Di saat Alice selalu merasakan kekecewaan dari keluarga dan hubungan asmaranya, Carlos datang dalam hidup Alice untuk mengantikan rasa kecewanya menjadi kebahagiaan.. Namun di saat Alice sudah percaya dan memberanikan dirinya untuk berharap bisa bahagia di tengah kecewanya terhadap keluarganya, Carlos menghilang.. Carlos pergi tanpa meninggalkan jejak, seketika membuat Alice mempercayai jika di dunia ini tidak ada yang bisa membuatnya bahagia
Bab 17
Karyawan menyambut kedatangan mereka dengan antusias dan mengarahkan ke meja sofa yang dekat dengan meja kasir dan bagian barista. Ketika karyawan itu memberikan menu, seorang dari 2 laki - laki dewasa itu ingin memesan kopi.
“Maaf bapak sebentar ya saya tanya dulu, karena kami baru saja buka. Nona kami lagi mempersiapkan mesin kopinya.” Ucap Sara dengan sopan.
“Baik lah.” Ucap laki - laki itu.
Dengan cepat Sara menuju bagian barista tempat Alice berada.
“Nona Alice..” panggil Sara
Alice langsung melihat ke arah Sara sambil menghidupkan mesin kopi dan mesin gilingan kopinya..
“Iya Sar, ada apa?” Tanya Alice
“Itu nona, bapak di meja sana ingin memesan kopi.. apa bisa?” Tanya Sara menjawab pertanyaan Alice dengan pertanyaan lain sambil menunjuk ke arah meja yang dekat dengan meja kasir..
“Kenapa tidak bisa, mesin sudah ku hidupkan.. tanya lah mereka mau pesan kopi apa.” Jawab Alice sambil tersenyum
“Yakin nona bisa? Bang Akbar belum sampai lo..” jawab Sara.
“Bisa.. sana cepat ambil pesanan.” Ucap Alice sambil tersenyum.
Sara akhirnya pergi ke meja customer untuk mengambil pesanan.
“Sialakan bapak, kopinya sudah bisa di pesan.. mau pesan apa?” Tanya Sara dengan sopan.
Yang ingin order kopi adalah Carlos Chandra dengan asistennya Lucas Wijaya, 2 orang anak itu bernama Liam Chandra dan Lilliana Chandra, anak dari Carlos Chandra.
“Saya mau hot lattenya 2, jus jeruk hangat 2.” Ucap Lucas
Liam dan Lilliana sejak tadi memandang ke arah Alice dengan tatapan penasaran. Lilliana langsung tersenyum melihat ke arah ayah mereka.
“Pa, boleh enggak aku ke sana melihat aunty itu membuat kopi?” Tanya Lilliana.
Carlos terkejut dengan keinginan anaknya, tapi ia langsung bersikap normal..
“Coba kamu tanya kakak itu, boleh enggak kamu ikut untuk melihat aunty itu membuat kopi.” Jawab Carlos sambil mengelus kepala anaknya.
Sara mendengar apa yang menjadi keinginan anak perempuan itu. Ia langsung bertanya.
“Maaf adik, adik ingin melihat nona Alice membuat kopi?” Tanyanya hati - hati.
Lilliana langsung menganggukan kepalanya dengan semangat, “aku juga boleh ikut enggak kak?” Tanya Liam..
“Boleh kok, tapi izin dulu sama papanya.” Ucap Sara.
Kedua anak itu langsung memandang ke arah ayahnya. Carlos langsung mengangguk kepalanya pelan.
Anak - anak sangat senang, “maaf pak, saya izin bawa adik - adik ke nona saya.” Ucap Sara dengan sopan.
Carlos hanya menganggukan kepalanya, ia melihat kedua anaknya dengan senang menuju ke bagian barista.
“Nona..” panggil Sara
Alice yang sedang sibuk mencari shiled mask yang baru, langsung terkejut melihat Sara datang membawa 2 orang anak kecil..
“Kamu bawa anak siapa itu Sar? Nanti kalau orang tuanya nyariin gimana Sar? Ihh kamu ini ya ada - ada saja deh..” Alice langsung cerocos sambil memakai shield mask transparant untuk menutupi bagian mulut..
Sara dana 2 anak itu malah tertawa melihat Alice merepet ke Sara.. sampai membuat Alice menggelengkan kepalanya..
“Adik - adik ini ingin melihat nona membuat kopi.” Ucap Sara..
“Oalah.. sini yuk.” Ajak Alice sambil membuka pintu untuk masuk ke bagian barista.
“Sar, tolong ambil bangku bawa sini.” Ucap Alice.
Sara mengambil bagku, Liam dan Lilliana duduk anteng di belakang Alice.. Saat Alice membuat kopi ia melihat jam, sudah jam 10.30..
“Sar, tolong instruksi kan ke Iqbal langsung siapkan snack dan minuman untuk ruangan Meeting 1 dan 2. Jangan ada yang terlewat ya, jangan lupa pastikan air putihnya juga sediakan yang dingin dan hangat.” Ucap Alice
“Siap nona.” Ucap Sara dan langsung menuju bagian dapur
“Tina.. tolong kamu check proyektor di ruang Meeting 1 dan 2 jangan sampai ada kendala.” Ucap Alice yang melihat Tina yang baru sampai di counter barista.
“Baik nona..” ucap Tina langsung menuju ruang Meeting.
“Icha, tolong sambungkan ke Maria.” Ucapnya, Icha langsung menyambungkan telepon ke ruangan Maria
Liam dan Lilliana terpesona melihat Alice yang sedang membuat kopi tapi masih bisa memberikan instruksi kepada kakak - kakak yang ada di sekitarnya. Pemandangan itu tidak luput dari pengamatan Carlos.
“Halo adik - adik, kalian ingin gambar apa di atas latte ini?” Tanya Alice sambil memutar badannya ke arah Liam dan Lillian dengan senyum yang manis.
“Gambar kelinci, aunty.” Jawab Lillian
“Gambar panda saja, aunty.” Jawab Liam
Alice tertawa mendengar jawaban anak - anak itu.
“Oke hot lattenya ada 2, aunty akan membuat gambar kelinci dan panda.” Ucap Alice
Apa yang di bilang Alice membuat anak - anak itu tertawa dan sangat senang.
“Aunty boleh tahu nama kalian siapa?” Tanya Alice, sambil membuat art latte.
“Nama ku Lillian.” Jawab Lillian
“Aku Liam, aunty.” Jawab Liam
“Kalian tidak sekolah?” Tanya Alice
“Sekolah sedang libur, aunty katanya kakak kelas SMP mau ujian.” Jawab Liam
“Oh.. kalian kelas berapa?” Tanya Alice sambil mengambil nampan untuk mengantar 2 hot latte itu.
“Kami kelas 3, aunty.” Jawab Liam
“Oke, ayuk kita antar kopi ini sekalian kalian kembali ke meja kalian ya. Karena aunty enggak bisa pegang kalian, kalian jalannya hati - hati ya.. jangan lari - lari, bisa bahaya.” Ucap Alice sambil jalan menuju meja yang memesan kopi.
“2 hot lattenya ya pak.. silakan.” Ucap Alice.
Sebelum beranjak ia mengelus kepala Liam dan Lillian lalu membantu mereka duduk di mejanya. Setelah membungkukan badannya ia kembali ke ruangannya. Ia melepas celemek dan face shield yang di pakai nya.