NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Jejak Bintang di Atas Perkamen

Tiga hari setelah pengakuan Arga di ruang utama, markas Ordo Pemburu Bayangan berubah menjadi sarang penelitian. Darmaji memerintahkan setiap gulungan kitab, setiap lembar perkamen, setiap ukiran batu yang berkaitan dengan Langit Kesepuluh atau Liontin Langit untuk dikumpulkan di ruang arsip. Hasilnya adalah tumpukan dokumen setinggi pinggang orang dewasa yang kini memenuhi meja batu besar.

Arga duduk di salah satu sisi meja, dikelilingi oleh gulungan-gulungan yang mengeluarkan bau kertas tua dan debu. Di seberangnya, Darmaji membaca dengan kecepatan luar biasa—matanya bergerak cepat dari satu baris ke baris berikutnya, tangannya sesekali membuat catatan di atas kertas terpisah. Sinta berdiri di dekat pintu, berjaga, meski Arga curiga ia juga mendengarkan setiap kata yang diucapkan.

"Kau yakin pecahan ketiga disebut 'bintang'?" tanya Darmaji tanpa mengangkat mata dari bacaannya.

"Di visiku, tiga liontin itu berbentuk lingkaran, bulan sabit, dan bintang. Lingkaran ada padaku. Bulan sabit kita dapatkan dari Lingkaran Naga Hitam. Jadi yang hilang adalah bintang."

"Masuk akal." Darmaji membalik halaman. "Tapi tidak ada yang menyebut lokasi pastinya. Hanya petunjuk-petunjuk samar."

Arga menghela napas dan menyandarkan punggungnya. Matanya lelah. Tiga hari membaca teks-teks kuno dengan aksara yang bahkan ia—dengan pengetahuan tiga ribu tahunnya—kadang harus mengernyitkan dahi untuk memahaminya. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut tenang, seolah mengingatkannya untuk beristirahat.

Ia meraih gulungan berikutnya. Yang ini lebih tua dari yang lain—bahannya bukan kertas, melainkan semacam kulit binatang yang sudah mengeras. Aksaranya sangat kuno, hampir seperti piktograf. Arga harus mengerahkan seluruh pengetahuannya untuk mulai membaca.

"...dan Penjaga Bintang menetap di lembah tempat tiga sungai bertemu, di bawah bayangan puncak yang menusuk langit. Mereka menjaga pecahan suci hingga waktu penyatuan tiba..."

"Di sini," katanya tiba-tiba.

Darmaji langsung menoleh. "Apa?"

Arga membacakan kalimat itu dengan suara keras. "Lembah tempat tiga sungai bertemu. Puncak yang menusuk langit. Itu pasti lokasi keluarga Penjaga Bintang."

Sinta melangkah mendekat. "Puncak yang menusuk langit... itu bisa merujuk pada Gunung Runcing di Pegunungan Kabut."

Darmaji mengangguk pelan. "Pegunungan Kabut. Di selatan. Tempat yang sama yang disebut dalam rumor tentang salah satu keluarga Penjaga." Ia menatap Arga. "Ini bukan kebetulan."

"Tapi Pegunungan Kabut luas," Sinta menyela. "Mencari satu lembah di sana seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Kita butuh lebih banyak petunjuk."

Arga melanjutkan membaca. Matanya menelusuri setiap piktograf, menerjemahkannya dalam hati. Lalu ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti.

"...dan di tengah lembah, mereka mendirikan menara dari batu hitam. Menara yang puncaknya tidak terlihat dari bawah, karena tertutup kabut abadi. Di sanalah pecahan bintang disemayamkan..."

"Menara batu hitam," gumam Arga. "Di lembah dengan tiga sungai, di bawah bayangan Gunung Runcing. Itu lebih spesifik."

Darmaji bangkit dan berjalan ke rak tempat ia menyimpan peta kuno. Ia membuka gulungan peta Pegunungan Kabut dan membentangkannya di atas meja, menyingkirkan tumpukan kitab. Jarinya menelusuri garis-garis yang menggambarkan kontur pegunungan.

"Gunung Runcing... di sini." Ia menunjuk sebuah puncak yang digambar dengan bentuk lancip. "Dan sungai-sungai... ada tiga sungai yang berhulu di sekitar sini. Tapi tidak ada yang bertemu di satu titik."

"Mungkin petanya tidak akurat," usul Sinta. "Atau sungainya sudah berubah arah setelah ribuan tahun."

"Atau lembah itu tersembunyi." Arga menatap peta itu. "Formasi penyembunyian. Jika mereka adalah Penjaga, mereka pasti melindungi lokasi itu dengan formasi kuat."

Darmaji menyeringai. "Kau benar. Itu lebih masuk akal." Ia menggulung peta. "Kalau begitu, kita tidak bisa hanya mengandalkan peta. Kita harus pergi ke sana dan mencari sendiri."

"Kita?" Arga mengangkat alis.

"Kau dan aku. Dan Sinta, tentu saja. Mungkin beberapa pemburu senior lain." Darmaji menatap Arga lurus-lurus. "Kau adalah keturunan Penjaga. Hanya kau yang bisa merasakan keberadaan liontin itu. Tanpamu, kami mungkin berjalan melewati lembah itu tanpa menyadarinya."

Arga tahu itu benar. Saat ia mendekati liontin bulan sabit di lembah, ia sudah merasakan getarannya sebelum melihat petinya. Indra itu—koneksi dengan Liontin Langit—adalah sesuatu yang hanya dimilikinya.

"Kapan kita berangkat?"

"Secepatnya. Tapi sebelum itu..." Darmaji melirik Sinta. "Kita punya urusan dengan dua tahanan. Mereka mungkin tahu lebih banyak tentang rencana Lingkaran Naga Hitam."

---

Sel interogasi di markas Ordo adalah ruangan batu kecil dengan satu meja dan dua kursi. Dua tahanan dari Lingkaran Naga Hitam—wanita yang bicara sebelumnya dan pria yang diam—duduk di kursi dengan tangan masih terikat. Ekspresi mereka campuran antara lelah dan pasrah.

Darmaji duduk di seberang mereka, dengan Arga dan Sinta berdiri di belakangnya.

"Aku sudah memenuhi janjiku," kata wanita itu. "Kami memberi informasi. Sekarang lepaskan kami."

"Informasi yang kau berikan berguna," jawab Darmaji. "Tapi belum cukup. Aku ingin tahu lebih banyak tentang pemimpin kalian. Pria berjubah abu-abu yang lolos di lembah."

Kedua tahanan saling bertukar pandang.

"Dia... dia adalah salah satu Tetua Lingkaran," kata wanita itu akhirnya. "Namanya tidak kami ketahui. Kami hanya memanggilnya Tetua Abu. Dia yang memimpin pencarian liontin di wilayah ini."

"Tetua Abu." Darmaji mengulang nama itu. "Apa rencananya selanjutnya?"

"Aku tidak tahu. Tapi dia pasti akan melaporkan kegagalannya pada Dewan Lingkaran. Dan mereka akan mengirim lebih banyak orang. Lebih kuat."

Sinta mendengus. "Itu sudah bisa ditebak."

Arga melangkah maju. "Kau bilang Lingkaran Naga Hitam ingin membawa sesuatu keluar dari Langit Kesepuluh. Sesuatu yang dikurung. Apa kau benar-benar tidak tahu apa itu?"

Wanita itu menatapnya. Ada ketakutan di matanya. "Aku hanya mendengar bisik-bisik. Kata mereka, itu adalah makhluk yang bahkan para Dewa takuti. Makhluk yang dikurung oleh tiga Penjaga pertama ribuan tahun lalu. Jika ia keluar..." ia menggigil, "...dunia akan berakhir."

Keheningan memenuhi sel.

Arga merasakan liontin di dadanya berdenyut. Bukan karena koneksi dengan liontin lain—tapi karena sesuatu yang lain. Peringatan.

Makhluk yang bahkan para Dewa takuti. Sebagai mantan Kaisar Langit, ia tahu bahwa di atas Langit Kesembilan, ada kekuatan-kekuatan yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin makhluk itu adalah salah satunya.

"Pegunungan Kabut," kata Darmaji akhirnya. "Apakah Lingkaran Naga Hitam tahu tentang lokasi pecahan ketiga?"

Wanita itu menggeleng. "Mereka menduganya. Tapi mereka belum yakin. Itu sebabnya mereka fokus pada pecahan bulan sabit dulu—lokasinya sudah diketahui dari kitab kuno yang mereka curi."

"Curi dari mana?"

"Dari... dari makam salah satu keluarga Penjaga. Di utara."

Darmaji dan Arga bertukar pandang. Jadi Lingkaran Naga Hitam sudah menyerang makam Penjaga. Itu berarti mereka lebih maju dalam pencarian ini daripada yang dikira.

"Baiklah." Darmaji bangkit. "Kalian akan tetap di sini sebagai tahanan. Jika informasi kalian terbukti berguna, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk melepaskan kalian."

Ia keluar dari sel, diikuti Arga dan Sinta.

"Pegunungan Kabut," kata Darmaji saat mereka berjalan di lorong. "Kita harus bergerak sebelum Lingkaran Naga Hitam memastikan lokasinya. Besok pagi, kita berangkat."

Arga mengangguk. Jantungnya berdebar lebih cepat. Bukan karena takut—tapi karena antisipasi. Di Pegunungan Kabut, pecahan ketiga menunggu. Dan mungkin, jawaban tentang siapa dirinya sebenarnya.

1
Mommy Dza
So sweet 😁 akhirnya Arga bs tdur nyenyak
Mommy Dza
Masuk ke dalam kegelapan
kenangan pertama
Mommy Dza
Mencari pecahan
Mommy Dza
Pilihan yg sulit
Mommy Dza
pemangsa yg kesepian ternyata🥹
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!