"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Retak
Senin pagi di Jakarta selalu memiliki aroma yang sama: campuran antara aspal basah sisa hujan semalam, asap knalpot yang menyesakkan dari arah Gatot Subroto, dan kecemasan kolektif ribuan pekerja yang berpacu dengan waktu. Namun bagi mereka yang bekerja di lantai lima belas gedung pencakar langit SCBD, Senin pagi seringkali dimulai dengan keheningan yang artifisial, dipecah hanya oleh dengung mesin pendingin ruangan dan denting halus lift yang terbuka.
Aku berdiri di depan cermin toilet kantor, menatap pantulan wanita yang mengenakan setelan blazer berwarna sand-beige. Riasanku sempurna, setidaknya untuk mata yang tidak jeli. Namun, aku bisa melihat ada retakan kecil di balik binar mataku—sebuah kelelahan yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan kafein.
Tujuh tahun.
Selama itu aku telah menjadi bayangan yang paling setia. Aku yang memastikan laporan audit Kaivan tidak memiliki celah, aku yang mengatur jadwal pertemuannya agar ia tetap terlihat sebagai analis bintang, dan aku pula yang selalu ada untuk mendengarkan keluh kesahnya saat dunianya terasa tidak adil. Selama tujuh tahun, aku bangga menjadi orang yang paling mengenal Kaivan. Namun pagi ini, pengetahuan itu terasa seperti beban yang ingin kulepaskan.
Aku melangkah keluar dari toilet dan berjalan menuju kubikel divisi riset. Dari kejauhan, aku bisa melihat Kaivan sudah duduk di mejanya. Ia terlihat sedang sibuk dengan ponselnya, sebuah pemandangan yang mulai menjadi permanen sejak tiga hari yang lalu.
"Pagi, Rel," sapanya tanpa mendongak. Suaranya terdengar ceria, namun ada nada terdistraksi yang sangat kentara.
"Pagi," jawabku pendek. Aku duduk di kursiku, meletakkan tas, dan mulai menyalakan komputer.
Biasanya, pukul delapan tepat, aku akan berjalan ke pantri untuk menyeduh dua cup kopi—satu untukku, dan satu untuknya dengan takaran gula yang sangat spesifik. Tapi pagi ini, aku hanya duduk diam. Aku membiarkan tanganku sibuk membuka dokumen riset pasar yang harus diselesaikan sore ini.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit.
Kaivan akhirnya mendongak. Ia melirik ke arah sudut mejanya yang kosong, tempat di mana biasanya kepulan uap kopi robusta menyambutnya. Ia kemudian menoleh padaku, keningnya berkerut kecil.
"Kopinya habis, Rel?" tanyanya, suaranya mengandung nada kebingungan yang hampir terdengar seperti protes anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Aku nggak ke pantri tadi. Langsung banyak kerjaan," kataku tanpa menoleh dari layar monitor.
"Oh... oke. Nggak apa-apa. Aku bikin sendiri saja kalau begitu." Ia tertawa pendek, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa kaku. Namun, ia tidak segera beranjak. Ia justru kembali fokus pada ponselnya, mengetik sesuatu dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
Aku bisa merasakan dadaku sedikit sesak. Siapa yang sedang ia kirimi pesan sepagi ini? Apakah Nadine sudah bangun? Apakah ia sedang merencanakan sesuatu untuk nanti malam?
Ponselku sendiri bergetar. Sebuah pesan dari Maya.
Maya: "Rel, lu lihat meja si Kaivan nggak? Tadi pagi dia bawa mawar satu tangkai, tapi sekarang sudah hilang. Lu tahu siapa yang dikasih?"
Aku melirik sekilas ke arah meja Kaivan. Benar, ada sisa kelopak bunga kecil di dekat tempat sampahnya. Hatiku mencelos. Ia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya dengan baik. Atau mungkin, ia memang tidak merasa perlu menyembunyikannya dariku karena ia menganggap aku tidak akan keberatan. Karena aku adalah "sahabatnya".
"Rel," panggil Kaivan lagi. Kali ini ia sudah berdiri, memegang mug kosongnya. "Nanti jam makan siang temani aku sebentar, ya? Ada dokumen yang harus aku antar ke daerah Menteng. Katanya ada kafe baru di sana yang enak, kita bisa sekalian makan di sana."
Menteng. Daerah tempat tinggal Nadine.
"Aku nggak bisa, Van. Pak Dimas minta laporan proyek Adhitama ini selesai sebelum jam satu. Kamu antar sendiri saja," jawabku, tetap dengan nada datar yang kupaksakan.
Kaivan terdiam sejenak. Ia berjalan mendekati kubikelku, menopang lengannya di pembatas kayu yang memisahkan dunia kami. "Tumben banget. Biasanya kamu yang paling semangat kalau aku ajak cari tempat baru. Ada masalah? Kamu marah soal kemarin?"
Aku mendongak, menatap langsung ke dalam matanya yang berwarna cokelat gelap—mata yang selama ini kujadikan pusat duniaku. "Marah soal apa, Van? Soal kamu yang jemput 'kakakmu'?"
Kaivan tersentak. Ia tahu aku tahu. Ia mengusap tengkuknya dengan canggung, sebuah gestur pertahanan yang selalu ia lakukan saat tertangkap basah. "Rel, dengerin aku dulu. Nadine baru balik. Dia benar-benar nggak tahu jalan di Jakarta sekarang. Dia sendirian di sini..."
"Dia nggak sendirian, Kaivan. Dia punya kamu," potongku tajam. "Dan aku nggak marah. Aku cuma sadar kalau selama ini aku terlalu sering membiarkan pekerjaanku terbengkalai karena mengurusi urusanmu. Sekarang aku cuma mau fokus."
"Bukan begitu maksudku, Rel. Kita kan satu paket. Pekerjaanku ya pekerjaanmu juga. Kita sukses bareng-bareng, kan?" Kaivan mencoba menggunakan narasi 'paket' yang selama ini menjadi pengikatku.
"Paket itu sudah rusak, Van. Isinya sudah bocor," kataku pelan.
Suasana di kantor mulai ramai. Rekan-rekan kerja yang lain mulai berdatangan. Maya lewat di belakang kami, memberikan lirikan penuh arti yang seolah berkata, 'Hajar terus, Rel.'
Kaivan mengembuskan napas panjang. Ia tampak tidak puas dengan jawabanku, namun ia tidak bisa mendebat lebih jauh karena Pak Dimas baru saja keluar dari ruangannya.
"Kaivan, Arelia! Masuk sebentar," perintah Pak Dimas.
Kami berdua berjalan masuk ke ruangan yang beraroma cerutu dan kayu mahoni tersebut. Pak Dimas adalah tipikal atasan yang menghargai efisiensi di atas segalanya. Beliau menatap kami berdua dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung.
"Proyek Adhitama ini adalah pertaruhan besar kita kuartal ini," Pak Dimas memulai, sambil mengetuk-ngetukkan pena ke atas meja. "Bastian Adhitama bukan klien yang mudah puas. Saya dengar dari bagian operasional, draf awal kita masih ada bolong di bagian analisis risiko. Kaivan, saya minta kamu yang handle bagian itu secara personal. Dan Arelia, kamu pastikan audit keuangannya presisi."
"Siap, Pak," jawab kami hampir serempak.
"Satu lagi," Pak Dimas menatap Kaivan dengan tajam. "Jangan sampai urusan pribadi mengganggu fokus. Saya dengar kamu sering keluar kantor di jam kerja belakangan ini. Perusahaan membayar kamu untuk duduk di meja itu, bukan menjadi supir pribadi."
Wajah Kaivan memucat. Ia melirikku sekilas, mungkin mengira aku yang melapor. Padahal, di kantor dengan dinding kaca seperti ini, tidak ada rahasia yang benar-benar bisa disimpan.
Keluar dari ruangan Pak Dimas, Kaivan mencekal lenganku di lorong yang sepi.
"Kamu yang bilang ke Pak Dimas?" bisiknya dengan nada menuduh.
Aku melepaskan tangannya dengan gerakan yang tegas. "Kamu pikir aku punya waktu untuk mengurusi gosip? Kamu sendiri yang terlalu ceroboh, Kaivan. Kamu meninggalkan meja saat ada rapat koordinasi kemarin sore hanya untuk menjemput Nadine yang katanya 'tersesat' di mal. Semua orang melihat itu."
Kaivan terdiam. Amarahnya perlahan digantikan oleh rasa malu. "Aku cuma mau bantu, Rel."
"Bantu siapa, Van? Bantu dia atau bantu memuaskan kebutuhanmu untuk merasa dibutuhkan olehnya?" aku menatapnya dengan rasa kasihan yang mendalam. "Selama tujuh tahun aku ada di sini, membantu setiap harimu, pernah nggak kamu sekhawatir itu saat aku pulang larut malam sendirian?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Kaivan tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab, karena jawabannya adalah tidak. Ia selalu menganggap aku kuat, ia selalu menganggap aku sanggup, ia selalu menganggap aku akan selalu ada—tidak peduli seberapa buruk ia memperlakukanku.
"Aku mau kerja," kataku singkat, meninggalkan Kaivan yang masih mematung di koridor.
Sepanjang sisa hari itu, aku menenggelamkan diri dalam angka-angka. Aku menolak setiap ajakan bicara dari Kaivan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Saat jam makan siang tiba, aku melihatnya pergi terburu-buru, membawa tasnya. Aku tahu ke mana ia pergi. Ia lebih memilih mendapat teguran kedua dari Pak Dimas daripada membiarkan Nadine menunggu.
Maya menghampiriku, membawakan sekotak salad. "Makan, Rel. Jangan disiksa perutnya gara-gara cowok nggak jelas itu."
"Aku nggak apa-apa, May," kataku sambil mulai mengunyah tanpa selera.
"Lu tahu nggak, Rel? Tadi gue nggak sengaja lihat layar komputernya si Kaivan pas dia lagi buka email asuransi. Dia lagi daftarin polis asuransi kesehatan atas nama Nadine. Dan tebak siapa yang jadi penanggungnya? Dia, Rel. Dia pakai nama dia sendiri sebagai keluarga."
Garpuku terhenti di udara. Rasa sakit yang tajam menusuk dadaku. Selama tujuh tahun, kami tidak pernah memiliki komitmen formal apa pun. Kami hanya "nyaris". Namun bagi Nadine, Kaivan tidak butuh waktu lama untuk memberikan komitmen finansial dan legal seperti itu.
"Dia benar-benar sudah pergi ya, May?" bisikku. Suaraku terdengar sangat rapuh, sangat hancur.
Maya memegang tanganku, meremasnya kuat. "Bukan dia yang pergi, Rel. Lu yang harus pergi. Lu harus sadar kalau lu pantas mendapatkan yang lebih dari sekadar jadi 'pilihan kedua' saat dia capek."
Malam itu, aku pulang paling terakhir. Aku sengaja menunggu hingga kantor benar-benar sepi. Aku menatap meja Kaivan yang berantakan—sebuah kontras dengan mejaku yang selalu rapi. Aku melihat sebuah foto lama kami yang terselip di bawah tatakan gelasnya. Foto saat kami baru saja wisuda, tertawa lebar dengan toga yang miring.
Dulu, aku melihat foto itu sebagai janji masa depan. Sekarang, aku hanya melihatnya sebagai kenangan tentang dua orang asing yang pernah saling mengenal.
Aku mengambil tas kerjaku, berjalan keluar menuju lobi. Jakarta malam ini sedang hujan deras. Aku berdiri di depan lobi, menunggu taksi online-ku datang.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depanku. Bukan mobil Kaivan.
Kaca jendela belakang turun perlahan, memperlihatkan sosok pria yang sangat berwibawa dengan rahang yang tegas. Bastian Adhitama.
"Arelia? Belum pulang?" tanyanya. Suaranya berat dan tenang, memberikan kontras yang aneh dengan hiruk pikuk hujan di sekitarku.
"Sedang menunggu taksi, Pak," jawabku seprofesional mungkin.
"Taksi akan sulit di cuaca seperti ini. Mari, saya antar. Ada beberapa hal soal audit yang ingin saya tanyakan langsung pada ahlinya," ucap Bastian dengan nada yang tidak menerima penolakan, namun tetap terasa sangat sopan.
Aku ragu sejenak, lalu teringat pada Kaivan yang mungkin sedang makan malam romantis di Menteng saat ini. Aku mengangguk. "Terima kasih, Pak Bastian."
Aku masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Wangi interior mobil ini—aroma kulit mahal dan citrus yang segar—terasa sangat berbeda dengan mobil Kaivan. Saat mobil mulai melaju membelah kemacetan Sudirman, aku menatap ke luar jendela.
Retakan itu kini benar-benar sudah menjadi jurang. Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku tidak lagi merasa takut untuk jatuh. Karena mungkin, di balik jurang itu, ada jalan yang lebih indah yang sedang menungguku.
Nyaris jadi kita. Kalimat itu perlahan mulai kehilangan kekuatannya di kepalaku. Karena mulai malam ini, aku belajar bahwa "kita" tidak akan pernah ada jika hanya aku yang berjuang membangunnya.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain