Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Kerja Sambil Jaga Anak
“Kamu harus benar-benar menjaganya,” ujar Bu Fitri akhirnya.
Naomi sempat terdiam, lalu wajahnya perlahan berubah. Ada kelegaan yang jelas terlihat. Ia langsung mengangguk cepat, bahkan hampir terlalu cepat.
“Iya, Bu. Pasti! Saya akan jaga dia sebaik mungkin,” jawabnya dengan suara penuh keyakinan.
Bu Fitri mengangguk kecil. “Saya tidak mau dengar ada masalah di lapangan nanti. Baik dari klien, atau dari kamu sendiri.”
“Baik, Bu.”
“Kalau kamu merasa tidak sanggup, bilang dari awal. Jangan memaksakan,” tambah Bu Fitri lagi.
Naomi tersenyum tipis. “Saya akan berusaha dulu, Bu.”
Untuk pertama kalinya, Bu Fitri sedikit tersenyum. Tipis, tapi cukup hangat.
“Ya sudah,” katanya. “Sekarang saya jelaskan pekerjaannya.”
Naomi langsung fokus.
“Setiap hari kamu akan dapat lokasi berbeda. Kadang rumah, kadang apartemen. Tergantung permintaan klien,” jelas Bu Fitri.
Naomi mengangguk.
“Kerjaan kamu ya standar. Sapu, pel, bersihkan kamar mandi, dapur, kadang cuci piring. Kalau klien minta tambahan, kamu harus komunikasikan ke kantor dulu.”
“Baik, Bu.”
“Jam kerja fleksibel, tapi tetap harus disiplin. Datang tepat waktu. Jangan sampai klien komplain.”
“Iya, Bu.”
Bu Fitri menatapnya sekali lagi, memastikan.
“Dan satu lagi...”
Naomi kembali tegang.
“Jangan sampai bayi kamu jadi alasan kamu tidak bekerja dengan baik,” katanya tegas.
Naomi menggeleng cepat. “Tidak akan, Bu.”
“Bagus,” jawab Bu Fitri singkat. “Besok kamu mulai.”
***
Keesokan harinya, pagi itu terasa berbeda. Naomi bangun lebih awal dari biasanya. Udara masih dingin, tapi pikirannya sudah sibuk.
Hari pertama kerja. Ia mempersiapkan semuanya dengan hati-hati. Davin sudah dia beri ASI dengan alat feeding. Pakaian bayi cadangan dimasukkan ke dalam tas. Tisu, botol, semua dicek berulang kali.
“Semoga lancar ya, Nak...” bisiknya sambil mencium kening Davin.
Sekitar pukul tujuh pagi, ponselnya berbunyi. Pesan dari Bu Fitri.
Alamat pekerjaan hari ini. Apartemen Melati Residence, unit 12B.
Naomi menarik napas panjang. Ia harus ke kantor terlebih dahulu untuk mengambil perlengkapan.
Di kantor, Naomi diberi satu tas besar berisi alat kebersihan. Sapu lipat, kain pel, cairan pembersih, sarung tangan, dan beberapa peralatan lainnya.
Tas itu tidak ringan. Naomi menggendong Davin di depan, sementara tas perlengkapan dia sandang di bahu. Langkahnya sedikit goyah saat keluar dari kantor.
“Berat juga ya...” ucapnya. Namun dia tidak berhenti. Ia memesan ojol mobil. Menunggu di pinggir jalan dengan Davin di pelukannya dan tas besar di sampingnya.
Beberapa orang melirik. Ada yang sekadar melihat. Ada juga yang tampak heran. Seorang ibu muda, membawa bayi, sambil membawa perlengkapan kerja. Naomi menunduk sedikit. Tapi dia tidak peduli lagi.
Mobil datang.
“Naomi, ya?” tanya driver.
“Iya, Pak.”
Driver sempat melirik ke arah Davin dan tas besar itu.
“Kerja ya, Mbak?”
Naomi tersenyum kecil. “Iya, Pak.”
Sepanjang perjalanan, Naomi tidak banyak bicara. Ia lebih fokus memastikan Davin nyaman di pelukannya. Namun sesekali, tubuhnya terasa pegal. Tas berat. Bayi di gendongan. Jalanan yang tidak selalu mulus.
Ini baru perjalanan. Belum pekerjaan. Sesampainya di apartemen, Naomi turun perlahan. Ia harus berhati-hati. Langkahnya pelan, tapi pasti. Lift terasa lama. Setiap detik terasa seperti menit.
Davin mulai bergerak kecil, sedikit rewel.
“Sebentar ya, Nak...” bisik Naomi sambil menepuk pelan.
Akhirnya lift terbuka. Lantai 12. Koridor sepi. Naomi berdiri di depan unit 12B. Ia menarik napas panjang sebelum menekan bel.
Ting tong.
Beberapa detik, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya berdiri di sana. Penampilannya rapi, elegan, dengan aura tegas.
Matanya langsung tertuju pada Naomi. Lalu ke Davin. Alisnya langsung berkerut. “Kamu... dari jasa cleaning?” tanyanya.
“Iya, Bu. Saya Naomi,” jawab Naomi sopan.
Wanita itu masih menatap Davin. Jelas tidak menyangka. “Kamu bawa bayi?” tanyanya lagi.
Nada suaranya tidak kasar. Tapi jelas tidak nyaman.
Naomi langsung menunduk sedikit. “Iya, Bu. Tidak ada yang menjaga.”
Wanita itu menyilangkan tangan. “Ini bukan daycare,” katanya blak-blakan.
Naomi menelan ludah. “Saya mengerti, Bu,” jawabnya cepat. “Tapi saya pastikan pekerjaan saya tetap selesai dengan baik.”
Wanita itu masih ragu. “Namanya siapa?” tanyanya tiba-tiba.
“Davin, Bu.”
Wanita itu menatap Davin selama beberapa detik. Wajahnya sedikit melunak, tapi belum sepenuhnya percaya.
“Kamu yakin bisa kerja sambil bawa dia?"
Naomi mengangguk. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Bu.”
Wanita itu menghela napas panjang. “Nama saya Tania,” katanya akhirnya.
Naomi mengangguk. “Baik, Bu Tania.”
Tania membuka pintu lebih lebar. “Masuk dulu.”
Naomi langsung masuk dengan hati-hati. Apartemennya luas. Bersih, tapi tetap butuh perawatan.
“Kerjaan kamu standar,” kata Tania sambil berjalan. “Ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan kamar tidur.”
Naomi mengangguk sambil memperhatikan.
“Tapi kalau kamu tidak sanggup, bilang sekarang saja,” tambah Tania.
Naomi menggeleng cepat. “Saya bisa, Bu.”
Tania menatapnya sekali lagi. “Baiklah. Saya kasih kamu kesempatan hari ini,” katanya.
Naomi langsung tersenyum lega. “Terima kasih, Bu.”
“Tapi kalau hasilnya tidak memuaskan...” lanjut Tania.
“Saya mengerti,” potong Naomi cepat.
Tania mengangguk. “Mulai saja.”
Hari itu menjadi salah satu hari paling melelahkan dalam hidup Naomi. Ia harus membagi fokus.
Satu tangan memegang kain. Satu lagi sesekali menenangkan Davin. Saat menyapu, dia harus memastikan bayi itu tidak rewel. Saat mengepel, ia harus berhati-hati agar tidak licin saat menggendong.
Saat membersihkan kamar mandi, dia bahkan harus menaruh Davin di kereta kecil yang dirinya bawa, sambil terus mengawasinya.
Beberapa kali Davin menangis. Naomi langsung berhenti bekerja. Memberi makan, menggendong, menenangkan, lalu kembali bekerja.
Waktu terasa berjalan lebih cepat, tapi juga lebih berat. Keringat mulai membasahi pelipisnya. Tangannya pegal. Punggungnya terasa nyeri. Namun setiap kali dia ingin berhenti, ia menatap Davin. Dan itu cukup untuk membuatnya lanjut.
Dari luar, Tania sesekali memperhatikan. Awalnya ragu. Namun perlahan, ekspresinya berubah. Wanita itu melihat sesuatu. Bukan sekadar pekerja. Tapi seorang ibu yang berjuang.
Menjelang siang, pekerjaan hampir selesai. Naomi mengelap meja terakhir. Napasnya sedikit terengah. Ia menatap sekeliling. Bersih dan rapi. Ia menarik napas panjang.
“Sudah, Bu,” katanya pelan.
Tania keluar dari kamar. Matanya menyapu seluruh ruangan.
Beberapa detik hening. Lalu dia mengangguk kecil.n“Tidak buruk,” komentarnya.
Naomi langsung merasa lega. “Terima kasih, Bu.”
Tania melirik ke arah Davin yang kini tertidur tenang.
“Kamu... kuat juga ya,” katanya tiba-tiba.
Naomi tersenyum tipis. “Saya harus kuat, Bu.”
Tania terdiam sejenak. Lalu berkata, “Kalau kamu mau... kamu bisa ambil jadwal rutin di sini.”
Naomi terkejut. “Benarkah, Bu?”
Tania mengangguk. “Seminggu sekali. Saya suka hasil kerja kamu.”
Mata Naomi langsung berkaca-kaca. “Terima kasih banyak, Bu...”
"Ini sebenarnya apartemen punya putraku. Katanya mulai sekarang, dia mau tinggal sendiri saja. Aku harap ini bisa membantunya cepat dapat jodoh," ungkap Tania.
"Benarkah, Bu? Saya harap putranya segera mendapatkan jodoh ya," tanggap Naomi.
"Aamin... Boleh saya coba gendong anaknya?" tanya Tania.
"Tentu saja." Naomi memberikan Davin pada Tania.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘