NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skandal Jurnal Nenek

Malam di Jakarta Selatan selalu terasa lebih mencekam ketika awan mendung menggantung rendah, seolah-olah langit adalah sebuah kubah beton yang siap runtuh menimpa kota. Di dalam penthouse Menara Alfarezel yang sunyi, Zevanya berdiri mematung di depan jendela kaca raksasa. Pantulan dirinya terlihat kontras dengan gemerlap lampu kota; ia masih mengenakan sisa-sisa seragam petugas kebersihan yang lusuh dari aksi penyamarannya tadi siang, namun di tangannya ia menggenggam sesuatu yang jauh lebih berharga daripada saham perusahaan: Jurnal Nenek.

​Adrian melangkah masuk ke ruangan, melepaskan dasinya dengan gerakan lelah. Bau peperangan di ruang rapat tadi masih menempel pada jasnya. "Dewan direksi sudah tenang, Zeva. Surya sedang menjalani pemeriksaan awal di kantor polisi. Tapi Helena... dia menghilang. Dia tidak pulang ke rumah lamanya."

​Zeva tidak menoleh. Matanya tertuju pada buku bersampul kulit kusam di tangannya. "Helena nggak bakal lari jauh, Adrian. Dia itu tipe ular yang bakal nunggu di semak-semak sampe kita lengah. Dan gue rasa, gue tahu apa yang dia cari."

​Zeva meletakkan jurnal itu di atas meja marmer. Adrian mendekat, mengernyit melihat beberapa halaman yang tampak lebih tebal dari yang lain. "Jurnal itu... ada yang berbeda?"

​"Gue baru sadar pas gue lagi di ruang server tadi. Gue kepikiran soal omongan Surya tentang 'warisan yang hilang'. Gue inget Nenek pernah bilang kalau rahasia paling aman adalah rahasia yang ditaruh di depan mata semua orang," ujar Zeva.

​Zeva mengambil sebuah pisau kecil dari set alat mekanik miniaturnya. Dengan presisi seorang ahli bedah, ia mulai mengiris pinggiran sampul belakang jurnal tersebut. Adrian menahan napas. Pelan tapi pasti, lapisan kulit itu terkelupas, menyingkap sebuah kompartemen tersembunyi yang berisi selembar kertas kalkir tipis dan sebuah kunci kuno yang sudah berkarat.

Kertas kalkir itu berisi denah teknis. Bukan denah gedung modern, melainkan sketsa tangan sebuah bangunan tua dengan label: “Bengkel Sanjaya - Sektor 4”.

​"Ini denah bengkel Bokap gue," bisik Zeva, suaranya bergetar. "Tapi liat koordinat di pojok bawah ini. Ini bukan koordinat bangunan, Adrian. Ini koordinat kedalaman."

​Adrian mengambil kertas itu, matanya memindai angka-angka tersebut. Sebagai seorang CEO yang terbiasa dengan data, ia langsung menyadari polanya. "Ini koordinat brankas tanam. Zeva, di bawah bengkel ayahmu dulu, ada sesuatu yang terkubur. Sesuatu yang bahkan Ayahmu tidak tahu, tapi Nenek tahu."

​Zeva teringat malam kebakaran sepuluh tahun lalu. Bau bensin yang menyengat, suara ledakan, dan tubuh ayahnya yang tertimbun reruntuhan besi. Selama ini ia mengira itu adalah kecelakaan kerja karena kebocoran gas. Namun, melihat denah ini, sebuah kecurigaan mengerikan mulai merayap di benaknya.

​"Kita harus ke sana," tegas Zeva. "Sekarang."

​"Zeva, tempat itu sudah jadi lahan kosong yang dipagari seng. Berbahaya kalau kita ke sana malam-malam tanpa pengawalan," cegat Adrian.

​"Kalau kita nunggu besok, Helena mungkin udah di sana bareng tukang gali. Gue nggak mau harta terakhir keluarga gue jatuh ke tangan dia," balas Zeva sambil menyambar jaket kulitnya

Mereka menempuh perjalanan menuju pinggiran kota, area industri tua yang kini tampak seperti kota hantu. Hujan mulai turun, gerimis tipis yang membuat udara terasa makin dingin. Begitu sampai di lokasi bekas bengkel Sanjaya, Zeva terpaku. Lahan itu kini ditumbuhi ilalang setinggi dada, menyembunyikan sisa-sisa tembok yang menghitam oleh jelaga.

​Adrian membawa senter berkekuatan tinggi, membelah kegelapan. Mereka melangkah melewati puing-puing beton yang licin. Zeva memimpin jalan, ingatannya tentang tata ruang bengkel itu seolah terpahat permanen di kepalanya.

​"Di sini," ujar Zeva, berhenti di sebuah titik di mana dulu berdiri ruang kantor kecil ayahnya. "Bokap selalu bilang kalau lantai di bawah meja kerjanya itu fondasi paling kuat karena dia sendiri yang ngecor pake semen mutu tinggi."

​Mereka mulai membersihkan ilalang dan tanah. Adrian, yang biasanya mengenakan sepatu kulit mengkilap, kini berlutut di tanah berlumpur, membantu Zeva mengikis lapisan tanah menggunakan linggis kecil. Setelah satu jam penggalian yang melelahkan, linggis Adrian menghantam sesuatu yang keras.

​Clang!

​Suara logam bertemu logam. Mereka saling berpandangan. Dengan sisa tenaga, mereka menyingkap sebuah pintu besi kecil yang sudah tertutup karat dan semen keras. Zeva memasukkan kunci kuno dari jurnal Nenek. Dengan bunyi krek yang memilukan, pintu itu terbuka.

Di dalam lubang sempit itu, terdapat sebuah kotak baja tahan api. Adrian mengangkatnya keluar. Begitu dibuka, isinya bukan tumpukan emas atau uang tunai. Di dalamnya terdapat sebuah map besar berisi dokumen saham asli Alfarezel Group dari era pendiriannya, serta sebuah buku catatan keuangan yang ditulis dengan tinta merah.

​Adrian membuka map saham tersebut dan seketika wajahnya memucat. "Zeva... ini... ini tidak mungkin."

​"Ada apa, Adrian?"

​"Saham ini... 40% kepemilikan Alfarezel Group ternyata bukan atas nama kakekku atau ayahku. Ini atas nama Hasan Sanjaya. Ayahmu."

​Zeva merasa dunianya seolah berputar. "Apa maksud lu? Bokap gue cuma mekanik yang dapet kontrak logistik dari Kakek Wijaya. Dia bukan pemilik saham."

​"Di sini tertulis jelas, Zeva," Adrian menunjuk dokumen yang ditandatangani oleh pendiri Alfarezel. "Ayahmu adalah mitra rahasia Kakek Wijaya. Dia yang mendesain seluruh alur distribusi logistik yang membuat Alfarezel jadi raksasa. Tapi lihat catatan di bawahnya... hak kelola saham ini diserahkan kepada Gunawan Alfarezel—ayahku—untuk 'dijaga' demi keselamatan keluarga Sanjaya."

​Zeva mengambil buku catatan tinta merah itu. Isinya adalah rekaman ancaman. Surat-surat gelap dari seorang wanita yang menuntut agar Hasan menyerahkan sahamnya atau "seluruh bengkelnya akan menjadi abu".

​"Helena," desis Zeva. Air mata amarah mulai mengalir di pipinya. "Dia membunuh Bokap gue. Dia ngebakar bengkel itu bukan buat ngehancurin bisnis, tapi buat ngilangin bukti kalau Bokap gue adalah pemilik sah dari hampir setengah kekayaan Alfarezel."

Tepat saat Zeva menyadari kebenaran itu, suara tepuk tangan pelan terdengar dari balik kegelapan ilalang.

​"Sangat mengesankan. Aku tidak menyangka insting 'anak jalanan'-mu sekuat itu, Zevanya."

​Helena muncul dari balik bayang-bayang sebuah truk tua yang berkarat. Ia tidak sendiri; ada tiga orang pria berbadan tegap di belakangnya, salah satunya memegang senjata api yang diarahkan tepat ke arah Adrian.

​"Tante Helena," suara Adrian terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Kau membunuh paman Hasan? Sahabat ayahku sendiri?"

​Helena tertawa dingin, suaranya seperti gesekan pisau di atas piring kaca. "Sahabat? Hasan itu parasit. Dia pikir dia bisa memiliki saham sebesar itu hanya karena dia pintar memperbaiki truk? Alfarezel butuh wajah yang elegan, bukan wajah yang penuh noda oli. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk mengamankan masa depan keluarga kita, Adrian."

​Helena melangkah maju, tangannya terjulur. "Berikan kotak itu padaku. Sekarang. Dan aku akan membiarkan kalian berdua pergi dari sini hidup-hidup. Kalian bisa hidup bahagia dengan sisa uang kontrak kalian, jauh dari Jakarta."

​Zeva memeluk kotak itu erat-erat. "Lu nggak cuma ngebunuh bokap gue, lu juga ngebunuh masa kecil gue, Helena. Lu ngebikin gue hidup di jalanan, kelaparan, dan hampir mati kedinginan sementara lu foya-foya pake uang yang harusnya milik keluarga gue."

​"Hidup itu keras, Sayang. Kau harusnya berterima kasih karena penderitaan itu membuatmu jadi wanita yang tangguh, kan?" ujar Helena tanpa dosa. "Sekarang, berikan kotaknya!"

Zeva melirik Adrian. Mereka sudah terlalu sering berkomunikasi tanpa kata-kata. Adrian memberikan anggukan mikro.

​"Lu mau kotak ini?" tanya Zeva, suaranya mendadak tenang. "Ambil aja."

​Zeva melemparkan kotak baja itu ke arah Helena. Namun, ia tidak melemparkannya dengan pelan. Ia melemparkannya dengan tenaga penuh ke arah lampu senter yang dibawa salah satu anak buah Helena.

​PRANG!

​Keadaan mendadak gelap total. "Lari, Adrian!" teriak Zeva.

​Zeva tidak lari menjauh. Ia justru merunduk dan menyapu kaki pria bersenjata di dekatnya. Sebagai anak jalanan yang terbiasa berkelahi demi sesuap nasi, Zeva tahu bahwa dalam kegelapan, insting adalah segalanya. Ia menggunakan linggis kecilnya untuk melumpuhkan lawan dalam hitungan detik.

​Adrian, di sisi lain, menggunakan keunggulan fisiknya untuk menahan pria lainnya. Perkelahian terjadi di tengah reruntuhan yang becek. Suara tembakan meletus sekali, memecah kesunyian malam, namun pelurunya hanya mengenai dinding beton tua.

​Zeva berhasil meraih kembali kotak baja itu dan menarik Adrian ke arah mobil mereka. Namun, Helena tidak menyerah. Ia mengejar dengan wajah yang penuh kebencian.

​"Kau tidak akan pernah keluar dari sini dengan dokumen itu!" teriak Helena.

​Tiba-tiba, lampu sorot dari puluhan mobil polisi dan mobil keamanan Alfarezel mengepung lahan kosong tersebut. Siska muncul dari salah satu mobil, diikuti oleh Kakek Wijaya yang duduk di kursi roda, wajahnya tampak sangat hancur melihat menantunya sendiri berada di sana.

​"Cukup, Helena," suara Kakek Wijaya menggelegar melalui pengeras suara. "Aku sudah mendengar semuanya melalui penyadap yang dipasang Zeva di jurnal itu sebelum kalian berangkat."

​Helena jatuh terduduk di atas lumpur. Topeng keanggunannya hancur total. Ia menyadari bahwa permainannya benar-benar berakhir.

​Di bawah guyuran hujan yang makin deras, Kakek Wijaya menghampiri Zeva dan Adrian. Ia menatap Zeva dengan tatapan penuh rasa bersalah yang mendalam.

​"Zeva... maafkan aku. Aku terlalu buta untuk melihat apa yang terjadi di bawah hidungku sendiri. Hasan adalah saudaraku, dan aku membiarkannya mati di tangan ular ini," ujar Kakek dengan suara bergetar.

​Zeva memegang tangan Kakek. Ia tidak merasa dendam pada orang tua itu, namun ia merasa lega. "Keadilan emang telat dateng, Kek. Tapi seenggaknya sekarang Bokap gue bisa istirahat dengan tenang."

​Adrian merangkul bahu Zeva. "Kakek, saham itu... apa yang akan kita lakukan?"

​Kakek Wijaya menatap Zeva dengan bangga. "Saham itu bukan milik Alfarezel lagi. Itu milik ahli waris Hasan Sanjaya. Zeva, kau adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ini sekarang. Kau bukan lagi hanya istri dari CEO-ku. Kau adalah pemilik kerajaan ini."

​Zeva menggeleng pelan. "Gue nggak butuh saham itu buat ngerasa berharga, Kek. Tapi gue bakal pake itu buat pastiin nggak ada lagi orang kayak Helena yang bisa ngerusak hidup orang lain demi uang."

Malam itu berakhir di kantor polisi, di mana Helena dan anak buahnya diproses secara hukum. Namun, bagi Zeva dan Adrian, perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.

​Kembali ke apartemen, mereka duduk di balkon, menatap jurnal Nenek yang kini sudah terbuka seluruh rahasianya. Zeva menyadari bahwa skandal jurnal nenek bukan hanya soal harta, tapi soal pemulihan nama baik dan martabat.

​"Adrian," panggil Zeva.

​"Ya?"

​"Besok, temenin gue ke makam Bokap ya? Gue mau kasih tahu dia kalau bengkelnya... warisannya... udah balik ke tangan yang bener."

​Adrian mengecup puncak kepala Zeva. "Tentu. Dan setelah itu, kita punya perusahaan yang harus kita urus bersama. Nona Pemegang Saham."

​Zeva tersenyum, namun matanya menatap tajam ke arah cakrawala. Ia tahu, dengan kekuasaan baru ini, musuh yang akan datang akan jauh lebih berbahaya daripada Helena. Namun, selama ia memiliki Adrian dan kejujuran dari masa lalunya, ia siap menghadapi badai apa pun.

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!