aku menemukannya. Di bagian audit logistik sektor D, ada sebuah variabel tersembunyi yang sengaja diubah nilainya. Jika variabel ini tidak ditemukan, proyeksi laba dalam presentasiku besok akan meleset hingga tiga puluh persen.

​Kaivan tidak hanya ingin mencuri data. Dia memasang "bom waktu" di dalam riset yang kukerjakan saat aku masih menjadi asistennya. Dia tahu aku akan menggunakan kerangka kerja itu untuk proyek Bali, dan dia menunggu saat yang tepat untuk meledakkannya.

​"Pengecut," desisku.

​Tiba-tiba, sebuah pesan masuk di layar laptopku melalui sistem komunikasi internal perusahaan. Dari Bastian.

​Bastian: "Aku sudah di depan pintu. Boleh aku masuk? Aku membawakan sesuatu yang mungkin kamu butuhkan."

​Aku berdiri, membuka pintu, dan menemukan Bastian berdiri di sana dengan baki berisi teh hangat dan beberapa camilan kecil. Ia tampak sudah berganti pakaian dengan kaos polo kasual, terlihat jauh lebih santai namun matanya tetap waspada.

​"Kamu sudah menemukannya?" tanyanya sambil meletakkan baki itu di meja.

​"Ya. Kaivan memasang jebakan di variabel logistik. Jika aku tidak teliti, aku akan mempresentasikan data palsu besok, dan kompetitor—termasuk Elena—akan menjatuhkan kita saat sesi tanya jawab," jelasku sambil menunjuk ke layar monitor.

​Bastian mendekat, ia berdiri di belakangku, tangannya bertumpu pada sandaran kursiku. Kehadirannya begitu dominan, aroma parfum maskulinnya yang segar memberikan rasa aman yang mendalam. Ia memperhatikan barisan kode itu dengan seksama.

​"Dia sangat licik," gumam Bastian. "Tapi dia lupa satu hal. Dia lupa bahwa gurunya adalah kamu."

​Aku menoleh padanya. "Maksudmu?"

​"Selama tujuh tahun, kamu yang mengajarinya cara membaca data. Kamu yang menyempurnakan setiap laporannya. Dia mungkin tahu triknya, tapi kamu yang memegang kuncinya, Arelia," Bastian menatapku lekat. "Jangan biarkan ketakutanmu pada Elena atau Kaivan membutakan kemampuanmu yang sebenarnya."

​"Bastian... Elena bilang kamu membawaku ke sini hanya untuk menggantikannya dengan versi yang lebih patuh. Dia bilang kamu ingin mengendalikanku," kataku, mencoba mengeluarkan duri yang masih tertancap di hatiku.

​Bastian menarik sebuah kursi dan duduk tepat di hadapanku. Ia meraih kedua tanganku, menatapku dengan intensitas yang membuat napasku tertahan.

​"Arelia, dengarkan aku baik-baik. Aku pernah berada di puncak dunia bersama Elena, dan aku merasa sangat kesepian. Aku dikelilingi oleh kemewahan, tapi aku selalu merasa harus memakai baju besi setiap kali aku bicara padanya. Bersamamu... aku tidak perlu baju besi itu. Kamu menantangku, kamu mengoreksiku, dan kamu membuatku melihat dunia dengan cara yang lebih jujur. Kamu bukan pengganti, Arelia. Kamu adalah tujuanku yang baru."

​Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga. Bastian mengusap pipiku dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang begitu lembut namun penuh kekuatan.

​"Besok adalah pertaruhan besar kita," lanjutnya. "Bukan hanya soal proyek Bali atau tender Paris. Tapi soal membuktikan bahwa integritas kita jauh lebih kuat daripada manipulasi mereka. Siapkan datamu. Aku akan menyiapkan panggungnya. Kita tidak akan mundur satu langkah pun."

​Malam semakin larut di Uluwatu. Aku kembali bekerja, namun kali ini dengan energi yang berbeda. Aku tidak lagi bekerja karena takut gagal; aku bekerja karena aku tahu aku layak untuk menang. Aku memperbaiki variabel yang dirusak Kaivan, memperkuat enkripsinya, dan menambahkan lapisan analisis baru yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh Elena.

​Sekitar jam dua pagi, aku akhirnya menutup laptopku. Tubuhku terasa sangat lelah, namun pikiranku sangat jernih. Aku berjalan keluar ke balkon, menatap langit malam Bali yang dipenuhi bintang. Di kejauhan, lampu-lampu kapal di tengah laut tampak seperti kunang-kunang yang tenang.

​Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki di dek kayu sebelah villaku. Aku menoleh dan melihat Bastian juga sedang berdiri di balkonnya, menatap ke arah yang sama. Kami dipisahkan oleh pagar kayu rendah yang dihiasi tanaman merambat.

​"Belum tidur?" sapanya lembut.

​"Sudah selesai. Semuanya sudah diperbaiki," jawabku.

​Bastian melompati pagar rendah itu dengan mudah, melangkah ke balkonkuku. Ia berdiri di sampingku, menyandarkan lengannya pada pagar besi. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan beberapa helai rambutku. Bastian menjulurkan tangannya, menyelipkan helai rambut itu ke belakang telingaku.

​"Terima kasih sudah bertahan, Arelia," bisiknya.

​"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Bastian. Meskipun jalannya tidak semulus yang kukira."

​"Hidup di sekitarku tidak akan pernah mulus, Arelia. Akan selalu ada Elena lain, atau Kaivan lain yang mencoba mengganggu. Tapi aku berjanji padamu, selama kamu berdiri di sampingku, kamu tidak akan pernah menghadapinya sendirian lagi."

​Bastian mendekatkan wajahnya. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat di wajahku. Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Tidak ada data, tidak ada Elena, tidak ada proyek Bali. Hanya ada kami berdua di bawah langit malam yang luas.

​Ia mencium bibirku—sebuah ciuman yang lambat, penuh kerinduan, dan rasa terima kasih yang mendalam. Ciuman itu adalah sebuah segel, sebuah janji bahwa apa pun yang terjadi besok, kami adalah satu tim. Kami adalah "kita" yang tidak lagi hanya sekadar "nyaris".

​Keesokan paginya, suasana di pusat konvensi Nusa Dua terasa sangat mencekam. Mobil-mobil mewah berderet di depan lobi, menurunkan para investor dari berbagai belahan dunia. Wartawan ekonomi sudah berkumpul di area publik, menantikan hasil dari rapat pleno terbesar tahun ini.

​Aku mengenakan setelan jas berwarna biru gelap—warna yang melambangkan kepercayaan diri dan otoritas. Rambutku kutarik rapi ke belakang, dan riasanku sengaja dibuat lebih tegas. Di tanganku, aku memegang tablet yang berisi data yang sudah kusempurnakan semalam.

​Bastian berjalan di sampingku, mengenakan setelan jas hitam yang dipotong sangat presisi. Ia terlihat sangat berwibawa, seperti seorang jenderal yang siap memimpin pasukannya ke medan perang.

​Begitu kami memasuki ruang rapat besar, aku langsung menangkap sosok Elena. Ia duduk di barisan kursi untuk mitra pengamat, mengenakan gaun merah yang sangat mencolok. Ia menatap kami dengan senyum sinis, seolah sedang menunggu momen kehancuran kami.

​"Sudah siap?" bisik Bastian saat kami berdiri di depan podium.

​"Aku sudah siap sejak tujuh tahun yang lalu, Bastian. Aku hanya butuh panggung yang tepat," jawabku mantap.

​Lampu ruangan meredup. Layar proyektor besar menyala, menampilkan logo Adhitama Group yang megah. Aku melangkah ke podium, menarik napas panjang, dan menatap ke arah hadirin. Mataku tertuju sejenak pada Elena. Senyumnya sedikit memudar saat ia melihat ketenangan di wajahku.

​"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," suaraku bergema di seluruh ruangan melalui pengeras suara, terdengar sangat stabil dan penuh otoritas. "Hari ini, saya tidak hanya akan mempresentasikan sebuah proyek properti. Saya akan mempresentasikan masa depan integritas riset di Asia Tenggara."

​Aku mulai memaparkan data-dataku. Setiap angka yang kusampaikan adalah hasil dari kerja keras yang murni. Saat aku sampai pada bagian logistik—bagian yang seharusnya menjadi bom waktu bagiku—aku berhenti sejenak. Aku melihat Elena mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat penuh antisipasi.

​"Kami menyadari bahwa ada upaya manipulasi data yang sempat beredar di kalangan terbatas mengenai sektor logistik kami," kataku sambil menampilkan grafik perbandingan antara data palsu yang disebar Kaivan dan data asli yang sudah kuperbaiki. "Namun, seperti yang bisa Anda lihat di layar, kami telah mendeteksi anomali tersebut jauh sebelum rapat ini dimulai. Kami tidak hanya memperbaiki celahnya, kami telah mengubah seluruh paradigma distribusi kami untuk mencapai efisiensi yang sepuluh persen lebih tinggi dari target awal."

​Suasana ruangan mendadak gaduh oleh bisik-bisik kagum para investor. Aku melihat wajah Elena berubah menjadi merah padam. Rencananya untuk mempermalukanku di depan publik telah hancur berantakan.

​Presentasi itu berlangsung selama satu jam. Saat aku menutupnya, ruangan tersebut meledak dalam tepuk tangan yang meriah. Beberapa investor bahkan berdiri untuk memberikan standing ovation.

​Aku turun dari podium, kakiku terasa sedikit lemas karena lega. Bastian menyambutku di bawah, ia meraih tanganku dan meremasnya kuat.

​"Kamu melakukannya, Arelia. Kamu benar-benar melakukannya," bisiknya dengan binar mata yang penuh kemenangan.

​Tiba-tiba, Elena berdiri dari kursinya. Ia berjalan menghampiri kami dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tetap terlihat anggun meski amarah terpancar jelas dari matanya.

​"Impresif, Arelia," ucap Elena, suaranya terdengar sangat tajam. "Kamu berhasil mematikan bom waktu itu. Tapi ingat, ini baru satu proyek di Bali. Paris adalah medan perang yang sangat berbeda. Aristhoteles Group tidak akan tinggal diam."

​"Terima kasih atas masukannya, Nona Elena," jawabku, menatapnya tanpa rasa takut sedikit pun. "Tapi di Paris nanti, saya tidak akan hanya mematikan bom waktu Anda. Saya akan memastikan panggung Anda bahkan tidak pernah dibangun."

​Elena tertegun. Ia menatap Bastian, berharap mendapatkan pembelaan, namun Bastian hanya menatapnya dengan pandangan dingin yang menunjukkan bahwa masa mereka sudah benar-benar berakhir.

​"Selamat tinggal, Elena," kata Bastian singkat. "Nikmatilah kekalahanmu di Bali. Karena ini adalah awal dari kekalahan-kekalahanmu selanjutnya."

​Elena berbalik dan pergi dengan langkah yang terburu-buru, diikuti oleh asistennya yang tampak ketakutan.

​Saat ruangan mulai kosong, Bastian membimbingku ke arah jendela besar yang menghadap ke laut. Matahari siang Bali bersinar sangat terang, seolah-olah sedang merayakan kemenangan kami.

​"Jadi, kapan kita berangkat ke Paris?" tanyaku sambil tersenyum.

​Bastian merangkul bahuku, menarikku mendekat. "Segera setelah kita merayakan ini dengan makan malam paling mewah di pulau ini. Kamu layak mendapatkannya, Arelia. Kamu adalah pahlawan malam ini."

​Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Rasa lelah yang luar biasa mulai menyergap, namun di dalam hatiku, aku merasa sangat damai. Aku telah memenangkan pertaruhan terbesarku. Aku telah membuktikan nilaiku di depan pria yang kucintai, di depan musuh yang meremehkanku, dan yang paling penting, di depan diriku sendiri.

​Nyaris jadi kita?

​Bukan. Kami bukan lagi "nyaris". Kami adalah "kita" yang sesungguhnya. Dan petualangan kami baru saja dimulai. Di atas tanah Bali yang sakral ini, aku baru saja menulis bab pertama dari kehidupanku yang merdeka. Dan aku tidak sabar untuk menulis bab-bab selanjutnya bersama pria di sampingku ini.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!