"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PISAU TERSEMBUNYI DI BALIK BAYANGAN
Matahari pagi di Sekte Pedang Langit selalu dimulai dengan suara dentuman lonceng perunggu yang berat. Bagi ribuan murid, itu adalah tanda dimulainya pengejaran keabadian. Namun bagi Han Feng, itu adalah tanda untuk memulai rutinitas paling membosankan: membelah kayu bakar di dapur belakang.
Han Feng berdiri di depan tumpukan kayu Zhen yang terkenal keras. Biasanya, seorang pelayan butuh waktu sepuluh menit untuk membelah satu batang kayu ini menggunakan kapak tumpul. Namun, Han Feng tidak memegang kapak. Dia hanya meletakkan telapak tangannya di atas permukaan kayu yang kasar.
Di dalam benaknya, struktur molekul kayu itu terlihat jelas seperti jaring-jaring rapuh. Melalui Sutra Dewa yang Terbuang, dia mempelajari teknik "Getaran Penghancur Atom".
Wush...
Tanpa suara ledakan, tanpa percikan api. Han Feng hanya memberikan sedikit getaran frekuensi tinggi melalui ujung jarinya. Detik berikutnya, batang kayu itu terbelah menjadi dua dengan potongan yang sangat halus, seolah-olah dipotong oleh laser surgawi.
"Napas yang stabil, energi yang tersembunyi," gumam Han Feng.
Dia tidak terburu-buru meningkatkan level kultivasinya secara fisik. Di kepalanya, Sutra Dewa memperingatkan bahwa pondasi yang terburu-buru akan retak di masa depan. Dia memilih untuk membangun "Dantian Emas"—sebuah wadah energi yang berlapis-lapis. Jika seorang kultivator tahap Body Refining biasa memiliki energi setebal kertas, Han Feng memadatkan energinya hingga setebal dinding benteng, namun tetap menyembunyikannya di balik nadi yang sengaja dia buat terlihat "kacau" agar tidak menarik perhatian para Tetua.
...****************...
Siang hari, ketenangan Han Feng terganggu. Seorang pelayan suruhan Li Wei datang dengan wajah angkuh, melemparkan sebuah kantong kosong ke wajah Han Feng.
"Sampah! Tuan Muda Li akan menghadapi ujian promosi murid dalam besok pagi. Dia butuh Ramuan Pengumpul Qi murni dari gudang obat bawah. Ambilkan sekarang, dan pastikan kau tidak menyentuhnya dengan tangan kotormu!"
Han Feng menangkap kantong itu dengan gerakan yang terlihat kikuk, sengaja menjaga aktingnya sebagai pelayan penakut. "Ba-baik, segera saya laksanakan."
Han Feng berjalan menuju gudang obat. Di sana, dia menerima botol porselen berisi cairan berwarna hijau jernih. Bagi mata biasa, ini adalah ramuan kelas satu. Namun bagi mata Han Feng yang memiliki pengetahuan Alkimia Dewa, ramuan ini penuh dengan kotoran yang tidak murni.
Di sebuah lorong sepi yang gelap, Han Feng berhenti. Dia memegang botol itu. Jarinya mengeluarkan cahaya keemasan yang sangat tipis, hampir tidak terlihat.
Dia tidak memasukkan racun. Racun akan meninggalkan jejak yang bisa dilacak oleh tabib sekte. Sebagai gantinya, dia menggunakan teknik "Inversi Energi". Han Feng hanya mengubah sedikit urutan partikel energi di dalam cairan itu. Ramuan tersebut kini akan tetap memberikan dorongan tenaga yang besar di awal, namun akan menciptakan "sumbatan" mendadak di jalur meridian tepat saat pengguna mengerahkan kekuatan penuh.
"Selamat menikmati ujianmu, Tuan Muda Li," bisik Han Feng dengan senyum tipis yang dingin.
Setelah mengantarkan ramuan itu—dan menerima tendangan di debu dari Li Wei sebagai 'ucapan terima kasih'—Han Feng dikirim ke tugas berikutnya: membersihkan Paviliun Kitab, tempat penyimpanan teknik beladiri sekte.
Paviliun ini dijaga oleh Tetua Lin, seorang pria tua yang hampir selalu tertidur sambil memegang botol arak. Karena status Han Feng sebagai "sampah tanpa bakat", dia dibiarkan bebas keluar masuk rak buku. Bagi Tetua Lin, Han Feng tidak lebih berbahaya daripada seekor kucing yang membersihkan debu.
Namun, saat Han Feng menyapu lantai, matanya bekerja seperti pemindai (scanner) surgawi.
Setiap kali dia melewati rak, judul-judul buku seperti Pedang Awan Mengalir atau Langkah Angin Cepat terserap ke dalam otaknya. Han Feng membedah teknik-teknik itu dalam hitungan detik.
“Terlalu banyak gerakan sia-sia di jurus ketiga... Aliran Qi di teknik ini akan merusak paru-paru dalam jangka panjang... Sampah, semuanya sampah,” batin Han Feng.
Di sudut paling gelap, dia menemukan sebuah gulungan tua yang sudah berjamur berjudul Langkah Bayangan Tanpa Jejak. Teknik ini dianggap gagal oleh sekte karena sangat sulit dipelajari dan tidak memberikan daya serang. Tapi Han Feng melihat potensi lain. Dia memodifikasi teknik itu di kepalanya dengan pengetahuan Sutra Dewa.
Dalam satu sapuan, teknik itu kini berubah menjadi "Langkah Kosong Ilahi". Dia bisa bergerak di antara ribuan orang tanpa ada satu pun yang menyadari keberadaannya, seolah-olah dia adalah bagian dari udara itu sendiri.
Han Feng terus menyapu, wajahnya tetap datar dan tunduk, sementara di dalam kepalanya dia baru saja "mencuri" seluruh ilmu pengetahuan Sekte Pedang Langit dan memperbaikinya menjadi versi yang sempurna.
Sore harinya, lapangan latihan sekte dipenuhi sorak-sorai. Li Wei sedang melakukan demonstrasi kekuatan di depan para murid baru dan beberapa murid perempuan yang dia kagumi.
"Perhatikan baik-baik!" seru Li Wei dengan sombong. Dia meminum ramuan yang dibawakan Han Feng tadi, merasakan energi besar mengalir di tubuhnya. "Ini adalah teknik kebanggaan keluargaku, Telapak Pemecah Gunung!"
Li Wei mengumpulkan seluruh energinya ke telapak tangan. Cahaya biru memancar kuat. Dia ingin menghancurkan sebuah batu ujian besar untuk pamer.
Di kejauhan, Han Feng berdiri sambil memikul keranjang cucian yang berat. Dia berhenti sejenak, melihat ke arah panggung latihan.
Sekarang, batin Han Feng.
Tepat saat Li Wei akan menghantamkan tangannya ke batu, struktur energi ramuan yang telah dimodifikasi Han Feng bereaksi. Aliran Qi yang tadinya deras tiba-tiba berbalik arah (backlash) di dalam nadinya.
BUM!
Bukan batu yang hancur, melainkan Li Wei yang terpental ke belakang. Aliran energinya tersumbat di ketiak, menyebabkan otot lengannya kejang seketika. Tubuhnya melintir di udara dan jatuh terjerembap ke dalam bak air pembersih kaki di pinggir lapangan.
BYUR!
Keheningan seketika melanda. Murid-murid perempuan yang tadinya bersorak kini menutup mulut mereka untuk menahan tawa. Li Wei merangkak keluar dari bak air dengan rambut acak-acakan dan jubah basah kuyup, terlihat sangat memalukan.
"Apa yang terjadi?! Ramuan itu... ada yang salah dengan ramuannya!" teriak Li Wei dengan wajah merah padam karena malu.
Tabib sekte segera berlari mendekat dan memeriksa denyut nadi Li Wei. "Aneh... nadimu hanya sedikit kacau karena terlalu bersemangat. Ramuannya bersih, tidak ada racun. Mungkin Tuan Muda Li terlalu terburu-buru dalam mengerahkan tenaga."
Li Wei menggeram frustrasi. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun. Dia tidak akan pernah menyangka bahwa pelayan yang dia tendang tadi pagi adalah penyebab kehancurannya.
HARTA DI BALIK LUMPUR
Han Feng melanjutkan langkahnya menuju tempat pembuangan sampah di belakang sekte. Di sana, di dekat tembok yang retak dan berlumut, dia berhenti. Matanya menangkap sesuatu yang tidak akan disadari oleh siapa pun di sekte ini.
Di antara rumput liar yang bau, tumbuh sebuah tanaman kecil dengan tiga daun berwarna hitam kusam. Orang-orang di sini menyebutnya "Rumput Gagak", tumbuhan pengganggu yang tidak berguna.
Namun, di memori Dewa milik Han Feng, itu adalah "Rumput Penelan Jiwa" yang legendaris. Jika diolah dengan benar, tanaman ini bisa menyembunyikan level kultivasi seseorang secara total, bahkan dari mata seorang Kaisar sekalipun.
"Sekte ini benar-benar sekumpulan orang buta," gumam Han Feng.
Dia memetik tanaman itu dengan gerakan halus, memasukkannya ke dalam saku jubahnya. Dengan tanaman ini, dia bisa terus tumbuh menjadi naga di balik bayangan tanpa ada yang curiga.
Malam itu, Han Feng duduk di atap barak pelayan yang sepi. Dia melihat ke arah paviliun mewah tempat para Tetua tinggal.
"Kalian menikmati kemewahan kalian di atas penderitaan orang lain," bisik Han Feng sambil menatap tangannya yang kini memancarkan cahaya keemasan redup. "Nikmatilah selagi bisa. Karena saat debu ini bangkit sepenuhnya, tidak akan ada tempat bagi kalian untuk bersembunyi."
Han Feng memejamkan mata, membiarkan energi semesta mengalir masuk ke dalam dirinya. Dia adalah pelayan yang terbuang, namun dia juga adalah badai yang sedang tenang. Dan besok, dia akan kembali menyapu lantai, membelah kayu, dan menundukkan kepala—sambil mempersiapkan langkah selanjutnya untuk menghancurkan mereka semua dari dalam.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏