Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Aroma kopi pagi masih tertinggal di udara saat sinar matahari mulai merangkak naik, menyinari ruang tamu apartemen keluarga Yosephine yang sederhana. Pagi itu terasa berbeda. Ada ketenangan yang ganjil, namun di bawah permukaan, ada getaran emosi yang sulit dijelaskan. Tas taktis Kingsley sudah tersampir di bahunya yang lebar, menandakan bahwa waktu istirahat singkatnya di tempat itu telah berakhir.
Kingsley berdiri di tengah ruangan, sosoknya yang jangkung membuat langit-langit apartemen terasa lebih rendah. Ia menatap Melinda dan Anna dengan tatapan hormat, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun di luar lingkaran keluarganya sendiri.
"Ibu, Anna... saya harus kembali sekarang," suara Kingsley rendah namun mantap. "Terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal dan menjaga Faelynn di sini. Saya meminta izin untuk kembali lagi segera."
Melinda tersenyum, namun ada gurat kecemasan dan harapan yang mendalam di matanya. Ia melirik Faelynn yang berdiri di samping Kingsley, tampak begitu kecil dan terlindungi. Melinda tahu, di lingkungan apartemen ini, kehadiran Kingsley semalam telah menimbulkan badai gosip. Ia juga tahu bahwa putrinya tidak akan pernah benar-benar aman dari cemoohan tetangga jika hubungan ini tetap menggantung tanpa kepastian yang jelas.
Melinda melangkah maju, memegang tangan Kingsley dengan lembut. "Nak Kingsley," ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar. "Ibu sangat berterima kasih kamu kembali dengan selamat. Tapi, Ibu ingin bertanya satu hal... sebagai orang tua yang mengkhawatirkan masa depan putrinya."
Kingsley mengangguk. "Silakan, Bu."
"Kapan kau akan kemari bersama keluargamu, Nak? Untuk... meresmikan semua ini?"
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Faelynn. Wajahnya seketika memanas, merambat hingga ke ujung telinga. "Ibu! Apa yang Ibu katakan?" seru Faelynn dengan nada malu yang tertahan. "Kita baru saja... maksudku, King baru saja kembali dari tugas yang sangat berat. Jangan bertanya hal-hal seperti itu sekarang."
Faelynn menunduk, tidak berani menatap Kingsley. Ia merasa sangat tidak enak. Ia tahu Kingsley adalah seorang agen, pria yang hidupnya dipertaruhkan setiap detik. Menikah mungkin adalah hal terakhir yang ada di dalam rencana pria itu. Ia tidak ingin Kingsley merasa tertekan atau terbebani oleh ekspektasi keluarganya.
Kingsley sendiri tertegun. Di dalam benaknya, pernikahan adalah sebuah konsep yang jauh—sesuatu yang mungkin hanya terjadi di akhir masa pensiunnya jika ia cukup beruntung untuk hidup sampai usia lima puluh tahun. Selama sepuluh tahun terakhir, komitmennya hanyalah pada bendera dan agensi.
Namun, saat ia melirik ke arah Faelynn—melihat bahunya yang sedikit bergetar karena malu, melihat bagaimana gadis itu mencoba membelanya di depan ibunya sendiri—sesuatu di dalam dada Kingsley bergeser. Ia teringat rasa takut yang ia rasakan di bunker tempo hari. Rasa takut bukan karena akan mati, tapi karena belum sempat memiliki Faelynn sepenuhnya.
Kingsley menarik napas panjang. Ia menatap Melinda dengan tatapan paling serius yang pernah ia miliki.
"Tujuh hari, Ibu," jawab Kingsley tegas.
Faelynn tersentak, ia mendongak dengan mata membelalak. "King?"
"Aku akan kembali ke sini tepat seminggu lagi," lanjut Kingsley, mengabaikan keterkejutan Faelynn. "Jangan siapkan pesta besar. Jangan siapkan dekorasi yang rumit. Cukup siapkan Faelynn. Karena saat aku kembali nanti, aku akan membawanya langsung ke altar pernikahan."
Deg.
Jantung Faelynn serasa mau copot dari tempatnya. Ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Menikah? Dalam tujuh hari? Ini bukan lagi plot novel romansa yang ia tulis; ini adalah ledakan realitas yang jauh lebih dahsyat.
Anna yang sejak tadi diam, kini menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar. Sementara Melinda meneteskan air mata haru. "Kau serius, Nak?"
"Saya tidak pernah bercanda soal komitmen, Bu," sahut Kingsley. Ia kemudian berbalik menatap Faelynn. Ia meraih kedua tangan gadis itu, menggenggamnya kuat-kuat seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya.
"Sayang, dengarkan aku," bisik Kingsley, hanya untuk Faelynn. "Duniaku tidak memberi banyak waktu untuk menunggu. Aku tidak ingin kehilangan satu detik pun lagi dengan risiko kau menangisi surat biru itu lagi. Aku ingin saat aku pergi bertugas nanti, kau sudah memiliki namaku di belakang namamu. Kau akan menjadi tanggung jawabku dan negaraku sepenuhnya."
Faelynn masih terpaku, lidahnya kelu. "Tapi... seminggu? Berkas-berkasnya... identitasmu..."
"Serahkan semua padaku. Aku punya 'jalur khusus' untuk mempercepat birokrasi," Kingsley menyeringai tipis, sebuah seringai yang mengingatkan Faelynn bahwa pria ini adalah agen yang mampu memanipulasi data apa pun.
"Apa seminggu cukup untuk kesiapan mentalmu, Sayang? Kau hanya perlu membawa dirimu dan gaun putih yang paling kau sukai."
Faelynn menatap mata elang Kingsley. Di sana tidak ada keraguan, hanya ada janji perlindungan yang mutlak. Ketakutannya perlahan menguap, digantikan oleh rasa haru yang membuncah.
"Jika kau yakin... maka aku juga yakin, Ay," jawab Faelynn pelan, sebuah senyuman mulai merekah di bibirnya yang masih gemetar.
Kingsley mengecup kening Faelynn dengan lama dan dalam, sebuah ciuman pamitan yang terasa seperti sumpah. "Aku harus pergi sekarang. Aku akan mengurus berkas pernikahan kita dengan cepat. Jaga dirimu baik-baik, jangan dengarkan sampah di luar sana."
Kingsley melepaskan tangan Faelynn, lalu mengangguk hormat pada Melinda dan Anna. "Sampai jumpa tujuh hari lagi, Ibu."
Dengan langkah lebar dan penuh percaya diri, Kingsley keluar dari apartemen itu. Faelynn berjalan ke balkon, menatap SUV hitam yang menunggu Kingsley di bawah. Saat pria itu masuk ke mobil, ia sempat menoleh ke atas dan memberikan hormat singkat sebelum kendaraan itu melesat membelah jalanan Los Angeles.
"Tujuh hari..." gumam Faelynn sambil menyentuh kalung kompasnya.
"Kak, kau benar-benar akan menjadi seorang istri seorang Diplomat!" seru Anna sambil memeluk kakaknya dari belakang.
Faelynn tersenyum, menatap langit biru yang cerah. Masa lalunya sebagai "si perawan tua" baru saja berakhir, dan dalam tujuh hari, ia akan memulai bab paling nyata dalam hidupnya—menjadi satu-satunya pelabuhan bagi Kingsley Emerson.
"Aku mencintaimu, Ay..." bisiknya pada angin, tahu bahwa pria itu akan mendengarnya dalam hati.