NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7

***

Persiapan acara Bersih Desa atau sedekah bumi di Desa Sukamaju mencapai puncaknya. Balai desa yang biasanya tenang, kini berubah menjadi pusat kesibukan yang luar biasa. Sejak fajar menyingsing, kepulan asap dari dapur umum di bagian belakang bangunan itu sudah membubung tinggi, membawa aroma campuran kayu bakar, santan kental, dan rempah-rempah yang tajam.

Laras, dengan perut tujuh bulannya yang terasa kian berat, sudah berada di sana sejak pukul tujuh pagi. Sebagai istri Kepala Desa, dialah yang memegang tongkat komando urusan konsumsi. Namun, alih-alih hanya memberi perintah dari jauh, Laras memilih untuk terjun langsung, duduk lesehan di atas tikar pandan bersama puluhan ibu-ibu warga desa lainnya.

"Aduh, Bu Kades... Mbok sudah, duduk saja di kursi. Biar kami yang bungkus nasinya. Bu Kades itu sedang hamil tua, nanti punggungnya encok," tegur Bu RT dengan nada khawatir namun penuh rasa sayang.

Laras tersenyum manis, tangannya tetap cekatan melipat daun pisang yang sudah layu. "Nggak apa-apa, Bu RT. Kalau cuma duduk diam, malah pinggang saya rasanya kaku. Lagipula, kalau dikerjakan bareng-bareng begini kan jadi nggak kerasa capeknya."

Sikap Laras yang rendah hati dan tidak menjaga jarak membuat warga sangat mencintainya. Bagi mereka, Laras bukan sekadar "Ibu Pejabat", melainkan sosok tetangga yang mau berkeringat bersama. Namun, di balik senyum itu, Laras sedang berjuang melawan rasa mual yang hebat. Aroma tumisan cabai dan bawang yang menyengat di udara panas dapur terasa seperti pukulan telak ke ulu hatinya.

Di sela-sela aktivitas membungkus ratusan porsi nasi berkat, percakapan ibu-ibu mulai merambat ke hal-hal yang lebih pribadi. Di sisi kanan Laras, duduk Mbah Darmi, salah satu sesepuh desa yang dikenal sangat kolot namun dihormati.

"Nduk Laras," panggil Mbah Darmi sambil menyisipkan sepotong sirih ke mulutnya. "Kamu itu masih muda, cantik. Tapi jangan lupa, suamimu itu orang penting. Banyak mata perempuan di luar sana yang melirik."

Laras hanya mengangguk pelan, mencoba tetap fokus pada lipatan daunnya. "Iya, Mbah."

"Ingat nasihat simbah," lanjut Mbah Darmi, suaranya merendah namun tajam. "Biarpun perutmu sudah sebesar semangka, biarpun badanmu rasanya mau rontok, jangan pernah menolak kalau Pak Lurah 'minta'. Laki-laki itu kalau di rumah nggak kenyang, nanti nyari 'jajan' di luar. Apalagi Bagas itu anak tunggal, dia butuh pelayanan ekstra supaya pikirannya tetap jernih mengurus desa."

Ibu-ibu lain di sekitar mereka mulai menimpali dengan tawa kecil yang sarat makna.

"Benar itu, Bu Kades. Dulu saya waktu hamil anak keempat, kaki sampai bengkak nggak bisa jalan, tapi ya tetap harus 'siaga'. Istri itu kuncinya ada di tempat tidur. Kalau suaminya senang, rezekinya lancar," sahut seorang ibu lainnya.

Laras merasakan sesak yang bukan karena uap masakan. Nasihat-nasihat itu terasa seperti beban tambahan yang menindih jiwanya. Ia teringat kejadian siang kemarin di kamar—bagaimana ia harus mengenyampingkan rasa lelahnya demi memuaskan Bagas. Di dunia ini, seolah-olah kesehatan fisiknya dan keinginannya untuk beristirahat tidak pernah menempati urutan utama.

Dugh!

Tiba-tiba, sebuah tendangan keras dari dalam rahim membuatnya tersentak. Janinnya seolah bisa merasakan kegelisahan ibunya. Tendangan itu terasa sangat kuat hingga membuat Laras harus berhenti sejenak dan memegangi perutnya yang menegang kencang.

"Kenapa, Nduk? Kontraksi?" tanya Bu RT cemas.

"Bukan, Bu. Adiknya cuma lagi aktif sekali," jawab Laras lirih, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Stres akibat tekanan sosial dan kelelahan fisik mulai membuat perutnya terasa kenceng-kenceng.

Meskipun fisiknya didera rasa nyeri yang menjalar dari tulang ekor hingga ke panggul, Laras tidak membiarkan pekerjaannya terbengkalai. Ia bangkit berdiri dengan susah payah, menumpu berat badannya pada meja kayu, lalu berkeliling memeriksa kuali-kuali besar.

"Bu Narti, ini santannya sudah mulai pecah, tolong dikecilkan apinya ya," perintah Laras dengan nada lembut namun tegas.

"Siap, Bu Kades!" jawab Bu Narti sigap.

Warga desa sangat kagum. Mereka melihat Bu Kades yang masih berusia 23 tahun itu begitu cekatan. Bagas, yang sesekali lewat di depan dapur untuk mengecek persiapan bersama staf desa, selalu melempar senyum bangga saat melihat Laras dikelilingi warga.

"Istri saya memang luar biasa, ya?" ucap Bagas kepada sekretaris desanya dengan suara yang cukup keras hingga terdengar ke dalam dapur. "Hamil tua pun tetap ingin mengabdi. Benar-benar teladan."

Laras mendengar itu, namun hatinya terasa hampa. Pujian Bagas selalu tentang "pengabdian" dan "citra", jarang sekali berupa pertanyaan tulus seperti, "Kamu capek nggak, Ras?" atau "Ayo duduk sebentar, biar aku yang ambilkan minum."

Pukul dua siang, ribuan bungkus nasi sudah tertata rapi. Laras merasa kakinya sudah tidak seperti miliknya lagi. Bengkak di pergelangan kakinya kian parah, membuat selop yang ia pakai terasa sangat mencekik.

"Bu Kades, ini air minumnya. Minum dulu, Bu," seorang gadis remaja desa membawakan segelas air teh hangat.

"Terima kasih ya, nduk," Laras meminumnya perlahan. Ia duduk di kursi plastik di pojok dapur, membiarkan punggungnya bersandar sejenak.

Di tengah riuh rendah suara warga yang tertawa dan bercanda, pikiran Laras kembali melayang pada buku catatan sketsanya yang tersimpan di bawah tumpukan baju. Ia membayangkan jika ia berada di Jakarta, mungkin ia sedang sibuk memilih kain di toko tekstil, bukan sedang mendengarkan ceramah tentang bagaimana melayani suami agar tidak selingkuh di tengah rasa sakit kehamilan.

Namun, lamunannya buyar saat Bagas masuk ke dapur dengan wajah berseri-seri. "Ras, tamu dari kecamatan sudah datang. Ayo, dampingi Mas di depan. Kita sambut mereka."

Laras menarik napas panjang, mengusap keringat di dahi dengan tisu, lalu membenahi letak daster batiknya yang rapi. Ia bangkit berdiri, menahan denyut nyeri di pinggangnya, dan memasang senyum terbaiknya.

"Iya, Mas. Laras datang."

Ia berjalan perlahan mengikuti langkah tegap suaminya, menyadari bahwa bagi dunia luar, ia adalah simbol kesuksesan dan kebahagiaan. Dan demi simbol itu, Laras akan terus berjalan, meski raganya hancur perlahan dalam diam.

****

Bersambung...

Kalau kalian, di posisi Laras gimana nih teman teman ?

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!