Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lorong dimensi
"Membunuh waktu?" Aris mengulangi kata-kata itu. Suaranya tidak lagi bergetar karena emosi, melainkan datar, dingin, dan berwibawa seperti logam yang ditempa. "Jika aku menghancurkan waktu, maka kematian Bimo, Hana, dan Panji tidak akan pernah terjadi. Mereka akan ada lagi?"
Profesor Chronos berjalan perlahan, jemarinya menyentuh permukaan jam besar di tengah ruangan—jam yang jarumnya tidak bergerak maju, melainkan berputar secara fraktal. "Kau masih berpikir seperti seseorang yang terperangkap dalam linearitas, Aris. Jika kau menghapus kematian mereka, kau menghapus pemicu yang membuatmu menjadi sosok seperti sekarang. Kau akan terhapus dari keberadaan, atau lebih buruk lagi, kau akan terjebak dalam paradoks abadi yang akan merobek realitas hingga ke intinya."
Aris mendekati cermin besar itu. Dengan satu sapuan tangan, cermin itu retak, dan di balik retakannya, Aris melihat bayangan dunia Jakarta 2046 yang terbakar. Ia melihat mayat Bimo yang bersimbah darah, Hana yang terkulai, dan Panji yang tergeletak di pintu masuk. Melihat itu, kebencian yang mendidih di dadanya tidak lagi berbentuk tangisan, melainkan menjadi energi murni yang berpendar biru di kulitnya.
"Aku tidak peduli pada realitas," Aris berbisik. "Aku akan memutus rantai sebab-akibat itu."
Profesor Chronos memberikan Aris sebuah belati yang terbuat dari material yang tampak seperti cahaya yang dipadatkan. "Ini adalah Chronoclast. Satu goresan pada poros utama Jam Pertama, dan seluruh struktur waktu yang kau kenal akan runtuh. Kau akan berada di luar ruang dan waktu, di tempat di mana tidak ada masa lalu untuk diratapi, dan tidak ada masa depan untuk ditakuti."
Aris mengambil belati itu. Ia memejamkan mata, memanggil kembali ingatan tentang suara tawa Hana saat mereka berhasil meretas sistem Syndicate, gertakan kasar Panji saat mereka berencana menyerbu pelabuhan, dan nasihat bijak Bimo di kantor mereka yang sederhana. Ingatan itu bukan lagi beban, melainkan bahan bakar.
Ia mengayunkan belati itu ke arah jam raksasa di tengah ruangan.
PRANG!
Suara pecahan kaca itu bukan sekadar denting, melainkan jeritan seluruh alam semesta. Ruangan Profesor Chronos mulai hancur menjadi debu cahaya. Aris terlempar ke dalam lorong dimensi yang tidak memiliki ujung. Ia melihat ribuan tahun sejarah manusia berlalu di depan matanya dalam hitungan detik. Ia melihat kekaisaran bangkit dan runtuh, ia melihat kelahiran bintang, ia melihat setiap momen di mana ia pernah gagal, dan setiap momen di mana ia pernah menang.
Aris kini berdiri di sebuah titik yang disebut Titik Nol. Di sini, tidak ada Jakarta, tidak ada 2046, tidak ada musuh. Hanya ada kanvas kosong yang membentang tanpa batas.
Ia menatap tangannya. Ia bisa merasakan setiap partikel waktu di sana.
"Bimo," Aris memanggil, suaranya menggema di ketiadaan. Dengan kehendak murninya, ia menarik benang-benang realitas dari memori yang paling dalam. Ia mulai memintal partikel-partikel cahaya, menyusun molekul, dan menghidupkan kembali struktur yang telah hancur.
Ia membuat sebuah dunia baru—dunia di mana ia tidak pernah mendapatkan gelang perak itu, dunia di mana Bimo, Hana, dan Panji hidup damai tanpa bayang-bayang perang. Namun, di dalam dunia yang ia ciptakan itu, ia melihat bayangan dirinya sendiri—Aris yang lain—sedang menjalani kehidupan yang normal.
Aris menyadari harga yang harus ia bayar. Untuk memastikan mereka hidup, dia harus tidak pernah ada di sana untuk mengacaukan hidup mereka. Dia harus menjadi entitas pengawas, penjaga yang tak terlihat, yang memastikan garis waktu baru ini berjalan tanpa gangguan dari entitas mana pun.
Ia menatap dunia baru ciptaannya untuk terakhir kalinya, melihat Hana tertawa, Bimo sedang memimpin rapat, dan Panji yang kini hanya seorang pengusaha logistik jujur.
"Tidurlah dengan tenang, kawan-kawan," bisik Aris.
Di kedalaman ketiadaan, Aris menutup mata, tiba tiba... Sensasi dingin menusuk tulang, diikuti dengan aroma buku tulis baru dan bau debu kapur yang sangat familiar. Aris tersentak bangun, napasnya tersengal-sengal. Ia bukan lagi berada di kehampaan ketiadaan, bukan pula di ruang Profesor Chronos.
Ia duduk di atas meja kayu yang baret, di tengah ruang kelas yang riuh dengan suara remaja yang tertawa. Cahaya matahari siang menerobos masuk melalui jendela, menyinari papan tulis yang penuh dengan rumus fisika dasar. Aris menoleh ke samping; di sana, terpampang kalender di dinding: 12 Mei tahun 2000.
Jantungnya berdegup kencang. Ia kembali ke masa SMA, Ia refleks meraba pergelangan tangan kirinya. Dingin, keras, dan sedikit bergetar. Gelang perak itu melingkar di sana, menyatu dengan kulitnya seolah-olah ia tidak pernah hancur. Gelang itu tidak hanya ada, ia bisa aktif sebuah proyeksi hologram tipis yang hanya bisa dilihat Aris muncul di udara, menampilkan angka-angka yang berputar dan status peringatan.
Ia menoleh ke cermin yang tergantung di dinding sekolah. Wajahnya kembali muda, bersih dari bekas luka pertarungan, dan matanya tidak lagi menanggung beban ribuan tahun. Ia adalah remaja SMA yang baru saja memulai tahun ajaran baru.
Aris menatap pergelangan tangannya. Gelang perak itu melingkar di sana, diam namun berdenyut pelan. Ia menyentuh hologram yang muncul di udara:
**[STATUS: WELCOME TO REALITY 2000]**
Aris mematung. Ia berada di masa lalu, di tahun 2000, di mana teknologi belum semaju masa depannya, dan tidak ada ancaman sindikat teknologi frekuensi.
"Woi, anak baru! Ngelamun aja lo!"
Aris menoleh. Di sana berdiri seorang siswa dengan rambut yang disisir rapi dan kacamata berbingkai kotak tebal. Namanya Dito, yang kemudian diketahui Aris sebagai ketua kelas yang sangat terobsesi dengan band-band britpop dan komik silat.
"Iya, nama gue Aris," jawabnya, berusaha menyesuaikan nada bicaranya dengan gaya bahasa remaja awal milenium.
"Gue Dito. Jangan dengerin si Maya kalau nanti dia sok galak, padahal dia cuma ketua OSIS yang lagi stres mikirin acara pensi bulan depan."
Aris tersenyum tipis. Maya, seorang gadis dengan ikat rambut pita merah yang tampak sedang sibuk berdebat dengan teman-temannya di dekat lapangan, terlihat begitu hidup dan bebas dari segala beban duniawi.
Mereka berjalan menyusuri koridor yang dipenuhi suara tawa remaja yang sedang membicarakan boyband atau hasil pertandingan bola semalam. Aris merasa seperti turis di dimensi yang tenang ini. Ia tidak perlu lagi menghitung langkah musuh, tidak perlu meretas sistem keamanan, dan tidak perlu takut akan suara sirine.
Namun, saat ia melintasi laboratorium komputer yang sedang direnovasi, hatinya sedikit berdenyut. Ia melihat tumpukan komputer Pentium III yang besar dan lambat, benda yang sangat arkais bagi Aris yang terbiasa dengan hologram dan laptop canggih.
"Teknologi di sini emang lemot banget, ya?" gumam Aris spontan.
Dito tertawa keras. "Lemot apanya? Ini udah paling canggih se kecamatan! Eh, lo bisa komputer? Kalau bisa, nanti bantu kita instal game Counter-Strike di lab ya!"
Aris tertawa kecil, sebuah tawa yang jujur dan tanpa pretensi. Ternyata, menjadi remaja biasa dengan teman-teman baru yang tidak memiliki agenda tersembunyi jauh lebih menyenangkan daripada memikul nasib dunia.
***
Aris duduk di bangku paling belakang, menatap papan tulis kapur yang mulai berdebu. Di luar, suara bel sekolah berbunyi dengan nada yang nyaring dan sederhana. Tidak ada ancaman, tidak ada misi, tidak ada pengorbanan. Hanya ada masa muda yang membentang luas. Tahun 2000 memberikan banyak peluang untuk memulai kembali.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor