Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi itu udara masih terasa dingin ketika Kartika berdiri di depan rumah Anggun sambil memandangi langit yang masih sedikit gelap.
Jalanan belum ramai. Beberapa warung baru buka..Suara ayam dan motor warga yang berangkat kerja mulai terdengar bersahutan.
Kartika memeluk tubuhnya sendiri pelan. Kaos panjang yang dipakainya sebenarnya cukup hangat, tetapi entah kenapa tubuhnya tetap terasa dingin. Mungkin bukan karena udara pagi, melainkan karena hatinya memang sedang kosong.
Semalaman tadi ia berusaha terlihat kuat di depan anak-anak. Berusaha tetap tersenyum. Tetap bicara seperti biasa. Tetap tenang seolah semuanya baik-baik saja. Namun, saat suasana mulai sunyi seperti sekarang rasa sakit itu datang lagi, pelan-pelan memenuhi dadanya.
Kartika menatap jalan di depannya dengan mata berkabut. Kota kecil ini menyimpan terlalu banyak kenangan untuk dirinya.
Di kota inilah ia pertama kali bertemu Deva. Di kota ini juga ia jatuh cinta untuk pertama kalinya sedalam itu pada seseorang. Semua kenangan mereka ada di sini.
Jalan tempat mereka pertama kali makan bakso bersama. Taman kecil tempat Deva dulu diam-diam menggenggam tangannya. Rumah mungil yang mereka isi dengan tawa, tangisan anak-anak, pertengkaran kecil, dan cinta yang dulu terasa begitu hangat.
Di kota ini ia belajar menjadi seorang istri, menjadi ibu, menjadi tempat pulang seseorang, dan sekarang ia justru pergi meninggalkan semuanya.
Kartika menunduk perlahan. Matanya mulai terasa panas lagi. Jujur saja dalam hati kecilnya ia masih ingin bersama Deva. Ia masih membayangkan tumbuh tua bersama pria itu. Membayangkan mereka duduk berdampingan saat rambut mulai memutih nanti. Membayangkan Deva tetap mengganggunya saat memasak. Membayangkan suara tawa anak-anak memenuhi rumah sampai besar nanti.
Namun, kenyataan tidak semudah itu.NKeluarga Deva terus menjadi tembok besar di antara mereka. Dan Kartika sudah terlalu lelah berjuang sendirian. Ia lelah mengalah. Lelah dipaksa untuk mengerti. Lelah dianggap orang luar di rumah tangganya sendiri.
Yang paling membuatnya takut Kalingga dan Kaivan mulai ikut merasakan tekanan itu. Kartika tidak mau anak-anaknya tumbuh di rumah yang penuh bentakan, sindiran, dan pertengkaran setiap hari. Ia tidak mau anak-anaknya menganggap semua itu hal biasa.
Suara mobil berhenti pelan di depan rumah membuat Kartika tersadar dari lamunannya.NSebuah mobil hitam mengilap berhenti tepat di depan pagar. Lampunya masih menyala kekuningan di tengah udara pagi yang dingin.
Tak lama kemudian pintu mobil terbuka. Seorang pria tinggi berkacamata keluar sambil merapikan jam tangannya. Tubuhnya tegap. Kemeja hitam lengannya tergulung rapi sampai siku. Wajahnya terlihat tenang dan dewasa.
“Pagi. Nyonya nakal yang tidak sabaran.”
Kartika langsung tersenyum kecil. “Pagi, Tuan galak yang suka ngomel-ngomel.”
Tawa pun pecah dari mulut keduanya.
Rangga berjalan mendekat sambil memasukkan satu tangan ke saku celana. Langkahnya santai, tetapi sorot matanya langsung memperhatikan wajah Kartika lekat-lekat.
“Kamu enggak tidur ya?” tanyanya pelan.
Kartika tertawa kecil walau terdengar hambar. “Tidur, kok, tapi cuma sebentar.”
Rangga menghela napas pelan. Semalam sepupunya itu menghubungi dan menceritakan semuanya lewat telepon. Sejak tadi malam emosinya naik turun memikirkan bagaimana Kartika diperlakukan.
Ia tahu sepupunya itu bukan perempuan yang gampang marah. Kalau sampai memilih pergi membawa anak-anak berarti hatinya benar-benar sudah terlalu sakit.
“Sekarang mau ke mana dulu?” tanyanya lagi.
“Aku mau urus pindahan sekolah Kalingga.”
“Oke.” Rangga mengangguk santai. “Aku antar ke mana pun kamu mau.”
Kartika tersenyum tipis. Belum sempat membalas, pintu rumah Anggun terbuka perlahan.
Kalingga keluar sambil menggandeng Kaivan yang masih setengah mengantuk. Rambut anak kecil itu acak-acakan. Bahkan sandal yang dipakainya berbeda warna.
Begitu melihat ada pria asing berdiri di depan rumah, keduanya langsung berhenti. Tatapan mereka penuh rasa penasaran.
Kartika langsung jongkok di depan anak-anaknya. “Kakak ... Adek,” katanya lembut sambil mengusap rambut mereka satu-satu. “Kenalin, ini Om Rangga. Saudara Mama.”
Rangga langsung tersenyum hangat. Matanya berhenti cukup lama pada Kalingga. Ada rasa kagum sekaligus haru di sana.
“Wah, Kalingga udah gede banget,” ucapnya pelan.
Kalingga menatap bingung. “Om pernah ketemu Kakak sebelumnya?”
Rangga tertawa kecil lalu mengangguk. “Pernah.”
Ia mengusap kepala Kalingga pelan. “Terakhir ketemu waktu kamu masih merah. Umurnya baru sebulan,” katanya sambil tersenyum mengingat masa lalu.
Kalingga langsung tersenyum malu. “Senang ketemu Om Rangga.” Lalu anak itu mencium tangan Rangga sopan.
Mata Rangga langsung melunak. “Pinter banget.” Sementara Kaivan masih sibuk memperhatikan Rangga dari bawah sampai atas. Tatapannya berhenti di kacamata pria itu.
Lalu tiba-tiba, “Halo Om Celangga!”
Beberapa detik suasana langsung hening. Rangga berkedip bingung. Kartika langsung buru-buru menutup mulut menahan tawa. Sedangkan Kalingga sudah memalingkan wajah karena hampir ngakak.
“Bukan serangga, Adek,” Kalingga menahan tawa, cepat sambil menahan ketawa. “Tapi, Om Rangga. Om Rang-ga!”
Kaivan mengernyit serius. “Om ... Celangga.”
Tawa Rangga langsung pecah begitu keras sampai membuat suasana pagi yang sendu tadi mendadak hangat.
“Ya ampun!” katanya sambil tertawa terbahak. “Lucu banget sih kamu!”
Pria itu langsung menggendong Kaivan gemas. Kaivan malah makin semangat memegang kacamata Rangga.
“Kacamataaaa!”
Kartika menggeleng geli sambil tertawa kecil untuk pertama kalinya pagi itu..Melihat anak-anaknya tertawa seperti itu sedikit mengurangi sesak di dadanya.
Rangga mencubit pipi Kaivan pelan. “Kartika, aku minta satu anak kamu boleh enggak?” ucapnya bercanda.
“Enak aja!” Kartika langsung pura-pura melotot. “Anak-anak aku limited edition.” by
“Langka.”
“Enggak dijual.”
Rangga tertawa lagi. Namun, di balik tawanya ada rasa nyeri kecil yang lewat di matanya. Sudah lima tahun ia menikah, tetapi sampai sekarang rumahnya masih terlalu sepi. Belum ada suara anak kecil di rumahnya yang memanggilnya ayah.
Ia dan istrinya sudah mencoba banyak cara. Berobat ke dokter. Program kehamilan. Menjaga pola hidup. Namun sampai sekarang takdir belum berpihak pada mereka..Mungkin karena itu Rangga selalu lembut sekali pada anak-anak. Terutama pada Kaivan yang super aktif dan menggemaskan.
Tak lama kemudian Anggun keluar dari rumah sambil membawa tas besar di bahu. Penampilannya sudah rapi. High heels berbunyi nyaring saat melangkah. Kacamata hitam bertengger di atas kepalanya.
“Wih, Pak Bos,” katanya sambil melirik Rangga usil. “Pagi-pagi udah nongkrong depan rumah orang.”
Rangga terkekeh kecil..“Takut Kartika berubah pikiran.”
“Halah.” Anggun memutar mata malas sambil menyilangkan tangan di dada.
Rangga lalu menatap Anggun tulus. “Makasih, ya, sudah nampung Kartika sama anak-anak.”
Anggun langsung mendecak. “Kayak sama siapa aja.”
Lalu wanita itu mendekati Kartika perlahan. Tatapannya berubah lembut.
“Kalau ada apa-apa langsung telepon aku.”
Kartika mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun jauh di dalam hatinya ia tahu hidupnya benar-benar sedang berubah mulai hari ini.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝