Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Malam pertama di asrama Akademi Starfell terasa… aneh.
Freya berdiri di depan pintu kamarnya sambil menatap kosong.
"…Aku bahkan lupa kamarku nomor berapa."
"Menyedihkan," komentar Crimson Valkyrie.
Freya mendecakkan lidah pelan. Karena selama ini, Freya asli hampir selalu pulang ke mansion keluarga Vane. Kamarnya di asrama lebih sering kosong. Dan sekarang saat pintu terbuka…
CREAK.
Freya langsung membeku. Kamarnya sangat rapi. Terlalu rapi. Seperti kamar hotel yang tidak pernah disentuh manusia.
Tempat tidur besar dengan tirai putih berdiri di sudut ruangan. Rak buku tertata sempurna. Perapian kecil menyala redup. Dan semuanya… dingin.
Freya masuk perlahan. "Kenapa rasanya kayak kamar NPC…"
"Apa itu NPC?"
"Tidak penting."
Freya meletakkan Crimson Valkyrie di dekat tempat tidur sebelum menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
"AAAAH…"
Seluruh tubuhnya sakit. Hari ini terlalu panjang. Monster. Latihan. Ledakan. Dan sekarang… asrama.
Freya menatap langit-langit kamar beberapa detik. Lalu pelan-pelan wajahnya berubah serius.
"…Tadi itu bukan bagian novel original."
Hening.
Crimson Valkyrie bersinar redup.
"Aku tahu."
Freya langsung menoleh cepat.
"Hah?"
"Mana corruption seperti tadi seharusnya tidak muncul di area seaman akademi."
Bulu kuduk Freya langsung berdiri.
"Berarti cerita mulai berubah…"
Dan itu mengerikan. Karena satu-satunya keuntungan Freya selama ini adalah pengetahuannya tentang plot novel.
Kalau plot mulai berubah… Berarti masa depan tidak lagi pasti.
Freya memegangi wajahnya sendiri. "Aku makin takut…"
Untuk pertama kalinya, Crimson Valkyrie tidak mengejek. "Takut bukan hal buruk."
Freya sedikit membeku.
"Selama kau tetap bergerak maju."
DOR.
Freya langsung kena emotional damage lagi.
'Kenapa pedang ini kadang bijak banget sih…'
TOK TOK TOK.
Ketukan pintu membuat Freya tersadar.
"Freya?"
Wajah Freya langsung cerah. Aria. Freya buru-buru membuka pintu. Dan benar saja.
Aria berdiri di depan kamar sambil membawa bantal dan selimut kecil.
"Aku… membawa beberapa barang tambahan," katanya pelan.
Freya langsung tersentuh. "Ya Tuhan… kamu benar-benar calon kakak ipar yang baik."
"Hah?"
Freya langsung menarik Aria masuk. "Masuk dulu."
Kamarnya langsung terasa lebih hidup begitu Aria ada di sana.
Aria duduk pelan di kursi dekat jendela sambil melihat sekitar kamar. "Kamarmu besar sekali…"
"Tapi dingin," jawab Freya jujur.
Aria tersenyum kecil. "Sekarang tidak terlalu dingin kok."
DOR.
Critical damage.
Freya langsung memegang dadanya. 'YA TUHAN DIA MANIS BANGET.'
Aria mulai mengeluarkan beberapa botol skincare kecil dari tasnya. "Aku membawa ini juga."
Freya hampir menangis. "Aria… aku rela perang demi kamu."
"Kenapa jadi perang?"
Freya langsung tertawa kecil.
Dan untuk beberapa saat… suasana terasa damai.
Namun di sisi lain akademi… Zevian berdiri di ruang observatorium yang rusak.
Asap hitam masih tersisa di udara. Tatapannya tajam memperhatikan bekas mana corruption di lantai.
Profesor Rowan berdiri di dekatnya. "Ini bukan kejadian biasa," kata profesor tua itu serius.
Zevian mengangguk pelan. "Ada seseorang yang membawa corruption masuk ke akademi."
"Dan targetnya?" Tatapan Zevian sedikit berubah.
Monster itu tadi… Bereaksi aneh pada Freya.
Dan kalimat terakhirnya masih terngiang di kepalanya.
The Crimson Flame.
"…Aku belum tahu," jawab Zevian akhirnya.
Namun instingnya mengatakan satu hal.
Semua ini… ada hubungannya dengan Freya Valencia Vane.
Sementara itu di area asrama laki-laki… Ares sedang bersandar santai di balkon kamarnya sambil memainkan salah satu pistol artefaknya.
Eclipse Howl berputar pelan di jarinya.
"Jadi?" gumamnya santai.
"Apa pendapatmu?"
Pistol hitam itu berdengung pelan. "Gadis api itu menarik."
Ares tersenyum kecil. "Aku juga pikir begitu."
Tatapannya mengarah ke langit malam akademi. "Freya Valencia Vane…"
Semakin diperhatikan… Semakin aneh. Dan semakin sulit untuk diabaikan.