Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arwah Bawah Tanah
Suara itu tidak keras, tetapi jelas. Sangat jelas.
Endric langsung menegang. Matanya menatap tangannya sendiri, tepat pada bekas hitam yang masih bergerak pelan di bawah kulit. Garis itu seperti urat, tetapi terlalu hidup untuk disebut bagian tubuh biasa.
“Ndhul,” bisiknya.
“Iya.”
“Lo denger?”
Gandhul menggeleng. “Denger apa?”
Endric menelan ludah. “Suara.”
Gandhul langsung mendekat. “Dari mana?”
Endric mengangkat tangannya perlahan. “Dari sini.”
Beberapa detik hening. Gandhul menatap bekas hitam itu lebih serius dari sebelumnya.
“Coba ngomong lagi,” katanya pelan.
Endric mengernyit. “Ngomong ke siapa?”
“Ke situ.”
Endric menatap tangannya. Ia ragu, tetapi perlahan membuka mulut. “Lo siapa?”
Sunyi. Tidak ada jawaban. Endric menghela napas.
“Gue mulai halu.”
Namun saat ia hendak menurunkan tangan, garis hitam itu bergerak lagi, lebih cepat, seolah merespons.
“Kamu dengar,” bisik suara itu.
Endric langsung membeku. “ANJIR.”
Gandhul menatapnya. “Apa?”
Endric menelan ludah. “Dia jawab.”
“Siapa?”
“Yang di tangan gue!”
Gandhul langsung mendekat lagi. “Dia bilang apa?”
Endric menatap tangannya. “Dia bilang gue dengar.”
Gandhul diam beberapa detik, lalu berkata pelan. “Berarti lo udah dua arah sekarang.”
Endric mengernyit. “Dua arah apaan?”
“Bukan cuma mereka yang manggil lo. Sekarang lo juga bisa dengar balik.”
Endric langsung merasa tidak nyaman. “Gue ndak mau upgrade ini.”
Gandhul mengangkat bahu. “Gratis.”
Endric mendecak. “Gue pengen downgrade.”
Mereka masih berdiri di halaman balai desa yang mulai kosong. Sisa warga sudah menghilang, tetapi suasana tidak kembali normal. Lebih seperti sesuatu baru saja terjadi dan belum benar-benar selesai.
“Balik rumah,” kata Gandhul.
Endric mengangguk cepat. “Setuju.”
Mereka berjalan pulang. Namun langkah Endric tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ia beberapa kali melirik tangannya. Bekas hitam itu tidak diam, bergerak pelan, seolah sesuatu sedang mencoba mencari jalan.
“Lo ngapain di situ?” gumamnya.
Tidak ada jawaban, tetapi rasa itu tetap ada, seperti ada yang memperhatikan dari dalam.
“Ndhul,” katanya pelan.
“Iya.”
“Kalau gini terus gue bisa dikontrol ndak?”
Gandhul berpikir sebentar. “Bisa.”
Endric langsung berhenti. “Serius?”
“Iya.”
“Terus lo santai aja?!”
“Kan belum tentu sekarang.”
Endric menghela napas panjang. “Gue butuh jawaban yang lebih menenangkan.”
“Ndak ada.”
Endric melanjutkan jalan dengan langkah lebih cepat. Beberapa rumah yang mereka lewati tampak gelap, tanpa lampu dan suara. Namun Endric merasa seperti ada mata yang mengawasi dari balik jendela.
“Ini desa kalau malam bener-bener ndak sehat,” gumamnya.
“Makanya gue bilang jangan keluar malam,” jawab Gandhul.
“Gue dipaksa keluar!”
“Iya juga.”
Mereka sampai di rumah. Endric langsung masuk, menutup pintu, lalu menguncinya. Ia menambahkan kursi penahan seperti biasa.
“Lo tahu ini ndak ngaruh, kan?” tanya Gandhul.
“Gue tahu, tapi gue butuh ilusi aman.”
Gandhul mengangguk. “Valid.”
Endric berjalan ke meja, duduk, lalu menatap tangannya lagi.
“Lo masih di situ?” katanya pelan.
Beberapa detik tidak ada jawaban. Lalu garis itu bergerak lebih jelas.
“Aku di sini,” bisiknya.
Endric langsung memukul meja.
“WOI!”
Gandhul kaget.
“Kenapa?!”
“Dia ngomong lagi!”
“Dia bilang apa?”
Endric menatap tangannya. “Dia bilang dia di sini.”
Gandhul mengangguk pelan. “Ya emang.”
Endric menatapnya kesal. “Lo ndak kaget?”
“Gue lebih kaget kalau dia diem.”
Endric menghela napas panjang. “Oke. Kita komunikasi.”
Gandhul mengangkat alis. “Serius?”
“Daripada dia tiba-tiba takeover, mending gue kenal dulu.”
Gandhul tersenyum. “Gue suka gaya lo.”
Endric menatap tangannya lagi. “Lo siapa?” tanyanya.
“Yang tersisa.”
Endric mengernyit. “Apaan dah maksudnya?”
“Yang ndak dipilih.”
Endric langsung membeku. Gandhul juga diam.
“Lo salah satu dari yang gagal?” tanya Endric pelan.
Garis itu bergerak. “Banyak.”
Endric menelan ludah.
“Banyak?”
“Kami.”
Endric menarik napas pelan. “Jadi lo bukan satu?”
“Ndak.”
Endric langsung menatap Gandhul. “Tubuh gue sekarang jadi kosan massal.”
Gandhul hampir tertawa. “Kayaknya iya.”
“Gue ndak setuju.” Endric kembali fokus. “Lo mau apa dari gue?”
“Keluar.”
Endric mengernyit.
“Keluar ke mana?”
“Atas.”
Endric langsung tidak nyaman.
“Ndak. Stop. Lo ndak boleh keluar.”
Garis itu bergerak lebih cepat.
“Kami lama di bawah.”
Endric menggigit bibir. “Gue ngerti. Tapi lo keluar lewat gue, gue mati.”
“Ndak.”
Endric langsung menatapnya. “Ndak apa?”
“Kalau sama-sama.”
Endric langsung berdiri. “Ndak ada sama-sama!”
Gandhul langsung menenangkan. “Pelan, rek.”
Endric menghela napas kasar. “Gue ndak mau jadi jalan keluar kalian.”
Garis itu berhenti bergerak. Sunyi beberapa detik. “Kami bantu.”
Endric mengernyit.
“Bantu apaan?”
“Ndak dipilih.”
Endric langsung diam. Gandhul menoleh. “Menarik.”
Endric menatap tangannya. “Lo bisa bantu gue biar ndak dipilih?”
“Bisa.”
Endric menelan ludah. “Gimana caranya?”
Garis itu bergerak perlahan, seolah berpikir. “Kami tarik yang lain.”
Endric langsung membeku. “Maksud lo?”
Gandhul menjawab pelan. “Mereka bisa ganggu pilihan.”
Endric menatapnya. “Jadi mereka bisa bikin orang lain yang dipilih?”
Gandhul mengangguk. “Kurang lebih.”
Endric langsung menggeleng. “Gue ndak mau.”
Gandhul menatapnya. “Kenapa?”
“Karena itu artinya gue nyelamatin diri gue dengan ngorbanin orang lain.”
Sunyi. Gandhul tidak langsung menjawab. Garis di tangan Endric juga diam.
“Kamu sudah di sini,” bisiknya.
Endric menutup mata. Ia tahu maksudnya. Di desa ini, logika biasa tidak berlaku.
“Gue tetap ndak mau,” katanya pelan.
Garis itu bergerak lagi, lebih pelan. “Bodoh.”
Endric membuka mata, langsung kesal.
“WOI!”
Gandhul tertawa. “Dia jujur.”
Endric menghela napas panjang. “Gue ndak peduli.”
Ia duduk kembali, menatap tangannya. “Kalau lo mau bantu gue, bantu gue tanpa ngorbanin orang lain.”
Sunyi.
“Cari yang memilih.”
Endric langsung fokus.
“Yang milih? Maksud lo yang tua itu?”
Garis itu bergerak. “Bukan dia.”
Endric membeku. “Hah?”
Gandhul langsung menatapnya. “Rek, itu penting.”
Endric menelan ludah. “Kalau bukan dia, terus siapa?”
Garis itu bergerak lebih cepat, seolah berusaha menjawab sejelas mungkin.
“Yang di bawah.”
Tiba-tiba lampu rumah berkedip sekali, dua kali, lalu mati total. Endric langsung menegang.
“Mulai lagi...”
Gandhul berdiri. Suaranya berubah serius. “Ini beda.”
Dari bawah lantai terdengar suara, bukan ketukan, melainkan seperti banyak tangan yang menggesek serempak. Suara itu mendekat, semakin keras, semakin ramai.
Endric langsung mundur.
“Ndhul.”
“Iya.”
“Ini banyak banget.”
Gandhul menatap lantai kayu yang mulai bergetar pelan.
“Kayaknya...”
Ia berhenti sejenak, menatap Endric dengan mata terbelalak.
“yang di dalam lo lagi dipanggil balik.”