NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara Dari Kedalaman Jiwa

Episode 7

Aku berhenti di tepian rawa yang mulai mengeras menjadi daratan pasir yang dipenuhi oleh serpihan tulang tajam. Kaki baruku yang sudah memiliki otot betis serta telapak kaki yang kokoh terasa sangat luar biasa saat menapak di tanah yang stabil. Aku menunduk melihat ke bawah memperhatikan bagaimana kulit abu abuku yang kasar mulai menyelimuti seluruh bagian kaki hingga ke ujung jari jari kaki yang kini sudah tidak lagi terlihat seperti susunan kalsium kaku. Aku mencoba menggerakkan jari jari kakiku satu per satu. Rasanya sangat fleksibel seolah olah setiap sendi di sana telah dilumasi oleh esensi iblis yang sangat murni.

Kekuatan ini benar benar nyata. Di Bumi aku butuh latihan bertahun tahun hanya untuk memiliki ketahanan kaki seperti ini namun di Gehenna semuanya tentang siapa yang kau mangsa. Tapi aku merasa masih ada yang kurang. Tubuhku sudah mulai lengkap namun suaraku masih terdengar seperti gesekan batu yang pecah.

Aku mencoba berdeham meskipun aku tidak memiliki tenggorokan yang sempurna. Suara yang keluar hanyalah desisan udara yang sangat parau serta menyakitkan di telingaku sendiri. Aku memegang leherku yang masih berupa tulang vertebra putih yang terekspos jelas. Hanya ada beberapa serat otot tipis yang melilit di sana hasil dari evolusi sebelumnya namun itu belum cukup untuk membentuk pita suara yang bisa berbicara dengan jelas seperti manusia.

"Kenapa kau memegangi lehermu Goma. Apakah kau merasa ada tulang yang bergeser setelah melakukan lompatan hebat tadi."

Kharis terbang mendekat kemudian hinggap di sebuah dahan tulang yang mencuat dari tanah. Ia menatapku dengan tatapan penasaran.

"Aku butuh suara Kharis. Aku lelah berbicara dengan cara seperti ini. Aku ingin memiliki suara yang bisa kudengar sendiri tanpa rasa sakit. Aku ingin bisa memanggil nama Ibu Widya dengan benar jika suatu saat nanti aku berhasil kembali ke rumah."

Kharis terdiam sejenak. Ia tampak memahami rasa rindu yang tersirat dari getaran jiwaku. "Suara ya. Itu artinya kau butuh organ pernapasan serta jaringan pita suara yang kompleks. Di wilayah ini hanya ada satu mahluk yang memiliki sistem suara yang bagus meskipun suaranya sangat mematikan bagi siapa pun yang mendengarnya."

"Sebutkan namanya Kharis. Aku akan memburunya."

"Mahluk itu disebut Shrieking Bat Demon. Mereka tinggal di gua gua gantung yang ada di tebing tebing tulang di depan sana. Mereka menggunakan gelombang suara untuk melihat di dalam kegelapan serta untuk menghancurkan tulang mangsa mereka dari jarak jauh."

Aku menatap ke arah depan di mana tebing tebing batu hitam yang menjulang tinggi mulai terlihat di balik kabut. Sebagai pendaki tebing ini adalah wilayahku. Jika mahluk itu tinggal di ketinggian maka itu adalah keuntungan bagiku. Aku akan menggunakan seluruh kemampuan daki tebingku untuk mencapai sarang mereka.

[ SISTEM: ANALISIS LINGKUNGAN SELESAI ]

[ SISTEM: TUJUAN BARU TERDETEKSI: TEBING RATAPAN (WEEPING CLIFFS) ]

[ SISTEM: ESTIMASI JARAK: 500 METER ]

[ SISTEM: SARAN: PERKUAT JARINGAN SARAF PADA LEHER UNTUK MENAHAN GETARAN SUARA TINGGI ]

Tebing Ratapan. Nama yang sangat cocok untuk tempat yang penuh dengan mahluk penghasil suara mengerikan.

Aku mulai berjalan menuju tebing tersebut. Setiap langkah yang kuambil kini terasa lebih ringan berkat kekuatan betis baruku. Aku mencoba melakukan lari kecil di atas pasir abu abu.

Wusss.

Kecepatan ku meningkat drastis. Angin neraka berdesir di antara rusuk rusukku yang kini sudah tertutup otot dada yang padat. Aku merasa jauh lebih hidup daripada sebelumnya. Namun saat aku berlari aku menyadari satu hal. Aku tidak bisa mengatur nafasku karena aku memang tidak bernapas. Aku hanya mengandalkan energi jiwa untuk menggerakkan daging ini. Ini sangat berbeda dengan saat aku mendaki gunung di Bumi di mana ritme napas adalah segalanya untuk menjaga stamina.

"Kharis apakah mahluk yang kau sebutkan tadi juga memiliki organ paru paru."

"Tentu saja Goma. Mereka butuh kantong udara yang besar untuk menghasilkan jeritan yang sangat kuat. Jika kau berhasil memangsa mereka kau tidak hanya akan mendapatkan suara namun kau juga akan mendapatkan sistem pernapasan pertama dalam tubuhmu."

Mendengar hal itu semangatku semakin membara. Aku mempercepat langkahku hingga aku sampai di kaki tebing yang sangat curam. Tebing ini tidak terbuat dari batu biasa melainkan dari tumpukan tulang raksasa yang telah membatu selama jutaan tahun. Permukaannya sangat kasar serta penuh dengan celah celah kecil yang sangat sempurna sebagai tumpuan tangan dan kaki.

"Diam di sini Kharis. Aku akan naik sendirian. Cahaya dari matamu mungkin akan memancing mereka untuk menyerang secara bersamaan."

"Baiklah Tuan Pendaki. Berhati hatilah. Jika kau mendengar suara siulan kecil segera tutup lubang telingamu atau jiwamu akan meledak."

Aku mulai memanjat. Tangan kananku yang berotot mencengkeram sebuah tonjolan tulang dengan sangat kuat. Aku menggunakan kaki baruku untuk menekan celah sempit di permukaan tebing.

Satu tarikan satu dorongan. Pindahkan berat badan ke pinggul. Jaga keseimbangan.

Aku bergerak seperti seekor kadal yang merayap di dinding. Otot perutku yang kuat memungkinkanku untuk menempel pada dinding tebing dalam posisi yang sangat ekstrem tanpa merasa lelah. Aku merindukan perasaan ini. Perasaan saat kau hanya mengandalkan kekuatan jarimu untuk bertahan hidup di atas ketinggian ratusan meter.

Tiba tiba aku mendengar suara kepakan sayap yang sangat cepat di atasku.

Kepak kepak kepak.

Sesosok mahluk dengan sayap selaput yang lebar meluncur turun dari sebuah lubang gua. Ia memiliki kepala yang hampir seluruhnya terdiri dari telinga besar serta mulut yang lebar dengan deretan gigi yang menyerupai jarum. Itulah Shrieking Bat.

"Sssiiiiiiieeeeeee!"

Mahluk itu mengeluarkan suara siulan yang sangat tajam. Aku merasakan getaran yang sangat kuat menghantam tulang tengkorak ku. Rasanya seolah olah ada ribuan palu kecil yang sedang mencoba memecahkan kalsium di kepalaku.

[ SISTEM: PERINGATAN GELOMBANG SONIK TERDETEKSI ]

[ SISTEM: INTEGRITAS TENGKORAK MENURUN 5 % ]

[ SISTEM: AKTIFKAN MODE PERTAHANAN JIWA ]

Aku segera menusukkan belati kristalku ke celah tebing agar tidak jatuh. Aku menahan rasa sakit di kepalaku dengan memfokuskan seluruh energi jiwaku ke arah pusat kesadaran. Mahluk itu kembali berputar di udara bersiap untuk melakukan serangan kedua.

"Kau tidak akan mendapatkan kesempatan kedua mahluk kecil."

Aku menunggu saat mahluk itu melesat mendekat untuk menggigit leherku. Saat ia hanya berjarak satu meter dariku aku menggunakan tangan kiriku untuk menangkap salah satu sayapnya dengan sangat kasar.

Grep.

Aku menarik mahluk itu ke arahku kemudian menghantamkan kepalanya ke dinding tebing yang keras.

Brak.

Mahluk itu pusing sejenak namun ia mencoba menggigit lenganku. Aku segera menggunakan tangan kananku untuk mencengkeram lehernya kemudian meremasnya dengan sekuat tenaga. Aku merasakan adanya struktur tulang rawan yang sangat kompleks di dalam leher mahluk ini.

"Ini yang aku cari."

Aku tidak menunggu mahluk itu mati sepenuhnya. Aku langsung menggigit bagian leher mahluk itu kemudian menghisap esensi kehidupan yang ada di dalamnya. Cairan esensi ini terasa sangat ringan serta sejuk seperti udara gunung yang murni. Begitu masuk ke dalam kerongkonganku cairan itu mulai bekerja dengan sangat cepat.

[ SISTEM: MENGONSUMSI SHRIEKING BAT ESSENCE ]

[ SISTEM: MEMULAI PEMBENTUKAN LARYNX DAN PITA SUARA ]

[ SISTEM: PEMBENTUKAN KANTONG UDARA (PARU PARU SEMU) SEDANG BERJALAN ]

Aku merasakan sensasi seperti ada ribuan benang sutra yang sedang ditenun di dalam leherku. Rasa gatalnya luar biasa namun aku tetap bertahan bergantung di dinding tebing. Aku bisa merasakan bagaimana jaringan otot halus mulai membungkus tulang belakang leherku menciptakan sebuah struktur saluran yang sempurna. Tak hanya itu di dalam rongga dadaku mulai muncul dua buah gumpalan daging yang lembut serta elastis yang mulai berdenyut secara ritmis.

"Hah... hah..."

Secara otomatis aku mengambil napas untuk pertama kalinya. Meskipun udara di Gehenna ini sangat bau dan panas namun sensasi bisa menghirup udara masuk ke dalam dada adalah keajaiban yang tak ternilai bagi jiwaku.

[ SISTEM: EVOLUSI AREA LEHER DAN DADA DALAM SELESAI ]

[ SISTEM: ANDA SEKARANG MEMILIKI KEMAMPUAN PERNAPASAN DAN SUARA ]

[ SISTEM: SINKRONISASI JIWA MENINGKAT 20 % ]

Aku mencoba untuk berbicara. Aku memfokuskan energi jiwaku ke arah leher yang baru saja berdaging lengkap dengan kulit yang halus.

"Tes... tes... satu... dua..."

Suaraku terdengar sangat jernih. Itu adalah suara seorang pria muda yang penuh dengan kekuatan. Tidak ada lagi suara gesekan batu atau desisan parau. Ini adalah suaraku yang asli suara Goma sang pendaki.

"Aku... aku bisa bicara lagi," ucapku dengan rasa haru yang mendalam.

Aku menatap ke arah langit ungu di atas tebing. Sekarang aku tidak hanya bisa bergerak seperti manusia namun aku juga bisa berbicara serta bernapas seperti manusia meskipun yang ku hirup adalah energi neraka. Perasaan ini membuatku semakin yakin bahwa aku tidak akan selamanya menjadi iblis. Aku akan merebut kembali kemanusiaanku sepotong demi sepotong.

"Dewa dengarkan suaraku ini," teriakku ke arah langit dengan suara yang sangat lantang. Gema suaraku memantul di dinding tebing membuat beberapa Shrieking Bat lainnya ketakutan serta terbang menjauh. "Suara ini akan menjadi lagu kematian bagi kalian saat aku sampai di atas sana nanti."

Aku melanjutkan pendakianku menuju puncak tebing dengan semangat yang jauh lebih besar. Dengan sistem pernapasan baru ini stamina ototku terasa lebih stabil karena oksigen esensi mengalir lebih baik ke seluruh jaringan dagingku. Aku merasa seolah olah aku baru saja mendapatkan mesin baru di dalam tubuhku.

Kharis yang menunggu di bawah hanya bisa menatap ke atas dengan mulut terbuka. Ia belum pernah mendengar suara seindah dan sekuat itu keluar dari sesosok iblis kasta rendah. Ia menyadari bahwa mahluk yang ia ikuti ini bukanlah sekadar calon raja iblis biasa melainkan sesuatu yang jauh lebih besar yang akan mengubah tatanan dunia bawah selamanya.

Setiap inci otot setiap jaringan syaraf serta setiap tarikan napasku sekarang adalah senjata. Aku adalah Goma yang telah lahir kembali dengan suara yang akan mengguncang langit. Dan ini baru saja dimulai.

1
diy
hadir thor🤭
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
dibanyakin dong bab nya hehe 🤭
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!