NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Obsesi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Serigala Iblis Di Hutan Sihir

Waktu seolah berlari dengan cepat sejak undangan itu diterima. Kereta kuda mewah yang disediakan keluarga Lindman bergerak stabil menyusuri jalanan batu Hanberg. Di dalam kabin yang empuk dan beraroma lavender itu, Luvya dan Sellia duduk berhadapan. Cahaya lampu jalan yang melewati jendela sesekali menerangi gaun mereka yang berkilauan.

​Sellia terlihat sangat memesona dengan gaun berbahan satin berwarna merah muda pastel. Gaun itu memiliki detail kerah off-shoulder yang dihiasi butiran mutiara kecil, sementara roknya yang lebar mengembang indah setiap kali ia bergerak. Topengnya berbentuk bunga lili yang halus dengan aksen emas di pinggirannya, senada dengan rambut merah mudanya yang disanggul modern.

Berbeda dengan Sellia, Luvya memilih gaun berwarna biru malam yang lebih gelap agar tidak terlalu menarik perhatian. Gaun itu berbahan beludru halus dengan potongan simpel namun elegan, memberikan kesan misterius. Topeng peraknya menutupi separuh wajah bagian atas, dengan desain ukiran yang tegas namun cantik, menyembunyikan identitas matanya dengan sempurna.

​Mereka berdua tertawa bersama mengingat tingkah Profesor Hedelon selama seminggu ini. Kantor profesor yang biasanya berisi botol ramuan mendadak menjadi butik. Luvya-lah yang paling sibuk bolak-balik mengambil paket-paket mewah dan menghadapi penjahit yang sengaja dipanggil Hedelon ke kantornya.

​"Ingat tidak saat penjahit itu datang?" tanya Sellia dengan mata berbinar. "Paman mengomel soal 'pemborosan dana riset', tapi dia tetap memilihkan sutra terbaik."

​"Oh, aku ingat," sahut Luvya terkekeh. "Dia bilang, 'Kalau kalian kumuh, itu menjatuhkan reputasiku!'. Padahal dia hanya ingin kau terlihat cantik, Sellia."

​Tawa mereka perlahan menyurut saat kereta mulai melambat di depan gerbang megah kediaman Grand Duke Lindman. Luvya menatap deretan kereta kuda bangsawan lainnya.

​Semoga jalan ceritanya tetap aman sesuai novel, batin Luvya sungguh-sungguh. Asal aku tidak mengacaukan pertemuan mereka, aku akan selamat.

Kereta semakin melambat saat memasuki pelataran luas kediaman Grand Duke Lindman yang diterangi ribuan lampu kristal. Sellia meremas jemari Luvya semakin erat, napasnya terdengar memburu di balik topeng bunga lili yang cantik.

​"Luvya," bisik Sellia, suaranya gemetar. "Aku takut jika harus jauh-jauh darimu atau Lucian. Aku sudah terlalu lama tidak bersosialisasi, apalagi setelah keluargaku jatuh. Sekarang aku membawa nama Paman Hedelon. Nama Balthazar sangat dihormati, aku takut melakukan kesalahan dan mempermalukan paman."

​Luvya menatap Sellia dengan tatapan menenangkan, meski batinnya menyahut dengan tegas. Kau tidak boleh terus menempel padaku, Sellia. Malam ini adalah panggungmu bersama Arken. Kau adalah pemeran utamanya, bukan aku.

​Luvya tahu betul sejarah di balik pesta ini dari novel yang ia baca. Festival tahunan ini diadakan oleh Grand Duke Lindman sebagai bentuk dedikasi cintanya kepada mendiang istrinya. Mereka pertama kali bertemu dan jatuh cinta di pesta topeng seperti ini. Karena itulah, Grand Duke selalu berharap festival ini akan menjadi tempat di mana pasangan bangsawan muda menemukan cinta sejati mereka.

​"Dengarkan aku, Sellia," ucap Luvya sambil merapikan letak topeng peraknya sendiri. "Lagipula, ini adalah pesta yang merahasiakan identitas. Tidak akan ada yang tahu siapa kau sebenarnya di balik topeng itu. Kau bisa menjadi siapa saja yang kau mau malam ini."

​Luvya menggenggam balik tangan Sellia untuk menyalurkan keberanian. "Nama Balthazar justru akan melindungimu. Jangan pikirkan soal mengecewakan paman. Berdirilah dengan tegak. Aku akan selalu ada di sekitar sini, menjaga dari jauh, meski mungkin tidak tepat di sampingmu."

​Dalam hatinya, Luvya sudah menyusun rencana matang. Begitu mereka masuk, ia harus segera mencari celah untuk diam-diam menjauh dari keramaian pesta. Kediaman Grand Duke ini sangat luas, dan ia harus membiarkan takdir bekerja tanpa gangguannya. Ia tidak mau kehadirannya merusak momen penting saat Sellia bertemu dengan Putra Mahkota Arken di lantai dansa nanti.

​"Jangan khawatir, Sellia. Kau akan baik-baik saja," bisik Luvya saat pintu kereta dibuka.

​Luvya melangkah turun lebih dulu, menghirup aroma malam yang penuh bunga dan sihir. Ia siap menjadi bayangan di sudut ruangan, menonton bagaimana sejarah cinta legendaris Grand Duke Lindman akan terulang kembali pada Sellia dan Arken malam ini.

Begitu pintu kereta terbuka, sosok pemuda dengan setelan jas putih formal dengan aksen sulaman perak sudah berdiri tegak menyambut mereka. Lucian Lindman, meskipun masih berusia lima belas tahun, tampak sangat berwibawa. Setelan putihnya memberikan kesan murni sekaligus megah, sangat serasi di bawah sinar bulan dan topeng perak yang ia kenakan.

​Senyumnya merekah saat melihat Sellia turun. "Kalian datang tepat waktu," ucap Lucian lembut. Ia kemudian membungkuk sedikit, matanya tertuju sepenuhnya pada Sellia. "Gaun itu sangat cocok untukmu, Sellia. Kau terlihat luar biasa cantik hari ini."

​Pipi Sellia merona merah, ia menunduk kecil sambil memegang ujung gaun merah mudanya yang indah. "Terima kasih, Lucian. Paman Hedelon yang menyiapkannya."

​Lucian kemudian melirik Luvya dan memberikan anggukan hormat yang sopan. "Luvya, kau juga terlihat sangat menawan. Mari, biarkan aku mengantar kalian ke dalam."

​Mereka bertiga berjalan memasuki aula utama. Begitu melintasi pintu gerbang emas, Luvya merasa seolah masuk ke dunia lain. Musik orkestra yang megah menggema di seluruh ruangan, berpadu dengan suara denting gelas kristal dan gelak tawa yang tertahan. Ribuan lilin sihir melayang di langit-langit, memancarkan cahaya hangat yang memantul pada gaun-gaun sutra dan topeng-topeng berhias permata.

​Luvya menyapu pandangannya ke sekeliling. Ini dia, pergaulan kelas atas yang rahasia, batinnya takjub. Orang-orang di sini bergerak dengan keanggunan yang diatur, saling berbisik di balik kipas dan topeng, mencoba menebak identitas satu sama lain sambil tetap menjaga martabat.

​Saat Lucian mulai terlibat perbincangan hangat dengan Sellia—mencoba membuat gadis itu merasa nyaman dengan menceritakan dekorasi aula—Luvya tahu ini adalah celahnya. Ia tidak boleh berada di antara mereka lebih lama lagi. Keberadaannya hanya akan menghambat alur yang seharusnya terjadi.

​Dengan gerakan yang sangat halus dan terlatih, Luvya mulai memundurkan langkahnya. Ia menyelinap di antara sekelompok bangsawan yang sedang tertawa, menjauh dari jangkauan pandangan Lucian dan Sellia.

​Maaf, Sellia. Aku harus pergi sekarang, batin Luvya. Panggung ini milikmu. Carilah Arken, dan biarkan aku menikmati kedamaian di tempat yang lebih sepi.

Luvya melangkah menjauh dari keramaian, menyusuri lorong yang tampak sepi dan tidak dijaga oleh prajurit. Ia menarik napas lega, membiarkan kebisingan musik orkestra memudar di belakangnya. Sambil melangkah, ingatannya melayang pada baris-baris kalimat di dalam novel yang pernah ia baca. Lorong ini... Ia tahu lorong ini menuju ke galeri pribadi keluarga Lindman.

​Luvya menghentikan langkahnya di depan sebuah lukisan besar yang sangat menonjol. Di sana, tergambar seekor serigala raksasa dengan bulu hitam pekat dan sepasang mata merah yang seolah menyala, memberikan kesan haus darah yang nyata.

​Lukisan Lucius Lindman, batin Luvya.

​Ia ingat detailnya. Lucius, kakak Lucian yang usianya hanya terpaut beberapa hari lebih tua dari Putra Mahkota Arken, adalah teman masa kecil sang pangeran. Namun, Arken memiliki mana yang kusut, membuatnya sulit untuk sering berburu. Lucius melukis serigala ini setelah ia menemukannya di Hutan Sihir, berniat menunjukkannya pada Arken sebagai bentuk ambisi dan kekuatannya.

Di mata keluarga kerajaan, Lucius adalah orang yang tak banyak omong dan begutu tegas. Namun, ​Luvya sebagai pembaca novel tahu kebenaran yang jauh lebih mengerikan, Lucius adalah antagonis paling plot twist yang nantinya akan menjadi wadah bagi iblis Zargous.

​"Serigala Iblis di Hutan Sihir," gumam Luvya pelan, menyebutkan judul lukisan yang sebenarnya belum dipublikasikan secara resmi itu.

​"Dari mana ada orang luar yang tahu nama lukisan ini?"

1
kiu kiu
wowww...lucius mulai tergetar hatinya melihat luvya.hingga ingin berdansa dgnya.apa ini tanda tanda thor...jodoh utk luvya di depan mata.🤭🤭🤭🤭😍😍
aku
siapa??? 🤔
kiu kiu
wow...semakin menarik thor..
kiu kiu
bagus thor..ceritanya semakin menarik.semoga luvya menjadi seorang penyihir jenius...
aku
kenapa gk jujur aja liv, klo duke yg buang kamu. pasti paman dn ponakan itu bakal ngerti, nah jd sekutu dh kalian. bs jd kamu malah dilindungi 😁😁
Rembulan Pagi: sifatnya Luvya memang susah percaya kak, akibat masa lalunya🤭
total 1 replies
kiu kiu
mantap thor...buat semua terkagum dg kepintaran luvya thor.agar nasib luvya tidak hancur.gara gara duke sialan itu.
Rembulan Pagi
Silakan mampir bagi yang suka cerita fantasi bertema kerajaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!