Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Arya Goes to Campus. Skripsi dan Siluman Ular Keket****
Sudah hampir seminggu Bailla baru menampakan kakinya dikampus Unggu itu. Rasa rindu untuk ketemuan sama sahabat yang ngangenin sudah tidak terbendung lagi Zeze dan Agus Kemayu. Sekalian mau menuntut penjelasan ke Agus kenapa tidak hadir dihari bahagianya kemarin.
Setelah keluar dari ruangan dosen pembimbing skripsi wajah Bailla sedikit menekuk menandakan ada yang belum kelar dari skripsinya. Akhir-akhir ini Bailla kurang fokus dengan skripsinya, mempersiapkan mental mau jadi pengantin, persiapan akad dan kesibukan dirumah baru dengan 4 orang yang harus diurus. "Mungkin lebih baik pakai jasa ART aja ya biar gak kerepotan ". Batin Bailla.
Bailla berjalan kearah Kantin Fakultas, tadi sebelum keluar ruangan dosen Pembimbing Bailla udh WA Zeze dan Agus untuk ketemuan disana. Aroma indomie rebus campur minyak wangi Agus yang kebanyakan sudah tercium dihidung Bailla minyak sinyongnyong nya ular keket. Meja pojok, terlihat Zeze dan Agus lagi menikmati obrolan ngatur ngidul. Resmi sudah meja pojok ditempati 3 Amumni garis keras yaitu
*Bailla Nyonya Arya: 21 tahun, pengantin baru, muka ngantuk, di tas ada skripsi + minyak telon.
*Zeze: 23 tahun, tomboy, dompet tebel, muka garang hati hello Kitty, Tempat curhatan hidup gratis.
*Agus Sikemayu:* 23 tahun, lisensi gosip resmi kampus, bibir gak pernah rem, eyeliner selalu on point, pakaian selalu ketat kayak lemper. Gak ketinggalan bedak sama sisir.
“PESEN! Bu, indomie tiga. Yang satu pake telor, yang satu pake mangkok, yang satu... pake kegalauan pengantin baru!” Agus yang sudah mulai lapar setelah keluar energi full capek menyebarkan gosib.
“Hah? Memang siapa yang sudah soul out' Kamu gus". Tanya ibu kantin penasaran.
"Iiih no no no.....Aku masih perawan ya say....". Sambil menggoyangkan telunjuk dan bahunya. Ciri khas ular keket.
"Terus siapa say...". Ibu kantin masih penasaran.
"Tuh... Yang mukanya udh kayak lipatan origami..". Sambil nunjuk kearah Bailla.
Zeze mulai gak sabar pingin makan , cacing diperutnya sudah mulai berteriak kayak demo kenaikan BBM “Dua indomie rebus aja, Bu. Pake telur rebus . Yang teriak-teriak itu biarin. Dia udh kenyang makan gosib.” Pinta zeze ke bukantin
"Bu Yang satunya minya dobel ya " Pesanan Bailla ekstra hari ini. " Ze... Ket (Nama panggilan untuk Agus) aku capek. Tadi abis belanja sayur, terus ke kampus, terus bertemu Pak Maman capek jiwa dan raga". Keluhan pertama dari Nyonya muda.
Agus langsung pasang muka wartawan: “Terus? Terus malemnya gimana, Jeng? Udah ‘sah’ belum? Udah ‘kikuk kikuk’ belum? Udah ‘connect’ belum? Aku butuh data buat skripsi hidupku!”
Bailla keselek es teh. “GUS! Ini kantin! Didepan ada MABA!”
Zeze yang dari tadi masih pasangan stelan cuek dengan celotehan si ular keket tiba-tiba mukul Agus pakai sendok. “Mulut di Filter. Atau gue sumpel pake kertas skripsi ini .”
“Ih, aku kan peduli! Sebagai sahabat, aku wajib tau kualitas malam pertama temenku! Biar bisa kasih rating di Google Review: Pak Arya ★★★★★, pelayanan memuaskan.
“Bailla, biarin si mulut ember. Tapi ini gue nanya Serius ya. Kalian gimana? Masih canggung?”
Bailla ngaduk Es teh , mukanya merah kayak saos. “Canggung? Gak sempet canggung, Ze. Gak sempat gimana- gimana Malem pertama kita tidur berempat bonus muka gue ditumpuk Aya pakai bantal”
PRITTT...! Agus nyembur es jeruk. Kena rambutnya Zeze.
“...Agus.Awas ya Lo mati ditangan gue.” Sambil ngalap muka pakai tissue.
“SORRY! REFLEKS! Jeng, Maafkan Akoooh beb. Bailla serius BEREMPAT? Maksudnya... suamimu, kamu, terus... hantu?”
“Ara, Aya sama bokapnya lah. Jadilah kita kayak regu pramuka. Tidur melintang, Kayak lepet . Ara yang jadi Demarkasi lagi.
“Demarkasi maksudnya ?” tanya Zeze penasaran
“Artinya Batas negara . Aya jadi batasan Antara aku sama Pak Arya.”
Agus tepuk meja. “GILA! INI KONTEN! Judulnya 'Pengantin Baru vs Dewan Keamanan PBB Versi Anak-Anak' Jeng, terus suamimu gimana? Gak protes?”
“Dia malah ngalah. Tidur di lantai. Katanya ‘gak apa-apa, yang penting anak-anak tenang’. Padahal aku yang gak tenang. Takut keguling, nindih Aya.”
Zeze manggut-manggut, bijak. “Bagus. Berarti suamimu tipe ‘bapak’ dulu, ‘suami’ belakangan. Langka itu. Biasanya mah, malam pertama langsung ‘Udah sah, ayo bungkus’.”
“NAH! KAN! Pak Arya itu 'green flag' berjalan ! Kalau di drama, dia itu 'male lead' yang kerja bangunan tapi hatinya CEO Duh, Jeng, kamu menang lotre, menang banyak lah jadi ibu Tampa rasa sakit, jadi istri tapi masih perewong !”
“Menang lotre tapi hadiahnya 3 anak, Ket. Lotrenya zonk haha.”
"Oke, sekarang kita fokus. Sebagai pengantin baru, kamu udah ngerasain apa aja, Jeng? Coba list. Biar aku catet buat bekal aku nikah nanti... tahun 2050.”
Bailla ngitung pake jari “Pertama mandi centongan pakai panci, kedua masak telur gosong alias telur hitam manis, terus dicurhatin Ara soal ‘Mama di surga’, terusnya nenangin aya waktu nangis ngigau cari mamanya, masak makan pagi tadi... Terus empat......"
Zeze: “Empat?”
Bailla: “Udh itu aja belum ada lagi...hehe .”
Agus langsung mewek lebay. “Bailla Kamu sudah mulai dewasa sayang, Akoh bangga banget sama kamu"
Zeze masih terus mengajukan pertanyaan sudah seperti intelijen perumah tanggaan“Terus kamu sendiri gimana? Udah ngerasa jadi ibu?”
Bailla diem. Ngaduk indomie yang udah dingin. “Gak tau, Ze. Aku masih manggil diri sendiri ‘Kak Bailla’ di depan mereka. Tapi tadi pagi, Aya nangis yang dia panggil... aku. Bukan Bapaknya. ‘Kak Bailla...’”
Seketika meja hening. Agus yang biasanya berisik, cuma ngelap ujung mata pake tisu. “Jeng... anjir. Itu... itu udah level ‘ibu’ sih.”
“Iya betul Ket, konsep Ibu itu bukan hanya soal ngelahirin, Ibu itu soal... soal siapa yang dicariin pas demam. Selamat. Kamu resmi jadi 'Ibu Palsu Rasa Asli'.” ungkapan zie zie dengan bijaksana.
“TOAST! Buat Nyonya Arya!” diangkatnya gelas es teh. “Semoga rumah tangganya langgeng, semoga Bailla bisa menjadi ibu yang bisa di dapur, di kasur dan di sumur dan semoga dikasur tidak ada guling demokrasinya dan segera disempurnakan!”
Tiba-tiba Pak Budi lewat bawa nampan.
“Kalian lagi. Rapat apa lagi ini?” sapa pak Budi ramah
Agus refleks berdiri, hormat. “Siap, Pak! Rapat evaluasi ‘Pengantin Baru Berbasis Masalah Anak Tiri’, Pak! Bailla sebagai narasumber utama!”
Pak Maman natap Bailla. “Arya suamimu kan? Titip pesan. Dekor ruangan ruang dekan udah beres, tapi... suruh dia ajarin kamu bikin simpulan skripsi. Biar gak beleber kayak indomie.”
Satu kantin ngakak. Bailla mau masuk ke kuah indomie.
Waktu sudah menunjukkan pukul Jam 13.00, waktunya bubar.
Bailla, kalau capek, main ke kosku. Kita nonton drakor, lupain daster.” pesan zeze sambil merangkul lengan Bailla
Agus: “Aku? Aku doain dari jauh! Semoga malem ini guling demokrasinya runtuh! Amin!”
“Ket ! Doa yang bener, Akunya belum siap tau..!”
Agus: “Iya iya. Semoga malem ini... kasurnya cukup buat berdua. Eh, berempat deh. Yang penting semuanya dalam kehangatan.
Bailla jalan ke parkiran. Di tas, ada bekas coretan Agus di map skripsi: “Untuk Nyony Arya: Ibu Muda, Istri Kuat, Penakluk Anak Tiri. TTD: Agus, Calon Mak Comblang Nasional.”
Bailla senyum lumayan capek tapi ada kehangatannya....
Jadi pengantin baru itu gak selalu tentang bunga. Kadang tentang indomie, guling, sama temen yang mulutnya gak ada rem.
Dan itu... cukup.***