NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Enam hari perjalanan.

Dari Kota Heimdall—

melewati Skullcrack—

dan Hutan Alfheim—

akhirnya—

Grachius sampai.

Di sebuah polis baru.

Kota Baldr.

Langkahnya memasuki gerbang kota.

Dan—

perbedaan langsung terasa.

Bangunan-bangunan berjajar.

Namun—

lebih kecil.

Lebih rendah.

Pintu-pintu pendek.

Seolah dunia ini dibuat untuk seseorang yang tidak tinggi.

Dwarf.

Para penghuni kota ini.

Tubuh mereka pendek.

Namun kekar.

Gerakan mereka cepat.

Penuh tenaga.

Dan—

suara dentingan logam—

terdengar di mana-mana.

CLANG!

CLANG!

Api tungku menyala.

Asap tipis naik ke udara.

Bau besi panas memenuhi jalan.

Grachius berjalan pelan.

Matanya mengamati.

"Tempat ini…"

"hidup."

Berbeda dari hutan.

Berbeda dari Heimdall.

Lebih keras.

Lebih kasar.

Namun—

jujur.

Di beberapa sisi—

terlihat bangunan dengan pintu lebih tinggi.

Penginapan.

Untuk manusia—

atau ras lain.

Yang datang.

Untuk berdagang.

Atau—

memesan senjata.

Di belakang Grachius—

Daji berjalan santai.

Matanya berkeliling.

“Tempat ini bising.”

Grachius tidak menjawab.

Namun tetap berjalan.

Seorang dwarf lewat sambil membawa palu besar.

Yang lain mengangkat pedang panas dari tungku.

Percikan api beterbangan.

Daji menyeringai.

“Aku suka tempat seperti ini.”

Grachius berhenti sejenak.

Menatap sebuah bengkel.

Seorang dwarf sedang menempa.

Pukulan demi pukulan.

Kuat.

Konsisten.

Tiba-tiba—

suara muncul.

Bukan dari luar.

Namun—

dari dalam.

“Grachius.”

Ia berhenti.

Tatapannya sedikit berubah.

"Vita…"

Suara itu lembut.

Namun jelas.

Vita.

“Kau terus berjalan.”

“…itu baik.”

Sedikit jeda.

“Tapi jangan lupa.”

Grachius tetap diam.

Mendengarkan.

“…perjalanan saja tidak cukup.”

Suara Vita menjadi lebih dalam.

“Para dewa bukan lawan…”

“…yang bisa kau hadapi hanya karena merasa sudah kuat.”

Sunyi.

Langkah Grachius terhenti.

Di tengah jalan.

Orang-orang tetap berjalan di sekitarnya.

Namun ia—

diam.

“Kau harus terus berkultivasi.”

“…memperdalam dirimu.”

“…menguatkan fondasimu.”

Suara itu perlahan memudar.

“…jangan lengah.”

Sunyi.

Kembali.

Hanya suara kota.

Grachius menunduk sedikit.

Matanya menyempit.

"Aku tahu."

Ia menarik napas pelan.

Lalu—

kembali berjalan.

Lebih tenang.

Lebih fokus.

Daji meliriknya.

“Kenapa berhenti?”

Grachius menjawab singkat.

“Tidak apa-apa.”

Daji menyipitkan mata.

Namun—

tidak bertanya lagi.

Di tengah Kota Baldr—

di antara dentingan logam—

dan api yang terus menyala—

perjalanan Grachius—

memasuki tahap baru.

Bukan hanya berjalan.

Namun—

bersiap.

Untuk sesuatu yang lebih besar.

...----------------...

...----------------...

Grachius masih berjalan.

Di antara suara palu—

dan api yang menyala.

Daji di sampingnya.

Sesekali melihat ke kiri dan kanan.

Namun langkah mereka akhirnya melambat.

Di depan—

sebuah bangunan berbeda.

Lebih kokoh.

Lebih sakral.

Di atas pintunya—

simbol palu dan landasan.

Ferrum.

Kuil Ferrum.

Grachius berhenti.

Matanya memperhatikan.

Beberapa orang masuk.

Seorang Hiereus di depan.

Diikuti rombongan kecil.

Daji melirik.

“…mau kemana?”

Grachius melangkah.

“…masuk.”

Daji mengangkat alis.

Namun tetap mengikuti.

Di dalam kuil—

suasana hangat.

Api menyala di beberapa sudut.

Tidak terlalu besar.

Namun cukup.

Memberi cahaya.

Di tengah ruangan—

sebuah altar.

Di atasnya—

makanan.

Buah-buahan.

Dan—

tiga pedang.

Diletakkan rapi.

Di belakang Hiereus—

tiga dwarf berdiri.

Wajah mereka tegang.

Namun penuh harap.

Ritual dimulai.

Tidak ada cahaya aneh.

Tidak ada suara menggelegar.

Hanya—

doa.

Tenang.

Dalam.

Hiereus mengangkat tangannya.

Mengucapkan sesuatu.

Memohon.

Bukan kekuasaan.

Bukan kehancuran.

Namun—

berkah.

Untuk karya.

Untuk hasil tangan mereka.

Grachius memperhatikan.

Diam.

"Berbeda."

Pikirannya terlintas.

"tidak seperti Sagitta…"

Tidak ada manusia dikorbankan.

Tidak ada paksaan.

Hanya—

persembahan sederhana.

Dan harapan.

"Dewa seperti ini…"

Ia menyipitkan mata sedikit.

"…mungkin bukan target."

Ritual selesai.

Tidak ada cahaya turun.

Namun—

ketiga dwarf itu tersenyum.

Seolah—

itu cukup.

Mereka pergi.

Diikuti yang lain.

Perlahan.

Satu per satu.

Hingga—

tersisa satu orang.

Hiereus itu.

Grachius melangkah mendekat.

Daji di belakangnya.

Hiereus itu menoleh.

Menatap mereka.

Tenang.

Grachius berhenti beberapa langkah di depannya.

“…aku Grachius.”

Singkat.

Jelas.

Hiereus itu mengangguk kecil.

“…Varkun.”

Varkun.

Sunyi sejenak.

Lalu Grachius langsung ke tujuan.

“Aku ingin meminta izin…”

“…untuk menginap di kuil ini.”

Daji melirik.

"Langsung sekali…"

Varkun tidak langsung menjawab.

Ia memperhatikan.

Grachius.

Lalu Daji.

Matanya sedikit menyipit.

Seolah melihat sesuatu—

yang tidak terlihat.

Grachius tersenyum tipis.

“Anda sedang merasakan energi kami?”

Sunyi sejenak.

Lalu—

Varkun tertawa.

Pendek.

Namun tulus.

“Kau langsung sadar.”

Ia mengangguk pelan.

“Ya.”

Tatapannya kembali serius.

“Kalian berdua… bukan orang biasa.”

Daji menyeringai kecil.

“Kami sering dengar itu.”

Varkun menghela napas.

Lalu menjawab.

“Maaf.”

“…kuil bukan tempat untuk menginap.”

Sunyi.

Daji mengangkat bahu sedikit.

Namun—

Varkun melanjutkan.

“Tapi…”

Sedikit jeda.

“…jika kalian butuh tempat…”

“…kalian bisa menginap di penginapan milik adikku.”

Grachius mengangkat alis sedikit.

“…gratis.”

Sunyi.

Daji langsung menoleh.

“Gratis?”

Varkun tersenyum kecil.

“Aku yang akan mengurusnya.”

Grachius terdiam sejenak.

Lalu—

mengangguk.

“Terima kasih.”

Singkat.

Namun tulus.

Beberapa saat kemudian—

mereka keluar dari kuil.

Dipandu oleh Varkun.

Menyusuri jalan kota.

Hingga akhirnya—

berhenti di depan sebuah bangunan.

Lebih besar.

Dengan pintu tinggi.

Di atasnya—

sebuah papan kayu.

Thorgar Skáli.

Varkun menunjuk.

“Disini.”

Grachius menatap bangunan itu.

Daji menyeringai.

“Akhirnya tempat tidur.”

Varkun membuka pintu.

“Masuklah.”

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan hutan—

Grachius—

mendapatkan tempat untuk beristirahat.

...----------------...

Pintu terbuka.

Suasana hangat langsung terasa.

Kayu.

Api.

Dan aroma makanan.

Varkun melangkah masuk lebih dulu.

Lalu bersuara keras.

“Thorgar!”

Tidak ada jawaban.

Ia menghela napas.

“THORGAR!”

Beberapa detik.

Langkah kaki terdengar dari dalam.

Berat.

Mantap.

Seorang dwarf muncul.

Tubuhnya kekar.

Janggut tebal.

Matanya tajam.

Ia menatap Varkun.

Lalu—

beralih ke Grachius dan Daji.

Sunyi sejenak.

Lalu wajahnya berubah.

Menghela napas panjang.

“Aku tahu.”

Nada suaranya datar.

“Kau mau memberi tempat gratis lagi, kan?”

Daji langsung menyeringai.

Varkun tertawa kecil.

“Seperti biasa, kau cepat menangkapnya.”

Dwarf itu—

Thorgar—

menggeleng.

“Kau akan membuatku bangkrut suatu hari.”

Varkun tersenyum santai.

“Tidak akan.”

Ia melangkah mendekat.

“Aku akan mendoakanmu.”

Thorgar mendengus.

“Doa tidak membayar makanan.”

Varkun tetap tenang.

“Aku akan mendoakan agar karya-karyamu mendapatkan berkah besar.”

Sedikit jeda.

“…sebelum ritual berikutnya.”

Sunyi.

Thorgar terdiam.

Matanya sedikit berubah.

Memikirkan.

Lalu—

ia mendengus pelan.

“Kau licik.”

Varkun tersenyum tipis.

Thorgar menghela napas.

“Baiklah.”

“…sekali ini.”

Varkun mengangguk.

“Terima kasih.”

Namun—

tatapan Thorgar belum selesai.

Ia kembali melihat Grachius.

Dari kepala—

ke kaki.

Lalu—

berhenti.

Di pinggang.

Matanya melebar.

“Tunggu.”

Ia melangkah mendekat.

Menatap lebih dekat.

“Itu…”

Nada suaranya berubah.

“Bukankah itu… Enjin?”

Sunyi.

Grachius melirik pedangnya.

Lalu kembali ke Thorgar.

“Ya.”

Jawaban singkat.

Namun dampaknya—

besar.

Thorgar membeku sejenak.

Lalu—

tertawa kecil tidak percaya.

“Aku tidak menyangka…”

“…bisa melihatnya langsung…”

Matanya berbinar.

Seperti anak kecil.

“Boleh aku…?”

Ia mengangkat tangan.

Meminta izin.

Grachius tidak ragu.

Ia melepas pedangnya.

Masih dalam sarung.

Lalu memberikannya.

Thorgar menerimanya—

dengan hati-hati.

Seolah memegang sesuatu yang sakral.

Ia menarik pedangnya perlahan.

SHIIING.

Bilahnya terlihat.

Mengkilap.

Halus.

Namun mematikan.

Thorgar terdiam.

Matanya terpaku.

“Indah…”

Ia mengusap bilahnya perlahan.

Hampir tidak percaya.

“Rare Grade…”

“…aku benar-benar menyentuhnya…”

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

ia menarik napas.

Menoleh ke Grachius.

Matanya serius sekarang.

“Aku ingin membuat kesepakatan.”

Grachius menatapnya.

Diam.

“Sebagai ganti menginap…”

Thorgar mengangkat sedikit pedang itu.

“…izinkan aku meminjam Enjin.”

Sunyi.

Daji langsung melirik.

"hah?"

Thorgar melanjutkan.

“Aku ingin mempelajarinya.”

“Memahami bagaimana pedang ini dibuat…”

“…agar suatu hari…”

Matanya menyala.

“…aku bisa membuat senjata yang mencapai tingkatan itu.”

Sedikit jeda.

“…atau bahkan lebih tinggi.”

Sunyi.

Empat tingkatan.

Rare.

Unique.

Legendary.

Mythical.

Impian setiap pandai besi.

Grachius menatapnya.

Beberapa detik.

Tanpa ekspresi.

Lalu—

“Baiklah.”

Jawaban langsung.

Tanpa ragu.

Daji membelalakkan mata.

Ia mendekat sedikit.

Berbisik pelan.

“Kau serius?”

Grachius hanya—

tersenyum kecil.

Tidak menjawab.

Thorgar terdiam sejenak.

Tidak menyangka akan semudah itu.

Lalu—

ia tertawa.

Kali ini—

benar-benar senang.

“Aku tidak akan menyia-nyiakan ini.”

Ia menggenggam Enjin lebih erat.

Dengan penuh hormat.

Dan malam itu—

di sebuah penginapan sederhana—

sebuah kesepakatan terbentuk.

Bukan tentang uang.

Bukan tentang kekuasaan.

Namun—

tentang mimpi.

Seorang pandai besi—

dan seorang pemburu dewa.

Yang tanpa sadar—

akan saling mempengaruhi—

di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!