NovelToon NovelToon
Kaisar Pedang Penelan Surga

Kaisar Pedang Penelan Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Pendakian ke Puncak Tulang

Pagi di kaki Pegunungan Tulang Putih tidak membawa kehangatan.

Matahari terbit di balik puncak-puncak kapur, tapi cahayanya pucat, seolah diserap oleh batu-batu putih yang mendominasi lanskap. Xiao Fan keluar dari cerukan, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Di belakangnya, Liu Ruyan sudah bangun lebih dulu, duduk bersila dengan mata terpejam. Qi Kematian di sekitarnya berputar lebih tebal dari sebelumnya.

Kondensasi Qi Lapis Kedua, mendekati puncaknya, catat Xiao Fan dalam hati.

"Kita mulai pendakian," katanya.

Liu Ruyan membuka mata. "Aku siap, Guru."

Mereka memulai pendakian. Jalur setapak yang dulu mungkin sering dilalui kini tertutup lumut dan akar-akar kering. Batu-batu kapur putih berserakan di mana-mana, beberapa berbentuk aneh—seperti tulang rusuk, seperti tengkorak, seperti tangan yang mencakar langit. Angin bertiup pelan, membawa suara desiran yang terdengar seperti bisikan dari kejauhan.

Liu Ruyan berjalan di belakang Xiao Fan, tangannya sesekali menyentuh dinding batu untuk menjaga keseimbangan. "Guru, apa kau mendengar itu?"

"Bisikan?"

"Ya. Seperti... orang-orang yang berbisik dalam bahasa yang tidak kumengerti."

Xiao Fan mengangguk. "Itu sisa-sisa energi dari pertempuran kuno. Ribuan kultivator mati di sini, mungkin puluhan ribu. Jiwa mereka tidak sepenuhnya pergi. Mereka terperangkap di batu-batu ini."

Gadis itu menggigil, bukan karena kedinginan. "Apa mereka... berbahaya?"

"Tidak secara langsung. Tapi jika kau terlalu lama mendengarkan, mereka bisa mempengaruhi pikiranmu. Abaikan saja."

Mereka terus mendaki. Semakin tinggi, semakin dingin udaranya. Kabut tipis mulai turun, membatasi jarak pandang. Xiao Fan mengaktifkan Meditasi Seribu Benang, merasakan sekitar. Ada sesuatu di depan. Bukan manusia. Bukan monster hidup.

[Mendeteksi entitas undead: 3 Kerangka Prajurit. Tingkat ancaman: Rendah.]

"Dari mana asalnya?" tanya Xiao Fan dalam hati.

[Sisa-sisa kultivator yang mati di pertempuran kuno. Mereka bangkit karena energi kegelapan di gunung ini.]

Xiao Fan berhenti. "Liu Ruyan. Di depan ada tiga kerangka prajurit. Mereka bukan ancaman besar. Kau yang akan menghadapinya."

Gadis itu menegang, tapi mengangguk. Ia mencabut pedang besinya. "Aku siap."

Mereka melangkah maju. Kabut sedikit menipis, memperlihatkan tiga sosok kerangka berdiri di jalur sempit. Mereka mengenakan baju besi usang yang hampir hancur, memegang pedang berkarat. Mata mereka kosong, tapi nyala api biru pucat menyala di rongga tengkorak mereka.

Salah satu kerangka mendesis dan menyerbu, pedangnya terayun kaku ke arah Liu Ruyan.

Gadis itu mengelak dengan Langkah Bayangan—gerakannya masih kasar, tapi cukup untuk menghindar. Ia membalas dengan tebasan pedang besinya. Pedang itu mengenai tulang rusuk kerangka, tapi hanya menghasilkan percikan kecil. Tulangnya terlalu keras.

"Qi Kematian, bukan kekuatan fisik!" seru Xiao Fan dari belakang.

Liu Ruyan menarik napas. Ia mengalirkan Qi Kematian ke pedangnya. Bilah besi itu berubah gelap, diselimuti kabut hitam tipis. Ia menebas lagi.

Kali ini, pedangnya membelah tulang kerangka seperti kertas. Kerangka itu ambruk, tulang-belulangnya berserakan, api biru di matanya padam.

Dua kerangka lainnya menyerbu bersamaan. Liu Ruyan bergerak lebih percaya diri. Langkah Bayangan, tebasan pertama, tebasan kedua. Dalam hitungan detik, ketiga kerangka itu hancur berkeping-keping.

Gadis itu terengah, tapi matanya berbinar. "Aku... aku berhasil!"

"Bagus." Xiao Fan mengangguk. "Tapi jangan terlalu bangga. Mereka hanya kerangka tanpa kesadaran. Musuh yang sebenarnya masih menunggu di puncak."

Mereka melanjutkan pendakian. Kabut semakin tebal. Bisikan-bisikan semakin keras. Liu Ruyan beberapa kali menggeleng, seolah mencoba mengusir suara-suara dari kepalanya.

Sore harinya, mereka tiba di sebuah pelataran batu di tengah pendakian. Di sana, berdiri sebuah gapura batu kuno yang sudah runtuh setengah. Ukiran di atasnya nyaris tak terbaca dimakan usia.

Xiao Fan mendekat, membersihkan lumut dari permukaan batu. Aksara kuno. Sama seperti yang ada di kitab Liu Yuan.

"...untuk menghormati Putri Kegelapan, yang mengorbankan dirinya agar dunia tidak binasa..."

Hanya itu yang terbaca. Sisanya hancur.

Liu Ruyan membaca di sampingnya. "Putri Kegelapan... mengorbankan dirinya?"

Xiao Fan merenung. "Sejarah ditulis oleh pemenang. Para Penyegel mengklaim mereka mengurungmu karena kau berbahaya. Tapi gapura ini menceritakan versi lain."

Gadis itu menyentuh ukiran batu itu. Jari-jarinya bergetar. "Aku... aku ingin tahu kebenarannya, Guru. Bukan versi mereka. Bukan versi siapa pun. Tapi apa yang sebenarnya terjadi."

"Kita akan menemukannya." Xiao Fan menatap puncak yang kini sudah terlihat jelas—mulut gua hitam menganga di antara kabut. "Di sana. Aku bisa merasakannya."

Mereka beristirahat sejenak di pelataran itu. Liu Ruyan memejamkan mata, tapi tidak bermeditasi. Ia hanya duduk diam, tangan kanannya masih menyentuh batu gapura.

Xiao Fan mengawasinya. Gadis ini berubah dengan cepat. Bukan hanya kultivasinya yang meningkat, tapi juga mentalnya. Dari seorang gadis yang dulu menerima nasib sebagai "sampah tanpa akar spiritual", ia kini mulai mempertanyakan identitasnya sendiri. Mulai mencari kebenaran.

Itu bagus, pikir Xiao Fan. Seorang kultivator sejati tidak menerima begitu saja apa yang dikatakan dunia padanya. Ia mencari jawabannya sendiri.

"Guru."

"Hm."

"Apa yang akan terjadi jika segelku terbuka sepenuhnya? Apa aku akan... menjadi orang yang berbeda?"

Pertanyaan yang berat. Xiao Fan tidak menjawab langsung. "Kau akan tetap menjadi dirimu. Hanya saja kau akan mengingat hal-hal yang selama ini terlupakan. Kekuatanmu akan kembali. Tapi kepribadianmu, pilihanmu, itu tetap milikmu."

Liu Ruyan membuka mata. "Aku takut, Guru. Takut menjadi seseorang yang tidak kuinginkan."

"Itu ketakutan yang sehat." Xiao Fan berdiri. "Tapi ingat: kau bukan budak masa lalumu. Kau adalah orang yang memilih apa yang kau lakukan dengan warisan itu."

Gadis itu mengangguk pelan. Ia bangkit, menatap puncak. "Aku siap melanjutkan."

Mereka meninggalkan gapura kuno itu. Di depan, jalur semakin curam. Kabut semakin tebal. Dan dari dalam gua di puncak, sesuatu memanggil. Bukan dengan suara. Tapi dengan getaran yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki darah kegelapan.

Malam mulai turun saat mereka mencapai mulut gua. Dari dalam, terdengar suara napas berat. Lambat. Teratur. Seperti sesuatu yang besar sedang tidur.

Penjaga Tulang.

Xiao Fan menyalakan api kecil di telapak tangannya—bukan Qi Api, hanya teknik sederhana untuk penerangan. Cahaya redup itu menembus kegelapan gua, memperlihatkan dinding-dinding yang dipenuhi lukisan kuno.

Lukisan pertempuran. Lukisan seorang wanita berjubah hitam berdiri di atas bukit, dikelilingi musuh. Lukisan pedang hitam yang sama dengan yang ada di lautan kesadaran Xiao Fan.

"Guru... itu kau?" bisik Liu Ruyan, menunjuk lukisan pedang itu.

"Pedang Penelan Surga," koreksi Xiao Fan. "Tapi ya, itu pedang yang sama. Dan itu..." ia menunjuk lukisan lain di dinding seberang, "...itu kau."

Lukisan itu memperlihatkan dua sosok berdiri berdampingan. Seorang pria berjubah hitam dengan pedang hitam di tangan. Seorang wanita dengan rambut tergerai, tangannya menggenggam tangan pria itu. Di bawah mereka, tulisan kuno:

"Kaisar Pedang dan Putri Kegelapan. Dua jiwa yang ditakdirkan untuk bertemu di setiap kehidupan."

Liu Ruyan terpaku. Tangannya tanpa sadar menyentuh lukisan itu.

Dari dalam gua, suara napas berat itu berhenti. Lalu, suara gemuruh rendah. Batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit.

Penjaga Tulang telah terbangun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!