NovelToon NovelToon
Kriteria Gila, Cinta Nyata

Kriteria Gila, Cinta Nyata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: wilight

Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.

Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.

Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.

Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul

Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hotel

Dia sadar lagi, kepalanya mulai panas pikirannya acak-acakan.

"Kau... kau gak peka!" cicit Rania dengan suara yang sedikit pecah.

"Mana mungkin seorang tuan putri bermain di sini? Di tempat kayak gini? Kotor! Kurang mewah! Aku ingin menikmatinya di atas kasur yang empuk, di hotel bintang 5. Yang mewah yang bagus utu baru pantas!"

Alfio menghela napas dia mengancingkan kemejanya kembali perlahan rapi.

"Maaf, Mbak. Saya tidak berpikir sejauh itu."

"Ya sudah. Bawa saya ke hotel bintang 5. Sekarang."

Di perjalanan menuju hotel, Rania terus gelisah.

Dia melirik Alfino. Pria itu mengemudi dengan tenang. Seolah tidak ada yang aneh. Seolah mereka cuma mau pergi ngopi biasa.

"Ini... ini keknya bukan gertakan biasa. Ini udah kayak perang dunia," batin Rania.

"Gue minta buka baju, dia buka. Gue minta hotel, dia anter, semua diturutin, MANA BATASNYA?!"

Mobil hitam itu meluncur pelan meninggalkan restoran mewah yang baru saja mereka datangi. Perut Rania kenyang. Tapi hatinya tidak yang ada malah gemeteran kayak daun kering ditiup angin. Sebab, di restoran tadi dia sudah bertindak gila. Minta Alfino buka baju. Minta kepuasan batin dan Alfino menurut.

Nah, sekarang giliran babak selanjutnya. Rania sudah terlanjur ngomong soal hotel bintang lima. Dan Alfino, pria softspoken itu, hanya bilang "Baik" tanpa protes. Satu kata yang bikin Rania nyaris muntah.

"Kenapa dia nurut terus sih?" batinkannya.

"Apa dia punya niat tersembunyi? Atau dia memang se-pasrah itu? Jangan-jangan dia juga lagi akting kayak gue?"

Tapi gak ada waktu buat mikir panjang.

Brummm...

Alfino memarkir mobil di depan sebuah hotel.

Bangunan tinggi. Kaca berkilauan, lampu-lampu kuning temaram di setiap sudut. Pintu otomatis terbuka dengan suara swish halus, kayak membuka pintu pesawat luar angkasa. Ada valet parking yang langsung mendekat dengan senyum ramah. Ada pohon palem asli di lobby, tumbuh subur di pot raksasa kayak lagi liburan di Bali.

Rania menelan ludah pahit.

"Ini hotel bintang lima beneran, bukan hotel tirai bambu."

Alfino keluar dari mobil da membukakan pintu untuk Rania. Sikapnya tetap sopan, wajahnya tetap tenang. Padahal Rania gemetar hebat di dalam.

"Mbak Rania, mari masuk."

Rania keluar langkah kakinya kaku. Sepatu haknya beradu dengan lantai marmer lobby, bunyinya tek... tek... tek... kayak detak jantungnya yang mau copot.

Lobby hotel itu super mewah, lantainya kinclong sampai Rania bisa lihat pantulan wajahnya sendiri. Lampu kristal besar bergantungan di atas, kilauannya kayak jutaan berlian jatuh dari langit. Ada sofa-sofa empuk warna krem, meja-meja kecil dengan vas bunga segar, dan dua ekor ikan koi di kolam kecil dekat pintu masuk. Rania belum pernah melihat hotel semewah ini dalam hidupnya. Kecuali di sinetron.

Alfino berjalan ke meja resepsionis. Rania mengikuti di belakang, kaki rasanya berat kayak disemen. Resepsionisnya perempuan. Rambut klimis, senyum standar, gigi putih berderet kayak papan piano.

"Selamat malam, Bapak dan Ibu. Ada yang bisa dibantu?"

Alfino tersenyum ramah. "Selamat malam, saya mau pesan satu kamar untuk malam ini."

Rania di sampingnya cuma bisa diem. Mulutnya kering, lidahnya kelu, dalam hati dia berteriak,

"TOLAK! TOLAK! BATALKAN! SAYA TIDAK JADI!" Tapi suaranya tidak keluar.

Resepsionis mulai mengetik di komputer. Matanya membaca layar lalu berhenti.

"Untuk single atau double, Pak?"

Alfino menoleh ke Rania. Rania semakin gemetar. "Gue harus jawab apa? Gue harus bilang gak jadi? Tapi gue yang minta hotel. Gue yang minta kepuasan batin. Gue yang minta segala macem. Kalau gue batalkan sekarang, dia pasti curiga. Dia pasti tahu kalau gue cuma akting."

Rania ambil napas, dadanya naik turun lalu dia paksakan senyum. Senyum centil kayak artis cilik yang kelebihan gula.

"Double."

Alfino mengangguk resepsionis mengetik lagi.

"Baik untuk double, kami ada beberapa tipe. Superior, deluxe, suite, dan presidential suite. Bapak dan Ibu pilih yang mana?"

Alfino menoleh lagi ke Rania. Kali ini Rania menjawab cepat tanpa mikir tanpa takut. Padahal dalam hati dia menjerit histeris.

"Presidential suite yang paling mahal paling mewah yang kalau tidur di sana rasanya kayak di awan."

Resepsionis tersenyum. "Baik, Mbak. Saya cek ketersediaan."

Dia mengetik lagi jarinya lincah kayak penari balet , lalu dia berhenti. Rania rasakan dunia berhenti berputar.

"Maaf, Bapak, Ibu." Resepsionis menggeleng kecil.

"Untuk presidential suite sedang penuh malam ini. Ada tamu dari luar negeri yang menginap seminggu."

Rania hampir nangis tapi nangis bahagia.

"Oh," katanya polos.

"Lalu yang lain?"

Resepsionis mengecek lagi. "Kami masih ada deluxe dan superior. Yang deluxe menghadap kolam renang. Pemandangannya bagus."

Rania menoleh ke Alfino. Alfino bilang, "Terserah Mbak Rania."

Ini dia saatnya, Rania menghela napas. Dia siapkan senyum manis.

"Tidak usah terima kasih."

Resepsionis mengerjap. "Maksud ibu?"

"Kami tidak jadi pesan kamar."

Alfino sedikit mengernyit. "Mbak Rania, tadi Mbak minta hotel bintang lima. Sekarang kita sudah di sini knapa batal?"

"Mas, gue tipe perempuan yang gak mau kompromi. Gue minta presidential suite bukan yang lain. Kalau gak ada, ya sudah gue gak mau."

Alfio terdiam sesaat. Lalu berkata, "Baik. Kita cari hotel lain. Mungkin ada..."

"TIDAK!" potong Rania cepat. Terlalu cepat. Sampai resepsionis dan Alfino sama-sama menatapnya.

"Awas, Rania, lo ketahuan terlalu semangat nolak," batinnya.

"Ee... maksud gue, gue capek udah malam perut kenyang. Lebih baik kita ngobrol santai aja di kafe. Gak perlu hotel-hotelan.

Alfino menatap Rania matanya teduh lalu tersenyum.

"Baik mbak Rania yang memutuskan."

"YA AMPUN, SYUKUR!" teriak Rania dalam hati. Dia hampir sujud di lobi hotel.

Tapi dia tidak sujud. Dia cuma berdiri dengan anggun, tersenyum ke resepsionis, lalu berjalan keluar dengan langkah pelan. Dia berusaha terlihat biasa. Tapi dalam dada ada orkestra dangdutan yang main lagu selamat tinggal berkali-kali.

Begitu keluar dari pintu otomatis, Rania rasakan angin malam menyapa wajahnya.

Ini kemenangan. Ini kebebasan. Gue terhindar dari malapetaka tingkat dewa.

Dia ingin joget, tapi dia tidak joget. Dia cuma masuk ke mobil, duduk, dan menarik napas panjang-panjang.

Alfino menyusul masuk,nyalakan mesin.

"Mbak Rania mau ke kafe mana?" tanyanya.

Rania menoleh wajahnya sumringah. Senyumnya lebar kayak bulan purnama. Ini senyum tulus, bukan akting.

"Mas, gue tahu satu tempat. Di dekat komplek gue. Ada taman kota kecil, terus di pinggirnya ada kafe jadul. Kopinya enak anginnya sejuk dan harganya bersahabat."

"Bersahabat?"

"Iya. Gak bikin dompet nangis."

Alfino tertawa. "Baik. Antar saya."

Perjalanan menuju kafe terasa lebih ringan.

Rania tidak tegang lagi. Bahkan dia mulai membuka percakapan ringan. Cerita soal magang, soal Mila dan Bang Didi, soal tugas-tugas marketing yang gila. Alfino mendengarkan. Sesekali menimpali dengan suara pelannya yang kayak penyiar radio.

Dan tanpa sadar, Rania mulai merasa...

"Ini enak, ya. Ngobrol biasa, gak ada tekanan. Gak ada tuntutan. Gak ada drama buka baju, minta hotel, atau kepuasan batin."

Dia tersenyum kecil. Alfino melirik, lalu tersenyum juga.

"Kenapa Mbak tersenyum?"

"Gue senang aja. Akhirnya bisa ngobrol normal tanpa harus jadi tuan putri gila."

Alfino tertawa. "Tuan putri gila?"

"Iya. Gue tadi berusaha jadi perempuan menyebalkan biar Mas ilfil."

"Oh." Alfino mengangguk paham. "Saya sadar."

Rania membelalak. "LO NGERTI?"

"Iya. Sejak Mbak minta diantar mobil. Karena kemarin saya ke rumah naik motor. Tiba-tiba Mbak minta mobil itu sudah aneh."

"Terus kenapa Mas nurut?"

Alfino melirik Rania. Matanya tetap teduh. "Karena saya penasaran. Sampai sejauh mana Mbak akan bertindak."

Rania menutup muka. Mukanya merah kayak kepiting rebus. "Jadi Mas tahu ini semua cuma akting?"

"Saya tahu tapi saya ikut bermain. Karena..." Alfino berhenti.

"Karena saya menikmati melihat Mbak Rania yang lucu."

"LUCU? GUE MERASA JADI BADUT!"

"Badut yang cantik." Alfino tersenyum.

"Tidak masalah yang penting sekarang Mbak sudah tidak perlu akting lagi."

Rania menghela napas. Lega. Tapi sedikit malu.

"Dia tahu dari awal. Gue dipermainkan balik!"

Tapi dia tidak marah. Sejak ini, dia tidak perlu akting lagi.

Kafe kecil di pinggir taman kota. Meja kayu sederhana, lampu kuning gantung di atas. Angin malam berembus pelan. Mereka minum kopi, obrolan mengalir.

Bahkan Rania sempat tertawa lepas saat Alfino cerita dia pernah salah beli kopi untuk klien sampai kliennya marah-marah.

Jam menunjukkan hampir sepuluh. Kafe mau tutup.

"Sudah, Mas. Antar gue pulang besok gue magang pagi."

"Baik."

---

Di depan pagar rumah Rania. Rania turun dari mobil. Dia berdiri sebentar, lalu berkata,

"Mas, maaf ya udah ngerepotin."

"Tidak sama sekali. Saya senang."

Rania ingin bilang sesuatu. Tapi bingung. Akhirnya dia cuma tersenyum.

"Selamat malam, Mas Alfino."

"Selamat malam, Mbak Rania. Tidur yang nyenyak. Jangan diganggu pikiran soal hotel."

Rania ketawa. "Masih aja!"

Dia masuk ke dalam rumah. Langkahnya ringan. Dadanya plong.

---

Di kamar, Rania berganti pakaian dan merebahkan diri di kasur. Kepalanya masih berputar tapi bukan panik.

"Dari awal dia tahu. Dia tahu gue akting. Tapi dia gak marah. Dia malah ikut main dan di kafe tadi... gue bisa ngobrol sama dia tanpa beban."

"Rania, lo mulai nyaman sama dia. Hati-hati Jangan sampai luka lama kebuka. Tapi jangan juga tutup pintu terlalu keras."

Krucuk...

Perutnya berbunyi. Bukan lapar. Tapi geli.

Rania memejamkan mata. Senyum kecil mengembang.

"Besok cerita ke Mila. Yang lucu-lucu aja. Tapi adegan buka baju... gue simpan sendiri."

Dia tertawa dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!