NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Invasi di Sudut Sunyi

​Malam telah turun sepenuhnya di kawasan suburban Toronto, tempat deretan rumah kayu bergaya kolonial yang sederhana berdiri dengan tenang. Kontras dengan kemilau distrik finansial kota, lingkungan ini hanya diterangi pendar lampu jalanan yang redup dan suara gesekan daun-daun mapel yang tertiup angin malam.

​Kesunyian itu mendadak pecah berkeping-keping.

​Dari ujung blok, sebuah raungan mesin yang berat, dalam, dan sarat akan tenaga buas terdengar menggelegar. Suara khas dari mesin W16 milik Bugatti Chiron Super Sport bergaung memantul di dinding-dinding rumah warga, memaksa beberapa tirai jendela tersingkap karena penasaran. Sebuah monster hitam karbon sewarna malam meluncur pelan namun intimidatif, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan rumah kayu bercat putih milik keluarga Aisya.

​Mesin dimatikan, meninggalkan keheningan yang mendadak terasa mencekam.

​Pintu gullwing terbuka ke atas. Cassian Noir melangkah keluar. Sosoknya yang menjulang tinggi, dibalut setelan jas formal hitam tanpa dasi, tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan sederhana itu. Ia merapikan kerah jasnya sejenak, sementara sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah pintu depan rumah yang masih tertutup.

​Di dalam rumah, atmosfer tidak kalah tegang. Aisya berdiri di balik tirai ruang tamu, jemarinya meremas kain gorden dengan ritme panik. Jantungnya berpacu liar. Pria itu benar-benar datang. Cassian tidak pernah menggertak.

​"Aisya, suara apa di luar itu? Ketukan pintunya sangat tegas," suara Paman Hamdan terdengar dari arah lorong, melangkah menuju ruang tamu sembari merapikan baju kokonya. Di belakangnya, Bibi Maryam ikut mengintip dengan wajah penuh tanya. "Siapa yang bertamu jam segini menggunakan mobil seperti... pesawat jet itu?"

​Sebelum Aisya sempat menjawab dengan tenggorokan yang mendadak kering, ketukan tiga kali yang konstan dan berwibawa terdengar di pintu depan.

​Tok. Tok. Tok.

​Paman Hamdan melangkah maju dan memutar kunci, membuka pintu kayu tersebut. Begitu pintu terbuka, sang paman sempat tertegun sesaat. Sosok pria asing yang luar biasa tinggi dan berwajah tegas seperti aktor film klasik Eropa berdiri di hadapannya dengan aura dominan yang sangat pekat.

​"Selamat malam, Tuan Hamdan," sapa Cassian. Suara baritonnya terdengar rendah, tenang, namun mutlak. Ia menundukkan kepalanya sangat tipis, sebuah gestur penghormatan yang sangat jarang—atau bahkan tidak pernah—ia lakukan pada manusia lain. "Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu istirahat keluarga Anda."

​Paman Hamdan mengerutkan dahinya, mencoba mengingat-ingat wajah pria di hadapannya. "Selamat malam. Maaf, dengan siapa saya berbicara? Dan ada keperluan apa malam-malam begini?"

​Cassian tidak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke dalam rumah, menangkap sosok Aisya yang berdiri membeku di dekat sudut ruangan dengan niqab yang sudah terpasang rapi, menyembunyikan ekspresi wajahnya yang dipenuhi ketakutan.

​Cassian kembali menatap Paman Hamdan, lalu merengkuh bagian dalam jasnya. Ia mengeluarkan selembar dokumen tebal berlogo resmi Islamic Centre Toronto—sertifikat mualaf yang baru ditandatanganinya tadi malam di hadapan Imam Abdulaziz. Ia mengulurkan dokumen itu dengan kedua tangannya secara terhormat kepada Paman Hamdan.

​"Nama saya Cassian Noir," ujar Cassian, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang tidak bisa diganggu gugat. "Saya di sini sebagai seorang muslim yang sah di mata hukum agama kita. Dan kedatangan saya malam ini bertujuan untuk meminta izin Anda, sebagai wali sah dari keponakan Anda, Aisya."

​Paman Hamdan menerima kertas itu dengan tangan agak gemetar, membacanya cepat di bawah pendar lampu teras. Matanya melebar sempurna saat melihat stempel resmi dan tanda tangan Imam Abdulaziz.

​"M-Meminta izin untuk apa, Tuan Noir?" tanya Paman Hamdan dengan suara yang mendadak serak karena terkejut.

​Cassian menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Paman Hamdan tanpa ada keraguan sedikit pun. "Saya di sini untuk melamar Aisya menjadi istri saya yang sah, di atas kertas dan di hadapan hukum Tuhan."

​Paman Hamdan terpaku di ambang pintu, matanya beralih bergantian antara lembaran sertifikat resmi di tangannya dan sosok Cassian Noir yang berdiri kokoh bak dinding karang. Di belakangnya, Bibi Maryam sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak mampu menyembunyikan rasa syok.

​"Melamar... Aisya?" Paman Hamdan mengulang kalimat itu, suaranya bergetar berat. Sebagai seorang pria yang telah mendedikasikan hidupnya menjaga keponakan yatim piatunya, insting pelindungnya langsung bangkit. "Tuan Noir, Anda baru memeluk Islam kemarin pagi menurut catatan sertifikat ini. Dan malam ini Anda datang ke rumah saya untuk meminta keponakan saya? Pernikahan dalam dunia kami bukan sebuah impulsivitas tanpa fondasi."

​Aisya yang berdiri di sudut ruang tamu meremas jemarinya hingga memutih. Ia ingin berteriak meminta pamannya menolak pria arogan ini, namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan.

​Cassian tidak menunjukkan tanda-tanda terusik oleh resistensi Paman Hamdan. Ia justru mempertahankan ketenangannya yang mematikan. "Saya mengerti keraguan Anda, Tuan Hamdan. Anda berpikir ini terlalu cepat. Namun bagi saya, jika sebuah keputusan sudah memiliki kejelasan hukum dan logika yang tepat, menundanya adalah tindakan yang tidak efisien."

​"Ini bukan masalah efisiensi bisnis, Tuan Noir!" Paman Hamdan menegaskan suaranya, melangkah satu baris ke depan seolah memblokir pandangan Cassian dari Aisya. "Ini tentang agama, tentang kesiapan spiritual, dan tanggung jawab dunia akhirat. Bagaimana mungkin seorang pria yang baru mengenal Islam satu hari bisa memimpin seorang wanita muslimah yang sejak kecil menjaga agamanya?"

​"Saya tidak berencana memimpinnya dalam hal spiritual, Tuan Hamdan. Justru dia yang bisa menuntun saya jika itu yang Anda cemaskan," potong Cassian dengan argumen taktis yang langsung mengunci keraguan sang paman.

​Cassian menurunkan sedikit nada suaranya, namun justru terdengar semakin mutlak. "Saya adalah pria yang realistis. Saya tidak akan datang ke sini tanpa jaminan hukum yang kuat untuk masa depan keponakan Anda. Sebagai bentuk keseriusan, saya menawarkan mahar berupa sebidang tanah seluas lima hektar di kawasan pinggiran Toronto beserta dana pembangunan penuh untuk kompleks sekolah dan pusat pemandian jenazah gratis bagi komunitas muslim, yang semuanya secara legal akan dibangun atas nama Aisya. Selain itu, saya sudah menyiapkan trust fund (dana perwalian) berbasis syariah atas nama Aisya pribadi senilai lima juta dolar yang akan aktif detik setelah pernikahan kami sah."

​Bibi Maryam di belakang langsung mengucap istigfar lirih karena terkejut. Nilai aset dan kebaikan sosial yang disebutkan Cassian bukanlah angka yang main-main; itu adalah jumlah yang bisa menjamin masa depan Aisya sekaligus memberi dampak besar bagi komunitas mereka secara instan. Cassian tahu cara bergerak: ia tidak menawarkan perhiasan atau kemewahan pribadi yang egois untuk merayu Aisya, melainkan aset yang bernilai ibadah jariyah yang pasti akan menyentuh hati keluarga muslim.

​Paman Hamdan terdiam, rahangnya mengeras. Nilai materi itu luar biasa besar, dan komitmen Cassian untuk mengalokasikannya ke dalam bentuk fasilitas sosial atas nama Aisya membuat sang paman tidak bisa langsung melempar penolakan mentah-mentah.

​Cassian melirik ke dalam, menembus batasan ruang tamu dan mengunci pandangannya tepat pada sepasang mata bulat milik Aisya yang bergerak panik di balik niqabnya.

​"Keputusan akhir tetap ada di tangan keponakan Anda," ujar Cassian, memindahkan beban berat itu langsung ke pundak gadis itu. "Namun, saya tidak menerima penolakan atas dasar batasan hukum lagi. Semua syarat yang kau minta di perpustakaan kota hari itu, telah kupenuhi malam ini, Aisya."

​Ruang tamu itu mendadak hening total, menyisakan detak jarum jam dinding dan gemuruh hebat di dalam dada Aisya yang merasa dunianya baru saja dikepung tanpa jalan keluar oleh sang predator korporat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!