Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Table read
Hari Minggu.
Biasanya hari itu sunyi.
Tapi untuk industri hiburan—justru sebaliknya.
Hari ini adalah hari table read.
Awal resmi sebelum semuanya benar-benar dimulai.
Dan, katanya… setelah selesai akan ada makan malam kecil.
“Biar akrab,” kata sutradara.
“Biar nanti pas syuting nggak kaku.”
Mireya menatap jadwal di ponselnya.
Jam sudah mendekati waktu berangkat.
Ia berdiri dari meja sarapan, berniat menghubungi Rhea.
“Harusnya Kak Rhea udah—”
Suara kursi bergeser.
Zevran berdiri.
Tanpa banyak bicara, ia mengambil kunci mobil di meja.
Langkahnya langsung menuju pintu.
Melewati Mireya begitu saja.
“…?”
Mireya bengong.
“Eh?”
Baru saja ia mau bertanya—
Zevran berhenti sebentar, melirik ke belakang.
Satu tatapan.
Lalu dagunya sedikit terangkat.
Isyarat sederhana.
'cepat.'
Mireya berkedip dua kali.
“…oh.”
Butuh satu detik.
Dua detik.
Lalu—
“OH.”
Ia langsung ambil tasnya dan berlari kecil menyusul.
“Bilang kek dari tadi!” gerutunya pelan.
Di dalam mobil, suasana awalnya tenang.
Mesin melayang halus di jalur udara.
Pemandangan kota pagi hari terlihat bersih dari kaca.
Mireya santai.
Zevran… tidak.
Ia melirik sekilas ke arah Mireya.
Lalu lagi.
Lalu akhirnya membuka suara.
“Setelah selesai, akan ada acara tambahan?”
Mireya mengangguk.
“Iya… katanya makan bareng gitu.”
Hening sebentar.
Lalu—
“Jangan minum terlalu banyak.”
“…hah?”
Mireya menoleh.
Zevran masih menatap lurus ke depan.
“Kalau ada yang memaksa, tolak.”
Nada suaranya datar.
Tapi isinya…
benar-benar seperti ibu yang khawatir anaknya pertama kali keluar malam Pfttt
“Kalau tidak bisa, hubungi aku.”
Mireya makin bengong.
“Kalau aku tidak angkat, hubungi sopir.”
Ia lanjut.
“Aku sudah kasih nomor mereka.”
Mireya langsung menahan tawa.
Dalam hati:
Itu kan sopir keluargamu…
masa aku tiba-tiba nelpon— ‘Pak jemput saya’
aku ini istrinya tuan loh… bukan tamu nyasar
Ia menoleh sedikit, menatap Zevran dari samping.
Wajahnya serius.
Terlalu serius.
Sampai jadi lucu.
“Kenapa kamu kayak orang tua sih?”
Zevran tidak langsung menjawab.
Hanya mengangkat alis sedikit.
“Aku hanya memastikan.”
“…memastikan apa?”
“Kamu tidak melakukan hal bodoh.”
Mireya langsung manyun.
“Enak aja!”
Tapi entah kenapa—
dadanya terasa hangat.
Mobil berhenti di depan gedung.
Lokasi table read sudah ramai.
Beberapa mobil lain terparkir rapi.
Staf keluar masuk membawa berkas dan peralatan.
Mireya membuka pintu.
Sebelum turun—
Zevran memanggil.
“Mireya.”
Ia menoleh.
Tatapan Zevran tenang seperti biasa.
Namun kali ini sedikit lebih dalam.
“Jangan gugup.”
Kalimat sederhana.
Tapi cukup untuk menenangkan sesuatu di dalam dirinya.
Mireya mengangguk kecil.
“…iya.”
Ia turun.
Pintu tertutup.
Dan tanpa ia sadari—
langkahnya jauh lebih ringan dibanding tadi pagi.
Di dalam gedung, suasana berbeda.
Tidak se-riuh backstage kemarin.
Tapi lebih… tegang.
Ruangan besar dengan meja panjang berbentuk oval sudah dipenuhi orang.
Naskah tersusun rapi di setiap kursi.
Nama-nama karakter tertulis di kursi depan masing-masing.
Mireya melangkah masuk.
Beberapa orang langsung melirik.
Beberapa berbisik pelan.
“itu dia…”
“selir ke-11…”
“yang lagi rame itu…”
Tatapan itu belum sepenuhnya ramah.
Tapi juga tidak sepenuhnya meremehkan.
Lebih ke— penasaran.
Di sisi tengah, seseorang sudah duduk lebih dulu.
Eirian Vale
Pemeran Kaizar.
Ia membaca naskah dengan tenang.
Aura-nya… beda.
Begitu Mireya masuk, matanya sempat terangkat.
Sekilas.
Lalu kembali ke naskah.
Namun cukup.
Ia memperhatikan.
Di sisi lain— Luna duduk di barisan pinggir.
Bukan meja utama.
Bukan pusat.
Hanya kursi tambahan.
Matanya langsung menangkap Mireya.
Dan seketika, ekspresinya menegang.
“Dia… di sana?”
Di meja utama.
Di kursi selir ke-11.
Bukan di pinggir.
Bukan di belakang.
Mireya duduk.
Tangannya menyentuh naskah.
Menarik napas pelan.
Ini bukan lagi latihan sendiri.
Ini bukan lagi membaca diam-diam di kamar.
Ini— awal dari segalanya.
Sutradara berdiri di depan.
“Oke, kita mulai.”
Suasana langsung hening.
“Baca santai dulu.”
“Cari rasa.”
“Jangan terlalu ditahan.”
Halaman pertama dibuka.
Nama karakter dipanggil satu per satu.
Suara mulai mengalir.
Dialog pertama.
Kedua.
Ketiga.
Semua berjalan normal.
Sampai—
“Selir ke-11.”
Beberapa orang otomatis menoleh.
Mireya menurunkan pandangannya ke naskah.
Lalu…
ia mulai membaca.
Dan dalam satu kalimat saja—
ruangan berubah.
...****************...
Sutradara bahkan belum sempat memberi arahan tambahan.
Nama karakter itu baru saja disebut.
“Selir ke-11.”
Beberapa orang langsung mengangkat kepala.
Mireya menunduk sedikit.
Matanya menyapu cepat baris dialog di naskah.
Lalu—
tanpa ragu—
ia mengangkat kepalanya.
Dan berbicara.
“Aku tidak butuh bantuanmu.”
Suara itu keluar tajam.
Bukan teriak.
Bukan keras berlebihan.
Tapi… membentak dengan cara yang aneh.
Ada nada dingin.
Ada jarak.
Ada… sesuatu yang menolak disentuh.
Beberapa orang langsung tersentak.
Karena itu bukan sekadar membaca.
Itu reaksi.
Itu emosi.
Itu hidup.
Di seberang meja, Eirian Vale yang sedang membaca naskah sedikit terhenti.
Matanya terangkat.
Melirik Mireya.
Sekilas—
tapi cukup untuk menunjukkan ia terkejut.
Namun sebagai profesional, ia langsung melanjutkan bagiannya.
Karena dalam adegan itu—
Kaizar memang tidak berhenti.
Suasana rumah bordil dalam cerita seolah langsung terbentuk.
Lampu redup.
Suara riuh.
Tawa murahan.
Dan di tengah itu—
seorang penari.
Aurelia.
Yang baru saja diselamatkan dari sekelompok bajingan.
Seharusnya—
wanita itu berterima kasih.
Seharusnya—
ia bersyukur.
Seharusnya—
ia mendekat.
Tapi tidak.
Aurelia justru mundur setengah langkah.
Tatapannya sinis.
Senyumnya tipis.
Dan suaranya—
menolak.
Mireya mengangkat dagunya sedikit.
Tatapannya menusuk ke arah “Kaizar” di seberang.
“Apa menurutmu semua wanita harus jatuh berterima kasih setelah diselamatkan?”
Nada suaranya berubah.
Masih tenang.
Tapi lebih dingin.
Lebih tajam.
Ruangan mulai benar-benar sunyi.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang berbisik.
Karena dari satu adegan sederhana—
semua orang langsung mengerti sesuatu.
Aurelia bukan wanita lemah.
Bukan korban.
Dan jelas—
bukan karakter yang bisa dibaca dengan mudah.
Eirian berhenti sejenak di bagiannya.
Kali ini ia tidak langsung membaca.
Matanya benar-benar terangkat.
Menatap Mireya.
Lebih lama dari sebelumnya.
Seolah sedang menilai ulang.
Di sisi lain meja—
pena di tangan salah satu aktris berhenti bergerak.
Kru lain yang ikut duduk di belakang bahkan menahan napas.
Sutradara…
perlahan tersenyum.
Penulis novel yang sejak tadi diam kini menyilangkan tangan.
Tatapannya puas.
Sangat puas.
Seperti seseorang yang akhirnya melihat bayangannya sendiri menjadi nyata.
Dan di kursi pinggir—
Luna menggigit bibirnya.
Tangannya meremas naskah.
“Kenapa…”
“Kenapa dia bisa… seperti itu?”
Padahal itu hanya satu kalimat.
Hanya satu adegan awal.
Tapi kenapa—
semua perhatian langsung beralih?
Mireya sendiri tidak melihat ke sekeliling.
Ia hanya menatap naskahnya.
Namun tubuhnya masih dalam posisi Aurelia.
Masih menyisakan aura yang sama.
Seolah ia belum keluar dari karakter.
Beberapa detik hening.
Lalu—
sutradara menepuk meja pelan.
“Bagus.”
Satu kata.
Tapi cukup untuk memecah suasana.
Ia tersenyum.
“Kita ulang bagian itu.”
Tatapannya langsung ke Mireya.
“Sekali lagi.”
Dan kali ini—
semua orang benar-benar memperhatikan.
...****************...
Sutradara menutup naskahnya sebentar.
Matanya menyapu ruangan.
“Sebentar sebelum lanjut,” katanya santai,
“ada yang mau coba duluan?”
Hening.
Beberapa orang saling melirik.
Lalu—
kursi di sisi pinggir bergerak.
“Aku, Pak.”
Luna mengangkat tangan.
Senyumnya rapi.
Percaya diri.
Ia sudah menunggu momen ini.
Sutradara mengangguk.
“Oke. Coba bagian dayang di adegan rumah bordil.”
Beberapa orang membuka halaman yang dimaksud.
Luna menarik napas.
Lalu mulai membaca.
“—Nona, Anda terlalu keras pada tuan itu. Dia sudah menyelamatkan Anda.”
Nada suaranya lembut.
Halus.
Cantik.
Semua kata keluar dengan rapi.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang fals.
Namun—
tidak ada yang tertinggal.
Beberapa detik hening.
Lalu terdengar respon yang… aman.
“Ya… bagus.”
“Iya, oke.”
“Cukup rapi.”
Senyum-senyum kecil.
Anggukan sopan.
Tapi tidak ada yang benar-benar melihatnya.
Tidak ada yang benar-benar terkena.
Sutradara mengangguk singkat.
“Oke. Kita lanjut.”
Tidak ada koreksi.
Tidak ada pujian lebih.
Tidak ada permintaan ulang.
Senyum Luna sedikit kaku.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Seorang staf mendekat pelan.
“Nona, untuk sementara bisa duduk di baris kedua dulu ya. Anda salah duduk di sini ini kursi dayang yang lain.”
Luna menoleh.
Baris kedua.
Di belakang meja utama.
Di belakang para pemeran selir.
Ia berdiri.
Langkahnya tetap tenang.
Namun jemarinya menggenggam naskah sedikit lebih erat.
Dari posisi barunya—
ia bisa melihat jelas kursi-kursi di depan.
Nama-nama besar.
Dan di sana—
kursi bertuliskan:
Aurelia Veyna.
Yang sekarang diduduki oleh Mireya.
Sutradara membuka halaman berikutnya.
“Kita lanjut ke adegan pertemuan pertama.”
“Selir ke-11 dan Kaizar.”
Beberapa orang langsung bersiap.
mengangkat naskahnya.
Tatapannya fokus.
Luna ikut melihat.
Adegan itu…
seharusnya juga melibatkan dayang.
Ada bagian di mana ia berbicara.
Berdebat kecil dengan Aurelia.
Sutradara sempat melirik ke arah Luna.
Seolah mengingat.
Namun—
ia menggeleng kecil.
“Kita fokus ke inti dulu.”
“Dayang nanti.”
Kalimat itu ringan.
Sangat ringan.
Tapi cukup.
Luna membeku sepersekian detik.
“Dilewatin…?”
Di depannya—
Mireya sudah membuka naskah.
Tanpa menoleh ke siapa pun.
Tanpa bereaksi pada sekitar.
Seolah dunia di luar tidak ada.
Dan ketika ia mulai membaca—
semua yang tadi terasa “cukup bagus” langsung… hilang.
“Aku tidak butuh bantuanmu.”
Suara itu jatuh tajam di ruangan.
Tidak keras.
Tapi memotong.
Luna menatap lurus ke depan.
Tangannya menggenggam naskah lebih kuat.
Baru beberapa menit yang lalu—
dia yang berdiri di tengah perhatian.
Sekarang—
tidak ada yang melihat ke arahnya lagi.
Semua mata hanya tertuju pada satu orang.
Mireya.
Sutradara tersenyum.
Pelan.
“Bagus.”
“Kita ulang bagian itu.”
Dan untuk pertama kalinya—
Luna benar-benar merasakan sesuatu yang mengganggu di dadanya.
Bukan marah.
Belum.
Tapi jelas—
ini bukan sekadar ketidaksukaan lagi.
“Dia… kenapa bisa seperti itu?”
...****************...
Ruangan perlahan kembali ramai.
Kursi digeser.
Naskah ditutup.
Beberapa orang mulai berdiri, berbincang ringan.
Ada yang tertawa kecil, ada yang membahas adegan barusan.
Suasana jauh lebih cair dibanding sebelumnya.
Mireya menutup naskahnya.
Jarinya masih menahan halaman terakhir.
Napasnya sedikit lebih berat dari biasanya.
Bukan karena lelah.
Tapi karena… tegang yang baru saja dilepas.
Di sisi lain, berdiri dari kursinya.
Ia sempat melirik ke arah Mireya.
Sejenak.
Seperti ingin mengatakan sesuatu.
Namun belum sempat melangkah—
suara lain lebih dulu masuk.
“Lumayan juga ya.”
Nada ringan.
Santai.
Seolah memuji.
Luna berdiri tidak jauh dari sana.
Senyumnya manis.
Terlalu manis.
Beberapa orang otomatis menoleh.
Karena arah ucapannya jelas—
ke Mireya.
Luna melangkah mendekat sedikit.
“Untuk seseorang yang… lama nggak kelihatan.”
Kalimatnya terdengar biasa.
Tapi ada jeda kecil di tengah.
Cukup untuk memberi makna lain.
Mireya tidak langsung menjawab.
Hanya mengangkat pandangan.
Menatap Luna datar.
Luna tersenyum lagi.
“Scene tadi… cukup menarik.”
Ia memiringkan kepala sedikit.
“Walaupun… mungkin karena adegannya emang dramatis ya.”
Seseorang di belakang mulai diam-diam mendengarkan.
“Kadang,” lanjut Luna santai,
“kalau adegannya kuat, siapa pun juga bisa kelihatan bagus.”
Nah.
Itu bukan pujian lagi.
Mireya masih diam.
Tidak terpancing.
Luna melirik naskah di tangan Mireya.
Lalu kembali ke wajahnya.
“Semoga nanti pas syuting… hasilnya tetap sama.”
Nada suaranya lembut.
Hampir seperti doa.
Tapi isi kalimatnya jelas:
‘jangan cuma bagus di sini.’
Beberapa detik hening.
Mireya akhirnya menutup naskahnya sepenuhnya.
Tatapannya tenang.
Tidak tersinggung.
Tidak marah.
“Harusnya iya.”
Jawabannya singkat.
Lurus.
Luna sedikit mengangkat alis.
Seolah tidak menyangka dibalas sesantai itu.
Mireya melanjutkan, nada suaranya ringan.
“Kalau nggak… nanti diulang.”
Ia mengangkat bahu kecil.
“Kan masih banyak kesempatan.”
Halus.
Tapi kena.
Karena semua orang tahu—
yang paling sering diminta ulang tadi…
bukan Luna.
Senyum Luna menegang sepersekian detik.
Cepat sekali.
Hampir tidak terlihat.
“Ya… benar juga.”
Ia mengangguk.
Masih dengan senyum.
Masih rapi.
Namun matanya—
tidak lagi hangat.
Di sisi lain, beberapa orang mulai saling pandang.
Situasi itu tidak meledak.
Tidak ada teriak.
Tidak ada drama besar.
Tapi cukup jelas.
Dua orang ini…
tidak akur.
Eirian yang sejak tadi memperhatikan akhirnya berbalik.
Kali ini benar-benar melihat Mireya.
Lebih lama.
Lebih serius.
Bukan karena konflik.
Tapi karena satu hal sederhana:
dia tidak goyah.
Dan dari sudut ruangan—
seseorang berbisik pelan ke temannya:
“Kayaknya… selir ke-11 ini bakal ribut ke depan.”