Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 25
Leo mengangkat sedikit bunga itu. “Aku pikir lebih sopan datang dengan ini,” katanya ringan.
Ella masih menatapnya, mencoba membaca maksud di balik semua ini. “Jaksa sekarang juga jemput orang?” tanyanya akhirnya.
Leo tersenyum tipis. “Kalau orangnya menarik, mungkin.” Jawaban itu terdengar santai.
Tapi terlalu langsung untuk diabaikan. Di belakang Ella, Sisil sudah berdiri, matanya bergantian melihat keduanya. Ada sesuatu di wajahnya bukan sekadar penasaran. Lebih seperti tidak suka.
“Kamu mau ke mana?” tanya Ella, masih menjaga nada datarnya.
“Keluar,” jawab Leo. “Nonton, makan malam… atau apa pun yang bikin kamu berhenti kabur dari aku.”
Kalimat itu membuat Ella hampir tersenyum. “Siapa bilang saya kabur?” balasnya.
“Kamu selalu punya alasan untuk pergi,” kata Leo tenang.
Hening sejenak. Ella melirik ke arah jalan. Tidak ada tanda-tanda Niko. Ia tahu seharusnya ia menunggu. Ia tahu ada hal penting yang harus dibicarakan. Tapi di saat yang sama kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Dan ia tidak boleh melewatkannya.
Sisil melangkah mendekat, suaranya lebih tajam dari sebelumnya. “Kamu mau pergi sama dia?”
Ella tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap Leo. Pria itu tidak memaksa. Tidak mendesak. Hanya menunggu. Seolah keputusan ini sepenuhnya ada di tangan Ella. Dan justru itu yang membuatnya memilih. “Aku keluar sebentar,” kata Ella akhirnya.
Sederhana. Tapi cukup. Sisil langsung bereaksi. “Serius? Kamu bahkan belum,”
“Aku nggak lama,” potong Ella, tetap tenang. Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, ia mengambil tasnya, lalu melangkah keluar.
Leo membuka pintu mobil untuknya. Gestur kecil. Tapi terasa disengaja. Ella masuk tanpa banyak kata. Pintu tertutup. Dan saat mobil mulai bergerak menjauh dari rumah itu, Ella menyandarkan punggungnya perlahan, menatap ke depan.
Ia tahu ini berbahaya. Ia tahu ia sedang mendekat ke sesuatu yang bisa menjatuhkannya kapan saja. Tapi di saat yang sama ia juga tahu,ini adalah langkah yang ia pilih sendiri.
Di sampingnya, Leo melirik sekilas. “Kamu yakin?” tanyanya pelan.
Ella menoleh. Tatapan mereka bertemu. “Apa yang Anda pikirkan?” balasnya.
Leo tersenyum tipis. “Bahwa kamu nggak akan semudah ini,” katanya.
Ella mengalihkan pandangannya kembali ke jalan. “Jangan terlalu yakin,” jawabnya. Tapi di dalam dirinya ia tahu satu hal: malam ini bukan sekadar keluar. Ini langkah berikutnya dalam permainan mereka.
***
Mobil melaju dengan kecepatan stabil, meninggalkan rumah itu semakin jauh di belakang, sementara di dalamnya, suasana justru terasa lebih sunyi dari yang seharusnya. Ella duduk tegak, menatap ke depan, tapi pikirannya tidak benar-benar di jalan. Perlahan, ia mengeluarkan ponselnya, membuka pesan, dan mengetik cepat.
Ella: Jangan datang. Aku keluar.
Tidak butuh waktu lama. Balasan langsung masuk.
Niko: Dengan siapa?
Jempol Ella sempat berhenti sesaat di layar. Satu detik. Dua detik. Lalu ia mengetik.
Ella: Leo.
Pesan terkirim. Tapi tidak ada balasan lagi. Layar itu tetap diam. Kosong. Tidak seperti biasanya.
Ella mengunci ponselnya perlahan, tapi sesuatu di dalam dadanya terasa sedikit mengganjal, bukan karena ia salah, tapi karena ia tahu keputusan ini akan mengubah sesuatu.
Di sampingnya, Leo melirik sekilas, cukup untuk menangkap gerakan kecil itu. “Kamu selalu kelihatan serius kalau lagi chat,” katanya santai, matanya kembali ke jalan.
Ella tidak langsung menjawab. “Kebiasaan.”
“Hm,” gumam Leo pelan, lalu setelah jeda singkat, ia menambahkan dengan nada yang lebih ringan, hampir seperti bercanda, “aku menang, ya?”
Ella menoleh sedikit. “Menang apa?”
Leo mengangkat alis tipis, sudut bibirnya terangkat. “Dari kekasih kamu.”
Kalimat itu terdengar santai. Tapi terlalu sengaja untuk tidak diperhitungkan.
Ella menatapnya beberapa detik, mencoba membaca ini sekadar sindiran atau uji reaksi? “Kamu asumsi terlalu jauh,” jawabnya akhirnya.
“Berarti bukan?” Leo tidak melepaskan.
Ella mengalihkan pandangannya kembali ke depan, tapi kali ini dengan senyum tipis yang nyaris tidak terlihat. “Kalau iya pun, harusnya Anda yang khawatir.”
Leo tertawa kecil. “Kenapa?” tanyanya.
“Karena Anda lagi duduk bareng orang yang bisa ninggalin siapa saja kapan saja,” jawab Ella tenang.
Sunyi sejenak. Jawaban itu ringan di permukaan. Tapi dalam di dalamnya. Leo mengangguk pelan, seolah menerima itu sebagai bagian dari permainan mereka. “Bagus,” katanya. “Berarti aku nggak salah pilih.”
Ella meliriknya lagi. “Memilih apa?”
Leo tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap jalan di depannya, lalu berkata pelan, “Orang yang menarik untuk diikuti.”
Kali ini bukan sekadar sindiran. Itu pernyataan. Dan Ella tahu ia baru saja masuk lebih dalam dari yang seharusnya. Ponsel di tangannya terasa lebih berat sekarang. Bukan karena pesan yang belum dibalas.Tapi karena ia tahu dari semua langkah yang ia ambil hari ini, ini yang paling tidak bisa ia tarik kembali.
Malam itu berjalan lebih lama dari yang Ella rencanakan, atau mungkin lebih tepatnya, lebih lama dari yang seharusnya ia izinkan. Dimulai dari langkah santai tanpa tujuan jelas, berlanjut ke ruang gelap bioskop yang membuat percakapan mereka berhenti sejenak, lalu berakhir di sebuah tempat makan yang tidak terlalu ramai, cukup untuk membuat waktu terasa melambat tanpa tekanan.
Anehnya, di tengah semua itu, beban yang sejak beberapa hari terakhir terus menekan pikirannya perlahan mengendur, bukan hilang sepenuhnya, tapi cukup untuk memberinya ruang bernapas dan yang membuatnya semakin janggal, semua itu terjadi bersama seseorang yang seharusnya ia waspadai.
Leo tidak banyak bertanya hal-hal yang berat malam itu, tidak menyinggung langsung tentang kasus, tidak pula menekan dengan pertanyaan yang menjebak; ia justru berbicara tentang hal-hal ringan, membiarkan Ella memilih kapan ingin menjawab dan kapan ingin diam, dan mungkin justru itu yang membuat Ella tanpa sadar lebih terbuka dari biasanya, meski tetap dalam batas yang ia jaga ketat.
Di satu titik, ketika mereka duduk berhadapan dengan sisa makanan di meja yang mulai dingin, Leo menatap Ella sedikit lebih lama dari sebelumnya, seolah baru benar-benar memperhatikan sesuatu yang sejak tadi ia tunda.
“Usia kamu berapa?” tanyanya tiba-tiba.
Ella mengangkat alis sedikit, tidak terlihat terganggu, tapi jelas tidak menyangka pertanyaan itu. “Delapan belas,” jawabnya. “Kenapa?”
Leo bersandar sedikit di kursinya, menghela napas pendek yang terdengar seperti setengah tawa. “Aku hampir tiga puluh.”
Ella menatapnya beberapa detik, lalu bahunya terangkat ringan. “Terus?”
Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Leo tersenyum tipis. “Harusnya aku sadar dari awal,” katanya pelan.
“Sadar apa?” tanya Ella.
“Kalau aku lagi buang waktu dengan orang yang terlalu muda untuk semua ini,” jawab Leo, tapi nadanya tidak terdengar seperti penyesalan, lebih seperti pengakuan yang setengah disengaja.
Ella tidak langsung membalas. Ia hanya menatap Leo, mencoba membaca apakah itu bentuk jarak yang sedang ia bangun atau justru cara lain untuk tetap mendekat.
“Kalau Anda merasa buang waktu,” katanya akhirnya, tenang, “Anda bisa berhenti.”