NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Jebakan Sidik Jari Subuh

Napas memburu memukuli dadaku begitu aku berhasil melompat melewati ambang pintu gubug rumbia. Jantungku bergedup kencang, rasanya seperti mau copot setelah berlari tunggang-langgang membelah kerapatan semak bakau yang penuh duri. Di sudut ruangan, kondisi Kala sama sekali tidak membaik. Senter minyak tanah yang mati membuat sosoknya hanya terlihat sebagai bayangan besar yang merana. Napasnya tersengal, satu-dua kali tubuhnya menyentak lemas di atas lantai kayu yang lapuk. Pendaran emas di matanya benar-benar padam, menyisakan hawa dingin tipis yang mulai keluar dari pori-pori kulitnya.

Aku jatuh berlutut di sampingnya, mencengkeram kain sarung kotak-kotak peninggalan ayahku yang membungkus tubuh lemas cowok itu. Sialan.

Sabotase generator portabel tadi memang berhasil membuat pasukan Baron kocar-kacir diserang makhluk gagal mereka sendiri, tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Kami masih terjepit.

Bayangan wajah Mbah Jarot yang bersimbah darah setelah dihantam popor senapan di tepi rawa mendadak melintas di kepalaku. Kakek tua itu mengorbankan nyawanya agar aku bisa menarik Kala menjauh. Menurut bisik-bisik yang sering kudengar dari para sopir truk di dermaga, Baron Logistics selalu menggunakan sel tahanan darurat di area pelabuhan hulu untuk mengurung orang-orang yang berani mengusik urusan mereka sebelum diseret ke tempat yang lebih gelap. Sel itu dikunci dengan gembok rantai baja tebal milik kontainer kargo.

Otakku yang lelah dipaksa berputar keras, mencari siasat jalanan yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Aku tidak punya senjata, tidak punya kekuatan magis seperti naga rawa di sampingku ini. Namun, aku tahu satu hal: di gudang perkakas kantor sortir pusat, tempatku bekerja setiap hari, tersimpan sebuah kunci hidrolik cadangan berukuran besar yang biasa dipakai montir untuk memotong rantai baja kontainer yang macet. Jika aku bisa mengambil kunci itu, aku bisa membobol sel tahanan darurat pelabuhan dan mengeluarkan Mbah Jarot sebelum matahari benar-benar naik.

Aku menatap wajah pucat Kala untuk terakhir kalinya subuh itu. "Bertahanlah, Paket Sialan. Jangan mati dulu sebelum aku kembali," bisikku lirih.

Dengan pakaian kotor yang penuh lumut dan noda lumpur rawa yang mengering, aku nekat keluar dari gubug. Aku berjalan mengendap-endap menyusuri jalur tikus pinggiran dermaga, menghindari sisa-sisa pos penjagaan yang tampak kacau akibat insiden generator tadi.

Langit Tanjungbalai di waktu subuh memancarkan warna biru kelabu yang mati. Suasana pelabuhan terasa sangat sunyi, menciptakan kontras yang menipu dengan debaran di dalam dadaku yang bergemuruh riuh. Hanya ada suara kecipak air muara yang tenang menghantam tiang beton jembatan dan sesekali kepakan sayap burung bangau rawa di atas kepala. Deru mesin truk logistik belum terdengar, dan area bongkar muat kargo tampak melonggar. Jam subuh seperti ini selalu menjadi waktu terlemah bagi penjagaan di depo mana pun; para petugas biasanya sedang tertidur lelap di pos atau menikmati kopi pancung terakhir mereka di warung kelontong seberang jalan.

Aku menyelinap melewati pagar kawat yang renggang, lalu berjalan cepat menuju bagian belakang kantor sortir pusat. Bangunan beton berlantai dua itu berdiri kaku di bawah remang fajar. Pintu masuk utama terkunci rapat, namun akses menuju ruang dalam gudang perkakas bisa dibuka melalui pintu masuk staf yang berada di koridor samping.

Aku melangkah masuk ke dalam koridor, mencoba mengatur ritme langkah kakiku agar tidak memicu gema di atas lantai semen yang dingin. Bau kertas resi, kardus basah, dan pelumas mesin—aroma domestik yang biasanya membuatku bosan—kini mendadak terasa mencekam.

Di ujung koridor, sebuah kotak boks besi kecil menempel di dinding di samping pintu kaca setebal lima senti. Itu adalah mesin absen digital, satu-satunya akses yang mengontrol kunci elektronik pintu gudang perkakas setelah jam kerja berakhir.

Aku berdiri di depan mesin itu, menyeka keringat dingin yang meleleh di pelipisku menggunakan lengan jaket pelabuhanku yang dekil. Jantungku berdetak tidak keruan. Logika jalananku berkata bahwa sistem absensi harian ini masih berada di bawah kendali komputer admin kantor yang biasa kuoperasikan, jadi namaku pasti masih terdaftar sebagai kurir aktif karena belum ada surat pemecatan resmi yang keluar.

Aku mengulurkan tangan kiri. Ibu jariku bergetar hebat saat bergerak mendekati permukaan kaca pemindai yang kecil.

Bzzzttt.

Permukaan kaca mesin absen itu terasa sedingin es saat kulit jempolku menempel di atasnya.

Sebuah pendaran lampu pemindai berwarna hijau neon muncul dari balik kaca, bergerak perlahan mendeteksi gurat-gurat sidik jariku dari ujung hingga ke pangkal. Aku menahan napas, menghitung detik yang terasa berjalan seperti berjam-jam dalam keheningan subuh yang mencekik.

Klik.

Suara mekanisme kunci elektronik di dalam pintu terdengar bergeser, menandakan identitas kurirku terbaca oleh sistem. Aku mengembuskan napas lega yang pendek, mengira siasat nekat ini berjalan mulus sesuai rencana ringanku.

Namun, kegegaan itu hanya bertahan satu detik.

BEEEP! BEEEP! BEEEP!

Bukannya lampu hijau yang menyala tanda akses diberikan, pendaran lampu pemindai pada mesin absen itu mendadak berubah menjadi lampu merah menyala yang pekat, memantulkan warna merah darah ke atas wajahku yang pucat. Suara alarm statis yang melengking tinggi langsung keluar dari speaker kecil di atas boks boks besi tersebut, memecah kesunyian subuh dengan bunyi dengung yang memekakkan telinga.

"Sial!" umpatku, refleks menarik kembali jempolku.

Aku membalikkan badan, berniat lari sekencang mungkin kembali ke koridor luar sebelum ada orang yang datang karena mendengar suara alarm. Namun, taktik jalananku patah total pagi itu.

DUMMM!!!

Sebuah pintu besi tebal yang berada di ujung koridor belakang—jalur tempatku masuk tadi—mendadak meluncur turun dari langit-langit langit dengan kecepatan tinggi, menghantam lantai semen dengan dentuman keras yang menggetarkan seluruh ruangan. Debu-debu tua berterbangan dari sela-sela rel besi yang menutup rapat.

Aku berlari ke arah pintu besi itu, memukul-mukul permukaannya yang kokoh menggunakan kedua tanganku yang gemetar. "Buka! Sialan, buka!" teriakku frustrasi. Hasilnya nihil. Pintu itu terkunci dari luar dengan sistem hidrolik otomatis yang tidak mungkin bisa kudobrak dengan tenaga kasar.

Aku berbalik arah, mencoba menerjang pintu kaca di depan mesin absen, namun pintu itu pun kini telah terkunci mati secara elektronik. Sistem keamanan digital Baron telah mendeteksi sidik jariku bukan sebagai staf yang hendak bekerja subuh, melainkan sebagai umpan hidup yang memang sudah mereka tunggu sejak semalam.

Akses absenku telah diubah menjadi sakelar perangkap.

Aku terengah-engah, bersandar pada dinding semen yang dingin dengan tubuh yang mendadak terasa lemas kehilangan kekuatan. Ruangan kaca kantor sortir ini terasa begitu sempit, mengurungku di dalam ruang isolasi yang dingin tanpa ada celah untuk meloloskan diri. Di luar, cahaya fajar Tanjungbalai mulai naik secara samar, menerangi sosok kurir kuyu yang kini terjebak di dalam sangkar besi milik musuh, menyadari dengan rasa sesak yang teramat sangat bahwa kali ini, langkah nekatku telah mengantarkan diriku sendiri ke dalam mulut harimau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!