Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Begitu tiba, Deva, Aliya, dan Adiba duduk melingkar di atas karpet bulu, dikelilingi oleh coretan kertas yang mereka sebut sebagai "Master Plan Jodoh untuk Bunda".
"Jadi, nanti kalau Om Al lewat, Tante sengaja puji-puji kegagahan Om Al di depan Bunda, ya?" bisik Adiba sambil menahan tawa.
"Beres! Tante akan buat Bunda merasa kalau Om Al itu aset berharga yang banyak incarannya!" balas Deva yang disambut tawa cekikikan dari si kembar. Rencana-rencana menggelikan itu membuat mereka merasa seperti agen rahasia yang sedang menjalankan misi negara.
Namun, keceriaan itu mendadak terhenti saat ponsel Deva bergetar hebat. Wajah Deva seketika memucat saat membaca pesan dari Bandung. "Ya Allah... Ibu masuk rumah sakit!"
"Kenapa Tante?" tanya Aliya cemas.
"Ibu pingsan, sekarang di ICU. Tante harus pulang sekarang juga!" Deva segera menyambar tasnya, berpamitan kilat pada si kembar, dan memacu mobilnya keluar dari gerbang tepat sebelum mobil Alvaro masuk.
Beberapa menit kemudian, Hanum dan Alvaro melangkah masuk dengan sisa senyum dari momen nasi goreng tadi. Namun, mereka heran melihat si kembar berdiri di ruang tamu dengan wajah tegang.
"Tadi itu mobil Deva kan? Kok terburu-buru sekali?" tanya Hanum heran.
"Tante Deva mendadak pulang ke Bandung, Bun. Katanya ibunya Tante Deva masuk rumah sakit," lapor Aliya.
Hanum tersentak, rasa khawatir langsung menyergap. Ia segera merogoh tasnya dan menghubungi Deva. Setelah mendengar suara Deva yang bergetar di seberang telepon, Hanum memberikan dukungan moril sebelum akhirnya menutup telepon dengan napas berat. Suasana ceria malam itu berganti menjadi sedikit haru. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat di kamar masing-masing.
*
*
Waktu berputar begitu cepat. Satu minggu lagi, gedung pertemuan utama akan menjadi saksi sejarah bagi keluarga Sanjaya. Rapat gabungan investor dan direksi akan digelar, di mana identitas Hanum sebagai pewaris tunggal sekaligus Presdir baru perusahaan Sanjaya akan diumumkan secara resmi.
Hanum berdiri di depan jendela kamarnya, menatap lampu kota dengan perasaan gelisah. "Satu minggu lagi... aku akan bertemu dia sebagai orang yang berbeda," gumamnya. Bayangan wajah Johan yang meremehkannya, yang menyebutnya wanita pembawa sial, terus menghantui.
Alvaro, yang baru saja membawakan segelas susu hangat, berdiri di ambang pintu. Ia bisa merasakan kegundahan itu. "Jangan biarkan masa lalu menjadi beban untuk masa depanmu, Num. Kamu adalah permata Sanjaya. Dia hanya debu di bawah kakimu sekarang," ucap Alvaro lembut namun penuh kekuatan.
Hanum menoleh dan tersenyum tulus. "Terima kasih, Kak. Tanpa Kakak di sisiku, aku mungkin tidak akan seberani ini." Kedekatan mereka yang semakin akrab membuat Alvaro merasa sangat bersyukur. Setiap detik yang mereka lewatkan bersama adalah kemenangan kecil bagi perasaannya.
Sementara itu, di kantor perusahaan Go Green, Johan sedang menikmati kesuksesannya yang semu. Monica, yang perutnya kian membesar, mendekat dengan gaya manja yang selalu berhasil meluluhkan Johan.
"Sayang, kau cari tahu siapa calon istri Tuan Alvaro itu. Dekati dia, buat dirimu akrab. Aku ingin perusahaan Go Green menjadi prioritas utama bagi Sanjaya," perintah Johan sambil mengelus perut Monica.
Monica merangkul bahu Johan dengan posesif. "Mas Johan tenang saja, aku akan cari tahu sosok wanita itu. Oh iya, tadi ibumu telepon lagi, minta ditransfer uang belanja. Kenapa sih ibumu boros sekali, Mas? Membayar suster untuk mengurusnya saja sudah mahal, sekarang malah hobi belanja barang mahal!" keluh Monica dengan nada sinis.
Johan menghela napas, ia menarik Monica ke pangkuannya. "Kamu tenang saja, sayang. Apapun yang kamu perintahkan pasti akan aku kabulkan. Uang itu urusan kecil selama kamu bahagia."
Johan memeluk erat Monica, merasa telah menemukan wanita yang tepat. Namun di balik pelukan itu, mata Monica berkilat dingin.
'Sepertinya jika aku memintamu memindahkan ibumu yang cacat itu ke panti jompo, kau pasti akan mengabulkannya. Aku harus cari cara agar wanita tua itu keluar dari rumah suamiku secepatnya,' batin Monica penuh kemenangan.
Ia tidak sadar bahwa satu minggu lagi, kesombongannya dan Johan akan berhadapan dengan kenyataan pahit yang tak pernah mereka bayangkan.
*
*
Hari-hari menjelang rapat besar itu dilalui Hanum dengan dedikasi yang luar biasa. Alvaro sering kali berdiri di ambang pintu ruang kerja, hanya untuk memperhatikan bagaimana jemari Hanum menari di atas keyboard atau saat ia dengan tegas memberikan instruksi melalui panggilan video.
Hanum telah berubah. Ia bukan lagi wanita yang rapuh karena pengkhianatan, melainkan sosok pemimpin yang memiliki sorot mata tajam dan penuh perhitungan. Alvaro merasa tak berani mengganggu fokus itu, ia hanya bisa memandang dari kejauhan dengan rasa kagum yang membuncah. Hanum memang terlahir untuk memimpin Sanjaya Grup.
Dua hari sebelum hari bersejarah itu tiba, Hanum memutuskan untuk berangkat ke Bandung guna menjenguk ibunya Deva.
"Aku bisa pergi sendiri, Kak. Kakak istirahat saja di rumah, persiapan rapat lusa pasti melelahkan," tolak Hanum saat melihat Alvaro sudah bersiap di depan mobil.
Alvaro menggeleng tegas, kunci mobil sudah di genggamannya. "Keamananmu adalah prioritasku, Num. Apalagi ini perjalanan luar kota. Aku ikut, titik."
Setelah perdebatan kecil yang dimenangkan oleh Alvaro, mereka pun berangkat, sementara si kembar memilih tetap di Jakarta untuk menemani Tuan Sanjaya yang ingin menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya.
Setibanya di kediaman Deva di Lembang yang sejuk, Hanum langsung disambut pelukan hangat dari sahabatnya. Di ruang tengah, Ibu Dira tampak sedang duduk di kursi roda, wajahnya masih pucat namun terlihat jauh lebih segar.
"Maafkan aku Dev, dan juga Tante Dira, karena baru bisa menjenguk sekarang," ucap Hanum dengan nada sungkan yang kental.
Ibu Dira tersenyum lembut, lalu meraih jemari Hanum dan menggenggamnya hangat. "Tidak apa-apa Hanum, justru kamu sudah datang ke sini saja, Tante sudah sangat senang. Kata Deva, kamu sekarang sedang sibuk-sibuknya mengurus perusahaan. Tante sangat memaklumi hal itu, Nak."
Hanum mendesah lega, beban di pundaknya seolah terangkat melihat keramahan ibu sahabatnya tersebut.
Saat Hanum masih asyik berbincang mengenai kesehatan dengan Ibu Dira, Deva memberi isyarat kepada Alvaro untuk mengikutinya ke balkon depan. Udara Lembang yang dingin menusuk tulang, namun percakapan mereka terasa jauh lebih panas.
"Kak Al, bagaimana perkembangan hubungan Kakak dengan Hanum?" tanya Deva tanpa basa-basi, matanya menyelidik.
Alvaro menyandarkan punggungnya ke pagar balkon, menatap hamparan hijau di kejauhan. "Lumayan, Dev. Aku dan Hanum semakin dekat. Setidaknya dia sudah tidak menjaga jarak seperti dulu."
"Lantas, apakah Kakak sudah menyatakan perasaan Kakak ke Hanum?" cecar Deva lagi, suaranya sedikit lebih keras karena antusias.
Alvaro menarik napas panjang, baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab, sebuah suara yang sangat mereka kenali memutus keheningan dari arah pintu balkon yang terbuka.
"Menyatakan perasaan apa? Apa maksud pertanyaanmu itu, Deva? Kak Al?"
Seketika, Alvaro dan Deva mematung. Jantung Alvaro seolah berhenti berdetak saat melihat Hanum berdiri di sana dengan kening berkerut dan mata yang menuntut penjelasan. Keduanya refleks menelan ludah secara bersamaan, terjebak dalam keheningan yang mencekam karena baru saja tertangkap basah.
Bersambung...