Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Bidikan Maut Dan Trik Licik Sang Putri
Lapangan latihan utama Istana Orizon pagi itu sudah dipenuhi oleh para prajurit Batalyon Emas. Di tengah lapangan, beberapa papan sasaran kayu telah dipasang pada jarak lima puluh langkah. Udara pagi yang segar terasa sedikit berat karena aroma persaingan yang menyengat antara dua wanita paling berpengaruh di sana.
Ibu Suri Beatrice duduk di panggung kehormatan, menyesap tehnya dengan anggun. Di sampingnya, Magnus duduk dengan wajah datar, meski matanya terus terpaku pada sosok Alesia yang sedang melakukan pemanasan otot bahu.
Putri Seraphina melangkah maju. Ia mengenakan pakaian berburu khusus dari sutra biru tua yang pas di badan, lengkap dengan pelindung lengan dari kulit rusa yang dihias permata. Di tangannya, sebuah busur kayu hitam Valerius tampak sangat perkasa.
"Sesuai kesepakatan, masing-masing tiga anak panah. Siapa yang paling dekat dengan titik pusat, dialah pemenangnya," ucap Seraphina dengan senyum manis yang tidak sampai ke mata. Ia menoleh pada Alesia. "Silakan, Permaisuri. Anda tamu di lapangan latihan ini, silakan mulai duluan."
Alesia melirik busur kayu di tangannya, lalu beralih menatap anak-anak panah yang disediakan di dalam tabung bambu di sampingnya. Ia merasakan sesuatu yang aneh.
"Dih, pake disuruh duluan segala. Kayak antrean bansos aja," gumam Alesia. Ia mengambil satu anak panah, lalu mengerutkan dahi. Kok beratnya kagak rata ya? Kayak ada yang ganjel di ujungnya.
Alesia mencoba menarik busurnya, membidik sasaran. Namun, insting jawaranya berteriak. Jika ia melepaskan panah ini dengan teknik biasa, panah ini pasti akan melenceng ke kiri karena beban yang tidak seimbang.
"Ayo, Permaisuri. Jangan membuat Baginda Raja menunggu terlalu lama," sindir Ibu Suri dari atas panggung.
Alesia menarik napas panjang. Ia melirik Magnus yang menatapnya dengan cemas. Oh, jadi main curang nih si Mbak Sabun Cuci Muka? Oke, gue ladenin pake gaya anak tongkrongan.
WUSH!
Anak panah pertama meluncur. Benar saja, panah itu melesat sedikit melenceng, hanya mengenai pinggiran papan sasaran. Para prajurit terdiam, sementara Seraphina menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura terkejut.
"Oh, sayang sekali. Mungkin angin pagi ini terlalu kuat untuk tenaga Anda, Permaisuri," ucap Seraphina lembut.
Alesia mendengus. Ia mengambil anak panah kedua. Kali ini, ia tidak membidik tepat di tengah. Ia justru mengarahkan busurnya agak ke kanan bawah untuk mengompensasi berat anak panah yang cacat itu.
TUK!
Anak panah kedua mendarat tepat di lingkaran kuning, meski bukan di titik pusat. Magnus mengembuskan napas lega, sementara rahang Seraphina sedikit mengeras.
"Lumayan juga," gumam Seraphina. "Sekarang giliran saya."
Seraphina melangkah maju dengan sangat percaya diri. Ia mengambil anak panahnya sendiri—yang tentu saja sempurna—dan dengan satu gerakan elegan, ia melepaskan panah.
DRAP!
Tepat di titik pusat. Sempurna. Para prajurit bersorak kagum. Seraphina melakukan hal yang sama pada panah kedua. Lagi-lagi, tepat di tengah.
"Sepertinya hasilnya sudah terlihat, bukan?" Seraphina berbalik, menatap Alesia dengan sombong. "Satu panah tersisa. Tapi bahkan jika Anda mengenai titik pusat sekarang, skor saya tetap lebih tinggi."
Alesia terdiam. Ia melihat anak panah terakhir di tabungnya. Ia tahu, panah ini juga pasti sudah disabotase. Ia melirik ke arah Lily yang berdiri di kejauhan dengan wajah pucat, lalu ke arah Magnus.
"Bang Magnus!" teriak Alesia tiba-tiba, membuat semua orang tersentak. "Lu percaya kagak kalau gue bisa manah tanpa liat sasaran?"
Magnus mengernyit, namun ia tersenyum tipis. "Aku percaya kau bisa melakukan hal yang lebih gila dari itu, Alessia."
Alesia menyeringai. Ia mengambil syal sutra kecil dari lehernya, lalu mengikatnya menutupi kedua matanya.
"Dia sudah gila!" bisik Ibu Suri ngeri. "Dia ingin mempermalukan diri sendiri!"
Seraphina tertawa kecil. "Permaisuri, jangan berlebihan. Jika Anda tidak bisa memanah, menyerah saja adalah pilihan yang terhormat."
"Berisik, Mbak! Orang mau konsentrasi nih!" sahut Alesia.
Alesia berdiri tegak. Di balik kegelapan syal itu, ia tidak menggunakan matanya. Ia menggunakan pendengarannya, merasakan arah angin, dan mengingat posisi papan sasaran. Ia memegang anak panah terakhirnya, merasakan titik beratnya yang cacat.
Gue bukan lagi manah kayu, gue lagi ngebayangin muka lu yang sok cantik itu, Sera! batin Alesia.
Ia menarik busurnya dengan tenaga penuh. Kali ini, ia menyalurkan sedikit tenaga dalam yang ia pelajari dari jurus Silat Seliwa ke ujung jarinya.
WUSH!
Anak panah itu meluncur dengan suara desingan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. Panah itu melesat di udara, berputar dengan kecepatan tinggi, lalu...
KRAK!
Seluruh lapangan mendadak sunyi senyap.
Anak panah Alesia tidak hanya mengenai titik pusat, tapi ia menabrak bagian belakang anak panah Seraphina yang sudah menancap di sana, membelahnya menjadi dua bagian, dan tertancap lebih dalam di pusat sasaran.
"Buset! Robin Hood gaya Depok beraksi!" teriak Alesia sambil membuka penutup matanya, lalu melompat kegirangan.
Magnus langsung berdiri dan bertepuk tangan dengan keras, diikuti oleh sorak-sorai gemuruh dari para prajurit yang terpukau oleh keajaiban itu.
Seraphina berdiri terpaku, wajahnya pucat pasi seputih kertas. "I-itu tidak mungkin... itu pasti keberuntungan!"
Alesia berjalan mendekati Seraphina, lalu menepuk bahu sang Putri dengan keras—teknik 'pijat' yang sedikit menyakitkan. "Mbak Sera, keberuntungan itu buat orang yang kagak punya skill. Kalau orang punya skill kayak gue, itu namanya takdir. Lain kali kalau mau nyabotase anak panah, pastiin pemberatnya kagak bunyi pas dikocok ya. Malu-maluin aja."
Seraphina terbelalak. "Kau... kau tahu?"
"Gue ini anak Rawa Belong, Mbak. Tukang tipu di pasar aja gue tau dari baunya, apalagi cuma anak panah begini," bisik Alesia tepat di telinga Seraphina.
Alesia kemudian berbalik menghadap panggung kehormatan. "Gimana, Ibu Suri? Masih mau tes apa lagi? Lompat jauh? Adu panco? Atau mau adu pantun sama saya?"
Ibu Suri Beatrice hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tangannya meremas kipas sutranya hingga patah.
Magnus turun dari panggung, berjalan cepat menuju Alesia. Di depan semua orang, ia melepaskan jubah merah kebesarannya dan menyampirkannya ke bahu Alesia yang berkeringat.
"Cukup untuk hari ini," ucap Magnus dengan suara lantang yang penuh wibawa. "Permaisuri Orizon telah menunjukkan kemampuannya. Siapa pun yang meragukannya, berarti meragukan penilaianku sebagai Raja."
Magnus kemudian menatap Seraphina dengan dingin. "Seraphina, aku harap kau menikmati kunjunganmu. Tapi ingat, di istana ini, hanya ada satu matahari. Dan dia sedang berdiri di sampingku."
Seraphina tertunduk, air mata kemarahan mulai menggenang di matanya. Ia menyadari bahwa pesona masa lalunya sama sekali tidak mempan melawan "kekuatan aneh" yang dimiliki Alesia.
Sore harinya, di dalam Paviliun Mawar, Alesia duduk sambil memijat bahunya yang pegal. Lily dengan telaten mengoleskan minyak urut hangat.
"Gusti Permaisuri, hamba benar-benar tidak menyangka Anda akan melakukan hal senekat itu," ucap Lily dengan nada kagum yang tulus. "Seluruh pelayan istana membicarakan tentang 'Panah Belah' Anda."
"Hehehe, sebenernya gue juga agak deg-degan tadi, Ly. Tapi kalau kaga digituin, si Sera bakal makin ngelunjak," Alesia menyeruput tehnya. "Eh, tapi tadi Bang Magnus keren bener ya pas bilang 'hanya ada satu matahari'. Gue berasa kayak lagi main film kolosal beneran."
Tiba-tiba, Magnus masuk tanpa mengetuk pintu. Wajahnya terlihat lebih santai, tapi matanya memancarkan rasa ingin tahu yang besar.
"Lily, tinggalkan kami," perintah Magnus.
"Baik, Yang Mulia Raja," Lily membungkuk dan segera keluar.
Magnus duduk di samping Alesia, ia mengambil botol minyak urut dari tangan Lily tadi dan mulai memijat bahu Alesia sendiri.
"Aduh, Bang... pelan-pelan. Tenaga lu gede bener kayak kuli bangunan," rintih Alesia senang.
"Katakan padaku," bisik Magnus di dekat telinganya. "Teknik apa yang kau gunakan tadi? Aku tahu kau menggunakan tenaga yang berbeda saat melepaskan panah terakhir itu."
Alesia menoleh, hidung mereka hampir bersentuhan. "Itu namanya fokus, Bang. Di dunia gue, kalau lu kaga fokus pas lagi nyeberang jalan, lu bisa jadi perkedel. Gue cuma ngebayangin papan sasaran itu adalah tantangan hidup gue. Dan BOOM, kena deh."
Magnus tersenyum, ia menarik Alesia ke dalam pelukannya. "Kau selalu punya jawaban yang aneh. Tapi aku suka. Besok, Seraphina dan rombongannya akan pulang ke Valerius. Ibu Suri tidak punya alasan lagi untuk menahannya di sini setelah kekalahannya tadi."
"Bagus deh. Gerah gue liat muka sok cantiknya," Alesia menyandarkan kepalanya di dada Magnus. "Bang... makasih ya udah selalu belain gue. Padahal gue sering bikin lu malu sama tingkah gue yang barbar begini."
Magnus mengecup puncak kepala Alesia. "Jangan pernah berubah, Siti. Tetaplah menjadi barbaru-ku. Karena hanya dengan begitu, aku merasa takhta ini tidak terlalu berat untuk kupikul."
Alesia tersenyum manis, memejamkan matanya dalam dekapan sang Raja. Namun di balik kedamaian itu, ia tahu bahwa Ibu Suri tidak akan diam saja. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii