[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peristiwa Enam Tahun Silam #03
Seketika, awan di atas mereka bergejolak. Seekor Naga bersisik baja meluncur turun dari balik kegelapan, mendarat dengan dentuman keras di samping Lingxi.
"Pergi! Bawa dia jauh dari sini!" teriak Yu Longxuan kepada Naga tersebut, sementara ia sendiri berbalik menghadap Xingluo, berdiri tegak meski darah mulai membasahi permukaan wajahnya. "Jangan menoleh ke belakang!"
Naga itu menyambar kerah baju Lingxi dengan lembut, membawanya terbang ke cakrawala yang terbentang luas. "LEPASKAN LINGXI ...! PAPA, TIDAK ...!" Lingxi hanya bisa menjerit histeris.
Langit di atas pegunungan Sekte Naga Giok tak lagi berwarna biru jernih—ia kini kusam, tertutup debu mesiu dan asap hitam yang membubung dari aula utama yang runtuh. Dari kejauhan, kemegahan paviliun-paviliun giok yang biasanya berkilau tertimpa cahaya matahari kini tampak seperti nisan raksasa yang mulai mengecil dan memudar di cakrawala.
Naga dengan napas yang tersengal dan baju zirah yang retak seribu—mengepakkan sayapnya menembus awan. Di atas punggungnya, Lingxi duduk meringkuk dengan mencengkram erat hanfu yang sudah koyak. ia adalah satu-satunya permata yang tersisa dari kehancuran ini.
Lingxi menoleh ke belakang. Matanya yang sembab menatap siluet sektenya yang kian samar. Bayangan sang papa, Yu Longxuan—yang berdiri tegak sendirian menghalau ribuan kultivator iblis di gerbang utama, terus berputar di kepalanya. Lalu, bayangan Penasihat Hao yang tubuhnya tertembus pedang bertekanan petir yang dahsyat, serta Paman Jitian yang sudah tergeletak tak bernyawa akibat meledakkan basis kultivasinya demi memberi para generasi muda melarikan diri. Namun, semuanya hancur kala itu juga.
"TIDAAAK! PAPA! PENASIHAT HAO! PAMAN JITIAAAAN!" Jeritan Lingxi pecah, menyayat sunyi di ketinggian ribuan kaki.
Ia meronta-ronta kasar sampai membuat Naga menggunakan Teknik Penjerat, Rantai Naga Melilit untuk menahan tubuh Lingxi agar tidak terjatuh. Dalam dekapan Naga, tangan Lingxi menggapai-gapai udara seolah ingin menarik kembali waktu yang telah hilang. Air matanya jatuh, tertiup angin kencang, menjadi butiran kristal yang hilang di antara awan.
"Lingxi, kita harus pergi. Pengorbanan mereka tidak boleh sia-sia," ujar Kakek Naga dengan suara parau, menahan isak tangisnya sendiri.
"Lepaskan Lingxi, Kakek Naga! Mereka masih di sana! Papa masih menunggu Lingxi!" Lingxi memukul-mukul lengan zirah Kakek Naga. Suaranya serak, penuh keputusasaan yang menghancurkan jiwa.
"Kenapa ... kenapa mereka harus mati? Paman JitiN berjanji akan menunjukkan Lingxi teknik pedang baru. Penasihat Hao juga pernah berkata bahwa dia akan membawakan Lingxi manisan dari Kota Baili ..."
"KENAPA MEREKA SEMUA BERBOHONG?!" bentak Lingxi seraya mengacak-acak rambutnya.
Lingxi kembali terduduk di punggung milik Kakek Naga, menutupi wajahnya dengan telapak tangan yang gemetar. Bahunya berguncang hebat. Isak tangisnya bukan lagi sekadar kesedihan, melainkan sebuah ratapan pilu yang mampu menggetarkan alam semesta. Di bawah sana, hutan-hutan hijau tampak seperti saksi bisu atas genosida yang menimpa sektenya.
Ia hanya dapat menatap sosok papa yang kian mengecil di bawah sana, berdiri sendirian melawan maut demi memberinya kesempatan untuk hidup. Saat sudah cukup jauh dari Sekte Naga Giok. Lingxi akhirnya tenang, namun rasa sakit tak dapat lagi disembuhkan di balik wajah manisnya.
Papa ... Penasihat Hao, Paman Jitian, para murid sekte ..., batin Lingxi dengan air mata yang selalu bergenang merembes membasahi kedua pipinya.
Tiba-tiba, tangis itu mereda, namun suasana di sekitar Lingxi berubah mencekam. Suhu udara di sekeliling mereka mendadak turun drastis. Lingxi perlahan menurunkan tangannya. Matanya yang semula penuh air mata kini memancarkan kilat dingin yang mengerikan—aura yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah kehilangan segalanya.
"Peristiwa ini ... tidak, dendam di antara kita ... Yu Lingxi tidak akan pernah melupakannya." Ia berdiri tegak, membiarkan rambut panjangnya berkibar liar dimainkan oleh semilir angin. Ia menatap ke arah barat, tempat Sekte Iblis Guntur berada.
"Dengar ini ...," bisiknya.
Ia kemudian mendongak dan berteriak ke arah langit, bersumpah di depan para dewa dan arwah leluhurnya. "Demi darah Papa yang tumpah di tanah Giok! Demi nyawa Penasihat Hao dan Paman Jitian! Aku, Yu Lingxi, bersumpah di bawah sisa-sisa kemegahan namaku ... Aku akan kembali!"
"Aku akan menguliti setiap jenderal kalian dan meratakan Sekte Iblis Guntur hingga tak ada satu belulang pun yang tersisa!" pekik Lingxi kesal sebelum akhirnya duduk meringkuk dengan tangan memeluk lutut dengan erat.
Lingxi mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Darah segar menetes, jatuh menuju bumi yang jauh di bawah. "Keadilan ini tidak akan diminta, tapi akan kuambil dengan usahaku sendiri. Dendam ini ... hanya akan tuntas dengan lautan darah mereka ..."
Kakek Naga tertegun melihat perubahan itu. Ia tahu, gadis kecil yang ceria itu telah mati bersama runtuhnya Sekte Naga Giok. Kini, yang tersisa hanyalah seorang gadis kecil dengan dendam yang lahir dari abu kehancuran.
Di kejauhan, Sekte Naga Giok benar-benar menghilang dari pandangan, tertutup oleh tebalnya kepulan asap kematian. Dan di sinilah, perjalanan panjang menuju pembalasan baru saja dimulai ...
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
^^^Beibei Forest, in the morning^^^
Sinar matahari yang berusaha menembus rimbunnya kanopi pohon hanya menyisakan berkas-berkas cahaya tipis di lantai hutan. Lingxi melangkah dengan bahu yang merosot, ujung sepatunya sesekali menendang ranting kering dengan dongkol. Di depannya, sosok Kakek Naga berjalan dengan langkah yang tampak ringan, seolah-olah akar pohon yang melintang dan tanjakan terjal bukan hambatan baginya.
Hutan ini terasa seperti labirin tanpa akhir—setiap belokan hanya menyuguhkan pemandangan pohon raksasa yang sama. Lingxi berhenti sejenak, menyeka keringat di pelipisnya, lalu mengembuskan napas panjang yang sengaja dibuat terdengar dramatis.
"Kakek Naga ... kita ini sebenarnya mau ke mana?" keluh Lingxi dengan nada yang diseret. "Hutan ini tidak ada ujungnya. Rasanya kakiku sudah mau copot, perjalanannya jauh sekali!"
Suara serangga hutan yang berdengung konsisten seolah mengejek rasa lelah Lingxi. Kakinya terasa seperti timah, dan napasnya mulai tersengal. Ia menatap punggung Kakek Naga yang masih saja stabil, lalu memikirkan betapa nyamannya jika ia bisa menempuh perjalanan ini tanpa harus menyentuh tanah.
Lingxi mempercepat langkah sedikit hanya untuk berada cukup dekat agar suaranya terdengar, namun wajahnya sudah ditekuk masam. Kakek Naga menghentikan langkahnya, menoleh sedikit dengan jenggot hitamnya yang bergoyang tertiup angin. Ia tidak tampak lelah sedikit pun. Seulas senyum tipis muncul di wajahnya, disusul tawa kecil yang terdengar seperti gemerisik daun kering.
"Hahaha, sabarlah, Naga Kecil. Kita sudah hampir sampai. Sedikit lagi di balik bukit itu, kau akan melihat perubahannya," jawab Kakek Naga tenang—jemarinya yang memegang tongkat kayu menunjuk ke arah samar di depan sana.
Lingxi mendengus keras, matanya berputar malas. Jawaban "hampir sampai" itu sudah ia dengar sejak tiga hari yang lalu. "Sedikit lagi itu versi Kakek Naga atau versi orang normal?" gumam Lingxi ketus.
Ia kemudian berdiri mematung, menatap punggung Kakek Naga dengan pandangan yang penuh kode. Ia sengaja memijat-mijat betisnya dengan kasar dan sesekali meringis, berharap sang kakek menoleh dan mengerti maksud tersembunyinya.
"Duh, pinggangku juga mulai sakit. Padahal kalau ada yang membantuku ... atau mungkin, kalau aku tidak perlu jalan kaki, kita pasti sampai lebih cepat," lanjut Lingxi, suaranya dikeraskan agar Kakek Naga mendengar sindirannya.
Kakek Naga kembali berjalan tanpa menoleh, hanya menjawab dengan nada santai, "Bagus kalau begitu, itu artinya otot-ototmu sedang terlatih. Ayo, jangan tertinggal."
Lingxi menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. Kakek benar-benar tidak peka! gerutunya dalam hati.
Harapannya untuk bisa duduk nyaman di atas punggung kuat sang Naga atau sekadar digendong agar bisa beristirahat pupus sudah. Dengan bibir yang maju beberapa senti karena merajuk, Lingxi terpaksa kembali menyeret langkahnya, mengikuti sosok tua yang menurutnya sangat keras kepala itu menembus kelebatan hutan yang masih tampak sangat luas di depan mata.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
INFORMATION:
BERIKUT ADALAH 10 RANAH KULTIVASI MP:
1. Qi Condensation (Pemadatan Qi)
Ini adalah tahap awal di mana seorang kultivator mulai merasakan energi alam (Qi) dan mengumpulkannya ke dalam tubuh (biasanya di titik Dantian). Di tahap ini, fisik manusia mulai melampaui batas normal.
2. Foundation Establishment (Pembangunan Fondasi)
Tahap di mana kultivator memperkuat tubuh dan jiwanya agar bisa menampung energi yang lebih besar. Ibarat membangun gedung, ini adalah pondasi agar kultivasi di masa depan tidak runtuh.
3. Golden Core (Inti Emas)
Energi Qi yang tadinya berbentuk gas atau cair dipadatkan menjadi sebuah kristal bulat di dalam tubuh. Kultivator pada tahap ini biasanya sudah bisa terbang menggunakan pedang dan memiliki umur yang jauh lebih panjang (ratusan tahun).
4. Nascent Soul (Jiwa Baru)
Inti Emas pecah dan melahirkan "bayi spiritual" yang merupakan manifestasi dari jiwa kultivator. Jika tubuh fisiknya hancur, kultivator masih bisa hidup melalui Nascent Soul ini.
5. Spirit Severing (Pemutusan Roh)
Tahap yang lebih filosofis. Kultivator harus "memutus" keterikatan duniawi atau memahami jati diri mereka yang sebenarnya untuk mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi.
6. Soul Transformation (Transformasi Jiwa)
Jiwa spiritual mulai menyatu dengan hukum alam. Kultivator di tahap ini sering dianggap sebagai "Setengah Dewa" karena kemampuan mereka untuk memanipulasi elemen di sekitar mereka dengan skala besar.
7. Void Refinement (Pemurnian Kekosongan)
Kultivator mulai mempelajari hukum ruang dan waktu. Mereka bisa berpindah tempat dengan sangat cepat (teleportasi jarak pendek) dan memahami kekosongan alam semesta.
8. Body Integration (Penyatuan Tubuh)
Tahap di mana jiwa spiritual dan tubuh fisik menyatu secara sempurna. Tubuh kultivator bukan lagi sekadar daging, melainkan sudah bersifat energi murni yang sangat sulit dihancurkan.
9. Tribulation Transcendence (Melewati Kesengsaraan)
Ini adalah tahap kritis. Kultivator harus bertahan dari serangan petir langit (Heavenly Tribulation) sebagai ujian dari alam semesta. Jika gagal mereka akan musnah, jika berhasil mereka akan naik tingkat menjadi makhluk surgawi.
10. Immortality (Keabadian)
Tahap akhir di mana kultivator meninggalkan kemanusiaan mereka dan menjadi Immortal (Abadi). Mereka memiliki umur tak terbatas dan kekuatan yang bisa mengubah tatanan dunia atau bintang-bintang.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
3 TAHAPAN KECIL:
• Tahap Awal \= Level 1-15
• Tahap Prima \= Level 1-10
• Tahap Puncak \= Level 1-5
• Tahap Setengah Langkah \= Kondisi di mana seseorang sudah menyentuh ambang pintu ranah berikutnya. Namun, belum benar-benar menembusnya.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/