Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 7
Pagi ini, Cwen terbangun karena perutnya yang terasa sangat lapar, ia keluar dari dalam kamarnya untuk membangunkan Jenia yang sepertinya masih terlelap di kamarnya. Benar saja, begitu Cwen masuk ke dalam kamar, mamanya masih terlelap dengan selimut yang menutup sampai ke lehernya.
“Ma, mama bangun ma, Cwen lapar,”
Cwen menggoyang-goyangkan bahu mamanya agar terbangun, tapi ibu anak satu itu masih juga belum terbangun, bahkan terlihat sama sekali tidak terganggu dengan Cwen yang menggoyang-goyangkan bahunya sedikit kencang.
“Mama bangun, Cwen lapar mama,”
Masih tidak ada pergerakan dari sang mama, membuat Cwen menyerah, ia keluar kamar dengan bibir mencebik kesal karena mamanya susah di bangunkan padahal dirinya sangat lapar.
Ingat dengan ucapan pak guru kemaren malam, Cwen membuka pintu apartemen untuk menemui gurunya itu. Ansel bilang kemarin kalau apartemen yang gurunya itu tempati tepat berada di sebelahnya, tapi Cwen bingung, sebelah kanannya atau sebelah kirinya.
“Yang sebelah mana rumah pak guru?” tanya Cwen menatap kedua pintu yang ada di sebalah tempat ia dan mama nya tinggal.
“Sepertinya yang ini, warna pintunya sedikit berbeda dengan yang lain,”ucap Cwen dengan sok taunya, padahal semua warna pintu itu benar-benar mirip semua tidak ada yang berbeda sedikit pun.
Cwen mengetuk pintu itu sedikit kencang agar bisa terdengar oleh yang di dalam, ingin memencet bel, Cwen tidak sampai, jadi ia mengambil opsi mengetuk pintu itu sedikit kencang.
Tidak sampai dua menit, pemilik apartement itu membukakan pintu. Cwen mengerutkan dahinya Karen yang ia lihat bukanlah pak gurunya, tapi sosok pria bertubuh besar dengan jenggot dan juga kumis tebal menghiasi wajahnya.
“Om siapanya pak guru? Kenapa ada di rumahnya pak guru?”tanya Cwen yang bukannya takut ia malah bersikap menantang kepada pria bertubuh tinggi dan besar itu.
Pria itu sedikit mengerutkan dahinya bingung. Apa maksud bocah di depannya itu? Siapa juga pak guru? Apakah penghuni baru di sini?
“Pak guru siapa maksudmu?”tanya pria itu menatap bocah di depannya yang seperti menantangnya untuk bergelut dengan dirinya.
Baru saja Cwen membuka mulutnya untuk menjawab, ia mendengar seseorang memanggil namanya.
“Cwen?”
Cwen menoleh dan mendapati gurunya itu yang sudah rapi dengan seragam guru di sekolahnya, juga tas jinjing hitamnya yang menjadi ciri khas seorang Ansel.
“Loh, rumah pak Guru di sebelah kanan, Cwen kira di sebelah kiri loh, Cwen malah mengira jika om ini teman atau kelaurga pak guru yang tinggal bersama," ucap Cwen sembari menunjuk pria yang bertubuh besar itu.
Ansel menatap pria itu tidak enak, ia meminta maaf atas apa yang terjadi antara Cwen dan juga pria itu.
“Maafkan Cwen pak, Cwen mengira jika itu apartement saya,”
“Oh pak Ansel, saya kira pak guru yang di sebut bocah itu siapa, ternyata bapak toh,”balas si pria itu ramah. Walaupun tubuhnya besar dan tinggi, kulit yang sedikit kehitaman dan wajah yang di penuhi dengan jenggot lebar dan juga kumis lebar, hati pria itu begitu lembut dan sopan, bahkan tidak terdengar suara orang yang kesal dengan Cwen yang tadi.
“Pak guru aku lapar,”ucap Cwen tidak mau mendengar percakapan om itu dan juga Ansel, perutnya sudah benar-benar keroncongan karena lapar.
Ansel mengerutkan dahinya bingung,“dimana mama Cwen?”
“Mama masih tidur pak guru, Cwen sudah berusaha membangunkan mama, tapi mama sama sekali tidak bangun, Cwen sudah sangat lapar, jadi Cwen keluar untuk menemui pak guru,”cerita Cwen dengan tangan yang memegangi perutnya.
“Ya ampun Cwen, pak guru kira kenapa Cwen pagi-pagi begini mencari pak guru,”
Ansel tersenyum lalu membawa Cwe masuk ke dalam apartemennya untuk mengajaknya makan, kebetulan ia masih ada beberapa roti yang masih tersisa. Ansel belum sempat belanja, Karen akhir-akhir ini ia sedikit sibuk dan tidak sempat keluar untuk berbelanja kebutuhan rumah.
***
Cwen menghabiskan semua roti yang Ansel panggang untuk Cwen, gadis itu benar-benar tidak berbohong ketika dirinya mengatakan ia kelaparan, melihat bagaimana lahapnya Cwen makan membuat hati Ansel sedikit menghangat, ia sangat suka denagn anak kecil yang makan begitu lahapnya.
Cwen bahkan sama sekali tidak membuka mulutnya untuk mengeluarkan suara, mulutnya hanya sibuk mengunyah roti yang masuk, ia juga tidak begitu memperhatikan apartement milik gurunya itu yang terlihat sangat bersih dan juga rapih.
“Mau lagi?”tanya Ansel melihat Cwen yang baru saja menghabiskan gigitan terakhir roti di tangannya.
Cwen mengangguk dengan semangat, dan Ansel hanya menanggapinya dengan senyum kecil, ia kembali memanggang satu roti terakhir, lalu mengoleskan selai coklat di atasnya.
“Habiskan, ya!”ucap Ansel mengusap lembut kepala Cwen, lalu ia melangkah ke lemari dapur untuk membuatkan Cwen susu, agar perutnya semakin kenyang dan tidak lagi merasakan lapar.
“Pak guru, Cwen tidak mau sekolah hari ini, mama pasti belum bangun karena sampai sekarang pun mama belum mencari Cwen ke sini,”ucap Cwen begutu roti di dalam mulutnya habis ia telan.
“Mama masih sakit?”tanya Ansel menyerahkan gelas berisi susu kepada Cwen yang langsung di tenggak habis olehnya.
“Cwen tidak tahu, habisnya mama tidak dengar saat Cwen bangunkan, biasanya mama kan bangun lebih dulu dari Cwen,”
“Cwen sudah coba periksa dahi mama? Panas atau tidak?”tanya Ansel duduk di kursi yang bersebrangan dengan Cwen.
Cwen menggeleng dan meletakan gelasnya di atas meja,“Cwen tidak sempat periksa mama, perut Cwen sudah sangat lapar,”jawab Cwen sukses membuat Ansel terkekeh pelan.
“Pak guru boleh cek mama Cwen?” tanya Ansel.
Tentu saja Cwen langsung mengangguk, ia turun dari kursi dan menarik tangan Ansel dengan semangat,“Ayo kita periksa mama, pak guru, mama pasti senang kalau pak guru mengkhawatirkan mama,"
Ansel hanya pasrah saja saat tangannya di tarik oleh Cwen untuk masuk ke dalam apartemennya dan masuk ke kamar Jenia begitu saja, sebenarnya Ansel sedikit ragu, tapi ia juga sedikit khawatir jika Jenia yang kini sudah menjadi tetangganya benar-benar sakit sepeti kemarin.
“Pak guru Cwen mandi dulu ya, takut mama marah kalau tau cwen belum mandi,”
Ansel mengangguk dan membiarkan Cwen keluar kamar mamanya.
Tinggallah ia sendiri di kamar Jenia, dengan sedikit perasaan ragu, Ansel mengulurkan tangannya untuk mengecek kondisi mama dari muridnya itu, Ansel terkejut begitu ia merasakan dahi Jenia yang panas.
Jenia yang sedikit terganggu membuka matanya perlahan, kepalanya benar-benar terasa sakit, bahkan pandangannya ikut buram, jadi ia sedikit tidak mengenali siapa yang ada di sebelah ranjang tidurnya itu.
“Mau ke rumah sakit?”tanya Ansel menatap Jenia yang hanya menatap dirinya bingung.
“Badan kamu sangat panas, kita ke rumah sakit saja ya, biar Cwen tidak khawatir,”ucap Ansel.
Entah mengapa ia tidak bisa melihat orang lain dalam kesulitan, pasti ia akan selalu sigap membantu mereka, tapi sepertinya Ansel tidak pernah seberlebihan ini dalam membantu orang lain. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri.
seru ceritanya