Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Penyesalan Riana dan Titik Balik Sang Tabib Dewa
Matahari pagi menembus jendela kaca antipeluru di lantai seratus Menara Naga, menyinari wajah Arya Permana yang sedang duduk bersila di atas karpet sutra Persia. Matanya terpejam rapat, dadanya naik turun dalam ritme pernapasan yang sangat teratur. Udara di sekitarnya tampak sedikit terdistorsi, seolah ada lapisan panas yang menyelimuti tubuhnya.
Arya membuka mata, menghembuskan napas panjang yang menyerupai kabut putih tipis. Ia membuka telapak tangannya.
[Sistem Naga Leluhur: Analisis Status Tuan Muda]
Tingkat Kultivasi: Fisik Petarung Tahap Awal (Puncak)
Keterampilan Utama: Kitab Suci Medis Sembilan Naga (Tingkat Dasar)
Misi Aktif: Terobos batas fisik manusia menuju Ranah Pembentuk Fondasi Qi.
Arya mengerutkan kening. "Energi spiritual di bumi terlalu tipis. Berlatih dengan cara biasa akan memakan waktu puluhan tahun hanya untuk mencapai tahap berikutnya. Aku butuh medium eksternal."
Medium yang ia maksud adalah tanaman obat kuno yang telah menyerap esensi alam selama ratusan tahun. Di dunia modern yang penuh polusi, barang seperti itu sangat langka dan biasanya hanya beredar di pasar gelap atau pelelangan bawah tanah tingkat tinggi.
Thomas, yang berdiri diam di dekat pintu sejak satu jam yang lalu, akhirnya melangkah maju dan menunduk hormat. "Tuan Muda, pakaian Anda sudah disiapkan. Selain itu, mengenai lelang bawah tanah malam ini... penyelenggaranya adalah Paviliun Teratai Emas. Mereka memiliki aturan ketat; hanya pemegang kartu VIP khusus yang diizinkan masuk, dan identitas penyelenggara dilindungi oleh formasi keamanan tingkat tinggi."
"Paviliun Teratai Emas?" Arya bangkit berdiri. Pakaian kumalnya telah diganti dengan setelan jas bespoke dari desainer Italia berwarna biru malam yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Kesan gembel telah hilang tak berbekas, digantikan oleh aura seorang aristokrat yang dingin dan tak tersentuh. "Di mana pusat operasional publik mereka?"
"Mereka mengelola sebuah klinik pengobatan tradisional elit di pusat kota, Balai Pengobatan Teratai Emas. Banyak pejabat tinggi dan jenderal purnawirawan yang berobat di sana," jawab Thomas.
"Siapkan mobil. Kita ke sana sekarang. Aku akan mengambil undangan itu sendiri," perintah Arya.
Di tempat lain, di dalam ruang kerja CEO Grup Kusuma.
Riana duduk membeku di kursi kebesarannya. Di layar laptopnya, berita utama dari seluruh media nasional menayangkan satu topik yang sama: Kehancuran Tragis Grup Wijaya. Skandal Korupsi, Utang Menggunung, dan Penahanan CEO Wijaya.
Hanya dalam waktu semalam, sebuah kerajaan bisnis raksasa yang bernilai puluhan triliun rupiah rata dengan tanah. Tidak ada negosiasi, tidak ada peringatan. Seolah ada sebuah tangan raksasa dari langit yang menghancurkan mereka hingga tak bersisa.
Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Lidya masuk dengan wajah pucat pasi dan rambut sedikit berantakan. Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan dari malam sebelumnya.
"Riana... berita itu... apakah kau sudah melihatnya?" suara Lidya bergetar. "Keluarga Wijaya hancur. Dan rekeningmu... uang sepuluh triliun itu masih ada di sana. Pagi ini pihak bank menghubungiku dengan sangat sopan, menawarkan layanan VVIP yang bahkan wali kota pun tidak memilikinya."
Riana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Perasaannya hancur berkeping-keping. Selama tiga tahun, ia menganggap pria yang tidur di lantai kamarnya adalah sebuah aib, sebuah kesalahan dari kakeknya. Ia membiarkan pria itu dihina, ditendang, dan direndahkan.
Namun kebenarannya adalah, pria itu memiliki kekuatan untuk menghancurkan keluarga top di Nusantara City hanya dengan satu panggilan telepon.
"Ma, kita telah melakukan kesalahan fatal," bisik Riana, suaranya serak menahan tangis. "Kita menyinggung sosok yang tidak seharusnya kita sentuh. Arya... siapa dia sebenarnya? Mengapa dia mau menyembunyikan identitasnya dan menderita di rumah kita?"
"Dia... dia pasti punya motif tersembunyi!" Lidya mencoba mencari pembenaran, meski matanya memancarkan ketakutan yang nyata. "Mungkin dia buronan internasional? Atau dia menggunakan sihir hitam? Riana, kita harus berhati-hati. Uang sepuluh triliun itu, jangan disentuh dulu. Bagaimana jika itu uang ilegal?"
"Ilegal? Bank Sentral tidak akan memproses uang ilegal dalam hitungan menit tanpa investigasi, Ma!" Riana menggebrak meja, emosinya akhirnya meledak. Ini adalah pertama kalinya ia membentak ibunya. "Itu adalah kekuatan absolut! Dan tadi malam, aku mengusirnya."
Riana menatap layar ponselnya, melihat kontak dengan nama "Arya" yang tidak pernah ia hubungi selama setahun terakhir. Ia menekan tombol panggil dengan tangan gemetar.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif...
Ponsel jadul Arya telah hancur dan ia telah menggantinya. Riana merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya. Ia baru saja kehilangan pelindung terkuatnya, tepat ketika ia baru menyadari keberadaannya.
Sementara itu, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti dengan tenang di depan Balai Pengobatan Teratai Emas. Bangunan itu bergaya arsitektur oriental klasik, dengan pilar-pilar kayu merah dan aroma herbal kuat yang menguar hingga ke jalanan.
Arya melangkah masuk sendirian, memerintahkan Thomas untuk menunggu di luar agar tidak menarik terlalu banyak perhatian. Ruang tunggu klinik itu dipenuhi oleh orang-orang berpakaian mewah yang mengantre dengan sabar.
Arya berjalan lurus menuju meja resepsionis. Di sana berdiri seorang asisten dokter muda berseragam putih yang sedang sibuk mencatat sesuatu.
"Permisi. Saya mencari manajer tempat ini. Saya membutuhkan akses untuk pelelangan malam ini," ucap Arya langsung pada intinya.
Asisten muda itu mendongak, menatap Arya dari atas ke bawah. Meskipun jas Arya jelas barang mahal, wajah Arya tidak ada dalam daftar sosialita atau keluarga besar yang ia kenal. "Maaf, Tuan. Klinik kami hanya melayani pengobatan medis. Jika Anda mencari pelelangan barang antik, Anda salah tempat."
"Kalian memiliki Ginseng Darah berusia di atas lima ratus tahun di lemari pendingin ruang bawah tanah kalian. Jangan membuang waktuku," balas Arya dingin. Indera penciumannya yang telah berevolusi bisa melacak energi spiritual murni dari tanaman tersebut meski terhalang beton.
Wajah asisten itu sedikit berubah, namun ia segera mengendalikan ekspresinya. "Tuan, saya peringatkan Anda untuk tidak membuat keributan di sini. Ini adalah properti Teratai Emas. Keamanan akan mengusir Anda jika Anda terus melantur."
Tepat ketika asisten itu hendak menekan tombol alarm, sebuah keributan pecah di area VIP.
"Kakek! Kakek, bertahanlah! Dokter, cepat panggil Dokter Utama!" jerit seorang wanita muda berpakaian modis.
Di atas sofa ruang tunggu VIP, seorang pria tua berambut putih perak tergeletak kejang-kejang. Wajahnya berwarna ungu kehitaman, dan pembuluh darah di lehernya menonjol mengerikan, seolah ada cacing yang bergerak di bawah kulitnya.
Beberapa dokter senior segera berlari keluar dari ruang periksa, membawa peralatan darurat. Salah satu dokter yang paling tua, Dokter Haris, memeriksa denyut nadi pria tua itu dan seketika wajahnya memucat.
"Gagal jantung akut? Tidak, ini bukan sekadar gagal jantung... Suhu tubuhnya mencapai empat puluh dua derajat Celcius! Organ dalamnya seperti terbakar!" Dokter Haris berseru panik. "Siapkan defibrilator! Cepat!"
"Tunggu!" Arya, yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat kerumunan, berbicara dengan nada tegas yang menghentikan pergerakan semua orang.
Semua mata beralih padanya.
"Jika kau menggunakan alat pacu jantung padanya sekarang, kau tidak akan menyelamatkannya. Kau justru akan meledakkan jantungnya dalam hitungan detik," kata Arya sambil menatap tajam ke arah pria tua itu. "Itu bukan serangan jantung biasa. Itu adalah Penyimpangan Qi."
Dokter Haris mengerutkan kening marah. "Siapa anak muda ini?! Jangan bicara omong kosong! Keamanan, singkirkan dia dari sini. Pasien ini adalah Tuan Besar Jenderal Bima dari Komando Militer Utara! Jika terjadi sesuatu padanya, seluruh rumah sakit ini akan diratakan dengan tanah!"
Mendengar nama Jenderal Bima, seluruh orang di ruangan itu menahan napas. Itu adalah salah satu tokoh militer paling legendaris di negara ini.
Wanita muda yang menangis tadi menatap Arya dengan marah. "Kau! Jangan mengganggu pengobatan kakekku!"
Arya tidak mundur. Ia melihat aliran energi liar di dalam tubuh Jenderal Bima menggunakan mata batinnya. Jenderal ini pasti mencoba memaksakan kultivasi teknik pernapasan kuno yang tidak lengkap, menyebabkan energi vitalnya memberontak dan menyerang organ jantung.
"Satu menit," ucap Arya tenang, matanya menatap lurus ke arah Dokter Haris. "Dalam satu menit, tekanan darahnya akan menembus batas maksimal. Pembuluh darah di otaknya akan pecah. Silakan coba alatmu, dan bersiaplah untuk dieksekusi oleh militer."
Seolah membenarkan perkataan Arya, monitor detak jantung portabel yang dipasang oleh perawat tiba-tiba menjerit nyaring. Grafik tekanan darah melonjak tajam ke angka yang mustahil bagi manusia hidup. Mesin peringatan berbunyi tanpa henti.
Biiiippppp!
"Dokter! Tuan Besar memuntahkan darah hitam!" jerit perawat dengan panik.
Dokter Haris membeku. Tangannya yang memegang alat pacu jantung gemetar hebat. Ia tidak berani bertaruh. Jika Jenderal Bima mati di tangannya, karirnya dan nyawanya akan tamat.
Melihat kepanikan para ahli medis itu, Arya menghela napas pendek. Ia melangkah maju, membelah kerumunan dengan otoritas mutlak yang tak bisa dibantah.
"Minggir," perintah Arya. Suaranya mengandung gelombang tekanan rendah yang membuat Dokter Haris dan para perawat secara refleks mundur.
Tanpa mempedulikan tatapan kaget mereka, Arya membuka jasnya. Tangannya bergerak secepat kilat. Ia tidak mengeluarkan obat atau alat modern, melainkan sebuah dompet kulit kecil yang berisi deretan jarum perak murni—perlengkapan standar dari Sistem Naga Leluhur.
"Apa yang kau lakukan?! Jangan sentuh kakekku!" wanita muda itu mencoba menahan Arya, namun Arya hanya menjentikkan jarinya ke udara, menyentuh titik saraf di bahu wanita itu, membuatnya seketika lemas dan tak bisa bergerak, meski tetap sadar.
Wusss! Wusss! Wusss!
Tangan Arya berubah menjadi bayangan kabur. Dalam waktu kurang dari tiga detik, sembilan jarum perak telah tertanam di berbagai titik akupunktur mematikan di dada dan kepala Jenderal Bima. Titik Shenmen, Juque, Baihui...
Dokter Haris membelalakkan matanya hingga hampir keluar dari rongganya. Mulutnya terbuka lebar. Sebagai praktisi pengobatan tradisional senior, ia mengenali posisi jarum tersebut.
"Itu... Formasi Jarum Sembilan Naga Pengunci Jiwa?! Teknik legendaris yang sudah hilang lima ratus tahun lalu?!" suara Dokter Haris bergetar, lututnya lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai.
Arya tidak mempedulikan keterkejutan di sekitarnya. Ia menempelkan dua jarinya di dada Jenderal Bima, mengalirkan benang tipis Qi murninya dari Fisik Petarung untuk menekan energi liar di dalam tubuh sang Jenderal dan memaksanya kembali ke Dantian (pusat energi).
Beberapa detik kemudian, warna ungu kehitaman di wajah Jenderal Bima memudar dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Napasnya yang tadi tersengal-sengal kini menjadi tenang dan teratur. Suara peringatan dari monitor detak jantung pun berhenti, kembali menunjukkan grafik normal.
Arya mencabut sembilan jarum perak itu dengan satu usapan halus, lalu membersihkannya dan menyimpannya kembali ke dalam jasnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Jenderal Bima membuka matanya perlahan. Ia terbatuk pelan, menyemburkan gumpalan darah kotor yang menyumbat tenggorokannya, lalu menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku masih hidup?"
Keheningan mutlak menyelimuti seluruh klinik. Orang-orang menatap Arya seolah sedang melihat malaikat maut yang baru saja ditaklukkan. Membalikkan kematian hanya dengan sembilan jarum dalam waktu kurang dari satu menit. Ini bukan pengobatan medis biasa; ini adalah keajaiban dewa!
Arya menatap Jenderal Bima yang masih kebingungan, lalu melirik ke arah asisten muda yang tadi meremehkannya.
"Sekarang," suara Arya memecah keheningan, nadanya masih sedingin es. "Bisakah aku mendapatkan tiket masuk ke pelelangan malam ini, atau aku harus membakar tempat ini untuk mendapatkan ginseng itu?"