NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 Apa Cemburu

Emir baru saja keluar dari lift, mengeluarkan ponselnya dan terlihat melangkah dengan gagah yang terus disapa para karyawan yang berpapasan dengannya.

"Diva!" langkah Diva terhenti ketika baru saja menundukkan kepala kepada atasannya itu.

"Iya. Pak," sahut Diva.

"Kamu melihat Ayana, ponselnya sepertinya ketinggalan di mejanya sehingga tidak mengangkat telepon saya," ucap Emir.

"Hmmm, tadi Ayana mengatakan kalau di ingin tamu penting dan kemungkinan sekarang masih berada di lobby," jawab Diva.

"Begitu, jika ingin bertemu dengan tamu dan seharusnya membawa ponselnya," desis Emir.

Diva tidak tahu harus berkomentar apa. Emir kemudian langsung pergi.

"Apa pak Emir baru saja marah kepadaku?" tanya Diva.

"Tetapi apa itu merupakan kesalahanku, padahal aku tidak melakukan apapun sama sekali. Ahhhh, sudahlah," sahut Diva menghela nafas dan kemudian langsung pergi.

Emir melanjutkan untuk mencari sekretarisnya itu sampai akhirnya langkahnya terhenti dengan matanya fokus di lobby. Siapa sangka Ayana memang berada di sana terlihat berdiri dengan seorang pria. Pria Yang sepertinya tidak asing baginya.

Ayana tampak dekat dengan pria tersebut dan bahkan sambil tersenyum, berbicara begitu dekat membuat Emir terus saja memperhatikan. Bagi Emir Sekretarisnya itu memang ramah tetapi jarang mengobrol berlebihan dengan klien dan apalagi pria.

Dalam pembicaraan itu akhirnya Ayana menyadari bahwa ada yang memperhatikannya dan membuatnya menoleh ke arah jarak sekitar beberapa meter tersebut dengan atasan yang berdiri tegap di sana.

"Pak!" Ayana dengan cepat menundukkan kepala.

"Tuan. Emir," pria tersebut berjalan mendekati Emir.

Emir membalas sapaan itu dengan keduanya saling berjabat tangan.

"Akhirnya kita bertemu juga!" ucap pria tersebut tampak begitu ramah.

"Ya, saya juga tidak menyangka pada akhirnya kita bertemu tuan Andhika," sahut Emir.

"Hmmm, saya dan Sekretaris tuan Andhika sudah mengantar jadwal untuk makan siang. Sebentar lagi juga sudah memasuki waktu untuk makan siang dan kita bisa langsung ke lokasi saja," ucap Ayana.

"Baiklah, saya ikut saja seperti apa yang sudah ditentukan jadwalnya," sahut Andhika.

"Kalau begitu dengan beribu maaf tuan Andhika bisa tunggu sebentar di sini," ucap Ayana dengan sangat sopan mempersilahkan tamu penting itu untuk duduk di sofa yang ada di lobby.

"Ayana kamu tidak perlu seformal itu kepada saya. Kamu bisa memanggil saya Andhika atau Kak seperti dulu," sahut Andhika.

Mendengarkan pernyataan itu seketika saja membuat Emir mengerutkan dahi.

"Tuan Emir, siapa sangka ternyata Sekretaris Anda yang selama ini berhubungan dengan Sekretaris saya merupakan Junior saja di kampus," jelas Andhika ternyata sudah mengenal Ayana dan pantas saja keduanya terlihat akrab.

"Begitu ternyata," sahut Emir menanggapi dengan santai.

"Ya, saya juga tidak menyangka akhirnya bertemu di sini. Ayana merupakan mahasiswa yang sangat aktif dan berprestasi dan saya juga baru tahu ternyata selama menempuh pendidikan di universitas yang sama seperti saya dia juga sembari bekerja di perusahaan ini, sungguh luar biasa dan pantas saja dia menjadi bagian yang penting di Perusahaan ini, karena saya tahu menjadi Sekretaris dari seorang tuan Emir tidaklah mudah," jelas Andhika terdengar memberi pujian dan tatapan mata terlihat memberikan tatapan kekaguman pada Ayana.

Tetapi reaksi Emir terlihat biasa saja, dan justru tidak nyaman dengan semua perkataan yang diucapkan kliennya itu, sementara Ayana merasa tidak enak mendapat pujian terlalu berlebihan dari Andhika.

*****

Akhirnya Ayana ikut makan bersama dengan Andhika dan juga Emir. Andhika juga seperti biasa membawa Sekretarisnya yang mengurus pekerjaannya.

Hanya saja Sekretaris Andhika tidak berhijab dan seperti Sekretaris pada umumnya, berpenampilan seksi untuk menarik perhatian banyak orang, pakaian super ketat. Mungkin memang sudah seperti itu sisi gelap Sekretaris.

"Ayana, ini kamu coba, ini soto kesukaan kamu dengan sayur toge yang banyak, saya sengaja memesan untuk kamu," Andhika terlihat begitu excited sekali dan bahkan seperti bukan pertemuan dalam pekerjaan tetapi pertemuan dengan kekasih masa lalu.

Emir orang yang cuek dan biasanya hal-hal seperti itu tidak akan menjadi perhatiannya dan entah kenapa dia terus saja memperhatikan kedua orang tersebut yang memang duduknya kebetulan sangat berdekatan.

"Terima kasih. Pak," sahut Ayana justru merasa tidak enak mendapatkan perlakuan seperti itu.

"Ayana, saya sudah mengatakan kepada kamu untuk tidak memanggil saya Bapak, kamu cukup panggil saya Andhika saja atau Kakak seperti dulu kamu memanggil saya," ucap Andhika.

"Iya," sahut Ayana dengan menundukkan kepala semakin gugup.

Sekretaris Andhika bernama Lastri melihat melihat bagaimana pria di sebelahnya itu terus memperhatikan Sekretarisnya.

"Tuan, silakan ini dicoba, saya juga memesankan makanan salah satu kesukaan dari tuan," ucap Lastri.

"Tidak perlu," Emir sudah pasti menolak dengan menghela nafas dan melanjutkan makannya walau merasa tidak nyaman dengan kedua orang tersebut yang seperti punya dunia sendiri.

*****

Akhirnya makan siang itu selesai juga, tetapi Emir bahkan tidak mengetahui kemana semua makanan yang dia makan karena fokusnya benar-benar hanya pada Ayana yang tidak menyadari hal itu.

Saat ini keduanya duduk di dalam mobil. Ayana yang menyetir dan sementara Emir duduk di kursi pengemudi.

Mood Emir seketika berantakan, awalnya dia memang ingin menyetir, tetapi karena malas menyuruh Sekretarisnya untuk melakukan hal itu dan hal itu memang bukan yang pertama kali dilakukan Ayana

"Pantas saja apa-apa kamu selalu mendahulukan kontrak, proyek dan pertemuan dengan tuan Andhika. Ternyata kalian sudah saling mengenal sebelumnya," sahut Emir.

"Tidak. Pak, sebenarnya saya juga tidak tahu jika pimpinan dari perusahaan Lexa adalah Pak Andhika. Selama ini saya hanya berkomunikasi dengan sekretarisnya dan seperti biasa pada klien-klien sebelumnya," jawab Ayana.

"Benarkah seperti itu?" tanya Emir terdengar tidak percaya membuat Ayana menganggukkan kepala.

"Ohhhhh," sahut Emir.

"Hmmmm, setelah kembali ke kantor satu jam kemudian Bapak ada meeting dengan orang-orang kantor dan setelah itu, kita akan ke butik," jawab Ayana.

"Untuk apa?" tanya Emir.

"Bukankah Bapak kemarin meminta kepada saya untuk mengosongkan jadwal 3 jam sebelum pulang kantor dan menyusun janji dengan orang butik untuk melakukan fitting baju pengantin," jawab Ayana sudah pasti semua jadwal itu juga berdasarkan keputusan yang diperintahkan Emir kepadanya.

"Kamu saja yang mencoba baju pengantin sendiri, saya ingin istirahat," jawab Emir dengan cuek membuat Ayana mengerutkan dahi.

Entah mengapa saat ini atasannya itu berbicara seperti anak kecil dan tidak seperti biasanya.

"Tetapi Bapak yang menentukan jadwal sendiri," sahut Ayana.

"Kalau saya tidak mau bagaimana? kamu akan memaksa saya untuk menemani kamu fitting baju pengantin?" tanya Emir.

"Ya, tidak harus memaksa Bapak juga? tidak mau juga tidak apa-apa dan itu juga bukan bagian dari pekerjaan, saya juga memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan memang kalau tidak harus mencoba baju pengantin juga tidak akan menjadikan masalah itu besar," jawab Ayana

Emir menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.

"Ayana saya perhatikan belakangan ini kamu suka sekali menjawab-jawab semua perkataan saya, tidak mau kalah dengan apa yang saya katakan," sahut Emir nada suaranya terdengar semakin kesal.

"Maaf Pak, saya hanya manusia biasa dan mungkin terkadang saya keceplosan dan tidak tentu arah," sahut Ayana.

"Lihatlah ada saja jawabannya," Emir semakin kesal melihat sekretarisnya itu. Apa daya, Ayana hanya bisa diam saja.

Bersambung...

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!