NovelToon NovelToon
PESONA BRONDONG UGAL-UGALAN

PESONA BRONDONG UGAL-UGALAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. Pesan Beracun

Baru saja Cantik menghabiskan suapan terakhir seblak kiriman Juna yang pedasnya sanggup membakar lidah sekaligus seluruh kenangan pahitnya, ponsel di atas meja makan berdenting. Sebuah notifikasi WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar.

Cantik mengerutkan kening. Jari-jarinya yang masih sedikit bergetar membuka pesan itu. Detik berikutnya, dunia seolah berhenti berputar.

Di sana, sebuah foto tes kehamilan dengan dua garis merah yang sangat tegas terpampang nyata. Belum sempat Cantik menarik napas untuk mencerna apa yang terjadi, foto berikutnya menyusul—kali ini jauh lebih kejam.

Itu adalah foto Satria yang sedang tertidur pulas di sebuah ranjang dengan pencahayaan remang. Di sampingnya, tampak bahu seorang wanita yang sengaja ikut terpotret, memberikan kesan intim yang tak terbantahkan.

[Nomor Tak Dikenal]: Halo, Mbak Cantik. Kenalin, saya Sintia. Maaf ya ganggu paginya yang mungkin lagi suram. Saya cuma mau bilang, nggak usah repot-repot nungguin Mas Satria lagi.

Dia sudah punya tanggung jawab baru di sini. Kasihan kan calon bayinya kalau ayahnya masih diganggu mantan tunangan yang gagal nikah? Oh ya, salam dari 'calon debay' buat Mbak.

DEG.

Cantik merasa perutnya mendadak mual, dan kali ini bukan karena level pedas seblak Juna. Rasa jijik yang luar biasa merayap dari ulu hati hingga ke pangkal tenggorokan.

"Gagal nikah?" bisik Cantik pedas, matanya menyipit menatap layar. "Dia pikir gue sehina itu sampai mau nungguin laki-laki kayak gitu?"

Cantik melempar ponselnya ke atas kasur empuknya seolah benda itu baru saja berubah menjadi bangkai tikus yang berbau busuk. Rasa ilfeel tingkat dewa langsung memenuhi rongga dadanya, menghapus sisa-sisa rasa sedih yang sempat ia simpan semalam.

Dia merasa bodoh, merasa sangat amat konyol pernah mencintai pria yang kualitas moralnya bahkan lebih rendah dari limbah pabrik.

Tiba-tiba, suara raungan knalpot motor sport kembali terdengar dari arah depan pagar. Kali ini suaranya tidak menggelegar seperti tadi pagi, melainkan lebih kalem, seolah si pengendara tahu bahwa suasana hati pemilik rumah sedang tidak baik-baik saja.

Cantik segera menyambar kerudung instannya, memakainya dengan gerakan kasar, lalu berlari keluar. Dia butuh udara segar. Dia butuh pengalihan agar tidak membanting seluruh perabotan di kamarnya.

Di depan pagar, Juna sedang asyik membagikan martabak manis potongan terakhir kepada satpam komplek yang tampak sudah menjadi "fans berat" Juna dalam waktu satu jam.

Begitu melihat Cantik keluar dengan wajah merah padam dan mata yang menyala penuh amarah, Juna langsung menghentikan tawanya.

"Gimana, Kak? Seblaknya bikin nagih, kan? Atau lu mau nambah porsi lamaran—"

"Lu lihat ini!" Cantik menyela, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. Dia menyodorkan layar ponselnya tepat di depan hidung Juna.

"Lihat kelakuan abang lu dan simpanannya yang nggak tahu malu ini! Gue bener-bener mual, Jun. Gue pengen muntah bayangin gue pernah satu ranjang... eh maksudnya, pernah mau nikah sama laki-laki yang kualitasnya kayak gitu!"

Mendengar frasa "satu ranjang", Juna yang tadinya santai menyandar di jok motor mendadak menegang. Senyum jahil yang biasanya menghiasi wajahnya hilang dalam sekejap.

Dia menyipitkan mata tajam, menatap Cantik dengan ekspresi yang mendadak sangat serius, bahkan cenderung mengintimidasi.

"Bentar, Kak," potong Juna, suaranya berubah jadi lebih rendah dan berat.

"Lu bilang tadi apa? Satu ranjang? Lu beneran sudah pernah ML sama Bang Sat?"

Cantik melongo. Mulutnya sedikit terbuka karena kaget dengan pertanyaan sefrontal itu.

"Hah? Bang sat? Lu ngomong apa sih?"

"Bang Satria, elah! Nggak usah disensor-sensor segala!" Juna melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Cantik bisa mencium aroma parfum Juna yang maskulin namun segar.

"Beneran lu sudah pernah seranjang sama dia? Jawab jujur, Kak! Ini krusial!"

Cantik mendengus keras, tangannya langsung mendarat di bahu Juna untuk mendorong cowok itu menjauh.

"Idih! Nggak ya! Gak level banget gue! Lu pikir gue perempuan apaan?"

"Terus tadi lu bilang satu ranjang?" cecar Juna, masih tampak belum tenang. Napasnya terlihat sedikit lebih memburu.

"Itu tuh cuma perumpamaan, Juna bego! Maksudnya gue hampir saja berbagi hidup, berbagi kamar, berbagi semuanya sama dia!"

Cantik melotot galak, merasa harga dirinya sedang diuji oleh bocah SMA di depannya ini.

"Kaga lah! Gue ini masih suci, masih disegel rapat pake segel orisinal pabrik! Nggak kayak selingkuhan abang lu itu tuh! Sembarangan aja kalau ngomong!"

Mendengar penegasan itu, ketegangan di bahu Juna langsung luruh seketika. Seringai kemenangannya kembali muncul, kali ini lebih lebar dan terlihat sangat lega, seolah dia baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah.

"Alhamdulillah... puji Tuhan kalau gitu," gumam Juna sambil mengusap dadanya secara dramatis.

"Gue kira segelnya sudah rusak sama Bang Satria. Kalau masih orisinal begini kan gue makin semangat ngegasnya. Ibarat motor, ini masih gres banget, nggak ada lecet!"

"Juna! Mulut lu minta gue kasih sambal seblak ya?!" Cantik mengepalkan tinjunya, meski dalam hati dia sedikit heran kenapa Juna tampak sebahagia itu.

"Hehehe, ampun bidadariku yang galak," Juna tertawa lepas, kembali ke mode ugal-ugalan biasanya.

Dia merogoh saku jaket denimnya, mengeluarkan sebuah helm cadangan berwarna merah muda mentereng yang tampak sangat kontras dengan gaya motornya.

"Karena lu masih 'segel pabrik' dan lagi emosi jiwa karena diteror simpanan Bang Sat, mending ikut gue sekarang. Kita jalan-jalan biar otak lu nggak penuh sama sampah."

Cantik melihat helm merah muda itu dengan ragu.

"Gue nggak mau naik motor berisik itu, Juna! Malu dilihat orang satu kantor kalau mereka lewat!"

"Tenang, bidadariku. Gue bawa motor matic punya nyokap yang suaranya sehalus bisikan masa depan," Juna menunjuk motor matic putih yang terparkir manis di belakang motor sport-nya.

"Ayo. Kantor lu juga lagi libur kan karena ada perbaikan kabel pusat? Gue sudah cek jadwal lu lewat intelijen SMA gue yang magang di sana."

Cantik melongo. "Lu beneran niat ya..."

"Niat banget, Kak. Demi masa depan kita," Juna mengedipkan sebelah matanya.

"Ayo naik. Gue janji nggak akan ugal-ugalan... kecuali kalau lu yang minta karena pengen peluk gue kenceng-kenceng."

Cantik melihat Juna yang tampak sangat tulus di balik wajah tengilnya. Rasa ilfeel-nya pada Satria benar-benar membuat dia ingin melarikan diri sejenak dari kenyataan pahit.

"Janji ya, jangan aneh-aneh?" tanya Cantik akhirnya mengalah.

"Janji suci! Paling cuma mampir makan bakso legendaris sama nonton film yang paling sedih biar lu bisa nangis sepuasnya tanpa harus malu," Juna tertawa.

Juna menyodorkan sebuah helm bogo berwarna merah muda mentereng dengan kaca cembung yang besar.

Cantik menatap benda itu seolah Juna baru saja menyodorkan bom waktu.

"Apaan nih? Pink? Lu mau gue pake helm batok kelapa stroberi begini?" protes Cantik, matanya melotot.

"Ini bukan batok kelapa, Kak. Ini helm estetik biar kepala lu aman," Juna tertawa sambil mencoba memasangkan helm itu ke kepala Cantik.

"Nggak mau! Malu, Juna! Gue udah dua puluh enam tahun, masa pake helm begini? Mana kacanya cembung banget, muka gue jadi kayak ikan mas koki tau nggak!" Cantik menepis tangan Juna, mencoba menghindar.

"Ikan mas koki yang paling cantik sedunia maksudnya?" Juna nggak menyerah. Dia justru menarik Cantik mendekat.

"Udah, nurut aja sama brondong. Lu mau pergi dari sini atau mau tetep di sini nungguin pesan dari Sintia lagi?"

Nama Sintia disebut, pertahanan Cantik runtuh. Dia mendengus pasrah saat Juna dengan telaten memasangkan helm merah muda itu ke kepalanya. Klik. Tali helm terpasang di bawah dagunya.

"Nah, cakep. Makin gemesin kalau muka lu ketutup kaca begini," goda Juna sambil menepuk-nepuk puncak helm Cantik seolah dia sedang mengelus peliharaan.

"Diem lu! Gue pake ini karena terpaksa!" ketus Cantik, meskipun di balik kaca cembung itu, wajahnya sudah memerah bukan lagi karena marah, tapi karena malu melihat Juna yang menatapnya dengan senyum lebar.

"Ayo naik. Pegangan yang erat, bidadari stroberiku. Kita mau melesat melupakan 'Bang Sat'!"

Saat motor mulai melaju perlahan meninggalkan komplek, aroma parfum Juna yang segar menyapa indra penciumannya.

Perdebatan helm tadi setidaknya berhasil membuat rasa sesaknya sedikit mereda.

"Panggil gue stroberi sekali lagi, gue pecahin kaca helm ini di punggung lu!"

Juna tertawa renyah, suaranya sangat lepas tertiup angin Jakarta.

"Iya, iya, sayang! Pegangan ya!"

"Jun?" Protes Cantik pelan saat mereka membelah kemacetan pagi.

"Ya, Sayang?"

"Panggil sayang sekali lagi, gue tarik telinga lu sampai putus di jalan!"

Juna tertawa renyah, suaranya sangat lepas tertiup angin.

"Ya elah kak, Stroberi salah, sayang salah. Yaudah Kakak Cantik... Calon Istriku."

Cantik diam-diam tersenyum tipis di balik punggung lebar Juna. Patah hatinya memang masih ada, tapi kehadiran brondong ugal-ugalan ini perlahan mulai terasa seperti obat penawar yang mujarab.

1
D_wiwied
langsung serangan balik ya Jun, gaskeun Jun tunjukkan ke mereka mumpung ada penonton gratis di depan mata, sirik2 dah mereka biar sekalian kejang2 🤭😆🤣🤣
D_wiwied
ga ada kapok2 nya ya mereka ini, udah dipermalukan koq ya ttp ga sadar
D_wiwied
kan emang bang Sat kakakmu satu itu Jun 🤭🤣🤣
Dian Fitriana
update
Ganis
idih najong. PD banget sampean
Senja_Puan: Juna dong🤣
total 1 replies
Ganis
Kalah itu sama seblak juga
Ganis
Juna bener-bener bikin senyum-senyum 😄
Senja_Puan: iya kan kak🤭
total 1 replies
Ganis
Good Thor, ngakak🤣
Anisa675
Ya tuhan, masih mikirin rendang🤣 Bangke banget
Senja_Puan: Alasan Juna itu kak🤭
total 1 replies
Anisa675
bengek Juna🤣
Anisa675
anjay lngsung live stream🤣
Senja_Puan: Mantap ga tuh😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!